Relasi Coca Cola, Israel, dan Manipulasi Amerika Serikat

Written by Triono Akmad Munib – Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember

Kita mungkin sudah tak asing lagi mendengar kata-kata Israel, Palestina, Jalur Gaza, dan Yahudi. Itulah sedikit kata-kata yang sering muncul dalam surat kabar, internet jika terdapat berita konflik di Timur Tengah. Konflik Israel-Palestina memang sudah berlangsung lama dan sudah tak bisa dihitung lagi berapa jumlah korban yang berjatuhan baik penduduk sipil maupun militer antara kedua negara. Tapi di sini, kita tidak akan membahas sejarah terbentunknya negara Israel yang berimplikasi kepada mengapa konflik itu bisa terjadi namun akan dibahas tentang dari mana dana Israel untuk membiayai persenjataannya sehingga bisa terus eksis melancarkan serangan ke warga-warga Palestina.

Seperti yang diketahui bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) adalah saudara kandung. “Kejahatan” mereka terhadap bangsa Palestina atau Libanon, tak lepas dari dukungan beberapa perusahaan raksasa yang kini kita ikut membelinya yang salah satunya adalah perusahaan minuman ringan, Coca Cola Company. Sesuai dengan konsep transnasionalisme bahwa proses di mana “hubungan internasional yang dilaksanakan oleh pemerintah telah disertai oleh hubungan indibidu-individu, kelompok-kelompok dan masyarakat-masyarakat swasta yang dapat memiliki konsekuensi-konsekuensi penting bagi berlangsu,ngnya berbagai peristiwa” (Rosenau 1980:1). Terlihat bahwa hubungan antar negara, yaitu AS-Israel telah melibatkan perusahaan yang notabene sebagai aktor no-state di dalamnya. Sekedar catatan, Coca-cola sudah berperan aktif untuk mendanai kejahatan zionisme Yahudi secara konsisten sejak tahun 1966[1].

Manipulasi Amerika

Dalam hal ini Amerika yang selalu berkedok bahwa alasan mereka ingin dan turut membantu serangan Israel ke Palestina dalam hal ini Jalur Gaza yang merupakan titik utama konflik guna membantu Israel mendapatkan “tanahnya” kembali sesuai dengan doktrin tanah perjanjian merupakan sebuah manipulasi dan akal-akalan AS semata. Amerika telah membohongi dunia internasional. Di sini ada sebuah tekanan dari dalam negeri AS sendiri terkait masalah globalisasi dan ekspansi pasar global. Dalam hal ini, Coca Cola yang terus membantu mendanai Israel meminta sebuah timbal balik, yaitu dengan Israel bisa menguasai tanah Palestina maka akan semakin mudah bagi Coca Cola meluaskan pasarnya di sana. Produk Coca Cola dan Fanta banyak di Palestina[2]. Terdapat sebuah kisah Nabil, seorang warga Qalqiya, bersama dengan ibu, istri, dan anak-anaknya pada suatu hari membeli sepetak tanah untuk dibangun sebuah vila yang indah. Ketika ia membelinya, tanah itu menghadap ke hamparan bukit dan lembah, terdiri atas berbagai tumbuhan dan pepohonan. Setiap sore hari di musim panas, anak-anak akan bermain di taman yang luas itu. Kemudian Israel merampas sebagian besar tanahnya dan hanya menyisakan 10 meter dari gerbang depan untuk dibangun tembok setinggi delapan meter dengan tebal tiga meter dari ujung kanan hingga ujung kiri, mengelilingi bekas tanah Nabil untuk pembangunan[3].

Kembali kepada konsep transnasionalisme bahwa keakraban Israel dan AS tidak bisa dipandang semata-mata hubungan antar dua negara yang masing-masing memiliki alasan rasional. Namun, aktor non-state yang dalam fenomena di atas adalah perusahaan Coca Cola milik AS turut campur di dalamnya yang juga turut mempengaruhi hubungan keduanya. Terlebih AS sangat rapi dalam membungkus manipulasi yang dibuatnya. Mungkin bisa dikaitkan dengan peribahasa “sambil menyelam minum air”. Sambil AS terus mendanai dan membantu Israel yang katanya untuk mendapatkan haknya atas  tanah perjanjian saat itu pun semakin dikuasainya tanah Palestina dengan terus memasukkan dan mengekspansi MNCs-nya. Dalam negeri AS pasar sudah tidak bisa di perluas lagi lalu kemanakah barang ini akan dijual?. Negara lain adalah jawabannya yang salah satunya adalah tanah Palestina. Ada hubungan kerjasama di mana Kamar Dagang Amerika-Zionis Israel (AICC) akan mencari peluang bisnis di Amerika Serikat untuk mendanai proyek-proyek di zionis Israel atas nama negara zionis Israel. Sebagai contoh, imigrasi dibayar untuk memindahkan orang-orang Yahudi dari sebuah negara ke zionis Israel.

Selain itu, masih sederet perusahaan raksasa yang jelas-jelas banyak memberi andil pada Israel. Termasuk diantaranya Starbuck Coffee dan McDonald.  McDonald mempunyai 30,000 restoran di 121 buah negara serata dunia.  CEO Mc Donald, Jack M. Greenberg, adalah anggota Dewan Perdagangan dan Industri Amerika-Israel. McDonald Corporation adalah perusahaan yang ikut menyumbang besar ekonomi dan diplomatik Israel[4]. Ada pula Nestle, yang produknya banyak dipakai di Indonesia. Nestle pernah menerima Anugerah Jubilee dari Perdana Menteri Netanyahu. Selain Nestle, pada tahun 1998, Roger S. Fineon, wakil perusahaan Johnson & Johnson, menerima anugerah serupa Jubilee dariPerdana Menteri Israel Netanyahu[5].

Banyak disebutkan bahwa Coca-Cola mendukung negara zionis Israel, tapi belum banyak orang yang mengungkapkannya secara terbuka. Coca Cola mendapatkan penghargaan dari AICC (kongsi dagang AS-Israel) atas sumbangsihnya kepada zionis Israel. Coca-Cola mensponsori pelatihan dan pendidikan bagi para pekerja mengenai ideologi Zionisme. Semua itu ada di situs-situs web, di laporan-laporan penelitian. Juga, Coca-Cola telah membangun sebuah pabrik di Qiryat, di atas tanah Palestina. Dan dikatakan bahwa Coca-Cola membangun pabrik itu bekerjasama dengan Israel dalam upaya mempekerjakan para pemukim miskin[6].

Setelah dijelaskan sebuah fenomena di atas, ditekankan kembali bahwa hubungan internasional saat ini tidak bisa dipandang sebagai sebuah hubungan state to state yang tidak ada aktor lain selain itu. Melainkan hubungan antar negara juga sedikit banyak dipengaruhi oleh aktor non-state, individu, kelompok kepentingan yang juga turut membuat hubungan internasional dewasa ini menjadi semakin kompleks. Alasan AS membantu Israel untuk mendapatkan haknya atas “tanah perjanjian” merupakan sebuah kebohongan yang ditutupi dan penuh manipulasi. Perlu dianalisa ulang bahwa ada sebuah aktor non-state berupa perusahaan multinasional yang untuk memenuhi kebutuhannya berekspansi secara global telah mendayagunakan kekuasaan negara secara determinan.

 

Tinggalkan Balasan