Menggagas Raushan Fikr: Kaum Intelektual yang Tercerahkan

Written by Zahidiyah Ela Tursina – Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember

Menarik sekali ketika saya mengikuti seminar dan dialog di Universitas Muhammadiyah Malang (30/11/2010). Di dalam acara itu, Piet Khaidir, pembicara muda yang telah menyelesaikan masternya di  Leeds University, Inggris menuturkan bahwa sebuah reformasi Islam dibutuhkan seorang raushan fikr. Memang benar dalam sebuah pembaharuan Islam membutuhkan aktor-aktor yang memiliki corak raushan fikr. Mustahil apabila perubahan masyarakat yang baik secara massif terjadi tanpa ada raushan fikr. Karena sebuah reformasi maupun revolusi yang berhasil dibutuhkan sosok orang yang berbekal intelektual yang memadai untuk menggerakkan massa serta memberikan panduan solusi terhadap problematika masyarakat. Akan semakin menarik lagi apabila wacana raushan fikr ini didiskursuskan kembali .

Peran Raushan Fikr

Sebenarnya istilah Raushan fikr ini pertama kali digagas oleh seorang intelektual muslim dari Iran, Ali Syari’ati. Dalam pengantar terjemahan buku karya Ali Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam (1994), Jalaluddin Rakmat memberikan keterangan bahwa rausahan fikr dalam bahasa Persia yakni “pemikir yang tercerahkan”. Sementara itu dalam terjemahan Bahasa Inggris biasanya disebut intellectual atau free thinker.

Menurut Syari’ati, raushan fikr adalah sosok intelektual yang secara sungguh-sungguh menganut ideologi yang dimilikinya secara sadar. Berangkat dari kesadaran itu, mereka yang memiliki kekayaan intelektual turun ke masyarakat hingga ke pelosok-pelosok terpencil untuk melakukan perbaikan masyarakat ke arah yang lebih baik. Sosok raushan fikr akan senantiasa berada di tengah massa, memahami jeritan pilu penderitaaan rakyat dan berusaha mengemban tanggung jawab sosialnya untuk melakukan perubahan hidup rakyat. Mereka peduli dinamika masyarakat sekitar. Selanjutnya, mereka membaktikan keintelektualnnya demi kepentingan masyarakat. Inilah yang dinamakan raushan fikr.

Hal ini kontradiksi dengan seorang intelektual yang hanya senantiasa berkutat dalam nalar-nalar dan wacana-wacana melangit mereka. Mereka hunting ilmu hingga sampai ke manca negara Mereka menikmati sensasi keintelektualannya dengan sendiri hingga mencapai titik klimaks. Mereka terjebak dalam onani intelektual. Padahal bukan seperti itu sosok intelektual yang dibutuhkan masyarakat. Sekali lagi bukan. Bukan seperti itu.

Potret Sosok Raushan Fikr

Bila kita membuka laci sejarah dunia maka kita akan menemukan deretan sosok-sosok raushan fikr yang senantiasa berusaha memberikan perubahan besar pada masyarakat. Kita mulai dari negara tempat kita berpijak. Indonesia memiliki sosok intelektual cerdas seperti Soekarno dan Bung Hatta. Keduanya yang berusaha gigih untuk membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda dan Jepang sehingga akhirnya terplokamirkan kemerdekaan Republiki Indonesia di tahun 1945.

Di negeri tetangga yakni Filiphina, mereka mempunyai Benigno Aquino. Dia adalah sosok intelektual yang mampu membuat gerakan people power untuk menggulingkan pemerintahan diktaktor, Ferdinad Marcos. Di Iran, terdapat sosok ulama besar, Imam Khomeini, yang mampu menggerakkan sebuah revolusi secara massif sehingga muncullah Republik Islam Iran.

Sementara itu di negeri Kinanah, Mesir, ada Sayyid Qutb yang merupakan pengarang besar tafsir Fi Zilalil Qur’an. Beliau berusaha melawan rezim Gamal Abdul Nasser dan memperjuangkan revolusi Islam bersama Ikhawanul Muslimin. Perjuangannya itu mengantarkan dia ke dalam penjara bahkan hingga ke tiang gantungan. Sebelum dihukum gantung, dia berkata “Aku tidak menyesali kematian, sebaliknya aku bahagia karena mati demi cinta. Tinggal sejarah yang memutuskan siapa yang benar, ikhwan atau rezim ini?”

Sudah banyak potret contoh raushan fikr di semesta ini. Namun sayangnya hanya segelintir intelektual yang mempunyai kesadaran untuk menjadi sosok pencerah di tengah kabut hitam. Banyak di antara kalangan intelektual lebih memilih tinggal di menara gading. Bagi mereka, menjadi pembicara terkenal di berbagai seminar yang membayarnya dengan harga tinggi, jauh lebih nikmat. Mereka telah tenggelam dalam lautan ilmu pengetahuaan sehingga menjadi lupa dengan realitas masyarakat di sekelilingnya.

Epilog

Rakyat telah menjerit akibat jeratan kondisi yang membuat mereka terpuruk dan tertindas. Sudah saatnya seorang intelektual mengorientasikan ilmunya demi perubahan masyarakat secara massif. Rakyat merindukan banyak sosok raushann fikr. Untuk mengakhiri diskursus ini, ada syair pesan Muhammad Iqbal:

Gelisah tak henti-henti adalah kehidupan bagi kami

Seperti ikan kami harus tetap bergerak

Dan menyinari pantai, sebab sejenak saja beriak

Lalu berhenti merupakan bahaya

 

5 Balasan pada “Menggagas Raushan Fikr: Kaum Intelektual yang Tercerahkan”


  1. sangat menarik sekali, kalau membahas kaum inteltual yang tercerahkan. benar apa yang di katakan oleh penulis hanya segelintir intelektual yang mempunyai kesadaran untuk menjadi sosok pencerah di tengah-tengah ummat saat ini. yang ada adalah seorang intelektual yang hanya senantiasa berkutat statment dalam nalar-nalar dan wacana-wacana melangit mereka. tanpa melakukan tindakan yang konkrit untuk masyarakat.


  2. Dear Sdr. Zahidiyah Ela Tursina.
    Raushan Fikr, dimana bisa didapat komunitas yg terus berpikir dan peduli akan fenomena FR ini? mohon informasinya

Tinggalkan Balasan