Kritisisme Kant: Sintesis Rasionalisme dan Empirisme

Written by Alrisa Ayu C.S. – Mahasiswa Administrasi Negara FISIP Universitas Jember

Kant dapat digolongkan ke dalam filosof kritis, karena Kant dapat mengembalikan pengetahuan pada “otonomi subjek”. Dalam pengertian ini, pengetahuan itu tidak ditentukan oleh objek, akan tetapi subjek yang menentukan pengetahuan itu sendiri. Dunia di luar diri kita adalah gambaran yang diciptakan oleh pikiran kita, maka identik dengan pikiran kita. Menurut Kant pengetahuan rasional itu dapat diperoleh melalui tiga tahap refleksi, yaitu: pertama pada tahap pengetahuan indrawi. Pengetahuan itu terdiri dari unsur apriori dan aposteriori. Yang dimaksud dengan unsur apriori adalah ruang dan waktu, yang membentuk data empiris menjadi kenyataan yang dapat diketahui. Kenyataan sejati tidak dapat kita ketahui meskipun setiap objek yang kita ketahui mengandaikan adanya das Ding an sich (benda itu ada dalam dirinya sendiri). Maksud Kant, keduanya sudah berakar di dalam struktur subjek. Ruang bukanlah ruang kosong, ke dalamnya suatu benda bisa ditempatkan, ruang bukan merupakan “ruang pada dirinya sendiri” (Raum an sich). Dan waktu bukanlah arus tetap, dimana pengindraan-pengindraan berlangsung. Tetapi ia merupakan kondisi formal dari setiap fenomena dan bersifat apriori. Yang bisa diamati dan diselidiki hanyalah fenomena-fenomena atau penampakan-penampakannya saja, yang tak lain merupakan sintesis antara unsur-unsur yang datang dari luar sebagai materi dengan bentuk-bentuk apriori ruang dan waktu di dalam struktur pemikiran manusia.

Rasio mempunyai kemampuan untuk menangkap atau mempersepsikan. Kemampuan rasio yang seperti   ini biasa disebut dengan “kapasitas indrawi”. Tahap kedua, tahap akal budi (Verstand), pengetahuan kita terdiri atas orde data indrawi. Bersamaan dengan pengamatan indrawi, bekerjalah akal budi secara spontan. Tugas akal budi adalah menyusun dan menghubungkan data-data indrawi, sehingga menghasilkan putusan-putusan. Dalam hal ini akal budi bekerja dengan bantuan fantasinya (Einbildungskarft). Pengetahuan akal budi baru diperoleh ketika terjadi sintesis antara pengalaman inderawi tadi dengan bentuk-bentuk apriori yang dinamai Kant dengan “kategori”, yakni ide-ide bawaan yang mempunyai fungsi epistemologis dalam diri manusia. Bentuk linguistik pengetahuan akal budi yang berupa proposisi atau keputusan dapat dicontohkan seperti ini: 5 + 2 = 7, angka 7 adalah persepsi yang kita putuskan, angka 7 muncul tanpa 5+2 dan angka 7 tidak ada di dalam diri 5+2. Dengan demikian kita ketahui pengetahuan bisa kita persepsikan dalam akal budi, berarti di sini syarat-syarat pengetahuan terpenuhi. Kemampuan akal budi untuk menangkap subjek secara indrawi (kapasitas internal) disebut sensibilitas. Di dalam kemampuan atau kapasitas akal budi ketika sudah sampai pada taraf pemahaman berarti sudah ada “intelektual”. Tangkapan akal budi yang diolah ulang menjadi sebuah pemahaman.

Ketiga, tahap rasio (vernunft), pengetahuan merupakan hasil sintesis dari keputusan yang dihasilkan pada tahap akal budi. Dari tahapan ini dihasilkan suatu argumen. Pada tahapan ini, unsur aposteriori tidak diterima secara langsung, melainkan secara tidak langsung melalui akal budi. Sedankan unsur apriori adalah ide yang mengatur proposisi menjadi argumen. Ide ini hanya merupakan cita-cita dan hanya untuk menjamin kesatuan dari segala bentuk pengetahuan kita. Kita memahami dan menggambarkan bahwa dunia bukanlah data empiris yang bisa dijamah, melainkan hanya sekedar cita-cita saja. Pada tahap rasio, ide yang menjadi kerangka acuan bersintesis dengan proposisi untuk menghasilkan argumen rasional, yang selanjutnya kita kenal dengan pengetahuan teoritis murni (refleksi transendental). Berbekal refleksi transendental ini, kant berusaha memeriksa kesahihan  ilmu pengetahuan.

Meskipun Kant akhirnya menerima ketiga ide di atas, ia berpendapat bahwa ketiganya tidak dapat diketahui melalui pengalaman. Karena pengalaman itu, menurut Kant, hanya terjadi di dalam dunia fenomenal, padahal ketiga ide itu berada di dunia noumenal (dari bahasa Yunani noumenan = “yang dipikirkan”, “yang tidak tampak”), dunia gagasan, dunia batiniah. Ide mengenai jiwa, dunia dan Tuhan bukanlah pengertian-pengertian tentang kenyataan indrawi, bukan “benda pada dirinya sendiri” (das Ding an Sich). Ketiganya merupakan postulat atau aksioma-aksioma epistemologis yang berada di luar jangkauan pembuktian teoretis-empiris. Dan akhirnya seperti Descartes, Kant mengakui tidak ada yang lebih pasti dari pada “cogito” atau kesadaran diri.

Tinggalkan Balasan