Memahami Organisasi Sektor Swasta (profit) dan Organisasi Sektor publik (Non profit)

Written by Priska Puspita Iriadini – Mahasiswa Administrasi Negara Universitas Jember

Sebelum memahami organisasi publik dan organisasi privat atau kita kenal juga sebagai profit organization dan nonprofit organization, kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu organisasi. Organisasi merupakan suatu sistem hubungan yang terstruktur, merupakan bentuk kerjasama yang dilakukan suatu kelompok manusia tertentu untuk mencapai tujuan yang sama di dalam organisasi. Di dalam organisasi terdapat suatu kesatuan dari sistem – sistem yang saling berpengaruh satu sama lain, apabila satu sistem tidak berjalan atau bermasalah, maka sistem lainnya akan terganggu atau organisasi tersebut tidak akan berjalan lancar. Seperti halnya tubuh kita, merupakan kesatuan sistem yang saling mempengaruhi. Terdapat jantung, otak, hati, paru – paru dan lain sebagainya. Saat misalnya saja hati atau liver kita terganggu, otomatis keadaan seluruh badan kita akan menjadi lemah, karena terganggunya satu bagian penting di dalam tubuh kita. Seperti itulah kiranya sebuah organisasi yang dimana di dalamnya terdapat sistem atau bagian – bagian yang terstrukur untuk saling bekerja mencapai tujuan tertentu.

Suatu organisasi pada dasarnya bisa dibedakan menjadi dua kategori, yang pertama adalah organisasi sektor publik (Non Profit) dan Organisasi Bisnis/swasta (Profit). Keduanya sama – sama kesatuan bagian – bagian yang membentuk sistem untuk saling bekerja sama mencapai tujuan tertentu, yang sudah ditetapkan atau dibentuk dalam suatu organisasi.

Organisasi Sektor Publik (non profit), merupakan suatu organisasi yang di dalamnya berorientasi pada kepentingan publik tanpa harus memikirkan laba. Bukan berarti organisasi ini tidak menginginkan laba atau balik modal dari apa yang sudah dikeluarkan, namun yang diutamakan dalam sektor administrasi publik adalah bagaimana memberikan pelayanan publik seperti pelayanan kesehatan masyarakat, pendidikan, perlindungan dan penegakan hukum dan usaha – usaha penyediaan barang publik.

Sedangkan Organisasi sektor swasta merupakan suatu organisasi yang bertujuan untuk memaksimumkan laba dari apa yang sudah organisasi itu lakukan atau keluarkan. Apabila pada sektor publik usaha – usaha yang dilakukan adalah memang untuk memberi pelayanan pada public, pada sektor swasta usaha – usaha yang dilakukan adalah untuk mencapai laba setinggi – tingginya untuk kesejahteraah si pemilik, atau para pemegang saham.

Dasar dari organisasi sektor swasta dan sektor publik sudah jelas-jelas berbeda dan memang sangat berbeda. Di dalam buku Mardiasmo (2009), dijelaskan bahwa untuk memahami dan membedakan antara organisasi sektor publik dan sektor swasta dapat dilihat dari beberapa hal, yaitu :

  1. Tujuannya
  2. Sumber Pembiayaan
  3. Pola Pertanggungjawaban
  4. Struktur Organisasi
  5. Karakteristik Anggaran dan Steak Holder.
  6. Sistem Akuntansi yang digunakan.

Pada Organisasi Sektor publik pembiayaan berasal dari pajak, retribusi, utang , obligasi pemerintah penjualan aset Negara dan lain sebagainya yang termasuk di dalam pendapatan Negara dan karakteristik anggaran pada sektor publik ini boleh diketahui umum, berbeda dengan sektor swasta yang tertutup untuk publik.

Pada sektor privat, sumber pembiayaan berasal dari modal sendiri, laba ditahan dan penjualan aktiva, dimana hal tersebut termasuk dalam pembiayaan internal. Karena di dalam organisasi sektor privat terdapat dua sumber yaitu internal dan eksternal. Yang eksternal itu sendiri adalah utang bank, obligasi dan penerbitan saham.

Pada sektor publik tujuannya adalah memberi pelayanan kepada publik, maka pertanggungjawabannya adalah kepada masyarakat (publik) dan parlemen (DPR/DPRD) begitu pula pada organisasi sektor swasta atau privat, karena tujuannya adalah mendapatkan laba dan untuk kesejahteraan si pemilik organisasi serta pemilik saham maka pertanggungjawabannya adalah kepada si pemilik saham di dalam organisasi tersebut.

Strukur organisasi yang digunakan pada organisasi sektor publik bersifat birokratis, kaku, dan hierarkis dengan sistem akuntansi cosh accounting, sedangkan pada sektor swasta adalah fleksibel, datar, pramit dan sebagainya, dengan sistem cash accounting.

Di sini saya mengambil contoh dari organisasi sektor publik. Saya ambil contohnya pelayanan kesehatan atau rumah sakit. Sudah banyak rumah sakit yang dipegang oleh pihak swasta, denga gamblang, kita bisa melihat perbedaan dari keduanya.

Bentuk pelayanan publik seperti pada tujuan organisasi sektor publik yang memprioritaskan pelayanan pada publik salah satunya adalah adanya obat generik, pilihan obat dengan harga yang terjangkau oleh berbagai golongan masyarakat. Menerima jasa asuransi kesehatan, seperti Askes, Jamsostek dan sebagainya. Rumah sakit milik pemerintah selalu diupayakan agar masyarakat miskin pun bisa mendapatkan pelayanan kesehatan, salah satu caranya adalah dengan membawa kartu miskin yang didapat dari kepala desa masing – masing. Ini cukup membuktikan, bahwa pada organisasi sektor publik, yang diutamakan adalah pelayanan pada publik. Apa bila kita lihat pada Rumah sakit yang ditangani swasta, pelayanan yang “wah’ akan mereka dapat apabila memilih pilihan dengan harga yang “Wah” pula, yang sulit terjangkau untuk masyarakat miskin atau tidak mampu.

Sistem Sosial dan Sistem Budaya di Banyuwangi

Written by Tri Mahendra – Mahasiswa Sosiologi Universitas Jember

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang sangat luas dengan berbagai corak penduduk yang beraneka ragam. Dengan adanya berbagai macam corak keanekaragaman yang ada, Indonesia menjadi negara yang kaya akan budaya, diantaranya antara lain adalah adanya berbagai macam suku, agama, adat istiadat, budaya, bahasa dan lain-lain. Namun hebatnya, dengan berbagai perbedaan-perbedaan yang ada ternyata tidak membuat Indonesia mengalami disintegrasi. Akan tetapi perbedaan-perbedaan itu membuat Indonesia tetap terintegrasi secara solid. Perbedaan-perbedaan itu semua menjadi kekayaan yang unik tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dengan adanya demikian, menjadi sangat menarik untuk dikaji dan dianalisis mengenai sistem sosial dan sistem budaya yang ada di Indonesia. Serta bagaimanakah kaitan antara sistem sosial dan sistem budaya yang ada di Indonesia tersebut.

Jika kita melihat wilayah Indonesia yang begitu luas, tentu ini akan membuat kita terkagum. Bagaimana tidak, wilayah Indonesia yang terbentang begitu luas yang dimulai dari Sabang sampai Merauke memiliki berbagai keunikan-keunikan yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Mulai dari wilayah maritim yang terdiri dari hamparan laut yang luas, daratan yang subur yang sangat cocok untuk lahan pertanian, pulau-pulau yang indah yang terbentang luas dan berbagai keunikan lainnya.

Coba kita lihat aspek sosial budaya yang ada di Indonesia. Kita akan dikenalkan dengan berbagai keunikan budaya dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Misalnya saja yang terdapat di kabupaten Banyuwangi[1]. Di kabupaten Banyuwangi terdapat sistem sosial yang unik, sistem sosial itu merupakan sistem yang digunakan untuk mengatur perilaku-perilaku individu yang ada. Diantaranya adalah nilai-nilai sosial yang ada di sana. Di daerah Banyuwangi, tepatnya di Kecamatan Bangorejo Desa Ringintelu. Disana ada sistem sosial unik yang digunakan untuk mengendalikan perilaku individu. Sistem sosial disana mengajarkan kepada individu untuk memiliki kesadaran kolektif dalam hal apapun serta dalam kegiatan-kegiatan sosial apapun, misalnya kerja bakti mebersihkan jalan, selokan, maupun memperbaiki mushola. Disana setiap individu ditumbuhkan kesadaran kolektif untuk ikut aktif dalam kegiatan- kegiatan sosial[2]. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga integrasi warga agar tetap menjalin kehidupan kebersamaan. Orang tua anak kecil yang ada disana memiliki peran yang besar dalam membentuk kepribadian anak. Setiap anak memperoleh pendidikan sosial dari orang tuanya agar anaknya bisa hidup beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Dalam kegiatan seperti kerja bakti bersih-bersih jalan maupun selokan. Setiap orang yang ada disana tidak perlu dipaksa untuk mengikuti kegiatan itu. Akan tetapi mereka memiliki kesadaran akan hal demikian. Sistem sosial yang tercipta secara abstrak itu telah merasuki pikiran warga yang ada disana. Mereka dengan otomatis bergerak mengikuti alur yang sifatnya eksternal diluar individu-individu yang ada. Ketika ada kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial, mereka tidak perlu disuruh untuk ikut serta dalam kegiatan itu. akan tetapi sistem sosial telah menggerakkan mereka dalam kesadaran kolektif.

Akan tetapi, apakah kesadaran kolektif yang ada itu benar-benar berasal dari individu-individu yang berada di dalam masyarakat. Ternyata sistem sosial yang ada di Desa Ringintelu adalah adanya semacam sanksi sosial yang akan menghukum setiap individu yang tidak mau mengikuti aturan nilai dan kebiasaan  yang ada. Setiap individu yang tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan seperti kerjabakti. Mereka dibiarkan oleh masyarakat yang ada disana, individu itu akan dengan otomatis memperoleh sanksi sosial dari masyarakat. Sanksi sosial itu berupa sikap pengucilan masyarakat terhadap individu yang membangkang seperti demikian. Pengucilan itulah yang akhirnya membuat individu merasa malu yang akhirnya membuat dia tidak mau meninggalkan kegiatan-kegiatan sosial masyarakat. Hal ini sudah cukup jelas bahwa individu disana dibentuk oleh kondisi sosial masyarakat.

Di daerah Banyuwangi ada budaya yang menarik. Mungkin budaya ini juga merupakan budaya yang sudah banyak dimiliki oleh daerah-daerah lain di luar Banyuwangi. Budaya ini adalah budaya mbecek[3]. Budaya mbecek ini adalah istilah yang dipakai oleh orang-orang Banyuwangi, khususnya bagi warga Banyuwangi yang berada di wilayah bagian selatan. Mbecek merupakan sebuah sebutan bagi warga Banyuwangi yang ingin menghadiri acara hajatan saudaranya. Misalnya adalah hajatan khitanan, pernikahan dan lain-lain. Budaya ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat yang ada di Banyuwangi.

Jika itu dilihat dari sistem sosial yang ada. Di setiap daerah-daerah yang ada di Kabupaten Banyuwangi, memang hal itu telah dilakukan turun-temurun. Ada kemungkinan mereka melakukan itu seperti memang ada kesepakatan antar orang-perorang atau individu-individu untuk melakukan hal demikian. Hal itu bisa dikatakan sebagai sebuah wujud solidaritas sosial antar individu-individu yang ada di dalam masyarakat dalam membentuk sistem sosial. Sistem sosial-sistem sosial yang ada antar daerah-daerah yang ada itu pada akhirnya membentuk suatu rangkaian-rangkaian sistem sosial yang akhirnya membentuk sistem budaya yang ada di daerah Banyuwangi.

Sistem budaya mbecek yang ada di daerah Banyuwangi ini memang sudah merasuk dalam pemikiran masyarakat yang ada di Banyuwangi. Sehingga ini menjadi budaya yang unik tersendiri bagi warga Banyuwangi. Untuk bisa mengamati budaya mbecek  yang ada di Banyuwangi ini. Kita bisa mengamati perilaku-perilaku masyarakat yang ada di Banyuwangi, misalnya saja ketika ada acara hajatan warga. Seseorang yang memiliki hajatan biasanya memberikan undangan kepada sanak saudara maupun tetangga untuk menghadiri acara hajatannya. Biasanya istilah yang digunakan untuk undangan ini adalah nonjok[4]. Nonjok ini merupakan undangan yang biasanya berupa kotak nasi. Seseorang yang mendapat undangan ini pada nantinya akan menghadiri acara hajatan orang yang mengundang. Dan uniknya, ini merupakan budaya orang yang ada di Banyuwangi yaitu orang yang datang dalam acara hajatan itu membawa amplop yang berisi uang untuk diberikan kepada keluarga yang sedang melakukan hajatan itu. Padahal, orang yang mengundang itu tidak meminta untuk disumbang. Namun hal ini selalu dilakukan oleh masyarakat. Dan pada giliranya nanti, orang yang saat ini memberi amplop berisi uang saat ini juga akan memeroleh hal yang sama ketika dia hajatan. Dan hal ini terus turun-temurun menjadi budaya bagi masyarakat Banyuwangi.

Selain adanya budaya nonjok dan mbecek tersebut. Di daerah Banyuwangi juga ada budaya unik lainnya. Yaitu adanya budaya rewang[5]. Budaya rewang ini merupakan kegiatan yang masih berkaitan dengan acara hajatan warga yang ada di Banyuwangi. Rewang ini merupakan kegiatan membantu tetangga atau sanak keluarga yang sedang melakukan hajatan. Mereka yang datang untuk membantu ini tanpa disuruh oleh orang yang sedang hajatan. Artinya, mereka datang atas dasar sukarela. Inilah yang mungkin bisa dikatakan sebagai kesadaran kolektif yang ada di dalam masyarakat. Mereka datang dan digerakkan atas dasar kesadaran kolektif yang berada diluar dirinya untuk ikut berpartisipasi dalam acara hajatan. Mereka lebih memperhatikan solidaritas sosial dari pada kepentingan pribadi.

Jika kita renungkan, ternyata di Indonesia itu memiliki berbagai macam budaya yang unik dan beraneka ragam. Dalam tulisan ini tadi telah diberikan salah satu contoh mengenai budaya yang ada di daerah Banyuwangi. Sebenarnya masih ada contoh budaya lain yang ada di Banyuwangi, yaitu budaya ater-ater[6]. Ater-ater merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang sedang hajatan, syukuran maupun selamatan dengan cara memberi makanan kepada tetangga-tetangga ataupun sanak saudara. Budaya ater-ater ini merupakan budaya yang ada di Banyuwangi, khususnya di daerah Banyuwangi yang ada di wilayah pedesaan di bagian Banyuwangi selatan. Mengapa ater-ater dalam hal ini dikatakan oleh penulis sebagai sebuah budaya. Karena ater-ater ini merupakan suatu kegiatan yang sering dilakukan oleh warga di daerah Banyuwangi bagian selatan dan sudah menjadi bagian dari kegitan rutin warga yang sedang melakukan hajatan.

Kegiatan seperti ater-ater ini merupakan kegiatan yang cukup menarik. Karena orang yang memberi makanan pada tetangga atau sanak keluarga yang pada nantinya juga akan mendapat pemberian dari tetangga yang pada saat ini diberi makanan. Uniknya adalah kegiatan ini terjadi secara otomatis tanpa adanya perintah dari pihak-pihak tertentu. Kegiatan ini berjalan secara alami di dalam masyarakat. Artinya kegiatan seperti ini sudah merasuk dalam pemikiran warga yang ada di daerah Banyuwangi selatan.

Setelah melihat beberapa budaya yang ada tersebut. Memang ada kaitannya antara budaya yang ada di dalam masyarakat dengan sistem sosial yang dibangun di dalam masyarakat. Sebuah budaya yang ada di dalam masyarakat di daerah Banyuwangi yang khususnya di daerah Banyuwangi selatan dapat dilihat melalui aktivitas-aktivitas atau kegiatan-kegiatan sosial yang ada. Kegiatan-kegiatan sosial itu ternyata membentuk sebuah sistem sosial yang menggerakkan individu-individu yang ada di dalam masyarakat. Ketika individu-individu yang berada dalam lingkup sosial itu membentuk sistem sosial yang berdasar pada nilai atau norma di dalam masyarakat. Maka individu yang berada di dalam sistem sosial itu menjadi cerminan bagi lingkup sosial masyarakat tersebut. Pada nantinya individu menjadi produk sosial yang ada di dalam masyarakat itu.

Dalam kaitannya dengan sistem budaya yang ada. Pada akhirnya ketika sistem sosial yang ada di dalam masyarakat membentuk sebuah sistem budaya. Sistem budaya yang ada itu bersifat abstrak dan mempengaruhi pola pikir individu-individu di dalamnya. Jika budaya orang Banyuwangi dikatakan memiliki sikap ramah terhadap orang lain. Hal itu karena memang lingkungan sosial yang membentuk individu-individu di dalam lingkungan sosial masyarakat Banyuwangi mengajarkan sikap ramah terhadap orang lain. Jika orang jawa memiliki sikap ramah terhadap orang lain, itu karena memang sistem sosial orang jawa yang mengajarkan kepada individu-individu suku jawa untuk bersikap ramah kepada orang lain. Dari berbagai sistem sosial orang Banyuwangi maupun orang jawa yang mengajarkan kepada setiap individu untuk bersikap ramah kepada orang lain. Maka sistem sosial itu akan menjadi sebuah budaya bahwa orang Banyuwangi maupun orang  jawa, yaitu dengan memiliki budaya bersikap ramah terhadap orang lain.

Jika dianalisis lebih dalam dari berbagai contoh yang ada diatas. Memang ternyata ada kaitannya antara sistem sosial yang membentuk individu dengan sistem budaya yang ada. Bisa disimpulkan bahwa untuk mempertahankan sistem budaya yang ada di lingkungan masyarakat tertentu, misalnya saja di dalam sistem budaya masyarakat Banyuwangi. Maka sistem sosial yang ada di dalam masyarakat itu haruslah masih berkorelasi dengan sistem budaya yang ada. Dapat dikatakan bahwa sistem budaya merupakan lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan sistem sosial. Sistem budaya merupakan wadah bagi sistem sosial, dan sistem sosial merupakan konkritisasi dari sistem budaya, yang mana dia memiliki fungsi untuk membentuk karakter individu-individu agar memiliki sikap yang bisa mencerminkan budaya yang dianut di dalam masyarakat itu.

Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya ramah. Dapat disimpulkan bahwa sikap ramah itu dapat tercipta karena sistem sosial yang ada di dalam masyarakat Indonesia mengajarkan kepada individu-individu untuk bersikap ramah. Sebagai warga Indonesia, kita patut bangga dengan budaya yang ada di Indonesia. Wilayah Indonesia memiliki budaya yang beraneka ragam, akan tetapi Indonesia masih tetap mampu terintegrasi dengan baik. Dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang hebat, karena Indonesia memiliki solidaritas yang sangat kuat meskipun memiliki berbagai perbedaan yang ada.


[1] Penulis menggunakan daerah Banyuwangi sebagai contoh adanya keterkaitan antara sistem sosial dan sistem budaya masyarakat.

[2] Kesadaran kolektif merupakan kesadaran yang tumbuh atas dasar kebersamaan, biasanya kesadaran kolektif ini banyak dimiliki oleh masyarakat desa.

[3] Penulis mengartikan Mbecek sebagai kegiatan menghadiri undangan tetangga atau sanak saudara yang sedang hajatan.

[4] Nonjok juga merupakan budaya orang Banyuwangi. Dalam bahasa Indonesia, istilah nonjok ini bisa dikatakan sebagai undangan dalam acara hajatan.

[5] Budaya rewang merupakan budaya untuk membantu tetangga yang sedang melakukan hajatan dengan sukarela.

[6] Ater- ater merupakan kegiatan yang dilakukan oleh orang yang sedang hajatan dengan memberikan makanan kepada sanak atau tetangga.

Manifestasi Sistem Sosial Budaya Sebagai Jatidiri Bangsa

Written by Imam Sunarto – Mahasiswa Sosiologi Universitas Jember

Indonesia, negara yang sangat terkenal di dunia dengan kekayaan alamnya. Baik kekayaan alam biotik atau abiotik, agraria maupun maritim, tanah yang sangat subur karena letaknya yang strategis di daerah khatulistiwa dan sekaligus merupakan daerah kepulauan yang dipisahkan oleh selat dan laut. kekayaan yang begitu melimpah ruah ini namun tidak menjadi jaminan akan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya bukan hanya dalam kerangka terpenuhinya basic need namun juga kebebasan dalam mengambil bagian dari negaranya. Malah acap kali menimbulkan problem yang akhirnya berujung pada kerugian harta benda atau bahkan nyawa.

Sistem dalam masyarakat

Ketercukupannya kebutuhan fisiologis manusia tentu menjadi faktor utama yang mengkonstruk pikiran dan perilakunya, walau mungkin tidak sesederhana itu untuk coba merumuskannya, karena pikiran yang begitu abstrak untuk coba menjangkaunya. Hal itu hanya bisa dilihat dengan jelas melalui sistem fisiologikal yaitu sistem yang menjelaskan tentang mekanisme bagian-bagian, komponen-komponen dan proses-proses fisik yang terdapat di alam kosmos, baik berkenaan dengan fisik alam maupun fisik manusia dimana dinamika kultural berpusat.[1] Sistem fisiologikal merupakan konkretisasi dari sistem personal, memang sistem personal acap kali disamakan dengan sistem sosial misalkan jika berkaca pada mazhab sosiologi realis yang mengatakan person (individu) adalah bentukan dari masyarakat. Jadi menurut pandangan ini bahwa apapun yang ada pada individu merupakan produk dari masyarakat, namun pandangan ini terlalu menafikan keberadaan individu sebagai dirinya sendiri sebagai eksistensinya dan kebebasannya. walaupun individu tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari masyarakat namun bisa diketahui bahwa misalkan perilaku tersebut merupakan bagian dari sistem personal, khususnya jika berkaitan dengan perilaku yang disebabkan rangsangan terhadap pribadinya sendiri. Seperti jika seseorang sedang bahagia maka dia akan terlihat ceria, penuh senyum dan wajah berseri-seri. Tentu hal ini masih mudah untuk diidentifikasi, dari pada kemudian sistem sosial yang lebih abstrak lagi dari pada sistem personal.

Begitu juga karena sistem personal merupakan konkretisasi dari sistem sosial. Sistem sosial karena lebih abstrak dari pada sistem personal, artinya juga semakin sulit untuk mengidentifikasinya, sistem sosial berkaitan dengan adanya tata hubungan yang kompleks antar manusia dengan manusia yang lain. Karena itu untuk dapat mengetahuinya perlu pengamatan yang intensif dan dengan jangka waktu yang relatif lama tentunya agar hasil yang diperoleh benar-benar akurat dan teruji validitasnya. dan akhirnya sistem sosial merupakan konkretisasi dari sistem budaya. Yangmana sistem budaya hanya bisa dilihat atau diamati melalui sistem sosialnya. Karena kedudukan sistem budaya yang sangat abstrak.

Sistem fisiologikalSistem personalSistem sosial

Sistem budaya

Gambar 1. Tingkatan konkretisasi sistem dalam masyarakat

Distorsi sistem sosial budaya bangsa Indonesia

Jadi secara sederhana kita dapan mengatakan bahwa perilaku yang tergambar dari sistem fisik atau personal merupakan gambaran dari sistem budaya.  Akhir-akhir ini semakin nampak betapa budaya kita semakin bergeser entah kearah mana. Sistem sosial yang selama berabad-abad berusaha dipertahankan oleh bangsa indonesia seperti gotong royong dan tolong-menolong semakin tidak nampak keberadaannya ditengah-tengah kita. Terkontaminasi oleh budaya barat dengan dengan liberalisme, kapitalisme, individualisme, dst. seperti yang bung Karno bilang kalau indonesia adalah bangsa yang bersosial, cocoknya dengan sistem sosialisme. Ya.. dengan nilai-nilai kebersamaan yang memang melekat pada bangsa ini, tidak bisa dinafikan keberadaannya, tapi seberapapun kuat dinding itu membentengi nilai-nilai keluhuran bangsa akhirnya terkikis juga oleh terpaan badai yang seolah terkesan rasional dan memuat kebenaran universal dan karena memang menggiurkan dengan tawaran-tawarannya.

Betapa sistem kapitalisme mulai merasuki jiwa bangsa indonesia, disetiap sudut wilayah negara indonesia seakan tidak pernah terbebas akan kuasa para kapitalis (disamping pemerintah tentunya). Bahkan wilayah yang kental dengan adat dan kearifan lokalnya seperti di Bima, Nusa Tenggara Barat. Yang akhir-akhir ini kondisinya sempat memanas dan bahkan kantor bupatinya sempat dibakar oleh masa warga Bima yang melakukan protes terhadap izin tambang yang dinilai merusak lingkungan dan sekaligus merugikan—kalau tidak mau dikatakan menyengsarakan—masyarakat bima khususnya.

Entah apa benar ini yang lebih baik sehingga menjadi pilihan yang dipilih, pembagunan dan perizinan pertambangan, mungkin bukan lagi pertimbangan baik atau tidak baik, tapi menguntungkan atau tidak menguntungkan, terutama bagi mereka yang mempunyai kekuasaan atau mempunyai jaringan dengan kekuasaan, seperti yang diberitakan koran KOMPAS edisi 21 Februari 2012 mengungkapkan bahwa tambang Cuma menguntungkan pejabat. Akhirnya begitu semakin terlihat perselingkuhan antara pejabat pemegang kekuasaan dengan para pemilik modal (kapitalis) yang berakibat pada kesengsaraan masyarakat sipil. Bagai harimau yang dibangunkan dari tidurnya, begitu warga bisa yang berjumlah ratusan ribu kemudian membakar kantor bupati Bima dan merusak Lembaga Pemasyarakatannya untuk membebaskan teman-teman mereka. Padahal warga Bima awalnya dikenal dengan kerukunannya, saling membantu dan pantang melakukan kekerasan. Tapi apalah arti nilai-nilai luhur budaya yang selalu dipertahankan, jika ada pihak lain yang bahkan tidak menghargai hal itu sama sekali.

Penyesuaian sistem sebagai akibat perubahan pada bagiannya

Memang manusia tidak bisa lepas dari yang namanya sistem budaya, karena sistem budaya dihasilkan dan kemudian menjadi semakin objektif untuk dikonsumsi oleh masyarakat itu sendiri dan diinternalisasi didalam diri masing-masing warga masyarakat itu sendiri, walau sistem budaya selalu berkembang dan bahkan menjadi semakin kompleks mungkin jika dilihat dari teori evolusi sosialnya Herbert Spencer, interaksi antar sub-sub kebudayaan atau bahkan kontak dengan kebudayaan luar sehingga terjadi proses akultrasi dan asimilasi yang mana berdampak langsung individu dan masyarakat secara umum. Tentunya sebagai sebuah sistem, sistem kebudayaan jika terjadi perubahan pada bagiannya maka aka terjadi penyesuaian, entah hal itu akan diterima atau malah ditolak sama sekali. Sistem budaya bergerak kemana saja manusia bergerak kemana saja manusia yang bersangkutan bergerak. Ia bahkan mengawasi dan mempengaruhi tingkahlaku mereka dan memberikan kontrol manaperlu. Bahkan, yang sering terjadi adalah sistem budaya itu menjadi alat pengendali perilaku masyarakat tertentu.

Keberadaan sistem sosial budaya yang mewujudkan norma atau nilai masyarakat, kompleksitas dari yang melembaga berupa norma-norma dan nilai-nilai sosial yang kemudian pada proses berikutnya akan dipatuhi oleh masyarakat secara keseluruhan,  menjadi penting selain sebagai penentu batas-batas perilaku untuk menjaga harmonisasi hubungan antara warga masyarakat juga sebagai kontrol terhadapnya, karena tidak dapat dipungkiri individu dalam segala perilakunya akan selau dipengaruhi oleh ego dan alter, ego adalah ketika tindakan atau perilaku itu termanifestasi sebagai akibat kepentingan diri (pribadi) sedangkan alter merupakan manifestasi dari kepentingan oranglain diluar dirinya. Tentunya ego dan alterpun dalam percaturannya akan melibatkan faktor kebutuhan dan kepuasan.

Dari hal tersebut diatas maka peranan sistem sosial budaya menjadi sangat penting terutama untuk terjalinnya harmonisasi kehidupan bersama kebutuhan dan kepuasan pribadi bukanlah menjadi orientasi tindakan atau perilaku satu-satunya, namun kepentingan bersamalah yang menjadi penting. Dirasa penting kemudian untuk mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya sistem budaya suatu masyarakat tertentu, apalagi jika kita menjadi bagian darinya. Dan hal ini tidak bisa secara instan kita mengetahuinya, perlu proses pengamatan yang relatif lama tentunya.

Akhirnya seperti yang diungkapkan oleh Bustami Rahman dan Hary Yuswadi: “jika kita ingin mengamati gejala sistem budaya dapat dengan teliti kita amati gejala-gejala yang terdapat dalam sistem sosialnya. Didalam hubungan ini, individu yang merupakan produk dan sekaligus bagian dari kompleksitas saling ketergantungan itu dapat pula merupakan wahana dimana kita dapat mengamati sistem budaya suatu masyarakat.”[2]


[1] Bustami Rahman dan Hary Yuswadi, Sistem Sosial Budaya Indonesia: Kompyawisda JATIM, 2005, hal. 6

[2] Ibid., hal. 12