Liberalisme, Realisme, dan Neorealisme Dalam Konteks Hubungan Internasional

Written by Triono Akmad Munib – Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember

Perang dingin tidak hanya menjadi pertentangan ideologi liberal dan sosial komunis antara dua negara adidaya saat itu, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di ranah keilmuan, khususnya hubungan internasional juga terjadi perdebatan teoritik antara realisme dan liberalisme. Menurut pendapat saya, teori realisme gagal meramalkan berakhirnya perang dingin. Saya lebih condong kepada liberalisme. Liberalisme berhasil meramalkan kejadian akhir dari sebuah perang dingin. Alasannya adalah bahwa akhir perang dingin tidak ditandai dengan perimbangan kekuatan atau balance of power seperti yang diberikan oleh para realis. Damai abadi tidak lagi ditunjukkan oleh kekuatan militer negara sehingga mereka tidak saling menyerang karena sama-sama kuat. Pasca runtuhnya Soviet tidak ada lagi kekuatan bipolar. Kepentingan negara sudah tidak lagi mencari aliansi kepada negara-negara komunis maupun non-komunis. Negara sudah tidak lagi hanya memikirkan masalah keamanan dan militernya.

Negara mulai berpikir bahwa rakyatnya butuh kehidupan yang lebih layak, butuh kebutuhan hidupnya. Seperti yang diramalkan kaum liberalis bahwa konsep damai abadi bisa tercipta jika negara-negara mau bekerja sama dan saling bertukar informasi. Di sini terlihat, pasca perang dingin muncul isu-isu baru meskipun isu tentang keamanan masih sedikit dipertahankan, antara lain menurut Juwono (Pakar Hubungan Internasional Universitas Indonesia) :

  1. Pertama, pada era pasca Perang Dingin, perhatian lebih difokuskan pada usaha memelihara persatuan  dan kesatuan bangsa menghadapi lingkungan internasional yang belum jelas.
  2. Semakin banyak muncul kerjasama regional, misalnya fenomena di Asia Tenggara dengan prakarsa ASEAN mengukuhkan zona bebas nuklir termasuk salah satu ciri dimana keamanan regional penting bagi kawasan in
  3. Sorotan dunia pasca perang dingin sudah tidak kepada kemanan tetapi jatuh kepada masalah ekonomi-politik internasional
  4. Muncul isu baru dengan terpusat pada apa yang dinamana sebagai “3 in 1” yakni lingkungan hidup, hak asasi manusia dan demokratisasi

Menurut liberalis, kecenderungan negara mengakumulasi power-nya adalah karena tidak adanya pertukaran dan distribusi informasi sehingga membuat saling curiga antar negara. Dengan adanya kerja sama, maka antar negara akan mendapatkan informasi satu sama lain dan tidak menimbulkan kecurigaan. Dari pendapat Juwono di atas, saya menarik kesimpulan bahwa sesuai dengan asumsi dasar kaum liberalis di mana damai abadi tidak hanya bisa tercipta dengan balance of power, melainkan bisa dicapai dengan kerja sama.

Neorealisme berbeda dengan realisme klasik yang memandang negara dengan elitnya sebagai fokus, neorealisme lebih menitikberatkan pada struktur internasional beserta unit-unitnya dan interaksi di dalam sistem itu, Jika kita membandingkan antara realisme dan neorealisme, maka parameter yang digunakan juga berbeda. Walau pada dasarnya neorealisme ‘hanya’ mengembangkan sedikit substansi dari pemikiran realisme, pandangan neorealisme cenderung melihat segala sesuatu dari kacamata struktur dan unit-unitnya. Jika bagi realis manusia adalah jahat, maka bisa jadi menurut neorealis yang jahat adalah sistem itu sendiri.

Di sini Waltz memberikan pentingnya struktur, yang tertuang dalam kalimat berikut :

“Kepentingan para penguasa, dan kemudian negara, membuat suatu rangkaian tindakan; kebutuhan kebijakan muncul dari persaingan negara yang diatur; kalkulasi yang berdasarkan pada kebutuhan-kebutuhan ini dapat menemukan kebijakan-kebijakan yang akan menjalankan dengan baik kepentingan-kepentingan negara; keberhasilan adalah ujian terakhir kebijakan itu, dan keberhasilan didefinisikan sebagai memelihara dan memperkuat Negara…….hambatan-hambatan struktural menjelaskan mengapa metode-metode tersebut digunakan berulang kali disamping perbedaan-perbedaan dalam diri manusia dan negara-negara menggunakannya”. Waltz (1979 : 117).

Teori Neorealis Waltz : Struktur dan Hasil

Struktur Internasional

(unit dan hubungan negara)

 

Hasil-hasil internasional

(efek persaingan negara)

Anarki internasional Perimbangan kekuatan
Negara sebagai ‘unit-unit serupa’ Pengulangan internasional
Kapabilitas negara yang berbeda Konflik internasional, perang
Hubungan negara-negara berkekuatan besar Perubahan internasional

Neorealisme Dalam Kebijakan Antiteror Amerika Serikat

Jika dianalisis, kebijakan antiteror AS dapat dipandang dalam teori neorealisme Waltz seperti yang diungkapkan di atas. Sekali lagi neorealis menekankan bahwa anarki dalam hubungan internasional bukan berasal dari human nature, yang seperti realis katakan bahwa manusia pada dasarnya jahat. Tetapi di sini, neorealis mengatakan struktur-lah yang membuat tindakan manusia itu jahat dan anarki.

Dalam neorealis anarki dan damai disebabkan oleh struktur yang ada. Jika struktur menunjukkan damai, maka negara berupaya untuk membuat suatu kebijakan baik berupa aliansi militer atau pun balance of power guna sebagai respon terhadap suatu struktur tersebut. Tetapi sebaliknya, jika struktur menunjukkan sebuah perdamaian, maka suatu negara juga akan mengubah kebijakannya

AS tidak akan mengeluarkan kebijakan anti teror atau biasa disebut Global War on Terrorism (GWOT), jikalau struktur internasional tidak memaksanya. Maksudnya, serangan terhadap gedung WTC menunjukkan bahwa struktur internasional jauh dari damai, tidak ada kekuatan di atas kedaulatan negara. Struktur inilah yang mendorong dam memaksa AS mengaplikasikan kebijakan GWOT sebagai respon menghadapi struktur internasional.

Sumber :

Sudarsono, Juwono. 1996. State of the Art Hubungan Internasional : Mengkaji Ulang Teori Hubungan Internasional dalam Perkembangan Studi Hubungan Internasional dan Tantangan Masa Depan. Jakarta : Pustaka Jaya

Sorensen, Georg and Jackson,Robert. 1999. Introduction to International Relations. New York : Oxford University Press

 

Tinggalkan Balasan