Evolusi Agama Menurut Max Weber: Review

Written by Imam Sunarto – Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Jember

Menurut sejarahnya bahwa agama telah berevolusi dari bentuk awalnya yang berbentuk sihir menjadi agama yang percaya pada dewa-dewa, kemudian ke panteisme lalu ke monoteisme dan akhirnya ke monoteisme etis. Hal ini terjadi karena semakin berkembangnya pemikiran masyarakat terutama mengenai ketuhanan. Masyarakat dan agama mempunyai hubungan resiprokal, dimana dengan perubahan pada masyarakat maka juga akan berpengaruh pada agamanya.

Weber memberikan kita satu model evolusi kemasyarakatan dari perubahan religius, tapi titik tekan weber dalam hal ini adalah fakta empirisnya yang dilihat untuk menganalisa hubungan masyarakat dengan agama, yang dia lupakan adalah sisi kerohanian dari pemeluk agama itu sendiri. Jadi dalam hal ini jika kita memang pemeluk agama yang yakin akan agama kita, maka kita tidak perlu menolak agama kita hanya karena teori yang dikemukakan oleh Weber tersebut.

Disini Weber tertarik untuk menjelaskan tentang monoteisme etis, yang mana asumsinya adalah bahwa tuhan sangat peduli terhadap tingkah laku manusia, berbeda dengan ketika agama itu meyakini akan banyak tuhan yang kemudian kita merasakan kurang dipedulikan. Dan bahwa mereka hanya lebih memperlihatkan tentang aksi mereka sendiri. Berangkat dari sinilah kemudian Weber tertarik untuk mendalaminya.

Perubahan dari sihir ke agama dapat disamakan seperti perubahan naturism ke simbolis, yang mana sihir ini erat kaitannya dengan kekuatan alam, sehingga pada masyarakatnya ketika contohnya mau panen melakukan upacara-upacara ritual. Berbeda ketika dengan agama yang lebih bersifat simbolis seperti agama kristen yang melambangkan tubuh dan darah yesus dengan roti dan angggur sari buah buahan. Dengan itu mereka bukan hanya dapat dikatakan menyatakan tobat, tetapi juga melambangkan kepercayaan akan kekompakan dari berbagai tubuh yang sama.

Perbandingan versi protestan dan katolik, pada protestan hanya terdapat unsur simbolis yang terlihat, pada ekaristi katolik mereka memiliki unsur nyata yang kemudian mendatangkan hasil baik pada kebenaran. Weber membantah  kemudian  di sana terlihat unsur gaib pada ekaristi, ekaristi ini hanya untuk mengarahkan kekuatan untuk memenuhi penggunaannya. Artinya dalam kenyataannya keduanya tetap berisi unsur simbolis dan gaib.

Dengan demikian masyarakat dalam sejarahnya  menggerakkan dari gaib ke agama sehubungan dengan profesionalisasi kemantapan dan perkembangan  ekonominya.dalam kehidupan berkelompok mungkin masyarakatnya masih mempercayai pada sifat-sifat alami yang disebutnya supra natural, misalkan melakukan upacara sebelum berburu dan waktu kelahiran seorang bayi, hal ini kemudian dimanipulasi dalam agama, tetap dilakukan dalam praktek nyata tapi lebih disederhanakan tidak dilandaskan akan kepercayaan masyarakan yang masih dalam tingkatan gaib.

Sedikit demi sedikit kemudian kepercayaan terhadap yang gaib mulai luntur setelah mereka mengenali akan cara bercocok tanam, pembibitan, membajak tanah, pengairan dan sebagainya yang kemudian membantu mereka untuk dapat memprediksi akan hasil panennya, tidak kemudian semuanya didasarkan atas kekuatan gaib melainkan masyarakat mulai mengerti akan kebenaran proses yang mereka lakukan. Hal ini yang kemudian dikatakan bagaimana jenis dari ekoniomi mempengaruhi agama, dari masyarakat yang hanya pasrah kepada alam (naturalis) menjadi menghargai akan pekerjaannya (simbolis) sebagai contoh adalah hasil panen yang melimpah merupakan simbol dari pembibitan, pengolahan tanah, pengairan dan sebagainya yang baik.

Kemudian dari perkembangan tersebut berkembang pulalah spesialisasi-spesialisasi atau pembagian-pembagian dalam pekerjaan, seperti orang yang pekerjaannya mengurusi pengairan, orang yang pekerjaannya membajak tanah dan sebagainya pekerjaan yang sudah berbeda dengan jenis pekerjaan yang disebut paling tua yaitu “tukang sihir” pada masyarakat berkepercayaan gaib.

Di sana hal-hal terjadi sebagai hasil dari profesionalisasi, mereka meningkatkan pengetahuan mereka dengan pengalaman-pengalamannya. Weber membantah bahwa pengalaman sangat transendent adalah pengalaman religius prototypical. Agama selalu melibatkan transendent, ulah dari pergi di atas atau di luar hidup normal, dan ectasy adalah satu bentuk terpenting dari transcendence. Pengalaman hanya tersedia pada menyebabkan, tapi karena pemandu profesional bebas dari keprihatinan harian, dia atau dia dapat mengembangkan praktek yang mempengaruhi keadaan tidak sadar hampir terus menerus.

Semua orang adalah ahli sosiologi karena kita semua mempunyai kesepemahaman tentang masyarakat, bekerja dan turut terlibat dalam segala aspeknya. Selanjutnya, pikirkan buku kita sedang membaca sekarang ini, Ini adalah hasil dariku memikirkan orang lain pemikiran (weber, antara lain). Tidak ada yang dapat menjamin bahwa buku itu benar sesudah penulisnya sendiri (weber dalam hal ini), Lebih dari itu dan ini adalah satu titik penting untuk weber yang kita telah buat ini sangat yang kita tidak dapat memahami sosiologi tanpa pertolongan dari satu professional. kita yang harus membayar peroleh buku ini, dan kamu yang harus membayar peroleh profesional lain untuk berdiri di depan kelas dan menjelaskan keterangan ini dari weber. Dengan demikian profesionalisasi  mendorong untuk simbolis karena keterlibatan dalam dari praktek, pemikiran refleksif, dan veted tertarik( Aku harus membuat kompleks sosiologi untuk melindungi pekerjaanku). Ini semacam proses persis apa ciptakan agama simbolis.

Dari agama yang mengakui banyak dewa ke monoteisme etis. Dalalam tahap ini tuhan berada di suatu tempat yang khusus, berikutnya evolusi religius adalah untuk menempatkan Tuhan ke dalam kuil agar semua dewa terorganisir. Mengorganisir kuil bukan hanya berarti mengikat dewa-dewa melainkan masing-masing dewa diberikan satu lapisan spesifik dari pengaruh, dan tindakan dan dewa berhubungan satu dengan lainnya.

Pada evolusi kita, Politik telah datang ke permainan dan sangat berperan penting juga. Salah satu hal-hal demikian ide dari Tuhan lakukan bersatu dengan group berbeda pada komunitas tunggal. Artinya bagaimana kemudian kita bisa menyatu/bergabung dengan kelompok-kkelompok yang berbeda. Jika mungkin hal itu terjadi pada kelompok yang mempunyai tuhan yang sama yang menyediakan ikatan simbol, lalu bagaimana dengan kelompok yang dengan tuha yang berbeda menurut mereka? Dengan demikian sangat sulit untuk dilakukan yang mana yang merupakan hirarki paling tinggi dalam politeisme. Maka dari itu Tuhan yang universal dibutuhkan untuk dapat menyatukan mereka. Universal ini Tuhan jadi melihat sebagai lebih kuat dibandingkan semua Tuhan lain. Mereka jadi Tuhan dari Tuhan dan raja dari raja.

Pembangunan ini ke arah monoteisme dibantu oleh kebutuhan dari monarchs untuk mematahkan pegangan yang kependetaan memakai massa ”menyinggung ke imam”. Pada saat itu kepercayaan akan banyak tuhan masih diyakini dan karena masih dihubungkan dengan kebutuhan harian mereka dan perlu upacara-upacara untuk mendekati berbagai tuhan itu. Jika di bandingkan dengan raja maka masing-masing kekuatan dalam kerajaan itu diwakili dan dalam berbagai spesifikasinya. Dari sinilah kemudian ide tentang satu tuhan itu muncul.

Sampai pada saat ini kita masih melihat pengaruh dari profesionalisasi. dari satu faktor penting pada semua  kehidupan modern. Tapi agak dibandingkan symbolisasi, perasionalan sekarang memainkan satu peran penting pada gerakan ke arah satu Tuhan etis. Saat pemerintah menyatakan menjadi semakin terbirokratisasi dan hukum rasional menjadi cara yang ditempuh oleh hubungan diatur, orang-orang berawal melihat hidup mereka seperti tunduk kepada kontrol rasional. Tentu, hari ini kita merasakan ini berkelanjutan ke nyaris tiap-tiap area dari hidup kita. Kita tidak hanya merasakan bahwa tubuh kita, emosi, dan urus secara rasional terkontrol. Kita meyakini bahwa semua itu dikontrol.

Agama menyokong ke kepercayaan ini melalui peran dari nabi. Weber menggolongkan kenabian sebagai dua macam: patut dicontoh dan etis. Jenis patut dicontoh ditemukan di India dan peradaban sebelah timur yang lain. Ini semacam nabi memperlihatkan jalannya dengan menjadi satu contoh. Penekanan dalam hal ini berada di atas satu semacam diri aktualisasi. Ada tidak ada rasa kenyataan dari benar dan tidak benar, tapi hanyalah lebih baik cara. Dan tiada satupun ada di sana satu Tuhan ke siapa perorangan atau kolektif. Nabi etis, pada sisi lain, amat sangat terkait dengan baik dan buruk dan dengan pengantaran satu orang-orang tidak patuh kembali hak hubungan dengan Tuhan dominan. Dengan demikian, Tuhan dan negara bersama-sama secara rasional mengontrol perilaku manusia.[]

Tinggalkan Balasan