Review: Menyoal [Lagi] Involusi Bangsa dan Kultur Peradaban Bangsa Indonesia

Reviewed by Royin Fauziana – Mahasiswa Administrasi Negara FISIP Universitas Jember

Bangsa Indonesia secara makro sedang mengalami proses involusi yang kritis. Konsep ‘involusi’ disini meminjam dari Alexander Goldenweiser yang juga pernah digunakan oleh Clifford Geertz (1979) ketika ia menjelaskan tentang involusi pertanian di Pulau Jawa. Bangsa ini hampir tidak tahu lagi akan berbuat apa dan bagaimana supaya dapat keluar dari proses karut-marut peradaban yang sedang dijalaninya. Dimana perubahan sosial dan psikologis tersebut yang memaksa bangsa ini untuk berfikir dan bersikap secara tidak normal, ruwet, dan keluar dari kondisi seperti itu. Keruwetan  perilaku adalah akibat langsung dari keruwetan cara berfikir. Jadi, ada semacam involusi pemikiran yang melahirkan involusi peradaban.

Cara berfikir involutif bercirikan keterbatasan. Semakin menyentuh kepada perkembangan peradaban melalui kebijakan yang terdesain oleh penentu dan pelaku kebijakan, akan semakin kuat pula alas an keterbatasan modal. Dengan demikian akan diakui  bahwa dengan semakin melarat suatu bangsa, maka akan semakin sulit pula keluar dari keruwetan peradabannya. Seperti halnya sejarah peradaban di negeri ini yang terkait langsung dengan sejarah sosial politik bangsa yang telah dimulai kisahnya pada masa-masa kolonial. Sebagian orang yang terkesan dengan betapa buruknya masa kolonial, secara romantik akan membayangkan masa indah pada era prakolonial, dimana peran kerajaan-kerajaan di Nusantara masih mendapat tempat kesejarahan yang sangat kuat di tengah bangsa dan berkesan di masa kini. Namun sebenarnya masa prakolonial yang didominasi oleh kekuasaan raja-raja tidak lebih baik ketimbang masa kolonial.

Masa kolonial adalah masa di mana para pengamat Indonesia pada umumnya bersepakat untuk mengatakan bahwa era kehancuran peradaban yang terbangun oleh nenek moyang di nusantara telah memperoleh tempatnya selama tiga setengah abad yang sangat melelahkan. Revolusi-revolusi yang terjadi pada masa prakolonial berlanjut terus hamper tanpa henti pada masa kolonial. Peperangan yang awalnya dilakukan antar kerajaan di Nusantara atau sekurangnya di se-antero jawa, sekarang dilanjutkan lagi melalui pemberontakan-pemberontakan terhadap kolonial. Dan terbukti sampai saat ini peradaban budaya tersebut masih terjadi, bila melihat terjadinya konflik dan peperangan antar sesama penguasa pribumi.

Ada perbedaan pola dan sifat revolusi antara kedua era prakolonial dan kolonial. Namun yang di tekankan adalah persamaan yang ada pada keduanya, yakni kesamaan bahwa dalam kedua era itu telah terjadi begitu banyak revolusi yang tanpa di sadari telah merusak proses garis peradaban bangsa yang sebenarnya lebih dapat di tata melalui proses pertumbuhan evolusi. Analis hubungan antara kedua era ini menerangkan bahwa revolusi yang terjadi dan kemudian berakibat terhadap rusaknya peradaban tidak semata dimonopoli oleh era kolonial. Inti permasalahannya terletak pada peranan revolusi yang terjadi pada hampir berkelanjutan pada garis pertumbuhan peradaban bangsa.

Kemerdekaan bangsa ini sebenarnya di peroleh melalui perjalanan panjang yang berakhir dengan revolusi besar. Dimana suatu revolusi yang besar sifatnya, dan hampir-hampir meniadakan atau menihilkan sistem yang lama. Revolusi kemerdekaan Indonesiabadalah untuk mengubah sistem lama dan mencita-citakan sistem yang baru. Namun semua revolusi yang demikian itu senantiasa berakhir pada titik sekarat, dan atas kesekaratan tersebut mencoba menata sistem yang baru. Hampir semua bangsa yang melakukan revolusi, minim persiapan dalam merumuskan suatu sistem yang baru. Titik sekarat itu telah menjadi tanda putusnya hubungan kebelakang, sehingga menimbulkan kebencian terhadap sistem yang lama.

Sikap revolusioner tersebut mengakibatkan terputusnya rantai peradaban yang telah lama terbangun. Contoh sederhana, hubungan kemahiran atau kebiasaan elite kita berbahasa Belanda yang tidak berlanjut sampai sekarang sangat mungkin merupakan dampak dari titik sekarat itu. Bangsa lain seperti Malaysia dan Singapura yang di jajah oleh Inggris, kemahiran berbahasa inggris yang ada di Negara-negara tesebut tetap dalam garis kontinum. Gejala ini hendaknya dibaca sebagai tindak terputusnya rantai peradaban dari masa sebelum kemerdekaan atau era kolonial ke masa setelah kemerdekaan. Proses kemerdekaan itu lebih berupa pelimpahan ketimbang pelepasan, dan lebih berupa penerimaan ketimbang perenggutan.

Revolusi yang di alami oleh bangsa ini rupanya masih berlanjut, meskipun bangsa ini sudah menginjak pada apa yang dinamakan dengan kemerdekaan. Namun sempat terdengar pula tentang evolusi yang katanya bisa membangun peradaban bangsa ini. Dimana bangsa ini ke depan membutuhkan proses pertumbuhan evolusi yang harus menghindarkan terjadinya revolusi sekaligus menghilangkann involusi. Dalam kerangka yang seperti ini, upaya bangsa ini untuk lebih maju jauh lebih berat ketimbang bangsa lain yang garis pertumbuhan peradaban mereka lebih berbentuk linear dan tidak dipenuhi oleh titik-titik sekarat. Bangsa-bangsa itu mungkin hanya cukup mengupayakan bagaimana caranya menghindari terjadinya revolusi di negeri mereka. Namun yang terjadi dengan bangsa kita jauh lebih berat karena selain berupaya menghindari terjadinya revolusi, juga berupaya dalam waktu yang sama harus menguraikan benang kusut akibat proses pertumbuhan involusi. Pertumbuhan evolusi hanya dapat dicapai oleh upaya-upaya yang tersusun secara strategis, tahap demi tahap, berangsur maju ked epan.

Tinjauan Barat tentang teori perubahan sosial yang didasarkan pada pergulatan Revolusi Industri mestinya tidak sepenuhnya tepat untuk digunakan meninjau proses perubahan sosial di negara-negara dunia ketiga, terutama apa yang telah terjadi di negara kita Indonesia. Masalah yang sedikit menghambat perkembangan sosiologi di Indonesia membawa kita untuk lebih respek dalam melihat seberapa jauh diri bangsa ini dalam menghadapi masalah sosialnya, yang sebagian besar diakibatkan oleh preokorupsi yang bertumpu pada dua fenomena penting yang berkembang di Barat pada abad XIX yaitu: timbulnya kesadaran terhadap efek sosial radikal akibat industrialisasi pada masyarakat Eropa, dan perhatian yang berlebih terhadap fundamental gap antara masyarakat industri yang telah maju dan komunitas yang masih ‘primitif’.

Sepertinya kajian tentang perubahan kebudayaan ataupun sistem sosial di Indonesia sudah banyak. Ketika kajian perubahan sosial di Indonesia mencari-cari dimanakah masyarakat industri itu sebenarnya berada (yang seterusnya mencari dan tidak pernah bertemu dengan yang pasti), dimana perubahan sosial sudah tiba pada strukturnya yang rumit dan mereka berhenti dalam kebingungan, dan berjalan terus dalam ketidakpastian.

Banyak hal yang dapat diungkapkan sebagai perwujudan dari fakta sosial yang nampak di sekitar kita. Fenomena sosial tersebut bisa sebagai bentuk perilaku yang aktornya bisa berupa individu atau kelompok yang di dalamnya adalah masyarakat luas. Orang Indonesia adalah aktok sosial yang didominasi oleh sistem budaya Indonesia yang terbentuk secara kultural berabad-abad lamanya. Dimana setiap perilaku sehari-harinya masih harus dibaca melalui diktum-diktum budaya yang tak  tertulis, yang telah dikenyamnya selama berabad-abad pula. Meskipun banyak hal yang yang dianggap aneh dan berbeda oleh sebagian orang yang memiliki kognisi yang cukup, namun tetapi tidak sama sekali dirasa oleh orang ‘kebanyakan’. Orang yang tidak merasakan kejanggalan tersebut tidak merasa perlu untuk berfikir panjang atau merenungkannya, karena pola yang dilaluinya ada di dalam mindset mereka selama hidupnya.

Salah satu contoh adalah perilaku berlalu lintas yang masih belum bisa dikatakan beradab, yaitu dengan tidak ditaatinya aturan hukum lalu lintas yang telah diterapkan oleh para penegak hukum. Tapi masalahnya di sini sangat mungkin terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh penegak hukum atau aparat hukum itu sendiri terhadap asas penegakan hukum tadi, hal ini bisa saja disebabkan oleh gaji yang terlalu kecil. Fenomena lain lagi sebagai contoh dari fakta sosial negara ini yang sering kita temui adalah perilaku kampanye Pemilu dan aksi unjuk rasa.

Proses perubahan sosial (dibaca melalui gerakan-gerakan politik) semenjak proses pemerdekaan diri sampai dengan saat ini sepertinya menimbulkan kecurigaan. Terutama pada proses pemerdekaan diri, yang mana bangsa Indonesia tidak melaui proses yang disebut dengan continuum and handing-down process. Kemerdekaan bangsa diperoleh melalui pemaksaan terhadap penjajah untuk menyerahkan apa yang dianggap hak untuk merdeka. Bangsa ini melakukan upaya pemaksaan yang disebut perang kemerdekaan di kala sang penjajah tidak rela menyerahkan apa itu kemerdekaan bangsa ini yang dianggap sebagai hak untuk merdeka.

Tanpa disadari di samping perang kemerdekaan membuahkan hasil yakni berupa sebuah kemerdekaan, sebenarnya masih ada buah lain yang merupakan efek samping dari adanya perang yang merebutkan sebuah kemerdekaan itu. Efek samping tersebut adalah hancurnya tatanan nilai yang lama dan belum adanya tatanan nilai pengganti yang baru. Bahwasanya pada masa penjajah, tatanan nilai dibangun atas dasar perdaban Eropa yang harus diakui secara rasional lebih berkarakter civilized. Akan tetapi unsur-unsur peradaban barat itu hanya bermain pada tatanan birokrasi dan/atau yang berkaitan dengan lembaga yang berperadaban penjajah. Namun masyarakat yang berada di luar konteks budaya tersebut terpisah pola hidupnya dan tetap berada di dalam budaya yang disebut budaya lokal. Masyarakat yang hampir sepenuhnya hidup di dalam budaya lokal pun sejak lama pula tidak steril dari pengaruh proses perusakan struktural dan budaya akibat kekacauan perlawanan terhadap penjajah yang dilakukan secara terus menerus.

Saat-saat berakhirnya revolusi adalah saat-saat yang sangat kritis. Kasus pemerdekaan menciptakan suatu iklim yang membuat semua aktor sosial revolusi menjadi bengong. Tindakan yang sangat luar biasa dan menolong di kala pemimpin bangsa menegakkan negara baru atas dasar pembelajaran yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman negara-negara lain yang telah merdeka. Ini merupakan suatu tindakan yang strategis dan hasil utamanya adalah mencoba membuat kaitan dengan budaya peradaban di luar diri bangsa yang baru merdeka ini. Maksudnya adalah anomi nilai-nilai secara berangsur-angsur ditutupi oleh kehadiran nilai-nilai dari budaya peradaban impor. Hal ini sepertinya tidak salah, bahkan bisa dikatakan sangat strategis, karena hanya dengan cara demikian suatu budaya peradaban dapat diinternalisasi ke dalam suatu bangsa yang sedang mengalami anomi nilai budaya tadi.

Akan tetapi apa yang terjadi pada tubuh bangsa yang baru saja mengalami sakit parah akibat penjajahan, pemberontakan yang tak terbilang, dan mencapai puncak pada perang kemerdekaan itu harus terus mengalami goncangan yang berat. Pembentukan budaya peradaban bangsa Indonesia masih tertinggal jauh. Ketertinggalan di bidang ekonomi memang sangat memalukan, akan tetapi ketertinggalan di bidang peradaban lebih memalukan lagi bagi suatu bangsa.[]

Tinggalkan Balasan