Persamaan dan Perbedaan Teori Konflik Menurut Marx, Weber, Simmel, Dahrendorf, dan Coser

Written by Tri Mahendra – Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Jember

Persamaan

Pada dasarnya, konflik kebanyakan disebabkan oleh hal yang sama, yaitu sebagai reaksi terhadap struktural fungsional yang ada pada saat itu. Antara Marx dan Weber sama-sama berbicara mengenai kapitalisme. Marx mengatakan bahwa kapitalisme muncul karena adanya kelas atas yang mengeksploitasi kelas bawah. Weber berbicara lebih jauh dari Marx bahwa kapitalisme muncul dari faktor agama, yaitu protestan. Konflik sesungguhnya merupakan karena adanya sumberdaya langka yang tidak terdistribusikan secara merata. Konflik disebabkan karena akses untuk hirarki kekuasaan keatas kecil, dengan adanya akses yang kecil ini bisa menyebabkan konflik karena setiap orang yang dibawah yang sadar akan posisinya yang tertindas akan melakukan perlawanan terhadap penguasa.

Beberapa teori konflik yang telah dikembangkan oleh Dahrendorf sama-sama berangkat dari pembagian masyarakat menjadi dua kelompok, yaitu kelompok sub ordinat dan super ordinat. Pembagian menjadi dua kelompok ini bersumber dari teori kelas Marx yang membagi masyrakat menjadi kelas borjuis dan kelas proletar. Dalam berbicara mengenai konflik, antara Simmel dan Coser memiliki banyak persamaan yaitu sama-sama banyak membahas mengenai interaksi. Teori konflik dari Dahrendorf maupun Coser tidak bisa lepas dari pengaruh Weber dan Simmel, karena perhatian mereka berdua terletak pada berbagai masalah yang berkaitan dengan struktur-struktur formal di masyarakat, interaksi sosial dan tingkat kesadaran masyarakat.

Perbedaan

Marx berbeda dengan Weber. Menurut Marx, konflik terjadi karena adanya distribusi yang tidak meratanya ekonomi terutama  untuk sumber-sumber material  langka. Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya, masyarakat terbagi dalam dua kelas. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi.  Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga. Disini Weber manyatakan bahwa sumber konflik tidak hanya untuk perebutan ekonomi saja seperti yang diungkapkan oleh Marx. Terlihat ada perbedaan analisis konflik disini. Weber menyatakan bahwa konflik itu terjadi karena orang berebut kekuasaan untuk memperoleh prestise atau wibawa.

Berbeda dengan Marx, Max Weber melihat bahwa konflik itu terjadi karena setiap ingin dipandang tinggi oleh masyarakat. Dalam hal ini berbeda dengan Marx seperti diatas tadi. Jika Marx berkutat pada masalah ekonomi. Disini Weber lebih melihat bahwa konflik terjadi karena perebutan suatu kekuasaan untuk mendapatkan prestise atau kewibawaan. Disini Weber banyak mengkritik Marx karena Marx terlalu berkutat pada masalah ekonomi saja. Weber disini melihat lebih luas lagi dari apa yang diungkapkan oleh Marx.

Simmel memandang pertikaian sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam masyarakat. Struktur sosial dilihatnya sebagai gejala yang mencakup berbagai proses asosiatif dan disosiatif yang tidak mungkin terpisah- pisahkan, namun dapat dibedakan dalam analisa. Menurut Simmel konflik tunduk pada perubahan. Perbedaanya dengan Coser. Coser mengembangkan proposisi dan memperluas konsep Simmel tersebut dalam menggambarkan kondisi- kondisi di mana konflik secara positif membantu struktur sosial dan bila terjadi secara negatif akan memperlemah kerangka masyarakat. Menurut Simmel, hubungan antara superordinat dan subordinat yang terganggu  memungkinkan  untuk koflik. konflik adalah salah satu bentuk interaksi. Konflik dan persatuan dapat dilihat sebagai bentuk ain dari sosiasi.Lawan dari persatuan bukanlah konflik, tetapi ketidak terlibatan. Konflik adalah sesuatu abnormal atau keduanya merusak kesatuan kelompok, merupakan suatu prespektif yang penuh yang tidak didukung oleh kenyataan.

Dahrendorf tidak menggunakan teori Simmel, melainkan membangun teorinya dengan separuh penerimaan, separuh penolakan, serta memodifikasi teori sosiologi Karl Marx. Seperti halnya Coser, Ralf Dahrendorf mula- mula melihat teori konflik sebagai teori parsial, mengenggap teori tersebut merupakan perspektif yang dapat dipakai untuk menganalisa fenomena sosial. Ralf Dahrendorf menganggap masyarakat bersisi ganda, memiliki sisi konflik dan sisi kerja sama.Jika Marx mendasarkan teori pembentukan dan konflik kelasnya pada pemilikan alat produksi. Maka disini Dahrendorf mengtakan bahwa faktor yang lebih penting adalah kontrol atas alat roduksi, bukan pemilikannya seperti apa yang dikatakan oleh Marx.Teori konflik Ralf Dahrendorf merupakan separuh penerimaan, separuh penolakan, serta modifikasi teori sosiologi Karl Marx. Karl Marx berpendapat bahwa pemilikan dan Kontrol sarana- sarana berada dalam satu individu- individu yang sama. Menurut Dahrendorf tidak selalu pemilik sarana- sarana juga bertugas sebagai pengontrol apalagi pada abad kesembilan belas. Bentuk penolakan tersebut ia tunjukkan dengan memaparkan perubahan yang terjadi di masyarakat industri semenjak abad kesembilan belas.Menurut Dahrendorf hubungan- hubungan kekuasaan yang menyangkut bawahan dan atasan menyediakan rasti bagi kelahiran kelas. Dahrendorf mengakui terdapat perbedaan di antara mereka yang memiliki sedikit dan banyak kekuasaan. Perbedaan dominasi itu dapat terjadi secara statis. Tetapi pada dasarnya tetap terdapat dua kelas sosial yaitu, mereka yang berkuasa dan yang dikuasai.

Coser menolak pandangan Dahrendorf bahwa masyarakat terbentuk atas dasardistribusi otoritas, dengan  itu masyarakat tercermin akan dominasi dan paksaan. Bagi Coser, konflik itu dapat membantu mengeratkan ikatan masyarakat. Masyarakat yang berkonflik dengan kelompok lain akan semakin mengeratkan hubungan didalam masyarakat itu. Konflik dapat merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok.Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya.Seluruh fungsi positif konflik tersebut dapat dilihat dalam ilustrasi suatu kelompok yang sedang mengalami konflik dengan kelompok lain. Coser  melihat katup penyelamat berfungsi sebagai jalan ke luar yang meredakan permusuhan, yang tanpa itu hubungan- hubungan di antara fihak- fihak yang bertentangan akan semakin menajam. Katup Penyelamat (savety-value) ialah salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial.Jika Dahrendorf menganggap teori konflik sebagai perbandingan yang seimbang dengan fungsionalisme, coser memposisikan bahwa konflik sebagian dari masalah sosial yang harus diangkat dan disatukan dengan teori-teori lainnya, sehingga konflik dapat dijelaskan sebagai  ketertiban sosial dan keseimbangan sosial.

Tinggalkan Balasan