Sosialisme vs Liberalisme

Written by Triono Akhmad Munib – Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember

Pertalian antara demokrasi dan sosialisme merupakan satu-satunya unsur yang paling penting dalam pemikiran dan politik sosialis. Ditinjau dari segi sejarah sosialisme, segera dapat diketahui gerakan sosialis yang berhasil telah tumbuh hanya di negara-negara yang mempunyai tradisi-tradisi demokrasi yang kuat, seperti Inggris, Selandia Baru, Skandinavia, Belanda, Swiss, Australia, Belgia (William Ebenstein, 1994 : 213). Mengapa demikian sebab pemerintahan yang demokratis dan konstitusional pada umumnya diterima, kaum sosialis dapat memusatkan perhatian pada programnya yang khusus, meskipun program itu tampak terlalu luas yakni : menciptakan kesempatan yang lebih banyak bagi kelas-kelas yang berkedudukan rendah mengakhiri ketidaksamaan yang didasarkan atas kelahiran dan tidak atas jasa, membuka lapangan pendidikan bagi semua rakyat, memberikan jaminan sosial yang cukup bagi mereka yang sakit, menganggur dan sudah tua dan sebagainya.

Namun, bagaimanapun juga munculnya sosialisme merupakan bentuk upaya melawan demokrasi. Walaupun nampak sama dari segi tujuan, kedua paham tersebut memiliki pemikiran yang berbeda. Adapun beberapa ciri liberalisme, yaitu :

  1. Pertama, demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang lebih baik.
  2. Kedua, anggota masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasuk kebebasan berbicara, kebebasan beragama dan kebebasan pers.
  3. Ketiga, pemerintah hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas. Keputusan yang dibuat hanya sedikit untuk rakyat sehingga rakyat dapat belajar membuat keputusan untuk diri sendiri.
  4. Keempat, kekuasaan dari seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang buruk. Oleh karena itu, pemerintahan dijalankan sedemikian rupa sehingga penyalahgunaan kekuasaan dapat dicegah. Pendek kata, kekuasaan dicurigai sebagai hal yang cenderung disalahgunakan, dan karena itu, sejauh mungkin dibatasi.
  5. Kelima, suatu masyarakat dikatakan berbahagia apabila setiap individu atau sebagian besar individu berbahagia. Walau masyarakat secara keseluruhan berbahagia, kebahagian sebagian besar individu belum tentu maksimal. Dengan demikian, kebaikan suatu masyarakat atau rezim diukur dari seberapa tinggi indivivu berhasil mengembangkan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakatnya. Ideologi liberalisme ini dianut di Inggris dan koloni-koloninya termasuk Amerika Serikat.

Liberalisme itu sendiri erat kaitannya dengan kapitalisme. Liberalisme dan kapitalisme merupakan dua ideologi yang masih saling berkaitan erat satu sama lain dengan adanya beberapa kesamaan yang saling mendukung. Kapitalisme berkembang dengan landasan utama adanya liberalisme yang mengagungkan kebebasan individu untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada pada dirinya. Kebebasan ini merupakan naluri dasar bagi seorang manusia dalam kehidupan. Selain itu, naluri dasar manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan terutama materi. Di antara kedua ideologi, liberalisme/kapitalisme dengan sosialisme terdapat beberapa prinsip yang kontradiktif, yaitu :

  1. Liberalisme/kapitalisme mengutamakan kebebasan individu sedangkan sosialisme mengutamakan kepentingan bersama.
  2. Alat-alat produksi dan distribusi pada kapitalisme sebagian besar dimiliki individu, sedangkan dalam sosialisme alat-alat produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara.
  3. Kapitalisme mengutamakan mengejar kekayaan perseorangan, sedangkan sosialisme bekerja demi pemerataan kesejahteraan.
  4. Kapitalisme menggunakan upah sebagai alat untuk membius buruh agar bekerja membanting tulang di pabrik-pabrik, sosialisme menggunakan alat-alat kesejahteraan sosial untuk membuat kehidupan buruh bertambah nyaman.
  5. Kapitalisme mengutamakan perekonomian pasar bercirikan persaingan dengan sedikit campur tangan pemerintah, sedangkan sosialisme mekanisme pasar dalam hal permintaan dan penawaran terhadap harga dan kuantitas masih berlaku, tetapi campur tangan pemerintah lebih besar untuk menjamin kesejahteraan masyarakat.

Dalam realitanya, sosialisme selalu kalah bersaing dengan ideologi liberalisme dan kapitalisme. Hal ini disebabkan oleh pertama, daya adaptasi dan transformasi kapitalisme yang sangat tinggi, sehingga ia mampu menyerap dan memodifikasi setiap kritik dan rintangan untuk memperkuat eksistensinya. Sebagai contoh, bagaimana ancaman pemberontakan kaum buruh yang diramalkan Marx tidak terwujud, karena kelas borjuasi kapital melalui negara memberikan “kebaikan hati” kepada kaum buruh dengan konsep “welfare state”. Konsep “welfare state” yang diterapkan di negara kapitalis adalah salah satu contoh upaya adaptasi kapitalisme merangkul semangat sosialisme ke dalam pangkuannya. Kedua, kreativitas budaya kapitalisme dan kapasitasnya menyerap ide-ide serta toleransi terhadap berbagai pemikiran. Menurut Rand, kebebasan dan hak individu memberi ruang gerak manusia dalam berinovasi dan berkarya demi tercapainya keberlangsungan hidup dan kebahagiaan. Seorang kapitalis adalah orang yang melalui harta kekayaannya ia mewujudkan diri, menyingkap eksistensi diri. Ia mengaktualkan dirinya dengan dan untuk kapital. Dengan kapital, ia berharap memperoleh kekuasaan dan dominasi. Memiliki kapital berarti menguasai dunia.[]

 

Tinggalkan Balasan