Sengketa Teritorial Laut China Selatan

Written by Fudzcha Putri Jazilah MM – Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jember

Abstraksi

Salah satu yang menarik bagi para penstudi HI untuk mengamati peristiwa-peristiwa politik dikawasan Asia adalah kompleksnya sudut pandang yang dapat digunakan untuk melihat suatu peristiwa tertentu. Kasus Laut Cina Selatan misalnya, yang melibatkan banyak negara di Asia Tenggara dan Cina. Secara historis, perebutan wilayah di laut Cina selatan ini bermula ketika Cina mengklaim hampir seluruh batasan wilayah laut tersebut. Hal ini tentu memicu ‘kemarahan’ bagi beberapa negara Asia Tenggara yang juga mengklaim beberapa pulau kecil yang termasuk dalam kawasan Laut Cina Selatan tersebut.

Penulis menggunakan teori realisme dengan sedikit menambahkan konsep “efek domino” atas kasus Laut Cina Selatan. Pada dasarnya, banyak yang hanya mengamati peristiwa ini dari sisi hubungan antara Cina dan beberapa negara Asia Tenggara. Namun, sebenarnya terdapat hal yang lebih menarik untuk dianalisis dari kasus ini, yaitu hubungan yang memanas antara Cina dan beberapa negara Asia Timur khususnya Jepang. Disinilah letak kompleksitas sudut pandang yang dimaksud di atas. Pada paper ini akan dibahas bagaimana penulis berasumsi atas hidden agenda Cina terhadap Jepang dengan memanfaatkan kekacauan yang ada di Laut Cina Selatan untuk menghambat laju perekonomian Jepang. Selain itu, penulis juga berusaha menganalisa bagaimana Jepang bisa mempertahankan kepentingan nasionalnya di Laut Cina Selatan yang mana tentunya akan ada campur tangan AS pada kasus tersebut.

Key Words: AS, Cina, Ekonomi, Hidden agenda, Jepang, Laut Cina Selatan.

 

Latar Belakang

Laut Cina Selatan merupakan kawasan laut yang terletak di kawasan Samudera Pasifik terbentang dari Singapura dan Selat Malaka di barat daya hingga Selat Taiwan di timur laut. Laut Cina Selatan pada dasarnya merupakan no man’s island karena kawasan ini pada dasarnya tidak dimiliki oleh siapapun melainkan digunakan sebagai jalur perdagangan internasional.[1] Sehingga laut ini memiliki posisi yang strategis. Selain hal tersebut, perairan yang dipersengketakan oleh beberapa negara ini juga memiliki sumber daya alam yang melimpah seperti minyak bumi dan hasil laut. Tidak heran jika beberapa negara melakukan klaim terhadap wilayah perairan tersebut.

Sengketa kepemilikan laut China Selatan yang melibatkan beberapa negara di kawasan ASEAN dengan China berimplikasi munculnya ketidakkondusifan antar beberapa negara tersebut, bahkan di kawasan Asia timur. Sehingga dengan adanya masalah ini menambah daftar panjang permasalahan di wilayah asia timur dan ASEAN.

Kita ketahui bahwa laut tersebut adalah jalur pelayaran internasional terpadat kedua di dunia. Jepang sangat bergantung pada jalur tersebut untuk menopang aktivitas ekonominya seperti ekspor-impor. Meskipun Jepang tidak terlibat dalam sengketa wilayah namun ia merasa terancam dengan adanya masalah tersebut yang berujung pada inkondusifitas jalur pelayaran strategis itu. Pasalnya tindakan China dengan melakukan pengeboran minyak dan menggelar latihan militer angkatan laut akan memicu semakin panasnya hubungan negara-negara yang bersengketa tersebut. Kita ketahui bahwa ketika terdapat suatu wilayah yang dipersengketakan maka tidak diperkenankan bagi negara-negara yang tersangkut dalam kasus tersebut untuk untuk melakukan aktivitas di wilayah yang dipersengketakan itu. Dengan adanya aktivitas China tersebut maka dapat dikatakan bahwa ia telah melanggar hukum internasional. Adanya masalah tersebut mengakibatkan jalur perdagangan tersebut menjadi tidak aman. Implikasinya adalah terganggunya Jepang sebagai salah satu pengguna jalur pelayaran tersebut untuk aktivitas ekspor-impornya. Dengan demikian ekonomi Jepang akan terganggu. Ketika ekonominya melemah maka hal ini akan menurunkan bargaining posisinya dalam aliansi militer yang tergabung dalam blok barat sehingga aliansi tersebut juga ikut melemah. Karena pada dasarnya kekuatan ekonomi Jepang adalah alat untuk bargaining positionnya dan penopang aliansi tersebut. Tidak heran jika Amerika serikat dapat terbawa dalam masalah ini karena ia adalah mitra aliansi militer Jepang dengan latarbelakang ideologi barat. Ketika suatu saat aliansi tersebut mengalami penurunan kekuatan maka hal ini sangat menguntungkan bagi China dengan latarbelakang ideologi komunis. Dengan demikian ideologi komunis semakin menguat karena melemahnya Barat. Sehingga hal ini menambah daftar panjang sejarah konflik ideologi antara komunis dan liberal semenjak Perang dingin.

China’s Hidden Agenda Over the South China Sea

Tindakan agresif Cina di Laut Cina Selatan perlu dianalisis lebih dalam mengingat keagresifan tindakan Cina telah melampaui batas. Pada titik kasus pengklaiman Cina terhadap wilayah teritori Laut Cina Selatan saja sudah menimbulkan ketegangan yang tinggi di kawasan regional Asia, ditambah lagi dengan tindakan Cina yang meluncurkan 11 kapal maritimnya termasuk jenis Destroyer semakin menambah ‘amarah’ dari beberapa negara Asia Tenggara yang juga mengklaim kepemilikan beberapa pulau di Laut Cina Selatan.[2] Selanjutnya, masalah ini tidak hanya akan mengancam keamanan regional Asia tenggara namun juga akan mengancam keamanan negara-negara Asia Timur (Jepang khususnya), khususnya dibidang kekuatan dan pertahanan ekonomi.

Jika kita melihat dari sisi yang berbeda, sebenarnya masalah sengketa Laut Cina Selatan juga akan merujuk ke agenda lain Cina untuk menambah bargaining position dan power atas Jepang dalam bidang ekonomi. Mengapa bisa demikian? Pertama, andaikan Laut Cina Selatan menjadi wilayah teritori Cina yang sah secara hukum internasional, maka Cina mempunyai kontrol dan kedaulatan penuh atas laut tersebut. Hal ini tentu akan dimanfaatkan oleh Cina untuk menghambat kemajuan ekonomi Jepang yang dianggap sebagai ancaman oleh Cina, karena Cina menyadari bahwa walaupun Jepang tidak mempunyai militer namun kekuatan atau power Jepang yang sesungguhnya bertumpu pada landasan ekonomi yang super kuat. Dengan menguasai laut tersebut, Cina dapat memblok sedikit banyak akses ekspor-impor Jepang melalui jalur Laut Cina Selatan tersebut, mengingat sekitar 70% ekspor-impor laut Jepang (khususnya minyak) bergantung pada jalur tersebut.

Dalam kondisi sekarang saja misalnya, Cina sudah mulai mengerahkan kapal-kapal maritimnya di kawasan Laut Cina Selatan. Hal ini tentu memicu negara-negara Asia Tenggara lainnya yang juga mengklain wilayah di laut tersebut seperti Filipina, Malaysia, Brunei, Taiwan dan Vietnam juga ikut mengerahkan tindakan yang sama. Akhirnya ‘kekacauan’ pun timbul di Laut Cina Selatan tersebut dan sudah mengganggu keamanan jalur laut internasional. Masalahnya adalah, dari segi lain kita juga dapat menggali lebih jauh dari konteks kasus ini bahwa sebenarnya proses pelaksanaan hidden agenda Cina untuk mengacaukan ekonomi Jepang sudah terlihat. Asumsi dapat dibuat bahwa, Cina selain untuk merebut wilayah teritori laut juga secara sengaja menimbulkan kekacauan di Laut Cina Selatan dengan memicu ketegangan kawasan sekitar Laut Cina Selatan agar kegiatan ekonomi Jepang yang memanfaatkan ‘laut bebas’ itu terganggu dan akhirnya akan merujuk pada economic instability di Jepang.

Kasus di atas pada akhirnya mengantarkan kita pada suatu konsep yang dinamakan domino effect dimana, dalam konteks kasus ini, pertikaian yang terjadi dalam kawasan regional Asia Tenggara dan Cina juga memakan korban negara-negara lain khususnya di kawasan Asia Timur seperti Jepang dan Korea. Selain itu, teori realis melihat adanya hidden agenda dari Cina atas kasus di atas juga menunjukkan kekhawatiran dan ketakutan Cina terhadap pertumbuhan ekonomi Jepang yang sangat beda tipis dari Cina. Sebab, Cina melihat Jepang sebagai musuh bukan dalam hal kekuatan militer, namun Cina lebih takut pada kekuatan ekonomi Jepang yang bisa menjadi ancaman bagi Cina mengingat hubungan antara kedua negara tersebut pun tidak harmonis.

Japan’s Effort to keep Its National Interest Over the ‘Sea’

Pasca Di bom atom oleh AS Jepang melakukan pembaharuan ekonomi menjadi lebih terbuka dan menjadikan langkah awal bagi Jepang untuk berkembang  menjadi kekuatan ekonomi yang kuat pada masa itu. Keberhasilan Jepang untuk bangkit melalui segi ekonomi menjadikan jepang sebagai aktor yang berpengaruh di dunia internasional khususnya kawasan Asia. Berkembangnya pertumbuhan ekonomi Jepang tidak terlepas dari perdagangan internasional di kawasan asia pasifik dimana jalur strategis bagi jepang dalam memperlancar pengiriman produk-produknya adalah melalui Laut Cina Selatan.

Jepang, merupakan negara yang kuat di bidang ekonomi, negara pemasok hasil industri, serta pengimpor terkemuka atas minyak dan gas bumi. Perekonomian Jepang menjangkau seluruh pelosok dunia dan perdagangan internasionalnya merupakan bagian dari upaya pemenuhan kepentingan nasionalnya. Jepang memiliki kepentingan dengan laut china selatan karena laut china selatan merupakan jalur perdagangan internasional dimana tank-tank jepang mengangkut 70% dari minyak yg diimport melalui jalur tersebut. Keamanan perekonomian Jepang sangat dipengaruhi oleh keamanan wilayah perdagangan internasionalnya, sehingga Jepang sangat memperhatikan keamanan regional maupun global.

Karena itu, Jepang memiliki kepentingan yang kuat atas stabilitas keamana dunia. Jepang juga memiliki pengaruh dalam upaya mewujudkan keamanan regional dan global. Karena itu, sikap politik Jepang akan selalu diperhitungkan oleh negara-negara besar dunia, dan merupakan salah satu kekuatan penyeimbang bagi stabilitas keamanan kawasan. Hal ini menjadi salah satu ancaman besar bagi cina karena kita tahu bahwa cina juga memiliki kekuatan ekonomi yang setara dengan jepang. Cina tidak tinggal diam akan hal ini,dengan kekuatan militernya mengguasai Laut cina selatan. Lalu,apabila keamanan maritim di Laut Cina Selatan terancam, berarti hal itu akan mengancam kepentingan Jepang. Sebab Laut Cina Selatan adalah bagian dari jalur perhubungan laut Jepang yang tidak bisa dikompromikan. Secara tidak langsung tindakan cina akan dapat melumpuhkan ekonomi jepang. Ancaman besar yang muncul dari cina kepada jepang ini menjadikan jepang melakukan berbagai cara untuk tetap mempertahankan “National Interest”Negaranya.

Hans J. Morgenthau menyatakan bahwa pokok bahasan utama dalam studi Hubungan Internasional adalah  politik internasional atau usaha memperjuangkan kekuasaan antar negara-bangsa dimana politik internasional sebagaimana semua politik lain, merupakan usaha memperjuangkan kekuasaan. Negara – negara berlomba untuk memperluas kekuasaannya di dunia internasional demi meraih kepentingan nasionalnya.[3] Dengan konsep ini maka demi mencapai dan menjaga stabilitasnya, Jepang kemudian mendukung AS untuk menempatkan tambahan armada militernya di Australia.[4] Aliansi yang dibangun oleh jepang dan AS ini dirasa dapat melindungi kepntingan Jepang di laut cina selatan dan karena bargaining position jepang di level ekonomi sangat kuat maka AS mau saja beraliansi dengan Jepang. Dan aliansi antara jepang dengan AS ini juga akan menjadi ancaman besar bagi cina karena AS juga merupakan rival dari Cina.

DAFTAR PUSTAKA


[1]Jepang-Indonesia dan Konflik Laut Cina Selatan”. The Japan Foundation. Diakses dari: http://www.jpf.or.id/artikel/studi-jepang-pertukaran-intelektual/jepang-indonesia-dan-konflik-laut-cina-selatan Tanggal 25 Desember 2011.

[2]Cina-Vietnam percepat perundingan Laut Cina Selatan”. BBC – Dunia. Diakses dari: http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/09/110908_vietnamchina.shtml Tanggal 25 Desember 2011.

[3] Budiono Kusumohamidjojo. 1987. Hubungan Internasional. Jakarta: Bina Cipta, hal. 105

[4]Menyinggung rencana AS menggelar pasukan tambahan di Australia yang diyakini sebagai persiapan menghadapi kekuatan militer China di Pasifik…”. Opsi Penyelesaian Krisis Laut Cina Selatan Hanya Perundingan – Luhur Hertanto. Diakses dari: http://www.detiknews.com/read/2011/11/17/182534/1769701/10/opsi-penyelesaian-krisis-laut-cina-selatan-hanya-perundingan Tanggal 25 Desember 2011.

 

Tinggalkan Balasan