Memaknai Eksistensi Buku dalam Praksis Sosial

Written by Arif Wijaksono – Alumni Hubungan Internasional Universitas Jember

Kapankah sebuah buku menjadi entitas yang ‘hidup’? Kita tidak akan pernah menemukan jawabannya ketika kita masih saja menterjemahkan buku dalam bentuknya yang kasat mata; akumulasi teks-teks dalam lembaran kertas, namun tidak pernah menyimpan, memindai, atau bahkan menuangkan isinya dalam kenyataan hidup yang sebenarnya. Kedua, apabila teks-teks dalam sebuah buku tidak mampu merepresentasikan nilai-nilai yang disampaikan secara ajeg, sehingga pembaca tidak menemukan sense of resiprocity (logos) terhadap wacana yang ditawarkan sehingga tercipta proses komunikatif yang tidak efektif.

Sebenarnya eksistensi buku sebagai entitas yang ‘hidup’ dapat ditelusuri jika teks-teks tidak hanya mengajak pembaca dalam alam kontemplasi, melainkan juga harus mampu mengkognisi pembaca untuk berpikir reflektif kemudian menerapkannya secara sadar dalam realitas. Kemampuan refleksi manusia hanya bekerja dalam tataran diskursif saja, mengenai bagaimana keterlibatan secara intens dalam aktivitas-aktivitas sosial. Pada tataran inilah teks tidak hanya membentuk manusia pada kesadaran praktis, yaitu kesadaran yang didapat secara langsung berdasarkan fakta-fakta sosial. Bahkan teks-teks juga memiliki kuasa untuk ditafsirkan dalam kisaran yang tak terbatas, melampaui konteks penulisnya sebagaimana diyakini oleh kaum posmodernis. Proses ini memungkinkan munculnya penawaran konsepsi baru praksis sosial. Oleh sebab itu, seharusnya buku memuat teks dengan nilai-nilai inspiratif. Nilai ini harus memiliki ketepatan antara fokus dan lokusnya, artinya mampu mewakili realitas sosial yang melingkupi pembaca. Jadi, konvergensi nilai, fokus, dan lokus inilah yang akan menjadikan sebuah buku menjadi ‘hidup’. Hal ini tidak hanya berlaku untuk buku-buku non-fiksi, melainkan juga pada karya sastra semacam novel, roman, atau juga antologi puisi senyampang koheren dengan realitas.

Sayangnya tidak banyak buku yang mampu menginspirasi pembacanya untuk berpraksis dan hanya berakhir di rak-rak perpustakaan. Hal ini bukan berarti buku tersebut tidak berkualitas, melainkan seringkali tidak memiliki ketepatan dalam realitas sosial sehingga proses encoding pembaca menjadi kabur. Dengan sendirinya sebuah buku kehilangan nilainya yang penting. Sebuah buku tidak harus menjadi bestseller untuk menentukan apakah dia memiliki eksistensi sebagai entitas, sebab parameter yang digunakan adalah indikasi kualitatif. Buku-buku semacam Harry Potter, Lord of The Ring, atau juga Dunia Sophis tidak dapat dikategorikan entitas yang berjiwa sebab tidak menimbulkan praksis sosial yang positif dalam masyarakat.

Dalam kerangka inilah dapat dijelaskan mengapa karya-karya Marx terutama manifesto komunis mampu mengilhami lahirnya gerakan sosial menentang kapitalisme di Eropa. Bahkan hingga saat ini prinsip-prinsip umumnya masih dianggap relevan meskipun dengan revisi secara ketat. Karya Marx pada dasarnya merupakan kritik terhadap revolusi politik Perancis dan revolusi industri di Inggris yang ternyata memunculkan dualisme dalam tatanan ideal masyarakat yang berkeadilan sosial. Kita juga mengenal bagaimana karya-karya Richard Wagner tentang superioritas bangsa Jerman mampu menginspirasi Adolf Hitler dalam politik fasisme yang meluas ke Italia dan Jepang hingga menyulut Perang Dunia II. Karya Wagner ini merupakan resistensi traumatis dari kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I. Oleh sebab itu tidak heran jika fasisme segera mendapat dukungan secara masif dari rakyat Jerman.

Soekarno juga pernah berusaha mensitesakan nasionalisme, sosialisme, dan islam untuk menyatukan berbagai elemen bangsa dalam perjuangan kemerdekaan. Karyanya tentang nasionalisme, agama, dan komunisme (NASAKOM) juga sempat mewarnai perjalanan republik ini. Selain itu, karya-karya penulis muda semacam Eko Prasetyo, Coen Husein Pontoh, Nurani Soyomukti, dan lain-lain yang selalu tampil dengan tema-tema yang provokatif. Yang juga perlu mendapat apresiasi adalah Andrea Hirata, yang novel tetralogi laskar pelanginya tidak hanya menjadi bestseller melainkan juga mampu menginspirasi masyarakat Indonesia tentang sekolah yang menyenangkan. Novel fiksi ini sebenarnya sejalan dengan realitas pendidikan di Indonesia yang masih carut marut. Bahkan ada seorang ibu yang secara khusus menyampaikan terima kasihnya sebab setelah membaca novel ini, anaknya yang pada awalnya tidak mau sekolah akhirnya mau bersekolah. Yang menarik, Andrea menggunakan sebagian besar hasil royalti penjualan novelnya untuk mendirikan sekolah. Kita benar-benar diperlihatkan bagaimana kekuatan buku dalam mempengaruhi lingkungan sosial masyarakat.

Tentunya tidak ada buku yang mampu menginspirasi pembacanya untuk berpraksis sosial bebas dari kepentingan maupun implikasi-implikasi yang ditimbulkannya. Dan tidak semua memiliki implikasi yang positif atau dalam bahasa Levi Strauss tentang hal ihwal ‘pemikiran yang biadab’. Misalnya pembunuhan secara massal bangsa yahudi dalam holocaust oleh Adolf Hitler merupakan tragedi kemanusiaan dalam perjalanan sejarah umat manusia. Benturan antar peradaban yang digagas oleh Samuel Huntington juga seakan-akan memberikan legitimasi Amerika Serikat untuk menginvasi Afganistan dengan alasan perang terhadap terorisme yang ‘didentifikasikan’ sebagai kaum muslim. Tesis Huntington sangat berbahaya sebab memusatkan pertentangan dan potensi konflik internasional dalam tataran peradaban dan religi.

Akhirnya kita harus mengakui betapa besar kekuatan ide-ide inspiratif yang terkandung dalam buku untuk menentukan gerak sejarah manusia. Dunia memang bentukan dari berbagai pikiran yang beragam dan bahkan seringkali manusia sendiri tidak akan mengetahui sepenuhnya hasil dari aktifitas-aktifitasnya. Marx mungkin tidak akan pernah mengira bahwa hingga saat ini kapitalisme masih tetap kokoh berdiri karena dia begitu yakin komunisme sebagai akhir sejarah. Hitler mungkin tidak pernah membaca buku yang mengajarkan bahwa manusia mesti hidup berdampingan secara damai dimana ras-ras manusia itu sederajat. Soekarno pasti kecewa ketika tahu bahwa konsepsinya tentang ‘berdiri di atas kaki sendiri’ tidak menjadi primadona di negeri sendiri. Indonesia masih saja jadi lahan subur korupsi, didikte asing, dan didera krisis multidimensial berkepanjangan. Andrea Hirata mungkin tidak pernah bermimpi bahwa akhirnya ia bisa membangun sebuah sekolah dari penjualan novelnya. Seperti diilustrasikan pramoedya, “Apabila umurmu tidak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan.” Karena tulisan itulah yang menjadikan kita tetap hidup menembus batasan waktu.[]

Tinggalkan Balasan