Spirit Kebangkitan Kapitalisme Menurut Weber: Agama dan Negara

Written by Imam Sunarto – Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Jember

Menurut Weber ada tiga hal yang mempengaruhi kebangkitan kapitalisme tersebut yaitu agama, status bangsa, dan teknologi transportasi komunikasi. Dan disini kita mulai dengan pengaruh agama yaitu Budaya religius dari kapitalisme: etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, mungkin Weber sangat terkenal dengan karyanya yang satu ini. Ini adalah satu contoh dari metodologinya. Di dalamnya, dia mendeskripsikan satu jenis ideal dari semangat kapitalisme, dia melaksanakan satu analisa komparatif historis untuk menentukan bagaimana dan kapan yang semacam kapitalisme datang atau muncul, dan penggunaan konsep verstehen untuk memahami orientasi hubungan dan motivasi dari aktor.

Ada beberapa alasan yang melatar belakangi munculnya karya ini yaitu Weber ingin menentang teorinya Marx, dia menilai teorinya Marx terlalu berat sebelah yang hanya mengakui pengaruh ekonomi dan materi serta menyangkal akan ide-ide, bahkan ide-ide agama. Weber menekankan bahwa orang mempunyai kepentingan ideal dan materil, yang mana kepentingan ideal dapat mempengaruhi motivasi manusia secara independen.

Walaupun demikian weber juga menolak posisi idealisnya Hegel yang sama sekali mengesampingkan kepentingan materil dan hanya memandang sejarah manusia sebagai manifestasi ideal-ideal budaya. Weber mengakui adanya pengaruh timbal balik antara kepentingan ideal dan kepentingan materil dalam menentukan secara empiris kasus-kasus individu, tergantung mana yang lebih dominan.

Alasan lainnya adalah Weber menginginkan untuk membantah dan melawan kekuatan struktural bengis dan membantah bahwa  nilai budaya dapat punya pengaruh pada tindakan sosial. Dan juga Weber menulis etika Protestan adalah untuk menjelaskan kenapa kapitalisme masuk akal telah terjadi di Barat dan tidak ada selain itu. Kapitalisme telah dipraktekkan tadi. Tapi ini adalah tradisional, bukan kapitalisme masuk akal. Pada kapitalisme tradisional, nilai tradisional dan posisi negara masih sangat berpengaruh kuat. Modal yang diinvestasikan pada spekulasi kapitalistik agar memelihara lifestyle mereka. Ini adalah, pada kenyataan, keberadaan dengan nilai tradisional dan posisi negara yang mencegah bangkitnya kapitalisme masuk akal pada beberapa tempat. Kapitalisme masuk akal, pada sisi lain, dipraktekkan untuk meningkat kekayaan untuk dirinya sendiri dan adalah berlandaskan hubungan sosial bermanfaat.

Weber mengumpulkan sedikit demi sedikit yang pertama peribahasa dengan kapitalisme masuk akal: hidup adalah hidup dengan satu gol spesifik di mind “Yang, ini adalah baik dan moral jujur, terpercaya, terorganisir yang hemat, dan masuk akal sebab ini adalah berguna untuk satu akhir spesifik: mencari uang, mempunyai yang akhirnya sendiri, “perolehan dari uang, dan semakin banyak, artinya maka dengan uang yang semakin menumpuk dan digunakan sebagai modal, maka uang tersebut akan terus mengalir ke tangan pemilik modal itulah sistem sederhana dari kapitalisme.

Apabila dilihat secara rasional, hidup yang terorganisir bukanlah hidup secara spontan atau terjadi begitu saja. Karena dimana setiap tahapnya sudah direncanakan dengan baik dan selalu mencari batu loncatan untuk dapat mencapai pada gol yang teratas

Pengesahan dan perasionalan yang akhirnya akan menjadi dasar dari perilaku manusia dari berbagai tempat yang menguntungkan. Apa yang disebut dengan budaya kapitalisme kemudian dapat ditarik pada akarnya yaitu doktrin protestant. kalau satu sungguh-sungguh dipilih untuk keselamatan abadi, kemudian Tuhan akan memberkati perorangan dan buah dari bekerja kerasnya sesuatu akan perbanyak. Dengan kata lain, sebagai respons atas Bekerja Kerasmu, kamu dapat mengharapkan Tuhan untuk memberkati kamu secara ekonomis.

Keselamatan, kemudian, adalah dari awal sampai akhir satu pekerjaan dari Tuhan Mengambil bersama-sama ide ini, kita sampai pada ide Calvinistik dari Orang-orang takdir dilahirkan dia berdosa, ada tak ada mereka dapat lakukan untuk menabung diri mereka sendiri (iman tiada satupun atau pun pekerjaan bajik), keselamatan sepenuhnya satu pekerjaan keanggunan, dan Tuhan Yang selalu telah tahu yang akan ditabung. Kita adalah dengan demikian takdir ke surga atau neraka

Dengan kata lain adalah bagaimana para penganut agama khususnya protestant bisa mengetahui bahwa mereka diberkati oleh Tuhannya, adalah dengan meningkatkan ekonominya atau kekayaannya, oleh karena itu kenapa mereka suka bekerja keras, hidup sederhana dan suka menabung. Hal itu karena doktrin dari agamanya. Namun dalam perkembangannya inilah yang kemudian berkembang menjadi budaya kapitalisme.

Namun bukan berati Weber juga menolak dan menyatakan dengan tegas bahwa budaya kapitalisme masuk akal bukan hanya didasarkan pada etika protestant semata,ada hal-hal lain yang juga bisa dikatakan memicu munculnya kapitalisme, kalau tadi dalam aspek agama dan juga Kita telah melihat pengaruh dari Aliran Protestan, tapi dalam kaitan dengan institusi di situ juga punyai satu terpusat. Bureaucratized berkata, seperti halnya perubahan berpengaruh nyata di mode dari angkutan dan komunikasi

Status bangsa secara relatif penemuan terbaru. Sampai pada abad ke sembilan belas.  Dunia adalah biji kacang organik dalam kaitan dengan status bangsa. Orang-orang umumnya terorganisir secara etnis. Mereka tidak mempunyai bangsa seperti pikiran dari mereka hari ini. Satu bangsa adalah satu kolektif yang menduduki satu wilayah Spesifik, punya satu riwayat umum dan identitas, dan lihat sendiri sebagai satu nasib umum berbagi. Penggunaan tersebar luas dari ide dari satu bangsa untuk orang-orang pengorganisasian adalah penting bagi kapitalisme.

Bangsa adalah bertanggung-jawab untuk mengontrol wilayah besar, mestandarkan uang, mengorganisir pengawasan sosial, dan memudahkan bebas dan pasar buka. Semua faktor ini pertimbangkan pertukaran lebih mudah dari barang dan jasa melibatkan populasi besar dari orang-orang. Pertukaran macam-macam ini adalah, tentu, penting bagi kapitalisme masuk akal untuk berada Bekerja Keras juga punyai bebas dari kemasyarakatan dan batasan struktural. Hal itu juga kenapa weber mencantumkan status bangsa juga berpengaruh dalam munculnya kapitalisme.

Seiring dengan peningkatan di teknologi komunikasi dan angkutan, bangsa berkata dan Aliran Protestan menolong bentuk satu objektif budaya rationalitas, yang mana orang-orang mempraktekkan etika bekerja dengan pendekatan tradisional ke arah ekonomi. Pada masyarakat tradisional, biasanya mempunyai dua etika macam-macam berbeda ketika berpartisipasi di pertukaran. Di sana adalah pembatasan untuk melakukan dengan upacara agama dan kewajaran ketika hadapi dengan anggota group, tapi orang-orang tidak pada group dapat dimanfaatkan tanpa ukuran. Kedua dibutuhkan kerangka ini diangkat dalam urutan untuk kapitalisme lambaikan Semua bisnis dan pinjaman memerlukan rationalitas sehingga yang di situ dapat kelestarian.[]

 

2 Balasan pada “Spirit Kebangkitan Kapitalisme Menurut Weber: Agama dan Negara”

Tinggalkan Balasan