Rasionalisme vs Empirisme

Written by Imam Sunarto – Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Jember

Rasionalisme

Tesis Intuisi, adalah bentuk pemahaman rasional yang mana manusia dapat memperoleh pengetahuan tanpa pengalaman terlebih dahulu. Dalam intuisi ini terkandung pengetahuan a priori yang berarti pengetahuan diperoleh secarea independen tanpa pengalaman sebelumnya. Tesis intuisi menggunakan metode deduktif yang berdasarkan pengalaman akal. Tapi  disini juga tergantung bagaimana pendukung rasionalisme memandang hubungan intuisi tersebut, disatu pihak ada yang langsung menganggapnya sebagai kebenaran, tapi dilain pihak ada yang menganggapnya intuisi bisa merupakan palsu.

Tesis pengetahuan bawaan, tesis pengetahuan bawaan ini menekankan adanya pengetahuan yang di dapat a priori. Berbeda halnya dengan tesis intuisi yang mengutip intuisi dan penalaran deduktif berikutnya, tesis pengetahuan bawaan menekankan bahwa pengetahuan diperoleh tanpa pengalaman akal atau intuisi dan deduksi. Pengalaman tidak memberikan kita dengan pengetahuan itu sendiri, menurut beberapa rasionalis bahwa kita memperoleh pengetahuan dalam keberadaan sebelumnya (pengetahuan bawaan).

Tesis konsep bawaan, pengalaman tidak menyediakan konsep atau informasi yang terkandung di dalamnya. Intuisi dan konsep bawaan sangat penting untuk rasionalisme. Itu merupakan dasar bagi rasionalis, walaupun sebenarnya tidak harus mengadopsi salahsatunya untuk menjadi seorang rasionalis. Yang terpenting dari pandangan rasionalis adalah bahwa pengalaman tidak dapat memberikan apa yang kita peroleh dari ide-ide. Bagaimana keunggulan rasionalisme seperti ungkapan Descartes: “adalah apa yang kita tahu a priori yang pasti, diluar sedikit keraguan, sedangkan apa yang kita percaya , atau bahkan tahu berdasarkan pengalaman rasa setidaknya agak tidak menentu.” Sebagian besar rasionalis melibatkan beberapa komitmen di dalamnya, yang salah satunya adalah komitmen terhadap penolakan skeptisme untuk setidaknya beberapa daerah pengetahuan. Jika kita sudah meyakini kebenaran intuisi atau bawaan maka disana skeptis yang berhubungan dengan kebenaran-kebenaran tersebut akan di tolak . dan juga komitmen fondasionalisme epistemis, yaitu pengetahuan yang diperoleh digunakan sebagai dasar untuk mengetahui kebenaran yang lebih.

Empirisme

Empirisme menolak tesis tentang intuisi dan bawaan, karena empirisme lebih menekankan pengetahuan aposteriori yang berarti tergantung pada pengalaman sebelumnya. Empirisme juga menyangkal konsep bahwa kita memiliki ide-ide bawaan. Ketika rasionalisme dan empirisme dipertemukan ternyata keduanya hanya relatif pada subjek tertentu, sehingga sebenarnya tidak perlu adanya konflik di antara keduanya. Rasionalisme dalam kaitannya dengan matematika atau wilayah tertentu dari matematika, sedangkan empirisme disemua atau sebagian ilmu fisik.

Locke sebagai salah seorang tokoh empirisme menolak rasionalisme dalam bentuk apapun baik pengetahuan bawaan atau konsep bawaan, tapi ia tetap mengadopsi tesis intuisi dalam kaitannya dengan pengetahuan tentang keberadaan Allah.

Seorang rasionalis berkenaan dengan pengetahuan tentang dunia luar menyatakan bahwa beberapa kebenaran dunia luar harus diketahuai a priori bahwa beberapa ide yang diperlukan untuk pengetahuan adalah bersifat bawaan, dan bahwa pengetahuan ini ebih unggul dari apa yang diberikan pengalaman. Tapi empirisis menolak, ketika kita berusaha memahami dan datang kepada dunia luar, maka pengalaman adalah sumber satu-satunya informasi empirisis.

Rasionalis mengasumsikan bahwa kita mengetahui beberapa kebenaran substantif dunia luar,menambah pengetahuan analisa apa yang membutuhkan, dan menyimpulkan bahwa pengetahuan kita harus berasal dari intuisi dan induksi. Descartes mengatakan: “ kita tidak pernah bisa yakin tayangan indera kita bukan bagian dari mimpi atau penipuan semata.” Kebenaran tertentu dunia luar dan kemudian dibandingkan dengan sifat dari apa yang kita tahu, bukan dengan sifat pengetahuan itu sendiri. Karena indera tidak pernah memberikan apa-apa kecuali kebenaran tertentu atau individu.

Leibniz menggambarkan matematika sebagai bawaan dan argumennya mungkin untuk menguatkan tesis intuisi, karena kita mempunyai pengetahuan substantif tentang dunia luar dalam matematika dan apa yang kita tahu di daerah itu adalah tentu benar. Pengalaman tidak bisa menjamin tentang apa yang selalu terjadi, oleh karena itu pengalaman tidak dapat menjadi sumber pengetahuan kita. Leibniz mengatakan bahwa logika, meta fisika dan moral sebagai daerah yang pengetahuan kita melampaui pa yang diberikan oleh pengalaman.

Objek akal manusia atau pertanyaan secara alami dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu: hubungan ide dan permasalahan fakta. Hal itu yang kemudian menjadi pokok kajian rasionalisme dan empirisme terutama dalam hal sumber pengetahuan.

Hume menyangkal bahwa kita mempunyai pengetahuan intuisi seperti yang di ungkapkan rasionalis, tidak ada a priori dalam realitas. Tapi rasionalis memiliki argumen untuk menguatkan tesis intuisinya relatif terhadap pengetahuan substantif kita tentang dunia eksternal.

Tesis bawaan pengetahuan

Dalam tesis intuisi dikatakan bahwa kita mempunyai pengetahuan a priori yang berarti pengetahuan sudah ada, tapi kemudian timbul pertanyaan untuk memperoleh sutu pengetahuan misalkan tentang teorema geometri kita harus melakukan penyelidikan, karena pengetahuan tanpa penyelidikan adalah mustahil. Tapi jika kita sudah memiliki pengetahuan seperti yang dikatakan rasionalis, tidak ada tempat yang kemudian untuk dilakukannya penyelidikan. Dan tidak dapat dijelaskan secara memadai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan singkat yang dikatakan bahwa itu adalah bawaan.

Empiris menyerang dua tesis bawaan dari rasionalis. Pertama bagaimana tentang berbagai rasa pengalaman atau intuisi dan deduksi memberikan pengetahuan yang di klaim sebagai bawaan. Kedua mereka langsung mengkritik tesis bawaan itu sendiri. Jika implikasinya adalah kita semua memiliki pengetahuan bawaan, bahkan seperti prinsip hal yang sama tidak dapat mendua. Lalu bagaimana dengan anak-anak dan orang idiot. Kemudian pendukung pengetahuan bawaan berpendapat bahwa pengetahuan beberapa adalah bawaan dalam hal bahwa kita memiliki kapasitas untuk memilikinya. Beberapa rasionalis berpikir reliabilism yang menurutnya kepercayaan dijamin jika mereka dibentuk oleh sebuah proses yang umumnya menghasilkan keyakinan yang benar daripada yang palsu. Keyakinan benar yang merupakan pengetahuan bawaan kita dijamin, karena hal itu terbentuk sebagai hasil dari proses pembentukan keyakinan yang dapat di andalkan.

Tesis bawaan konsep

Tesis ini mengatakan bahwa beberapa konsep kita belum diperoleh dari pengalaman.mereka bukan bagian dari pengalaman, yang mana memicu suatu proses dimana kita sadar menangkap mereka. Isi dari konsep bahkan melampaui apa saja yang terdapat dan di peroleh dari pengalaman. Dari pengalaman, kita bisa mendapatkan konsep dari suatu mahluk dengan jumlah terbatas dari bebagai kesempurnaan.

Locke menanyakan bagaimana menjelaskan bahwa seseorang memiliki konsep bawaan? Dan ada keberatan bahwa kita tidak perlu untuk menarik bawaan konsep di tempat pertama. Mengenai hal ini Leibniz menjelaskan jika jiwa seseorang hanya seperti tablet yang kosong maka tidak ada kebenaran didalamnya dan hanya hampa yang ada. Empirisme mengklaim bahwa tesis rasionalis tanpa dasar, karena semua ide-ide kita dapat dijelaskan sebagai berasal dari pengalaman.

Dalam hal ini juga Locke mempertimbangkan tentang bagaimana kita memperoleh konsep tentang sebab akibat, yang hal itu bisa dijelaskan dengan pengalaman dan pengamatan bahwa beberapa hal menerima keberadaan mereka dari aplikasi dan operasi dari beberapa hal lain. Namun kita tidak dapat membuat pengamatan ini kecuali kita telah memiliki konsep sebab-akibat.

Sumber: Stanford Encyclopedy of Philosophy

Tinggalkan Balasan