Alur Pemikiran Hegel

Written by Alrisa Ayu CS – Mahasiswa Administrasi Negara FISIP Universitas Jember

George Wilhelm Friederich Hegel (1770-1831), akrab disebut dengan Hegel. Seperti halnya kaum romantic yang pengaruh pemikirannya seringkali mendapat serangan, ternyata tak menjadikan ketakutan baginya. Justru dengan hal itu,  filosof kelahiran Jerman ini mampu menemukan sebuah filsafat yang mencapai hal yang tak terbatas. Mencakup semua pengalaman manusia, seiring dengan semua pengetahuan manusia, ilmu, sejarah, agama, politik, seni, sastra, dan arsitektur.

Menurut Hegel setiap pengetahuan teoritis baru akan menghasilkan sikap praktis tertentu. Dalam bukunya yang berjudul  “Phanomenologie des Geistes (Philosophy of History)”, Hegel mampu menunjukkan jika kesadaran kritis atau subjek pengetahuan itu tidak tiba-tiba jadi atau ada, melainkan melalui sebuah proses pembentukan terlebih dahulu. Dengan demikian kesadaran kritis pasti dapat ditelusuri asal-usulnya. Dalam artian seperti ini, Hegel menempatkan subjek dalam perjalanan sejarah manusia. Dengan kesadaran untuk mengetahui asal-usulnya, pengetahuan akan semakin menjadi kritis (metakritik). Kritik pengetahuan tidak hanya sekedar kritis terhadap pengetahuan, namun juga terhadap dirinya sendiri pula.

Kritik pengetahuan Hegel ini tidak dilakukan dengan pendekatan transendental, melainkan dengan pendekatan fenomenologis (pengalaman kesadaran atau pengalaman refleksi). Dalam fenomenologi, Hegel melukiskan bagaimana kesadaran memahami asal-usulnya sendiri. Jadi titik tolak kegiatan refleksi adalah rasa kepastian terhadap objek yang langsung kita sadari secara indrawi. Rasa kepastian ini merupakan kesadaran kita sehari-hari terhadap objek di sekeliling kita yang kita alami secara langsung. Jadi, kesadaran ini lebih bersifat elementer. Dengan dasar ini, maka terbentuklah kesadaran yang lebih tinggi serta kompleks.

Hegel menggambarkan bagaimana proses pembentukan kesadaran diri ini dari bentuk kesadaran elementer ke bentuk kesadaran sosial dalam sejarah umat manusia yang akhirnya akan berujung pada pengetahuan absolut. Contoh proses pembentukan kesadaran diri ini misalnya, dalam sejarah kemanusiaan itu juga  merupakan bagian dari ide yang mutlak, yaitu Tuhan sendiri. Ide yang berfikir itu sebenarnya adalah gerak, bukanlah gerak  yang maju terus, melainkan gerak yang menimbulkan gerak lain. Gerak ini mewujudkan tesis  yang dengan sendirinya menimbulkan gerak  yang bertentangan, yaitu antitesis. Adanya tesis dan antitesisnya itu menimbulkan sintesis, yang selanjutnya menjadi tesis baru dan dengan sendirinya juga akan memunculkan antitesis  serta terjadinya memunculkan sintesis baru lagi. Maka hal demikian ini disebut dengan “proses dalam ide”. Proses ini oleh Hegel kemudian disebut dengan “Dialektika Roh Absolut”. Dalam pengetahuan absolut, roh menjadi sadar diri dan terjadilah identitas antara pikiran serta alam material. Di sini segala bentuk pengetahuan yang belum sempurna termasuk matematika dan ilmu alam, menjadi sempurna dengan pengetahuan absolut.

Semua itu menunjukkan bahwa Hegel telah menemukan aspek sejarah dari pengetahuan manusia. Melalui pengalaman fenomenologis, Hegel mampu meruncingkan pisau kritik pengetahuan. Dan  sendi-sendi kemapanan dalam transendentalisme Kant dapat dia hancurkan.

Tinggalkan Balasan