Tampakan dan Realitas: Mendedah Eksistensi Materi

Written by Nuraida Muji Kurnia EP – Mahasiswa Administrasi Negara Universitas Jember

Apakah memang benar ada bumi itu? jika ada, lantas objek macam apakah bumi itu? Apakah memang benar ada udara itu? Jika ada, objek seperti apakah udara itu? Apakah memang benar ada batu itu? Jika ada, objek seperti apakah batu itu? Pertanyaan-pertanyaan sederhana di atas cukup menggelitik benak kita untuk berusaha menjawab dengan tidak ceroboh dan dogmatis. Mungkin sebagian merasa sangat mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut, mungkin juga sebagian dari kita merasa pertanyaan tersebut sangat sulit untuk ditemukan jawabannya. Bagi mereka yang merasa mudah untuk menjawabnya, mereka dapat menggunakan segenap pengetahuan yang dimiliki untuk menjawabnya. Misalnya, menurut pengetahuan si A, bumi itu ada, bumi itu berbentuk bulat dan pejal, yang dapat dibuktikan dengan teori yang dikemukakan oleh Nicholas Copernicus. Muncul pertanyaan baru, apakah saat ini anda masih yakin bahwa bumi itu eksis? Apakah anda masih yakin bahwa bumi itu bulat? bagaimana anda dapat melihatnya saat ini?

Dari hal tersebut masih timbul keraguan yang diwujudkan dalam pertanyaan, sehingga muncul suatu pertanyaan hakiki, adakah pengetahuan yang begitu pasti di dunia ini sehingga tidak seorang pun dapat meragukan kebenarannya? Pertanyaan tersebut tampak sederhana, namun sebenarnya merupakan pertanyaan paling sulit yang dapat ditanyakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali menganggap banyak hal sebagai sesuatu yang pasti dan tidak perlu dipertanyakan kembali, padahal apabila diteliti lebih lanjut ternyata penuh dengan kontradiksi. Misalnya saja kita menggunakan contoh batu sungai. Dengan menggunakan indera penglihatan kita, dapat dideskripsikan bahwa batu sungai itu padat, keras, berwarna hitam, dan bertekstur tidak rata. Semua orang setuju dengan deskripsi tersebut, namun akan muncul permasalahan jika batu itu diamati dengan lebih cermat dan seksama. Permasalahan timbul jika ada sinar matahari yang menyinari batu tersebut, sehingga beberapa bagian dari batu tersebut memantulkan cahaya yang berbeda. Jika ada beberapa orang yang melihat secara bersamaan, tentu tidak akan ada 2 orang yang secara tepat melihat warna batu yang sama. Tentu ada yang mengatakan bahwa batu tersebut berwarna hitam, abu-abu muda, abu-abu gelap, dan sebagainya. Tidak ada warna yang dominan dari batu tersebut, yang ada adalah warna yang berbeda karena sudut pandang yang berbeda. Namun terlepas dari hasil tangkapan indera kita, ada bentuk sejati dari batu itu sendiri, dimana bentuk sejati bukan berasal dari apa yang kita lihat, tapi berasal dari sesuatu yang disimpulkan dari apa yang kita lihat. Namun, apakah benar ada bentuk batu sejati itu?

Jika memang ada, bentuk sejati dari batu kita sebut sebagai objek fisik, sedangkan hasil tangkapan indera kita disebut sebagai data indera. Kumpulan dari semua objek fisik disebut sebagai “materi”. Lantas, adakah benda yang disebut materi itu, jika ada, apakah hakikatnya? Berkeley (dalam Russell, 2002) mengatakan bahwa materi itu sama sekali tidak ada, yang ada di dunia ini hanyalah pikiran-pikiran dan ide-ide belaka. Dia bukan menyangkal bahwa data indera benar-benar merupakan tanda-tanda eksistensi sesuatu yang tidak bergantung pada kita, melainkan menyangkal bahwa sesuatu ini bersifat non-mental, bahwa ia tidak berupa pikiran atau ide yang dimiliki pikiran. Ia mengakui pasti ada sesuatu yang tetap eksis jika kita menutup mata. Ia masih mempercayai sesuatu yang tetap ada meskipun kita tidak sedang memandanginya. Oleh karena itu, dia menganggap sesuatu yang sejati itu sebagai suatu ide dalam pikiran Tuhan.

Apabila kita mengambil objek umum yang diduga dapat diketahui dengan indra, yang diberikan kepada kita bukanlah kebenaran dari objek yang terpisah dari diri kita, melainkan hanya kebenaran tentang data-indera. sehingga, yang kita lihat dan rasakan secara langsung hanyalah “tampakan”, yang kita percayai sebagai suatu “realitas”. Tetapi jika realitas ternyata bukanlah tampakan yang kita lihat, apakah kita memiliki sarana untuk mengetahui bahwa realitas itu ada? Dan apakah kita punya sarana untuk mengetahui bagaimanakah realitas itu sebenarnya? Walaupun filsafat tidak mampu menjawab banyak pertanyaan, paling tidak filsafat mampu melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk menyingkap keanehan  dan keajaiban mulai dari hal sederhana hingga paling rumit sekalipun.

Selanjutnya, untuk memahami suatu realitas yang berwujud benda, kita perlu mempertanyakan, adakah benda yang disebut materi? Adakah sebuah batu yang memiliki hakikat intrinsik tertentu, dan tetap eksis ketika saya tidak melihatnya, ataukah batu itu hanya produk imajinasi saya? Meskipun kita meragukan eksistensi fisik dari batu, kita tidak dapat meragukan eksistensi data-indera yang membuat kita berfikir bahwa ada sebuah batu, melalui indera penglihatan dan indera peraba. Namun, muncul permasalahan lain yang harus dipertimbangkan, pada saat kita menjumlahkan seluruh data indera, apakah kita sudah menyatakan segala sesuatu yang harus dinyatakan tentang batu, atau masih adakah sesuatu yang lain (di luar data indera) yang tetap bertahan ketika kita keluar dari ruangan itu?

Satu alasan penting mengapa kita harus mendapatkan sebuah objek fisik sebagai tanbahan dari data indera adalah karena kita menginginkan objek yang sama untuk orang yang berbeda. Data indera bersifat pribadi, mereka semua melihat dari sudut pandang yang berlainan, sehingga mereka melihat obyek tersebut berlainan pula. Jadi, jika ada obyek netral umum yang dapat dikenali oleh banyak orang dalam beberapa hal, maka pasti ada sesuatu yang melampaui data-indera kita. Lalu, atas dasar alasan apakah kita mempercayai adanya sejenis obyek netral umum tersebut? jawabannya, meskipun orang yang berlainan bisa melihat batu dengan cara yang berlainan, setidak-tidaknya mereka masih melihat hal serupa ketika memandangi batu tersebut. sehingga dapat dikatakan bahwa ada objek yang tidak tergantung pada data-indera kita sendiri. Jika dimungkinkan di dalam pengalaman pribadi kita yang paling murni, kita harus menemukan karakteristik yang menunjukkan bahwa di dunia ini terdapat segala sesuatu selain diri kita dan pengalaman pribadi kita.

Tentu saja keyakinan kita pada dunia ekaternal yang mandiri tidak didukung oleh argumen. Kita memiliki keyakinan yang didapatkan dari hasil merenung, inilah yang disebut keyakinan naluriah. Filsafat harus memperlihatkan kepada kita hierarkhi keyakinan naluriah kita, diawali dengan keyakinan yang paling kuat untuk kita pegang. Filsafat berfungsi untuk mengorganisasikan keyakinan naluriah kita dan konsekuensi-konsekuensinya dengan mempertimbangkan mana di antara keyakinan itu yang paling mungkin. Sehingga, kita tiba pada sebuah organisasi pengetahuan sistematis yang dicapai atas dasar penerimaan sebagai data tunggal apa yang secara naluriah kita percayai.

Tinggalkan Balasan