Posisi Wanita Dalam Industri Media: Studi Kasus Majalah Cosmo Girl dan Popular Magazine

Written by Yunita Titi Sasanti – Mahasiswa Komunikasi Universitas Brawijaya Malang.

Nama Majalah COSMO GIRL! Indonesia; Kategori Majalah Remaja Wanita; Edisi Agustus 2007; Frekuensi Bulanan; Bahasa Indonesia; Penerbit PT. Media Rahayu Citra (di Amerika Serikat Hearst Corporation);  Asli Amerika Serikat namun diterbitkan di Indonesia.

Analisis terhadap majalah COSMO GIRL! Indonesia yaitu melihat bagaimana posisi wanita dalam majalah ini. Analisis pertama dimulai dengan identifikasi majalah COSMO GIRL! Indonesia secara umum. Majalah ini merupakan majalah asli Amerika yang diterbitkan dalam edisi Indonesia (sumber: cosmogirl.co.id). Cosmo Girl! Indonesia merupakan majalah perempuan yang memiliki sasaran remaja putri sehingga isi majalah disesuaikan dengan kebutuhan mereka yang masih belia misalnya rubrik The CG! Look : Mix and Match, Social Life dan Inner Girl: CG! Campaign dan sebagainya. Hal ini tidak terlepas dari pemilihan bahasa yang lebih santai serta pilihan warna di setiap halaman yang cerah dan menyenangkan (sumber : anneahira.com)[1]

Ada beberapa bagian yang akan penulis analisis dalam majalah Cosmo Girl! Indonesia, diantaranya :

Cover. Cover yang dipakai pada majalah ini adalah sosok Emma Watson dengan tampilan yang cukup menarik dan sopan. Hal ini bisa dilihat dari make up yang natural, tata rambut yang rapi sesuai dengan gaya remaja pada umumnya, baju yang sopan dan pose yang tidak ‘seronok’. (sumber: majalah Cosmo Girl! Indonesia).

Konten. Menurut asumsi pribadi penulis, secara keseluruhan konten pada majalah ini cukup sesuai dengan target pembacanya (remaja putri). Salah satu artikel yang peulis angkat adalah Rubrik Inner Girl : CG! Project.

Rubrik ini membahas tentang sosok perempuan Indonesia yang mempunyai talent dan kontribusi dalam segala bidang. Perempuan-perempuan dalam rubrik ini tidak hanya dilihat dari segi outer beauty-nya saja tetapi inner beauty mereka sehingga mereka dapat berkarya dengan inner beauty-nya. Pada rubrik Inner Girl edisi Agustus 2007, mengangkat sosok Ajay sang penari Bali dan Agni Pratistha, Putri Indonesia 2006.

Dalam artikel ini, korelasi antara judul dengan figure (gambar) yang ditampilkan guna menunjang isi artikel sudah cukup sesuai. Buktinya, pada sosok Ajay yang mengupas tentang talenta yang dimilikinya yaitu tari Bali, gambar yang ditampilkan pun adalah pose Ajay saat menari tari Bali. Sosok Agni yang notabene Putri Indonesia 2006 diceritakan mengenai pengalaman pribadinya selama menjadi Putri Indonesia 2006 sampai mewakili Indonesia di ajang Internasional, hal ini didukung dengan foto-foto Agni saat menjadi Putri Indonesia 2006.

Menurut penulis, pemilihan dan pemakaian kata-kata untuk merepresentasikan sosok wanita dalam artikel ini pun sangat sopan dan terkesan edukatif bagi yang membacanya, seperti yang dikutip dari artikel Ajay sang penari Bali “she’s so cosmogirl!..karena ia cinta dan bangga akan Indonesia dengan cara yang unik-mendalami tari Bali”, kemudian Agni sebagai Putri Indonesia 2006 “ Lakukan yang terbaik untuk negara…”  Menurut penulis, hal ini sesuai dengan konteksnya, yaitu majalah khusus wanita terutama remaja putri dimana setiap kata selalu menyiratkan penghargaan atau apresiasi terhadap wanita.

Posisi wanita dalam majalah ini

Posisi wanita dalam majalah wanita (yang diperuntukkan untuk kaum wanita) adalah sebagai subjek. Dikatakan sebagai subjek karena di sini wanita ditampilkan secara utuh sebagai satu kesatuan yang merupakan subjek ataupun identitas seorang individu. Subjek seorang wanita yang ada dalam majalah wanita Cosmo Girl adalah sebagai seorang yang dapat memberikan inspirasi untuk orang lain (inspiratif) (sumber:  http://suaramerdeka.com/harian/0711/14/opi03.htm ditulis oleh Rieke Dyah Pitaloka) [2]

Dalam majalah wanita yang memang diperuntukkan untuk seorang wanita, disitu tidak pernah ditemukan wanita sebagai seseorang yang hanya menjadi objek saja. Selalu ada cerita di balik sosok seorang wanita dalam majalah wanita itu sendiri. Cerita yang dibawa oleh seorang wanita itu pun bukanlah cerita kosong belaka, namun cerita itu mampu memberikan kekuatan maupun pemikiran baru bagi seorang wanita contohnya pada rubrik Inner Girl yang menampilkan sosok Ajay sang penari Bali dan Agni Pratistha, Putri Indonesia 2006.

Nama Majalah Popular Magazine; Edisi November 2007; Kategori Majalah Pria Dewasa; Frekuensi Bulanan; Penerbit PT Nitra Indrya Harsa; Indonesia; menggunakan Bahasa Indonesia.

Analisis terhadap majalah POPULAR yang melihat bagaimana posisi wanita dalam majalah ini .

Analisis pertama dimulai dengan identifikasi majalah POPULAR secara umum.  Majalah ini merupakan majalah asli Indonesia yang frekuensi penerbitannya  bulanan. Majalah ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1988 dan diterbitkan oleh PT Nitra Indrya Harsa. Majalah ini diterbitkan dalam Bahasa Indonesia. Selain edisi cetaknya, ada pula edisi online-nya (sumber : popular-maj.com). Majalah POPULAR adalah salah satu jenis majalah yang dikhususkan bagi pembaca dewasa. Hal ini terkait dengan materi artikel dalam majalah tersebut. Dalam majalah Popular, banyak dikupas tentang artikel yang berhubungan dengan aktivitas pria dewasa dan tidak jarang menampilkan wanita sebagai objeknya. (sumber : anneahira.com)[3].

Ada beberapa bagian yang akan penulis analisis dalam majalah POPULAR, diantaranya :

Cover. Cover yang ditampilkan pada majalah ini adalah sosok wanita yang memakai bikini dengan rok mini dan didukung dengan pose yang sensual. Cover ini telah di setting sedemikian rupa, mengingat cover  adalah salah satu faktor yang menentukan laris tidaknya suatu majalah karena sebelum melihat isi majalah, calon pembaca tentunya melihat dulu bagamana cover majalahnya, jika covernya dinilai menarik maka pembaca akan tertarik dan mempunyai keinginan untuk membeli majalah tersebut, dan begitu pula sebaliknya.Hal ini tidak terlepas dari target majalah POPULAR adalah pria dewasa.

Konten. Banyak sekali segmen atau artikel  yang tidak membahas seksualitas, namun memajang gambar-gambar yang merangsang seksualitas. Jelas sekali bahwa gambar dalam artikel ini tidak merepresentasikan isi artikel (padahal sudah seharusnya media menampilkan figure yang berkorelasi dengan isi).

Majalah ini membentuk pandangan masyarakat sosial, pria terutama, tentang bagaimana seharusnya wanita (secara bentukan biologis) sehingga wanita yang ditampilkan dalam iklan selalu harus cantik, langsing, seksi, berkulit bersih, serta memiliki daya tarik tertentu (payudara yang berisi dan padat) terutama bagi kaum laki-laki (Moerdijati, 1999)[4].  Seolah menampik kualitas perempuan dari segi prestasi, akademis dan lain-lainnya.

Dalam pemilihan dan pemakaian kata, majalah ini menggunakan bahasa yang vulgar dan tidak edukatif seperti pada judul artikel di bawah ini : “Dada enak dilihat ” kemudian di isi artikel terdapat kata – kata  “ .. pemilik bra ukuran 36 A “ selanjutnya pada artikel disebelahnya (artikel joke) terdapat pula kata – kata “ ..biarkan aku meremas payudaramu” “ Ia membuka blus dan BH-nya kemudian membiarkan lelaki tua tersebut meremas-remas payudaranya”.

Inilah yang dikhawatirkan merasuki rasa keingintahuan remaja yang belum memiliki cukup pengetahuan tentang dunia seksualitas. Dikhawatirkan, mereka akan salah memaknai tentnag artikel yang mereka baca dan mengaplikasikannya secara salah dalam kehidupan mereka.

Posisi wanita dalam majalah ini

Dalam majalah pria, posisi wanita dalam majalah pria adalah sebagai objek keindahan visual belaka.  Hal ini dikarenakan wanita lebih multiple indrawi, sedangkan pria lebih dominan pada indra yang berhubungan dengan visual saja (sumber : Moerdjati, 1999)[5]. Menurut Sumbo Tinarbuko (sumbo.wordpress.com)[6]  wanita sebagai objek di dalam pencitraan, wanita digambarkan sebagai makhluk yang harus memikat. Untuk itu, ia harus menonjolkan ciri-ciri biologis. Kualitas dan sikap yang mencirikan keperempuanan sebagai. potensi melekat yang dimiliki seorang perempuan secara kodrati, kini justru kian menjadi aset dalam serangkaian produksi dan pasar industri kebudayaan, seperti majalah sebagai produk kebudayaan.

“Laki-laki menjadi unggul ketika mata kanannya ditutup sehingga hanya mata kirinya saja yang dapat menerima informasi yang langsung oleh otak kanannya, tempat ketrampilan ruang berada” (Allan and Barbara Pease, 2005 : 202). Munculnya wanita ini adalah sebagai penarik perhatian kaum pria untuk dapat melirik dan melihat mengenai isi artikel maupun pesan apa yang ada di dalamnya. Keindahan seorang wanita bagi kaum pria inilah yang menyebabkan wanita menjadi objek dalam majalah pria. Wanita hanyalah objek yang mampu membuat pria untuk lebih tertarik melihat sesuatu.

(sumber : Jurnal Studi Gender dan Anak) [7] . Menurut asumsi penulis, tidaklah penting bagi seorang pria untuk mengetahui kisah inspiratif di balik sosok wanita itu. Dalam majalah Popular ini misalnya, hampir semua artikel yang ada di dalamnya pasti menempatkan wanita-wanita cantik sebagai objeknya. Keberadaan wanita-wanita inilah yang sebenarnya menjadi hal yang “dijual” dari majalah Popular.

Jika dikaitkan dengan teori, Michel Faucoult dalam History of Sexuality-nya, mengatakan bahwa beragam tubuh pengetahuan modern tentang seksualitas (beragam “pengetahuan” tentang seksualitas, termasuk psikoanalisis) sangat dipengaruhi oleh struktur kuasa masyarakat modern. Penguasa dalam hal ini bukan hanya Presiden, kaum elite, jendral, pemimpin partai, ataupun tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Penguasa bisa juga mengacu kepada suatu hal yang berbentuk strategis. (sumber : Chris Barker, 2006). Menurut asumsi penulis, media dapat disebut sebagai suatu penguasa dalam kehidupan masyarakat Indonesia modern yang dimana, melalui strategi-strategi bisnisnya, media telah mengekspos publik/masyarakat dengan sajian-sajian mereka setiap harinya. Jadi dapat ditarik kesimpulan, jika posisi wanita dalam majalah pria khususnya majalah Popular sebagai objek, tidak terlepas dari pengaruh kekuasaan media (pemilik majalah Popular) yang memiliki otoritas besar atas visi misi terhadap majalah Popular (bagaimana memposisikan wanita dalam majalahnya).

DAFTAR PUSTAKA

www.anneahira.com

www.popular-maj.com

www.cosmogirl.co.id

www.sumbo.wordpress.com

http://suaramerdeka.com/harian/0711/14/opi03.htm

Liliek Budiastuti Wiratmo dan Mochamad Gifari, “Representasi Perempuan dalam Majalah Wanita”  dalam Jurnal YIN YANG Vol.3 No.1  (2008).

Moch. Jalal, ”Eksploitasi Simbol-simbol Seksualitas Perempuan dalam Iklan Majalah Playboy Indonesia” dalam Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik Vol.21 No.1 (2005)

Pease, A. a. (2005). Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps. Jakarta Selatan: PT.     Cahaya Insan Suci.

Visualisasi Wanita dalam Iklan di Majalah Wanita & Majalah Pria. Laporan Penelitian Studi Kajian Wanita. Surabaya: FISIP UNAIR


[1]Anne Ahira adalah seorang Pendiri Asian Brain Internet Marketing Center, pembicara di APEC (Asia Pacific Economic Cooperation)  dan penerima penghargaan ‘Indonesian Small and Medium Business 
Entrepreneur Award
‘ dari Menteri Koperasi Republik Indonesia

[3]Anne Ahira adalah seorang Pendiri Asian Brain Internet Marketing Center, pembicara di APEC (Asia Pacific Economic Cooperation)  dan penerima penghargaan ‘Indonesian Small and Medium Business 
Entrepreneur Award
‘ dari Menteri Koperasi Republik Indonesia

[4] Moch. Jalal, ”Eksploitasi Simbol-simbol Seksualitas Perempuan dalam Iklan Majalah Playboy Indonesia” dalam Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik Vol.21 No.1 (2005)

[5] Visualisasi Wanita dalam Iklan di Majalah Wanita & Majalah Pria. Laporan Penelitian Studi Kajian Wanita. Surabaya: FISIP UNAIR

[6] Konsultan Komunikasi Visual, Dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa, dan Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.Sumbo Tinarbuko

[7] Liliek Budiastuti Wiratmo dan Mochamad Gifari, “Representasi Perempuan dalam Majalah Wanita”  dalam Jurnal YIN YANG Vol.3 No.1  (2008).

Tinggalkan Balasan