Hubungan Sosial Minoritas Muslim Di Australia Pasca Peristiwa Pengeboman Gedung WTC (World Trade Center) 11 September 2001

Written by Triono Akmad Munib – Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ketika diberlakukan White Policy, yang diawali dengan pengetatan jumlah imgran non kulit putih ke Australia tahun 1901 telah menyebabkan penurunan jumlah imigran dari Timur Tengah ke Australia.[1] Namun sejak kebijakan White Policy di Australia dihapuskan pada tahun 1980, Australia mentransformasikan dirinya sebagai negara yang sangat pluralis.  Penghapusan kebijakan White Policy di Australia menjadi sebuah angin besar bagi kaum-kaum non kulit putih dan keberagaman agama di Australia. Australia saat ini menjadi sebuah negara sekuler, semua agama di dunia ada di sana. Kebebasan beragama benar-benar dijamin oleh pemerintah setempat, tak terkecuali kaum minoritas Muslim. Pemerintah Australia telah memberikan sebuah kebebasan dan pengakuan melalui konsep multikulturalismenya. Sehingga harapannya adalah integrasi Australia bisa tercapai dalam hal ini.

Namun, di sisi lain masih saja terjadi pasang surut hubungan kaum minoritas Muslim di Australia terlebih pasca peristiwa pengeboman gedung WTC tahun 2001 oleh sekelompok Muslim. Bisa dikatakan pasca peristiwa tersebut merupakan titik terendah hubungan kaum minoritas Muslim dengan penduduk di Australia. Kamu minoritas Muslim mengalami stigma buruk dimata penduduk Australia. Bahkan, pasca peristiwa tersebut banyak perlakuan yang melecehkan umat Islam dirasakan oleh wanita Muslim, misalnya seperti yang terjadi di Sydney. Komisi pemerintah di New South Wales sampai membuka jalur komunikasi khusus (hotline) untuk menerima pengaduan. Hasilnya lebih dari 400 pengaduan di mana 55% pengaduan datang dari perempuan dan 16% darinya mengatakan bahwa mereka menerima pelecehan verbal maupun fisik yang menyebabkan mereka terluka bahkan harus dirawat.[2]

Dari pemaparan latar belakang di atas, penulis ingin menyoroti lebih jauh kehidupan kaum minoritas Muslim di Australia dengan mengambil judul : “HUBUNGAN SOSIAL MINORITAS MUSLIM DI AUSTRALIA PASCA PERISTIWA PENGEBOMAN GEDUNG WTC (WORLD TRADE CENTER) 11 SEPTEMBER 2001”

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang diambil penulis, yaitu : Bagaimana hubungan sosial minoritas Muslim di Australia pasca peristiwa pengeboman gedung WTC 11 September 2001?

1.3 Kerangka Teori

Pendekatan teori yang penulis pakai untuk menganalisa rumusan masalah di atas adalah teori integrasi oleh Talcott Parson. Empat persyaratan fungsional fundamental yang digambarkan dalam skema AGIL (Adaptation, Goal-attainment, Integration, Lattent-Pattern-Maintenance) menurut Parson merupakan kerangka untuk menganalisis gerakan-gerakan tahap (phase movements) yang dapat diramalkan. Keempat persyararatan ini berlaku untuk setiap sistem tindakan apa saja.

Urutannya dimulai dengan munculnya suatu tipe ketegangan, yang merupakan kondisi ketidaksesuaian antara keadaan suatu sistem sekarang ini dan suatu keadaan yang diinginkan. Ketegangan ini merangsang penyesuaian (adaptation) dari suatu tujuan tertentu (goal maintenance) serta menggiatkan semangat dorong yang diarahkan kepada pencapaian tujuan itu. Pencapaian tujuan itu memberikan kepuasan yang dengan demikian mengatasi ketegangan atau menguranginya.

Tetapi, sebelum suatu tujuan dapat tercapai, maka harus ada suatu tahap penyesuaian terhadap keadaan genting dari situasi dimana tenaga harus dikerahkan dan alat yang perlu untuk mencapai tujuan itu harus disiapkan. Selama tahap ini, pemuasan harus ditunda. Dalam kasus suatu sistem sosial harus paling kurang ada suatu tingkat solidaritas minimal diantara para anggota sehingga sistem itu dapat bergerak sebagai satu satuan menuju tercapainya tujuan itu. Jadi tahap pencapaian tujuan secara khas diikuti oleh suatu tekanan pada integrasi (integration) dimana solidaritas keseluruhan diperkuat, terlepas dari usaha apa saja untuk tercapainya tugas instrumental. Akhirnya, tahap ini akan diikuti oleh tahap mempertahankan pola tanpa interaksi atau bersifat laten (laten pattern maintenance).

Sistem sosial sebagai suatu keseluruhan juga terlibat dalam saling tukar dengan lingkungannya. Lingkungan sistem sosial itu terdiri dari lingkungan fisik, sistem kepribadian, sistem budaya dan organisme perilaku. Sistem tindakan ini dilihat sebagai berada dalam suatu hubungan hirarki dan bersifat tumpang tindih. Sistem budaya merupakan orientasi nilai dasar dan pola normatif yang dilembagakan dalam sistem sosial dan diinternalisasikan dalam struktur kepribadian para anggotanya. Norma diwujudkan melalui peran-peran tertentu dalam sistem sosial yang juga disatukan dalam struktur kepribadian anggota sistem tersebut. Organisasi perilaku merupakan energi dasar yang dinyatakan dalam pelaksanaan peran dalam sistem sosial. Parsons melihat hubungan antara pelbagai sistem tindakan ini berdasarkan kontrol sibernatik (cybernetic control) yang didasarkan pada arus informasi dari sistem budaya ke sistem sosial, ke sistem kepribadian dan ke organisasi perilaku.

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Kaum Muslim di Australia

Dilihat dari data sosial demografis khusunya yang berkaitan dengan populasi penduduk Muslim di Australia, akan didapati data dari beberapa sensus penduduk dalam tabel berikut :

Tabel 2.1 Penduduk Muslim Australia Berdasarkan Negara Bagian

Negara BagianPenduduk Muslim
New South Wales140.907
Victoria92.742
Westren Australia19.456
Queensland14.990
South Australia7.478
Australian Capital Territory3.488
Tasmania865
Northern Territory945
Wilayah lain707
Total281.578

Sumber : Sensus 2001

Dari data di atas, dapat dibaca bahwa mayoritas penduduk Muslim di Australia menempati negara bagian New South Wales (wilayah Sidney, Auburn, Greenacre, Bankstown, Lakemba, dan Punchbowl) dan negara bagian Victoria (wilayah Melbourne, Meadow Heights, Reservoir, Dallas, Noble Park, Coburg, dan Shepparton). Penduduk muslim Australia berasal dari banyak latar belakang etnis yang berbeda, rata-rata memang menggunakan bahasa dari daerah mereka berasal. Yang terbanyak adalah menggunakan bahasa Arab atau Turki.

Dalam perkembangannya, seiring dengan dihapuskannya kebijakan White Policy. Kaum minoritas kaum Muslim semakin mendapatkan pengakuan dari pemerintah maupun masyarakat. Kaum minoritas Muslim pun semakin leluas membentuk sebuah komunitas-komunitas mereka. Salah satu contohnya adalah terbentuknya Komunitas Muslim Australia (Australian Muslim Community) yang bernama Australian Federation of Islamic Council (AFIC) di mana anggotanya adalah Islamic Councils dari setiap negara bagian. Islamic Councils ini adalah perwwakilan dari komunitas Muslim yang lebih luas. Mereka peduli dengan isu-isu kehidupan beragama dan bertindak sebagai kelompok lobby yang mempengaruhi dinamika hubungan Muslim dan penduduk Australia.

Dalam masyarakat Muslim sendiri, banyak bermunculan kelompok-kelompok-kelompok dengan berbagai kepentingan baik di level lokal maupun regional. Aktivitas kelompok tersebut biasanya mengadvokasi kepentingan yang berhubungan dengan kegiatan budaya, isu perempuan, isu keagamaan, isu pendidikan maupun isu lokal yang menyangkut kehidupan kelompok mereka.

We have the constitution here, so you can do anything you want, In the Australian parliamentary system, even though we don’t  have anyone as representative there but we have our opportunity  to say something. This is how we were. We were with the community  system that enable us for going into the parliament if they have review session.[3]

Dilihat dari sarana fisik, biasanya komunitas Muslim ini mempunyai ruangan atau bangunan yang dipergunakan sebagai ruang serba guna, dan mempunyai masjid atau tempat ibadah. Beberapa komunitas Muslim sudah mengembangkan fasilitas dan sarana modern seperti perpustakaan, took buku, arena olahraga (indoor), maupun makanan halal.[4]

2.2 Hubungan Intra-Muslim

Sebelum membahas mengenai hubngan intra-Muslim, perlu kiranya dipaparkan mengenai pengelompokan sosial yang didasarkan pada kecenderungan dalam menyikapi isu-isu modern dan hukum Islam. Pengelompokan komunitas Islam di Australia tersebut adalah[5] :

  1. Kelompok Tradisionalis. Kelompok ini berusaha mempertahankan pelakasanaan hukum Islam dan mengatakan bahwa hukum Islam akan selalu fleksibel dalam menjawab tantangan zaman. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah kelompok Salafi yang mendapat pengaruh dari ajaran Ibnu Taimiyan dan Muhammad Abduh.
  2. Kelompok Neo Modernis. Kelompok ini berusaha merubah hukum Islam klasik dan mengadopsi nilai-nilai Barat. Mereka tidak percaya bahwa ada inheren konflik antara Islam dengan modernitas.
  3. Kelompok Neo Revivalis. Kelompok ini mempercayai bahwa peradaban Barat anti agama dan sifatnya materialistis. Oleh karena itu, kelompok ini berusaha melakukan pemurnian ajaran Islam. Kelompok ini mendapat pengaruh dari pemikiran Pakista, Abdul A’la Al Maududi dan tokoh reformis Mesir, Hasal Al Banna.
  4. Kelompok Liberal. Kelompok ini mempercayai bahwa ada beberapa unsur ajaran Islam yang terbangun pada zaman awal sarat dengan latar belakang dan kondisi kesejarahan pada saat itu. Oleh karena itu, beberapa diantaranya yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman harus dilihat secara kontekstual.

Untuk memahami hubungan intra-Muslim di Australia, dapat dilihat dari sisi kelembagaan mapun non kelembagaan. Secara organisasi, beberapa pemimpin Muslim mulai mendirikan organisasi untuk memenuhi kebutuhannya seperti mendirikan masjid dan menyediakan pendidikan dasar bagi anak-anak mereka. Baru pada tahun 1963, organisasi-organisasi ini bersatu dan menyebut dirinya sebagai Australian Federation of Islamic Society (AFIS).

Dalam perkembangan selanjutnya, organisasi ini berubah strukturnya untuk mengakomodasi kebutuhan berkembangnya komunitas Muslim di masing-masing negara bagian dengan membentuk perwakilan Islam di masing-masing negara bagian tersebut. Pada gilirannya, perwakilan Islam di masing-masing negara bagian itu membentuk Australian Federation of Islamic Councils (AFIC) dengan kantor pusatnya di Sydney. Dalam hal ini, kedudukan AFIC sebagai perwakilan Muslim Australia pada level nasional maupun internasional. Salah satu hal yang diinginkan AFIC adalah memberikan identitas baru bagi Muslim di Austrlia dan menganggap Australia sebagai rumah mereka. AFIC berharap bahwa dengan semangat multikulturalisme, lambat laun seluruh masyarakat Australia menghormati semangat keislaman.

Setiap state ada organisasi bernama Islamic Society, yang  bernaung di bawah Ismalic Council. Di setiap state kita  membentuk Islamic Concil yang keanggotaannya dari beberapa Islamic Society. Student Association juga menjadi anggota. Kita punya namanya CIDE (Centre for Islamic Da’wah and  Edcucation). Orang Turki misalnya, memiliki The Association  of Turkish Muslim. Orang Bosnia juga memiliki organisasi sejenis.  Wadah yang nasional dinamakan Australian Federation of Islamic Council.[6]

Dalam tataran kehidupan kemasyarakatan (bukan dari tinjauan kelembagaan), yang sering menjadi pertanyaan adalah mengenai pembentukan identitas Muslim di Australia. Hal ini mengingat bahwa kebanyakan masjid dinamai dengan nama-nama yang melekat pada identitas etnis tertentu, atau pelaksanaan khutbah dengan menggunakan bahasa dari etnis tertentu sehingga terkesan bahwa keberadaan masjid atau khutbah tersebut hanya untuk kalangan tertentu atau yang memahami bahasa mereka saja. Kesan ekslusif inilah yang memunculkan suatu keinginan untuk membuat identitas Muslim Australia. Untuk mewujudkan identitas Muslim di Australia sebagai kesatuan ummah ini, ada yang menyarankan untuk mengganti nama masjid dengan nama sesuai dengan di mana masjid itu berada.[7] Beberapa orang menganggap bahwa persoalan identitas Muslim di Australia ini tidak menjadi isu penting terlebih dengan munculnya ide multikulturalisme.

2.3 Hubungan Muslim dan Non-Muslim

Untuk memahami karateristik Muslim di Australia, Pulpick (1987), Bouma (1994), Omar dan Allen (1996), melihat bahwa antara Muslim dengan non-Muslim di Australia sepertinya terbentang garis batas yang memisahkan keduanya. Meskipun masing-masing mengaku sudah mengadopsi kultur Asutralia, tetapi sebenarnya ada persoalan yang membuat mereka berbeda antara satu dengan yang lain. Perbedaan bahasa, latar belakang etnis, pekerjaan dan umur, telah membuat ini sebagai fakta sosial dan kesejarahan

Secara umum, hubungan Muslim dan non-Muslim di Australia mengalami fluktuasi, kadangkala terjalin dengan baik atau kadang dalam posisi sulit. Fluktuasi ini ditentukan oleh isu yang menerpa Muslim Australia secara umum. Hubungan terjalin baik apabila dilihat dalam keseharian tidak terjadi hal-hal yang secara kasat mata, tampak terjadi diskriminasi atau penolakan  terhadap eksistensi minoritas Muslim di Australia. Di tempat-tempat umum, Muslim dengan kebebasan mengekspresikan identitas keagamaannya seperti kebebasan memakai jilbab/purdah, maupuan melakukan ibadah. Pendirian tempat-tempat ibadah juga diperbolehkan, sehingga dari hal ini dapat dilihat bahwa hubugan antara minoritas Muslim dan non-Muslim di Australia terjalin dengan baik.

If there is a question on the way we dress as for example, this  is really matter of acceptance. You’ve your right to do so. People  cannot force their way. At the same time, I can’t force my way  to other. This is a matter of tolerate people. This is how people accept other culture.[8]

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan ada saatnya hubungan antar Muslim dan non-Muslim di Australia berada pada saat sulit, khususnya bila ada isu-isu tertentu yang secara langsung atau tidak langsung dihubungan dengan eksistensi minoritas Muslim di Australia, seperti isu gerakan Islam radikal. Pada sub bab berikutnya akan dibahas mengenai hubugan Muslim dan non-Muslim di Australia pasca peristiwa pengembomban gedung WTC di Amerika Serikat (AS) 11 September 2001.

2.4 Hubungan Sosial Minoritas Muslim di Australia Pasca Peristiwa Pengemboman Gedung WTC AS 11 September 2001

Pasca peristiwa pengeboman gedung WTC AS tanggal 11 September 2001 telah memunculkan stigma negatif atas kaum Muslim di Australia. Stigma tersebut adalah semacam ‘Islamphobia’ yang secara langsung maupun tidak langsung menganggap muslim Australia sebagai ‘orang lain’ dalam konstruksi sosial masyarakat Australia dan berdasarkan pada anggapan-anggapan negative atas umat Islam.[9]

Anggapan-anggapan negatif terhadap umat Islam itu sering dianalogikan sebagai master out of place atau sesuatu yang tidak pada tempatnya. Hal ini merujuk pada anggapan bahwa Islam tidak cocok dengan kategori tertentu yang sesuai dengan kebudayaan Barat.[10] Hal ini senada dengan ungkapan Samuel P. Huntington dalam The Clash of Civilization, di mana Huntington berargumen mengenai hal-hal yang civilized dan non-civilized. Dorothy Barenscott mengomentari sebagai berikut : The West is most often signified in the images through its institution, technology, and modernity, while Islam is pictured as traditional, religious, aggressive and ubiquitos.[11]

Pasca peristiwa 11 September, banyak perlakuan yang melecehkan umat Islam dirasakan oleh beberapa wanita Muslim, misalnya terjadi di Sydney. Komisi Hubungan Masyarakat pemerintah New South Wales yang membuka jalur komunikasi khusus (hotline) menerima lebih dari 400 pengaduan. Lebih dari 55% pengaduan itu, datang dari penelpon perempuan yang sebagian sekitar 16% mengatakan bahwa mereka menerima pelecehan verbal maupun fisik yang menyebabkan mereka terluka bahkan harus dirawat.[12] Hal itu bila dirunut lebih lanjut maka akan merefleksikan ketakutan kepada umat Islam dengan alasan bahwa mereka yang memakai cadar dapat menyembunyikan senjata dibalik cadarnya. Hal ini kemudian disebut ‘chadorphobia/cadarphobia’.[13]

Selain itu, peran media di Australia turut andil ambil bagian dalam hal pembentukan opini publik mengenai minoritas Muslim di Australia. Banyak stigma muncul yang pada dasarnya terjadi karena generalisasi yang berlebihan, tidak adanya pemahaman mendalam mengenai perbedaan yang ditunjukkan oleh kalangan umat Islam, dan selalu melihat bahwa komunitas Islam ‘berbeda’ dari ‘mainstream’ Australia. Dalam pengantarnya, Peter Manning mengutip komentar Mike Secommbe pada Sydney Morning Herald sebagai berikut :

Media images were manipulated by the government to make system asylum seekers seem a threat rather than a tragedy. It was a classic example of what they call ‘dog whistle’ politics, where a subliminal message, not literally apparent in the words used, is heard by section of the community.[14]

Dari gambaran di atas, tidak mengherankan apabila pemberitaan-pemberitaan mengenai Muslim atau bahkan hal-hal yang berkaitan dengan Arab dan Timur Tengah di surat kabar, radio maupun televise cenderung negatif dan tidak seimbang. Stigma mengenai Islam dan komunitas Muslim di Australia menjadi pemberitaan utama (headline news) di media massa sehingga membentuk generalisasi opini publik atas eksistensi Muslim di Australia.

Islam dalam hal ini selalu dikaitkan dengan salah kaprah oleh Australis sehingga muncul bibit-bibit kebencian terhadap kelompok Muslim. Posisi ini tampak cukup menjelaskan bahwa di tahun 2001, pemerintah Australia yang merupakan ‘sekutu’ AS. Terlebih lagi ketika banyak warga Australia yang menjadi korban peristiwa Bom Bali I. Hal itu turut menyudutkan umat Islam di Australia, dan keberadaannya dihubungkan dekat dengan gerakan Al-Qaeda. Apalagi pada November 2002, Osama bin Laden sempat menyebut Australia sebagai target pengeboman selanjutnya.[15]

BAB 3 PENUTUP

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kehidupan umat Muslim di Australia telah dijamin oleh pemerintah dan dipandang sebagai sebuah multikulturalisme atau keberagaman dalam hal agama. Penjaminan kebebasan beragama oleh pemerintah Austalia tersebut telah mendorong munculnya perkumpulan-perkumpulan, komunitas-komunitas Muslim di Australia. Penjamiman kebebasan tersebut juga membuat masyarkat Muslim di Australia semakin bebas menjalankan kegiatan keagamaannya.

Namun, di sisi lain hubugan antara Muslim dan non-Muslim di Australia juga terkadang mengalami fluktuasi tergantung dengan isu yang berhembus. Sebagaimana disinggung di atas, hubungan antar masyarakat Muslim dan non-Muslim di Australia sempat mengalami titik terburuk pasca peristiwa 11 September. Pada saat itu, stigma umat Islam mendapat sorotan yang sangat negatif. Mereka selalu identik dikaitkan dengan jaringan terorisme Al-Qaeda. Umat Islam dipandang sebagai seorang yang berada di tempat yang salah (master out of place). Stigma yang terus memojokkan umat Islam telah memunculkan diskriminatif bahkan kekerasan seperti misalnya dilakukan sweeping pada komunitas Muslim Australia pasca peristiwa Bom Bali I.


[1]Saeed, Abdullah. 2003. Islam in Australia. New South Wales : Allen and Unwin, hal. 6

[2]Surat Kabar Age, edisi 21 November 2002

[3]Wawancara dengan pengelola Canberra Islamic Council, 23 Juli 2005

[4]Wawancara dengan Amjad Mehboob, Presiden AFIC Sydeny, 27 Juli 2005

[5]G. D., Bouma. 1994. Mosque and Muslim Settlement in Australia. Canberra : Australian Government Publishing Service.

[6]Wawancara dengan pengelola AFIC Sydney, 27 Juli 2005

[7]Samnakay, A. R. Australian Muslim Identity, Australian Muslim News, 6 April 1999

[8]Wawancara dengan Presiden AFIC Sydney, 27 Juli 2005

[9]Saniotis, Arthur. Embodying Ambivalence : Muslimm Australians as Other, dalam http://www.questia.com,

[10]Mary Douglas dalam Purity and Pollution (1969) yang dikutip oleh Arthur Saniotis, ibid

[11]Barenscott, Dorothy. Grand Theory/Grand Tour : Negotiating Samuel Huntington in the Grey Zone of Europe, Postmodern Culture, Vol. 3, No. 12, Mei 2002, hal 5, dikutip oleh Arthur Saniotis, ibid

[12]“Isma-Listen”, Newsletter, edisi 5 September 2003, Human Rights and Equal Opportunity

[13]Surat Kabar Age, edisi 21 November 2002, hal. 1

[14]Mike Secocmbe, Sydney Morning Herald, edisi 5 November 2001, hal. 4, dikutip oleh Peter Manning dalam Dog Whistle Politics and Journalism, Reporting Arabic and Muslim People in Sydnet Newspaper, Australian Center for Independent Journalism, Sydney : Univesity of Technology, 2004

 

Tinggalkan Balasan