Komunikasi Interpersonal: Individu dan Lingkungan Sosial, Konflik, dan Karir

Written by Yunita Titi Sasanti – Mahasiswa Komunikasi Universitas Brawijaya

Kasus 1

Interaksi personal dengan lingkungan sosialnya (sosialisasi). Setiap orang mempunyai cara sendiri-sendiri dalam bersosialisasi, bergaul dan mengatasi masalah kehidupan mereka. Dalam hal bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan sosial setiap orang punya cara-cara sendiri dan perilaku sendiri untuk menentukan pergaulan seperti apa yang membuat mereka merasa nyaman dan senang. Bahkan cara-cara yang mereka lakukan terkadang membuat orang merasa aneh dan tidak bisa memahaminya. Terkadang ada orang dengan mudah dan cepat bisa beradaptasi dengan orang- orang dan lingkungan baru yang membuat mereka cepat akrap dan bergaul dengan orang lain, tetapi ada juga orang yang susah dalam bergaul karena kurangnya rasa percaya diri dan keberanian. Orang yang cepat dan mudah dekat dengan orang lain biasanya merupakan orang yang mudah membuka diri dengan orang lain. Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dengan mudah membuka diri dengan orang lain, diantaranya;

  • Topik, melalui topik pembicaraan yang sesuai dan umum biasanya membuat seseorang tertarik untuk berkomunikasi dan dengan mudah mengungkapkan pendapat mereka. Hal ini yang menciptakan kedekatan seseorang dengan orang lain dan membuat kita merasa nyaman, kenyamanan itulah yang membuat orang dengan mudah membuka diri dengan orang lain.
  • Budaya, kedekatan yang dimiliki seseorang juga berdasakan budaya dengan memiliki latar belakang budaya yang sama seseorang akan merasa dekat dan saling mengenal  satu sama lain karena merasa sebudaya,sesuku dan budaya merupakan bagian dari kehidupan manusia yang menjadi patokan mereka karena merasa saudara dan seperjuangan.
  • Gender, perbedaan gender mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan dan penetuan sikap kita terhadap orang lain. Laki-laki dan perempuan mempunyai cara dan sudut pandang tersendiri dalam menentukan sikap. Laki- laki cenderung terbuka dengan orang lain yang mempunyai aktivitas yang sama dan hobi yang sama, sedangkan perempuan cenderung berbagi dengan orang lain mengenai apa yang saja yang dirasakan dan lebih mudah untuk membuka diri dengan orang lain.

Seseorang mempunyai berbagai masalah dan hambatan yang membuat mereka susah bergaul dengan lingkungan sekitar karena tidak memiliki rasa percaya diri yang cukup, hal ini  merupakan masalah  komunikasi antar pribadi dimana seseorang tidak bisa merubah tindakan dan kurangnya keterampilan dalam menjalin komunikasi yang efektif, dalam kasus pertama saya akan memberikan solusi berdasarkan teori “The Self” yang ada pada komunikasi antar pribadi yang terdiri dari tiga aspek. Self concept yaitu bagaimana kamu melihat dirimu sendiri dari tiga sumber yang bisa penulis gunakan untuk mengetahui tentang dirinya. Untuk memperoleh self concept penulis bisa memperoleh dari orang lain, lingkungan sosial dan penulis bisa membandingkannya dan mengevaluasi. Sehingga hal ini membuat penulis tidak merasa tidak dapat bergaul dan penulis juga akan mengetahui kekurangan dan kelebihan dalam dirinya. Sehingga dari hal itu penulis mempunyai kesadaran akan dirinya karena penulis memiliki konsep diri yang membantu penulis mengidentifikasi dirinya.

Self awareness yaitu, apa yang kamu ketahui mengenai apa yang ada pada dirimu. Dalam hal ini ada beberapa hal informasi mengenai dirimu yang kamu dan orang lain ketahui (open self) dalam open self  penulis dan orang lain mengetahui informasi mengenai dirinya yang bisa menjadi pembanding penulis untuk mengetahui hal-hal buruk atau baik yang ada pada dirinya. Kamu tau tetapi orang lain tidak tau (hidden self) ada beberapa hal atau informasi yang terkadang kita rahasiakan dan orang lain tidak mengetahuinnya karena kita merasa hal itu tidak perlu orang lain ketahui. Kamu tidak tau tetapi orang lain tau (blind self) tanpa kita sadari terkadang orang lain memperhatikan kita dan tanpa kita tau dia mengetahui apa yang ada pada diri kita tetapi kita tidak mengetahuinya biasanya hal seperti itu orang-orang terdekat penulislah yang mengetahui karena seringnya berinteraksi dan berkomunikasi dengan penulis. Kamu tau dan orang lain juga tidak mengetahuinya (unknown self) biasanya kasus yang seperti ini hanya seorang psikiater yang memahami dan mengetahuinya karena dibutuhkan perhatian kusus. Dari hal ini penulis diharapkan mengetahui apa saja yang ada pada dirinya yang bisa menjadi motivasi untuk membangun kepercayaan diri. Penulis juga bisa mengembangkan apa yang menjadi kelebihannya dan mengurangi hal-hal yang negatif sehingga penulis tidak perlu merasa tidak bisa mengembangkan dirinya. Hal ini juga bisa merubah sikap penulis secara perlahan-lahan untuk bisa menigkatkan rasa kepercaan diri penulis.

Self esteem yaitu bagaimana kamu menempatkan dirimu, yaitu penulis mampu menempatkan dirinya di lingkungan sosial dalam kasus pertama penulis menjelaskan tidak memiliki kepercayaan diri hal ini disebabkan karena kurangnya motivasi dari orang-orang terdekat dan penulis diharapkan mencari orang –orang yang bisa dipercaya untuk memberikan afirmasi kepada penulis guna mengembangkan rasa percaya diri dan pengembangan diri yang penulis merasa tidak memilikinya. Sehingga penulis merasa mempunyai motivator untuk membangun kepercayaan diri guna mengembangkan diri penulis.

Dari beberapa hal di atas kita bisa mengatasi masalah yang ada pada diri kita dan sebenarnya masalah yang ada itu ada pada diri kita sendiri yang terkadang kita tidak menyadari akan hal itu. Kita juga bisa mengatasinya dengan membuka diri dengan orang lain atau orang terdekat kita (self disclousure) yang orang itu mengetahui kebiasaan dan karakter kita, kita bisa mendapatkan solusi-solusi dari orang yang kita percaya akan pendapatnya baik buat kita, seperti masalah kurangnya rasa percaya diri yang dialami penulis dalam bergaul dan mengembangkan diri. Penulis bisa melakukan self disclousure dengan orang-orang terdekat yang diyakini bisa memberikan solusi untuk membangun kepercayaan diri penulis dengan begitu penulis bisa mendapatkan reward yang bisa menolong kita untuk mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi. Dalam hal ini penulis memiliki rasa percaya diri yang kurang dan segala kecemasan yang timbul karena pola asuh keluarga menyebabkan timbulnya kesulitan untuk bergaul secara mendalam. Untuk lebih dekat dengan orang lain rasanya susah, setelah mengenal lebih jauh, lambat laun orang tersebut akan mendominasi, menyepelekan dan memanfaatkan. Penulis menyadari hal itu, tapi sulit untuk mengubahnya. Biasanya penulis akan menarik diri dan agresif mengonfrontasi secara langsung hanya pada orang-orang dekat. Hal ini yang menyebabkan penulis membatasi diri dan tidak punya sahabat atau menjalin hubungan pertemanan yang solid dan bermanfaat. Masalah yang dihadapi penulis dikarenakan adanya anggapan dan persepsi bahwa tidak semua orang itu baik dan mempunyai niat baik, hal ini dikarenakan kurangnya rasa kepercayaan yang ada pada diri penulis dan kecemasan yang berlebihan akan hal-hal yang membuat penulis merasa dirugikan yang dan menyebabkan ketakutan yang sangat besar sebelum melakukannya komunikasi dengan komunikator hal ini termasuk dalam (communication apprehension).

Solusi-solusi yang saya berikan kepada penulis semuanya merupakan bagian- bagian dari komunikasi antar pribadi dimana mengacu pada perubahan dan tindakan yang berlangsung terus menerus. Dalam komunikasi antar pribadi seseorang dituntut trampil dalam mengembangkan kehidupan sosialnya dan mampu bergaul dengan lingkungan sekitar. dari kasus yang dihadapi penulis diharapkan penulis mampu mengubah perilaku penulis yang merasa cemas saat berinteraksi dengan orang lain dan penulis bisa melakukannya dengan dukungan dari orang- orang terdekat dengan membuka diri secara perlahan yang nantinya akan membuat penulis mampu mengurangi rasa kecemasan yang selama ini membuat penulis merasa tidak memiliki rasa percaya diri dan mengembangkan diri seperti orang lain. Dengan kepercayaan diri yang nantinya dimiliki penulis, penulis juga bisa mengembangkan dirinya dengan bekal kepercyaan diri dan bersikap terbuka dengan orang lain dalam hal ini dibutuhkan keterampilan untuk mengembankannya dalam kehidupan sehari-hari dan yang nantinya akan menjadi kebiasaan.

Kasus 2

Konflik interpersonal. Setiap orang pasti pernah mengalami konflik baik dengan teman, sahabat, pacar bahkan dengan keluarga. Konflik sudah menjadi bagian hubungan interpersonal dan tidak bisa dihindarkan dalam hubungan seseorang. Konflik interpersonal merupakan ketidaksesuaian antar individu yang saling berhubungan, masing-masing individu menginginkan sesuatu yang individu lain tidak inginkan. Adanya konflik tidak selalu merusak hubungan seseorang tergantung bagaimana konflik itu sendiri dikelola dan diselesaikan. Jika dikelola secara adil dan saling menghormati pendapat setiap orang hubungan kemungkinan akan makmur, jika dikelola dengan tidak adil, hubungan kemungkinan menjadi buruk.  Semua itu tergantung bagaimana seseorang itu menanggapi dan menyelesaikannya. Konflik sangat erat hubungannya dengan keadaan emosional seseorang dimana untuk mengontrol emosi dibutuhkan manajemen diri dalam berpikir dan bertindak.

Di dalam konflik interpersonal relationships terdapat strategi manajemen konflik  yaitu pemilihan strategi dalam menyelesaikan konflik diperlukan untuk mengelola konflik, strategi konflik dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, tujuan yang akan dicapai, keadaan emosi, penilaian kognitif dari situasi, kepribadian dan kompetensi komunikasi, sejarah keluarga. Manajement konflik digunakan agar konflik yang ada bisa diselesaikan dengan baik-baik tanpa ada yang dirugikan.

Dari kasus yang ceritakan oleh penulis bahwa masalah bermula ketika kakak lelakinya berniat pergi ke luar pulau Jawa untuk menghindari hutangnya yang hampir setengah milyar rupiah. Penulis dan keluarganya baru mengetahui perihal hutang tersebut ketika kakaknya telah pergi bersama istri dan anaknya. Sebelum berangkat dengan dukungan mamanya sang kakak meminta uang dua puluh juta rupiah untuk mencicil hutangnya, namun penulis tak mempunyai uang dan yang dimilikinya hanyalah cincin kawin. Atas saran mama dan kakaknya mereka menyarankan penulis untuk menjual cincin kawinnya. Tentu saja hal ini tidak mungkin disetujui oleh suami manapun, tak terkecuali suami sang penulis. Sebenarnya jika dilihat, jasa sang kakak sangatlah besar mulai dari penulis berusia dini hingga sukses seperti sekarang ini. Secara kemapanan sebenarnya sang kakak lebih mapan daripada adiknya, namun karena tidak adanya persetujuan dari suami penulis tadi akibatnya mama dan kakaknya menjadi marah besar. Sumpah serapah pun diucapkan oleh sang mama hingga penulis diusir dari rumahnya dan semua yang telah diberikan oleh mama dan kakaknya selama ini dihitung sebagai hutang dan harus dia bayar. Kata maaf pun yang terucap tak dapat meredakan amarah sang mama dan justru mengusir penulis, bukan kata maaf seperti yang diharapkan oleh penulis. Kakaknya pun tak jauh beda, dia jadi memusuhi adiknya sendiri karena masalah ini. Setelah membaca kasus di atas, muncul pemikiran dalam bahwa sebenarnya masalah yang muncul dalam keluarga ini sebenarnya adalah masalah sangat sensitif dan sering muncul dalam sebuah keluarga, yaitu masalah ekonomi. Dari kasus yang diceritakan penulis saya menarik kesimpulan bahwa masalah yang mendasari adalah rasa kecewa dari mama dan kakak yang mengharapkan penulis mampu memenuhi keinginan mereka untuk menjual cincin kawinnya untuk membantu kakaknya. Disini posisi penulis sangatlah tidak enak bagai buah simalakama dimana penulis ingin membantu sang kakak tetapi tidak mungkin menjual cincin kawinnya tanpa persetujuan suami. Dalam menentukan keputusan penulis perlu meminta pendapat suami karena status penulis yang sudah berkeluarga yang tidak bisa menentukan keputusan sendiri. Disini terjadi kurangnya komunikasi yang baik antara penulis, kakak dan mama. Amarah yang diungkapkan sang ibu kepada penulis dengan mengusir dan mengucapkan sumpah serapah merupakna emosi sesaat dari mama karena rasa kecawa. Disini mama tidak bisa mengontrol emosinya dan mengakibatkan konflik yang sangat pelik dan hal ini biasanya akan berdampak buruk dan berkepanjangn jika tidak ada mediator dalam masalah ini. Meskipun kita semua mengetahui bahwa semarah-marahnya ibu dia tidak akan memangsa anaknya sendiri tetapi masalah ini harus cepat diselesaikan agar tidak berkepanjangan dan tidak ada yang dirugikan. Dalam kasus yang dihadapi penulis saya memberikan solusi yang memungkinkan kepada penulis yaitu, mengusulkan berbagai solusi, terutama mencari solusi yang memungkinkan masing-masing pihak untuk menang, untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.

Ketika dihadapkan dalam sebuah konflik sebagian orang lebih memilih menggunakan cara pemaksaan (force), yang dapat dilakukan secara fisik maupun emosi. Dari kasus ini pemaksaan yang dilakukan secara emosional. Untuk dapat mengatasi suatu pemaksaan (force) alternative yang dapat dilakukan adalah berbicara (talk). Kualitas berbicara yang terbuka antara kedua belah pihak, positif thinking dan rasa empati menjadi cara yang baik.

Di sini saya juga menyarankan agar penulis mencari orang yang sekiranya netral dan bisa sebagai mediator yang dihadapi penulis. Mediator disini diharapkan bisa menjadi listener yang baik bagi kedua belah pihak dan mediasi yang terjadi bisa berjalan dengan baik dan memperoleh dampak yang baik pula pada kedua belah pihak. Listening yang dilakukan mediator dimulai dari menerima pesan yang telah dikirimkan dari kedua belah pihak. Listening dimulai dari beberapa tahap yaitu: receiving (menerima), understending (memahami), rembering (mengingat), evaluating (mengevaluasi), responding (merespon). Tahapan dari listening ini harus saling berkelanjutan dalam satu waktu.

Dalam tahap receiving yang ada pada listening diharapkan mediator mengerti permasalahan apa yang sebenarnya terjadi dan mengingat apa yang telah disampaikan kedua belah pihak kemudian mediator mengevaluasi apa yang telah dia terima. Dari tahap evaluasi ini mediator dapat merespon dan menentukan solusi yang diberikan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi penulis.

Mediator yang digunakan dalam sebuah masalah yang dihadapi seseorang bisa menjadi alat bantu yang cukup ampuh karena dengan begitu penulis bisa mengetahui apa yang diinginkan oleh mama dan demikian sebaliknya melalui mediator yang menjadi jembatan komunikasi antara kedua belah pihak. Dalam melakukan tahap mediasi dibutuhkan kesabaran dari penulis karena tahap mediasi membutuhkan waktu yang cukup lama dan butuh kesabaran khusus untuk seorang mediator karena disaat kita menjadi mediator kita harus bersikap objektif dan netral. Dengan adanya mediasi dan bantuan mediator dalam kasus ini diharapkan konflik yang diatasi bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan tidak memutus hubungan silatuhrahmi antara ibu dan anak dan penulis dengan kakaknya. Komunikasi yang terjadi kedepan diharapkan lebih baik lagi.

Kasus 3

Dari kasus ketiga disini penulis menjelaskan mengenai hubungan penulis dengan sahabatnya yang terjalin sangat erat dan harus mengalami ujian karena masalah karier. Kebanyakan orang pasti memiliki sahabat dan menjalin persahabatan dengan orang lain yang dianggapnya nyaman ketika berkomunikasi, berdiskusi bahkan tempat mencurahkan isi hati. Persahabatan tidak memandang jenis kelamin dan umur, persahabatan itu sendiri dapat diartikan sebagai hubungan pribadi yang bermakna dan produktif diantara dua orang yang dicirikan dengan perilaku positif yang timbal balik. Di dalam persahabatan terdapat perbedaan dalam menjalankan persahabatannya. Laki-laki lebih senang melewati aktivitas bersama sedangkan perempuan cenderung lebih senang berbagi cerita dengan sahabatnya. Setiap orang mempunyai cara pandang yang berbeda-beda dalam mengartikan persahabatan dan mempuyai kriteria masing-masing dalam menentukan sahabat itu yang seperti apa. Sahabat bermula dari dua individu yang kemudian terjadi kedekatan yang semakin hari semakin intim (dekat) karena seringnya berkomunikasi, menjalankan aktivitas bersama, dan rasa nyaman. Ada beberapa tujuan seseorang menjalin persahabatan ada yang untuk memenuhi kebutuhan yaitu ada yang lebih suka memberi dari pada menerima dan ada yang lebih suka menerima dari pada memberi dalam menjalin persahatan. Untuk berbagi dalam artian untuk membagi atau sharing mengenai apa yang menjadi beban pikiran atau masalahnya ada pula yang untuk menemaninya menjalankan aktivitas atau hobinya.

Pada dasarnya persahabatan yang banyak dimiliki seseorang adalah saling memberi dan menerima tanpa adanya dominasi dari salah satu pihak karena terdapat keseimbangan dalam hubungan persahabatan. Dari kasus ini  kurangnya kesadaran akan berharganya sebuah persahabatan. Persahabatan yang sudah terjalin sekian lama antara penulis dan sahabatnya sekarang ini sedang berada dalam tahap depenetrasi, yaitu dimana penulis dan sahabatnya  saling menjauh karena beberapa alasan yang belum jelas diketahui oleh penulis. Seharusnya penulis dan sahabatnya menjalin komunikasi yang baik agar jelas kenapa sikap sahabatnya berubah kepadanya. Depenetrasi yang tejadi terus menerus akan menjadi disolusi yang berakibat persahabatan mereka sudah tidak bisa dipertahankan lagi.

Dengan menjalin persahabatan selama bertahun-tahun seharusnya penulis dan sahabatnya mengenal dan mengetahui sifat masing-masing. Ego yang cukup besar sangat berpengaruh dalam masalah ini dimana tidak adanya keinginan dari salah satu pihak untuk keluar dari masalah ini dan tidak adanya niat untuk memperbaiki hubungan antara keduanya yang telah dibangun sekian lama.

Dalam menjalin suatu hubungan memang terkadang kita butuh untuk menjaga jarak kepada orang-orang tertentu yang dirasa hubungan yang terjalin lebih banyak menimbulkan kerugian. Tetapi jika dalam menjalin suatu hubungan itu saling memberikan manfaat atau bahkan lebih sepatutnya hubungan itu dipertahankan. Dalam menjalin sebuah persahabatan pasti di dalamnya terdapat konflik yang terkadang mengakibatkan persahabatan itu terancam. Seperti kasus yang dihadai penulis dengan sahabatnya, persahabatan mereka terancam berakhir karena masalah persaingan dalam karier. Antara penulis dan sahabatnya dibutuhkan komunikasi yang baik dan berkualitas guna terjalin keterbukaan satu sama lain. Positif thinking dan empati antara penulis dan sahabatnya untuk mendapatkan solusi dari masalah yang sedang dihadapi. Bersikap legowo untuk menerima kritik dari orang lain dan tidak mementingkan ego masing-masing yang perlu dikendalikan karena jika seseorang yang sedang dihadapi masalah biasannya dia hanya menggunkan ego tanpa berpikir dampak kedepannya. Sikap saling memaafkan antara keduanya juga sangat menunjang. Jika dalam komunikasi yang terjalin tidak di dapat solusi guna mempertahankan hubungan persahabatan berarti hubungan persahabatan itu memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi karena tidak tercapainya kesepakatan antara kedua belah pihak meskipun begitu hubungan itu bisa beralih menjadi hubungan pertemanan kerja yang sehat dan bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan