Prospek Hubungan Jepang dengan Korea Utara Paska Kematian Presiden Kim Jong Il

Written by Diah Ayu Intan Sari, dkk – Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jember

Sejarah pahit masa lalu Korea Utara yang pernah diekspansi secara besar-besaran oleh Jepang membuat Korea Utara mempunyai dendam yang tinggi terhadap Jepang. Sejak Jepang melakukan penjajahan terhadap Korea (pada masa itu Korea belum terpecah menjadi dua) pada tahun 1910 Jepang melakukan kekejaman dan kejahatan yang membuat rakyat Korea sangat menderita. Beberapa kejahatan penjajahan Jepang atas Korea diantaranya adalah[1]: meruntuhkan Gyeongbokgung, mengenakan pajak tinggi terhadap hasil pertanian serta mengekspornya ke Jepang yang menyebabkan bencana kelaparan bagi rakyat Korea, menyiksa dan membunuh warga yang menolak membayar pajak, kerja paksa membangun jalan dan pertambangan, perbudakan seks terhadap wanita Korea, mengirimkan pekerja ke teritori Jepang lain untuk kerja paksa, dan pembunuhan hampir 7000 orang Korea paska aksi protes rakyat Korea 1 Maret 1919.

Kekejaman di masa lalu yang dilakukan oleh Jepang tersebut, kemudian menjadi historical mindset dari Korea Utara bahwa Jepang adalah negara yang agresif dan ekspansionis (trauma masa lalu). Trauma masa lalu itulah yang menjadi salah satu faktor hubungan Jepang dengan Korea Utara yang buruk hingga sekarang. Terlebih lagi sampai detik ini, Jepang tidak pernah meminta maaf atas kekejaman atau penjajahannya. Jepang juga tidak mau memberikan kompensasi kepada Korea Utara atas kekejaman penjajahannya tersebut. Hal ini juga menambah daftar buruk citra Jepang dimata Korea Utara sekaligus penyebab hubungan yang buruk antara keduanya.

Hubungan Jepang dengan Korea Utara tidak pernah akur, bahkan hingga saat ini Jepang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Korea Utara. Hubungan Jepang dengan Korea Utara sebelum kematian Kim Jong Il juga sangat buruk. Seperti ketika tes senjata nuklir yang dilakukan Korea Utara selama masa pemerintahan Kim Jong Il yakni tahun 2006 dan 2009, dengan mengarahkan rudal-rudal jarak menengah beberapa kali ditembakkan oleh Korea Utara ke udara perairan Jepang. Sehingga ketika kabar kematian Kim Jong Il muncul, Jepang semakin kuatir akan masa depan keamanannya serta stabilitas keamanan di kawasan Semenanjung Korea. Kekhawatiran Jepang tersebut bukan tanpa alasan. Sebab militer Korea Selatan justru kembali melakukan uji coba rudal nuklir jarak pendek di pantai timur negaranya paska pengumunan kematian Kim Jong Il.

Prospek hubungan Korea Utara dengan Jepang akan penulis jelaskan secara sistematis dan logis dengan menggunakan sudut pandang realisme. Tindakan dan sikap politik luar negeri Jepang dalam menyingkapi masalah Korea Utara dengan meningkatkan status keamanannya menjadi siaga satu paska meninggalnya Kim Jong Il akan penulis jelaskan lebih mendalam dengan menggunakan konsep dalam realisme yaitu balance of power. Konsep yang penulis gunakan adalah Purpose of  balance of  power oleh Bolingbroke, Gentz, Metternich and Castlereagh: Ensure stability and mutual security in the international system.[2] Tindakan yang dilakukan oleh Jepang dengan meningkatkan keamanannya paska kematian Kim merupakan suatu bentuk upaya untuk menjaga keamanannya dengan mengumumkan status siaga satu (high alert) untuk mengantisipasi kondisi yang tidak terduga (unpredictable condition).[3] Sebab Jepang menggangap bahwa Korea Utara merupakan suatu ancaman bagi stabilitas regional. Mengingat Korea Utara yang telah terkenal sebagai salah satu exist of evil tersebut merupakan common enemy bagi negara-negara tetangganya seperti Jepang, Korea Selatan, China juga dunia internasional.

Paska kematian Kim, militer Korea terus meningkatkan kekuatan senjata nuklir dan kuantitas personel militernya. Hal ini membuat Jepang menjadi semakin waspada. Apalagi Pyongyang sering melakukan berbagai aksi provokasi seperti tes nuklir dan konfrontasi militer yang menimbulkan ketegangan di kawasan Semenanjung Korea. Hal ini terbukti ketika manuver politik Pyongyang yang akhirnya berujung pada peluncuran rudal nuklir paska pengumunan kematian Kim Jong Il.[4] Kondisi inilah yang memaksa Jepang juga melipatgandakan keamanan sebab Jepang khawatir kekuatan Korea Utara sepeninggal Kim Jong Il semakin sulit ditebak. Sehingga Jepang mengambil langkah untuk memberlakukan siaga satu untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan Semenanjung Korea.

Konsep balance of power (Bolingbroke,dkk: 1990) dalam hal ini dapat terlihat dengan jelas saat Jepang berusaha menjaga stabilitas kawasan Semenanjung Korea bersama-sama dengan Korea Selatan dengan memberlakukan siaga satu. Selain itu, Jepang juga melakukan upaya mutual security dengan China untuk bersama-sama menjaga stabilitas kawasan Semenanjung Korea. China merupakan negara yang memiliki hubungan diplomatik serta hubungan ekonomi yang baik dengan Korea Utara. Dengan alasan inilah, Jepang berusaha melakukan upaya mutual security dengan China untuk menjaga stabilitas keamanan Semenanjung Korea.

Pada akhirnya, dengan kacamata realisme penulis menyimpulkan bahwa hubungan Jepang dan Korea Utara tidak akan pernah terjalin baik, sebab keduanya tidak memiliki hubungan diplomatik sama sekali. Selain itu, ekspansi Jepang atas Semenanjung Korea pada tahun 1910-1945 silam juga merupakan faktor lain yang menyebabkan tidak akan terciptanya hubungan baik antara keduanya (trauma masa lalu). Ditambah lagi, Jepang merupakan sekutu utama AS di Asia, sehingga penulis melihat Jepang tidak akan mungkin memilih berhubungan baik dengan Korea Utara mengingat Korea Utara merupakan musuh AS. Kemudian, munculnya kekhawatiran Jepang terhadap program nuklir dan rudal Korea Utara sehingga Jepang menganggap Korea Utara sebagai suatu ancaman abadi bagi stabilitas keamanan Semenanjung Korea. Disisi lain, Jepang juga masih menyimpan dendam terkait penculikan warganya oleh intelijen Korea Utara puluhan tahun lalu.[5]

Dari pihak Korea Utara, penulis melihat bahwa hubungan diplomatik dengan Jepang juga tidak akan pernah terjadi. Sebab historical mindset Korea Utara atas Jepang yang kejam dan ekspansionis masih tertancap kuat (trauma masa lalu), tindakan Jepang yang tidak mau meminta maaf dan memberikan kompensasi juga memperburuk hubungan antar keduanya. Sehingga dari sudut pandang realis, penulis meyakini bahwa walaupun kepemimpinan Korea Utara sekarang sudah digantikan oleh Kim Jung Un, tetapi prospek hubungan Jepang dengan Korea Selatan tetap tidak akan berjalan baik.

Referensi


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Korea#Penjajahan_Jepang

[2] Robert L.Pfaltzgraff, Jr n James Dougherty, CONTENDING THEORIES OF INTERNATIONAL RELATIONS a comprehensive Survey, Third Edition, New York:  HARPER & ROW PUBLISHERS. 1990, on Chapter Purpose of  balance of  power by Bolingbroke, Gentz, Metternich and Castlereagh page number 31.

[3] http://m.jpnn.com/news.php?id=111754

[4] http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/12/20/lwhzxh-dua-hari-merahasiakan-kematian-kim-korut-uji-cuba-rudal

[5] http://www.detiknews.com/read/2011/12/19/130148/1794446/1148/kim-jong-il-wafat-jepang-bersiap-untuk-keadaan-tak-terduga

 

Satu Balasan pada “Prospek Hubungan Jepang dengan Korea Utara Paska Kematian Presiden Kim Jong Il”


  1. so that’s why until now korea always feel jealous with what japan doing…the moment of the past.
    but japan is always great…

Tinggalkan Balasan