Proses dan Teknik Pengambilan Keputusan (Decision Making Process): Studi Kasus Analisis Masalah Pasar Tradisional Vs Pasar Modern

Written by Wahida Anggraini P., dkk – Mahasiswa Administrasi Negara FISIP Universitas Jember

A.    GAMBARAN PERMASALAHAN

Dewasa ini, keberadaan pasar tradisional mulai terusik bahkan terancam oleh keberadaan perkembangan pasar modern yang semakin menjamur jaringannya. Kondisi ini tentunya menjadi fenomena yang cukup mengherankan mengingat pada substansinya posisi pasar modern dan pasar tradisional tidak seharusnya dipersaingkan. Karena bagaimanapun juga secara pelayanan maupun pemasaran pasar modern cukup menjanjikan bagi konsumennya. Hal ini diperparah dengan keberadaan pasar modern yang menjamur tanpa ada konsep penataan dan pengelolaan dengan tepat dan sehat. Keberadaan pasar modern tentu mematikan kehidupan pasar tradisional yang telah lama keberadaannya. iklim yang tercipta diantara pasar tradisional dengan toko modern tidak dapat disebut sebagai persaingan, karena kedua pasar tersebut memiliki konsep dan pangsa pasar yang berbeda. Pasar tradisional lebih bersifat pelayanan kepada masyarakat yang dikelola oleh pemerintah daerah setempat sedangkan toko modern lebih bersifat komersil dan dikelola oleh para pengusaha yang mempunyai modal. Awal keberadaannya, toko modern sebenarnya diperuntukkan untuk orang-orang yang memiliki kelas ekonomi menengah ke atas sehingga keberadaannya tidak menjadi persoalan bagi pasar tradisional. Namun seiring berkembangnya zaman dan petumbuhan penduduk, saat ini sangat banyak didirikan pasar-pasar modern yang mulai mengambil pangsa dan segmen pasar tradisional. Hal inilah yang menimbulkan banyak permasalahan.

Dengan mewabahnya toko modern berdampak pada melemahnya geliat pasar tradisional. Implikasi tersebut menunjukkan bahwa dengan semakin berkembangnya pasar modern, maka terjadi penurunan kapasitas pasar tradisional, Seperti yang tergambar di Kabupaten Jember. Pasar tradisional sebagai basis ekonomi rakyat menjadi kewajiban pemerintah untuk melindungi dan mempertahankan eksistensinya.

B.     TAHAP-TAHAP PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Tahap-tahap proses pengambilan keputusan merupakan rangkaian proses pemecahan masalah yang didalamnya memiliki serangkaian tahapan-tahapan mulai dari identifikasi masalah sampai pada evaluasi hasil. Tahapan-tahapan proses pengambilan keputusan terdiri dari identifikasi masalah dan diagnosa masalah, pengumpulan dan analisa data, pengembangan alternatif, evaluasi alternatif, pemilihan alternatif terbaik, implementasi alternatif terbaik, implementasi keputusan, evaluasi hasil serta berakhir untuk menghasilkan umpan balik yang nantinya kembali pada tahap-tahap yang dievaluasi. Dalam memecahkan permasalahan pasar tradisional dan pasar modern, diperlukan analisis permasalahan dengan menggunakan tahap-tahap pengambilan keputusan. Berikut analisisnya:

1.      Identifikasi dan Diagnosa Masalah

Berdasarkan yang telah dijelaskan pada gambaran permasalahan, maka dapat diidentifikasi dan didiagnosis rumusan permasalahan sebagai berikut:

  • Menjamurnya keberadaan jaringan pasar modern yang mematikan eksistensi pasar tradisional
  • Kurang adanya penataan dan pengelolaan tata ruang pasar modern
  • Simpang siur  kebijakan pemerintah yang tidak sesuai secara normatif bertolak belakang pada konteks penerapan kebijakan pemerintah dan prosedur yang telah ditetapkan
  • Lemahnya pemberdayaan serta respon pemerintah terhadap persaingan antara pasar modern dan pasar tradisional yang tidak seharusnya dipersaingkan
  • Menyusutnya eksistensi pasar tradisional yang tidak memihak mampu bersaing dengan pasar modern

 2.      Pengumpulan dan Analisa Data

Beberapa data yang menunjukkan bagaimana eksistensi pasar modern dan pasar tradisional:

  • Data Pertumbuhan supermarket dilihat dari pangsa pasar cukup mengejutkan. WorldBank (2007) menunjukkan bahwa pada 1999 pasar modern hanya meliputi 11% daritotal pangsa pasar bahan pangan. Menjelang 2004, jumlah tersebut meningkat tiga kalilipat menjadi 30%. Terkait dengan tingkat penjualan, studi tersebut menemukanbahwa jumlah penjualan di supermarket bertumbuh rata-rata 15%, sementarapenjualan di ritel tradisional menurun 2% per tahun.Dari data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan pasaar modern dari beberapa tahun mengalami peningkatan dan perkembangan yang sangat signifikan.
  • Perkembangan Frekuensi Pasar Modern dan Pasar Tradisional (AC Nielsen, 2006)

 

Berdasarkan hasil studi A.C. Nielsen, jumlah pasar tradisional memang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan toko modern. Namun, apabila melihat dari prosentase perkembangannya, pasar modern di Indonesia tumbuh 31,4% per tahun, sedangkan pasar tradisional menyusut 8% per tahun ( AC Nielsen, 2006). Sehingga dapat diasumsikan bahwa pertumbuhan toko modern, dibarengi dengan merosotnya keberadaan pasar tradisional. Gerakan massif dari toko modern dengan berbagai penawaran dan tampilan yang menarik, semakin melemahkan daya tarik dari pasar tradisional, karena preferensi masyarakat cenderung beralih pada toko modern.

  • media yang menyebutkan bahwa dari total 31 pasar tradisional yang ada di kota tembakau ini, 7 diantaranya masih ramai dikunjungi masyarakat, selebihnya kian hari kian surut (detiksurabaya, 3 September 2011). Data diperkuat oleh pernyataan Dinas Pasar bahwa pasar modern di Jember tumbuh 31 % per tahun, sedangkan pasar tradisional berkurang 8 %.Sehingga dapat disimpulkan bahwa fenomena bergesernya eksistensi pasar tradisional yang terjadi di tingkat nasional ternyata terjadi pula pada tingkat lokal, yaitu Kabupaten.

3. Pengembangan Alternatif

Dari hasil identifikasi masalah serta pengumpulan data, maka dapat diperoleh beberapa alternatif pemecahan masalah, sebagai berikut:

  • Mempertegas penerapan kebijakan yang telah ditetapkan mengenai pengelolaan, panataan, dan pemberdayaan pasar tradisional dan pasar modern
  • Membentuk badan pengawas khusus yang mengawasi penerapan kebijakan menangani pengelolaan, panataan, dan pemberdayaan pasar tradisional dan pasar modern
  • Perlu adanya pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap keberlangsungan eksistensi pasar tradisional seperti perbaikan kualitas pelayanan, peningkatan SDM, dan lain-lain.

4. Evaluasi Alternatif

Berdasarkan beberapa pengambangan alternative, diperlukan adanya evaluasi masing-masing alternatif sebagai berikut:

  • Mempertegas penerapan kebijakan yang telah ditetapkan mengenai pengelolaan, panataan, dan pemberdayaan pasar tradisional dan pasar modern. Dalam alternatif tersebut  memang perlu diterapkan jika mengingat bagaimana selama ini, peraturan daerah yang selama ini menjadi kebijakan resmi tidak dapat terealisasi dengan tepat sasaran. Hal ini juga menjadi indikator keberhasilan pemerintah dalam menjamin kesejahteraan rakyat melalui kebijakan yang tepat dan diimbangi dengan implementasi yang tepat sasaran pula.
  • Membentuk badan pengawas khusus yang mengawasi penerapan kebijakan menangani pengelolaan, panataan, dan pemberdayaan pasar tradisional dan pasar modern. Pengawasan terhadap penerapan kebijakan perlu dibentuk demi mewujudkan alur jalannya kebijakan, namun pembentukan badan pengawas ditakutkan akan berdampak pada simpang siur atau tumpang tindih antar badan pengawas dengan salah satu agenda kebijakan yaitu monitoring dan evaluasi. Ditakutkan ketika terjadi mis komunikasi akan menimbulkan konflik antar aparatur pemerintah daerah
  • Perlu adanya pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap keberlangsungan eksistensi pasar tradisional seperti perbaikan kualitas pelayanan, peningkatan SDM, dan lain-lain. Pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah dirasa perlu jika mengingat bagaimana persaingan yang kurang sehat, contohnya perlu dibentuk badan khusus pemberdayaan masyarakat pasar tradisional yang visi misinya bagaimana mengembangkan kualitas pelayanan, barang, produktivitas pasar tradisioanl sendiri sehingga mampu bersaing dengan pasar modern.

5. Pemilihan Alternatif Terbaik

Dari sekian pilihan alternatif yang dikembangkan, maka alternatif yang tepat adalah “Mempertegas penerapan kebijakan yang telah ditetapkan mengenai pengelolaan, panataan, dan pemberdayaan pasar tradisional dan pasar modern dan adanya pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap keberlangsungan eksistensi pasar tradisional seperti perbaikan kualitas pelayanan, peningkatan SDM, dan lain-lain.”

6. Implementasi Alternatif Terbaik

Dalam proses penerapan atau implementasi dari alternatif terbaik yang telah terpilih untuk memecahkan permasalahan antara pasar tradisional dan pasar modern adalah sebagai berikut:

  • Pemerintah daerah( aparatur daerah) perlu membuat rumusan mekanisme atau prosedur yang tepat, efisien, akuntabel baik dalam implementasi kebijakan maupun pemberdayaan masyarakat pasar tradisonal
  • Pembentukan badan atau lembaga khusus yang mempunyai visi dan misi untuk bagaimana mengembangkan kualitas pelayanan, barang, produktivitas pasar tradisioanl sendiri sehingga mampu bersaing dengan pasar modern.
  • Menjalin hubungan kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarkat(sulitnya masyarakat dalam menerima perubahan seringkali mempersulit program kerja yang sedang dikerjakan, oleh karena itu perlu adanya jalinan hubungan pada tokoh masyarakat sekitar yang memiliki pengaruh signifikan pada kondisi sosial masyarakat).
  • Adanya manajemen yang kompeten dalam membangun dan menciptakan sosialisasi yang tepat pada masyarakat.
  • Perlu dilakukan monitoring dan evaluasi pada kebijakan  pengelolaan, panataan, dan pemberdayaan pasar tradisional dan pasar modern minimal setiap satu bulan sekali oleh pemerintah daerah.

7. Evaluasi Hasil

Ketika penerapan alternatif telah dilakukan, maka diperlukan adanya evaluasi atas seberapa tepat, efektif, efisien sejauh mana keberhasilan dari alternative atau solusi yang telah diberlakukan. Selain itu, diperlukan evalusi atau pemantauan secara rutin oleh pemerintah Jember, minimal satu bulan sekali.

Dari apa yang telah diuraikan pada tahap-tahap proses pengambilan keputusan, tahap akhir (evaluasi hasil) menghasilkan suatu informasi sejauh  mana solusi dari kebijakan telah diterapkan, baik dari segi kekurangan-kekurangan maupun kendala-kendala ketika proses kebijakan itu diterapkan. Hal tersebut akan menjadi umpan balik pada tahap sebelumnya berupa informasi-informasi, data yang nantinya menjadi point-point dalam upaya perbaikan setiap tahap dalam pengambilan keputusan.

Complete Writters: Wahida Anggraini P; Siti Aisyah Wulandari; Dwi Krisnayanti; Evie Titin Marfuah; dan Iin Isnaini.

 

Tinggalkan Balasan