Review Teori-Teori Gerakan Sosial

Written by Imam Sunarto – Mahasiswa Sosiologi Universitas Jember

Dalam dunia sosiologi politik kontemporer saat ini, gerakan sosial memiliki peranan yang sangat penting. Mengapa demikian, lebih jelasnya disini akan dibahas satu per satu. Yang pertama, karena gerakan sosial itu memiliki pengaruh yang ada dalam dunia perguruan tinggi, dimana disana tentu ada mahasiswa yang bisa dikatakan sebagai agen perubahan sosial dan juga agen kontrol sosial. Yang kedua, karena adanya anggota dari gerakan sosial itu yang semakin paham akan perannya, sehingga secara langsung atau tidak langsung ini akan memberikan suatu penyangga bagi kehidupan sosial. Hal ini menjadi penting tentunya. Dalam hal ini masyarakat akan terlihat ada sebuah perjuangan kelas dan konflik kelas. Dalam permasalahan mengenai hal ini tentu tak akan pernah lepas dari politik, selama ada orang yang bisa memegang kekuasaan politik maka pasti akan ada orang lain yang akan diperlemah olehnya. Bisa jadi hal ini dilakukan oleh orang-orang yang memegang kekuasaan politik untuk mempertahankan status quo. Yang ketiga, mengenai topik studi yang dibahas dalam hal ini. Jika dalam penjeasan yang bersifat sosiologis,  mereka akan melihat politik hanya sebatas organisasi belaka yang hanya berkutat pada sebuah negara. Dalam pandangan gerakan sosial, sosiologi politik kontemporer dipandang sebagai sebuah perlawanan, suatu perlawanan terhadap institusi politik yang kurang baik untuk menjadi lebih baik.

GERAKAN SOSIAL BARU

Pada tahun 1960an, gerakan sosial menjadi hal yang penting dalam penelitian sosiologi dengan namanya sebagai gerakan sosial baru. Baru yang dimaksudkan disini adalah karena titik kulminasinya yang terjadi pada tahun 1960an. Gerakan-gerakan yang terjadi saat itu antara lain adalah gerkan untuk menuntut hak-hak rakyat sipil, gerakan ini dilakukan oleh mahasiswa, juga gerakan yang dilakukan kaum perempuan untuk menuntut kesetaraan gender, gerakan kelompok gay untuk menuntut kebebasan, serta gerakan lingkungan. Mereka melihat istilah “baru” disini adalah untuk orientasi mereka kedepannya. Istilah barul ini juga mereka gunakan sebagai perbandingan dengan istilah “lama” dengan alasan:

  1. Non instrumental, artinya disini adalah bahwa gerakan sosial yang dilakukan adalah untuk menentang gaya lama yang dianggap hanya berkutat pada masalah moralitas yang mana sebenarnya istilah gaya lama ini secara langsung untuk kepentingan kelompoknya saja.
  2. Orientasinya lebih ke rakyat sipil ketimbang untuk negaranya sendiri, maksudnya:
    1. Dalam hal ini gerakan sosial curiga dengan struktur birokrasi yang terpusat dan cenderung mengalihkan pandangan publik ke arah birokrasi itu sendiri ketimbang ke para elit penguasa.
    2. Karena mereka lebih konsentrasi pada aspek budaya, gaya hidup dan politik ketimbang ke aspek hal sosial ekonomi.
  3. Organisasi informal kalah, maksudnya adalah karena organisasi infformal disini menghindari adanya hirarki, birokrasi. Beda dengan organisasi formal.
  4. Adanya media massa yang tidak independen, maksudnya media massa diikat oleh kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu.

Dengan adanya permasalahan ini, subyek yang ada dalam gerkan sosial ini ingin mengkritisi tujuan pemerintah yaitu ingin mendistribusikan ekonomi dan memenuhi hak-hak sipil, padahal yang terjadi adalah banyaknya kepentingan para birokrat dibalik itu. Perlawanan yang dilakukan dalam gerakan sosial ini adaah untuk menentang tradisi lama yang tidak terbuka atau bersifat tertutup, artinya disini memang sebenarnya ada yang kesan yang ditutup-tutupi oleh tradisi lama. Dalam hal ini, orang yang berada dalam gerakan sosial ingin tercipta suatu transparansi. Hal ini tentu menjadi kontras.

Craig Calhoun menunjukkan bahwa pada awal-awal abad 19 ada banyak gerakan-gerakan. Termasuk gerakan-gerakan feminis, gerakan-gerakan nasionalis religius, dan segenap aspek gerakan menentang kelas lainnya. Hal lainnya yang dibahas disini adalah adanya gerakan dari kaum pekerja terhadap industrialisasi yang terjadi pada saat itu. Kami dapat mengasumsikan bahwa gerakan yang dilakukan oleh kaum pekerja terhadap industri-industri dimana mereka bekerja adalah karena adanya ketidak adilan. Artinya bahwa ada eksploitasi terhadap kaum pekerja oleh kaum pemilik pabrik/industri. Proses-proses gerkan yang terjadi dalam hal ini berujung pada suatu titik kulminasi yaitu pada negara kesejahteraan, ini terjadi pada periode perang dunia ke dua. Dalam hal ini ada suatu negoisiasi antara kaum kapitalis, pekerja dan pemerintah untuk bersama-sama kemudian berusaha untuk menyelesaikan masalah ini.

GERAKAN FEMINIS

Dalam hal ini, ada juga yang namanya gerakan feminis, gerakan ini ditujukan kepada pemerintah. Mereka mengkritik adanya sistem liberal yang pada akhirnya dapat memarginalkan kaum wanita. Gerakan ini ditujukan untuk menciptakan kondisi sosial yang lebih baik. Selama ini yang terjadi adalah adanya marginalisasi terhadap kaum sosialis dan feminis.

PERAN SOSIOLOGI

Dengan adanya masalah- masalah seperti yang dipaparkan diatas tadi, teori yang ada dalam sosiologi telah mengikuti perkembangan masalah yang terjadi pada saat itu. Artinya, teori sosiologi yang dibangun mengikuti perkembangan yang terjadi dalam masalah-masalah ini. Dalam hal ini sosiologi juga mengawal perkembangan politik yang terjadi pada saat itu. Yang terjadi pada saat itu adalah suatu dominasi politik, dominasi politik yang terjadi pada saat itu ternyata malah membuat sebagian pihak termarjinalkan. Pada akhirnya pihak yang merasa termarjinalkan itu melakukan suatu gerakan untuk melawan dominasi politik. Dalam hal ini, sosiologi telah banyak memahami politik yang terjadi pada saat itu, yang terjadi pada saat itu adalah politik yang masih bersifat tradisional.

ORGANISASI FORMAL DAN INFORMAL DALAM GERAKAN SOSIAL

Dalam bahasan ini, gerakan sosial bukanlah dimaksudkan suatu gerakan pekerja yang menentang kelas kapitalis. Disini salah satu catatan yang perlu diingat adalah bahwa gerakan sosial secara umum mengacu pada tradisi tua, dalam hal ini adalah gerakan oleh kaum pekerja. Lebih jelasnya adalah bahwa tradisi tua itu mengacu pada organisasi formal. Sedangkan pada gerakan sosial baru, mereka harus dibedakan dengan tradisi lama. Maksudnya adalah dalam gerakan baru ini, mereka lebih bersifat informal, mereka adalah kelompok kecil yang mempunyai orientasi nasional, meskipun informal mereka cukup mempunyai anggota yang bisa dikatakan stabil. Mereka bergerak tanpa menggunakan birokrasi dan hirarki juga tanpa adanya struktur. Meskipun demikian, organisasi gerakan sosial yang bersifat formal itu akan terlihat lebih baik, karena mereka memiliki hirarki dan birokrasi seperti yang ada dalam partai politik. Lebih kedalam lagi kita bisa melihat pada green party atau partai hijau, mereka merupakan kelompok gerakan lingkungan, sebagai dasar dari gerakan mereka adalah aspek lingkungan. Meskipun mereka partai, namun apa yang terjadi adalah mereka berusaha untuk menghindari terbentuknya hirarki dan struktur ketika mereka melakukan suatu diskusi-diskusi. Ini juga sama seperti NGO, dimana mereka merupakan organisasi sosial yang dibentuk berdasarkan organisasi informal. Gerakan organisasi sosial bertumpu pada anggotanya ketika membuat suatu keputusan, artinya disini bahwa keputusan tertinggi berada di tangan anggota organisasi itu. Greenpeace merupakan contoh dari gerakan organisasi lingkungan. Anggotanya bukan dari mereka sendiri yang terlibat dalam suatu perencanaan gerakan. Maksudnya adalah anggotanya berasal dari luar yang sengaja mereka bergabung ke kelompok ini. Ketika ada tindakan ilegal, berbahaya atau bahkan anarkis menjadi hal yang sering dilakukan.

Gerakan sosial yang ada disini memiliki kontribusi terhadap pemikiran sosiologi politik, yaitu telah mengubah dunia politik itu sendiri. Mereka telah berhasil mengubah pandangan tradisional yang dulunya telah mengabaikan negara. Dan sekarang politik yang baru telah memfokuskan  kembali politik ke negara. Dalam mengembangkan dunia berfikir gerakan sosial, itu dimulai dari RMT (Resource Mobilization Theory) yaitu berfikir rasionalis dan premis yang digunakan adalah premis instrumental. Kemudian ada juga yang namanya NSMT (New Social Movement Theory) yaitu dengan memahami budaya politik pada gerakan sosial. Kedua teori ini ternyata memiliki perbedaan kontras dan akhirnya kedua teori ini disintesakan

Resource Mobilization Theory (RMT) dalam pandangan yang liberal, fenomena sosial merupakan hasil dari keputusan individu dan aksi dari individu itu sendiri. Itu merupakan pengembangan dari premis rasional teori. Hal ini dilakukan untuk membantah penjelasan mengenai gerakan sosial sebelumnya di dalam sosiologi Amerika yang mana mereka awalnya melihat bhawa ini merupakan motivasi yang bersifat psikologis.

MOBILISASI GERAKAN

Goffman, Snow dan rekan-rekannya menganggap mobilisasi untuk mengambil tempat di muka interaksi, dalam  apa yang mereka sebut “micromobilization. Gerakan sosial merekrut dan pengikut gerakan aman dengan menghubungkan interpretasi individu dengan orang-orang gerakan dalam suatu proses yang berkelanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, sementara masih berfokus pada micromobilization sepanjang seperti yang mereka lihat framing dan reframing sebagai interaktif, Snow dan rekan-rekannya telah mengalihkan perhatian mereka ke konteks yang lebih luas di mana gerakan sosial memobilisasi sumber daya, untuk melihat “frame master” melalui beragam gerakan yang diciptakan dan dibatasi.

Gerakan sosial membuat klaim yang beresonansi dengan pemerintah pusat ide dan makna yang sudah ada dalam populasi dan dengan demikian, mereka  berkontribusi pada eskalasi dan intensitas tindakan kolektif yang mencirikan dengan kenaikan dari siklus protes. Bahkan, Snow dan Benford berpendapat bahwa tanpa pembangunan kerangka inovatif akan ada tidak ada mobilisasi massa. Gerakan hak-hak sipil Amerika tahun 1960-an memberikan gambaran bahwa yang dominan pada tema “hak” yang resonan dengan nilai-nilai bersama secara luas, baik antara hitam menengah – kelas anggota gerakan dan liberal putih “Nurani konstituen” yang mendukungnya. Pendapat lain menyebutkan bahwa untuk memahami gerakan sosial perlu untuk menganalisis hubungan dinamis antara politik kesempatan, proses mobilisasi struktur, dan framing, untuk memeriksa bagaimana mereka kondisi dan membatasi satu sama lain untuk membentuk tujuan gerakan.

Dari mana gerakan sosial itu tumbuh. Jika dibingkai dari proses yang dilihat sebagai dasar untuk mobilisasi. McAdam menyarankan adanya sintesis dalam RMT, ini menunjukkan kesimpulan yang lebih radikal konstruksionis dari teori dalam pendekatan yang telah diakui.    Pertama, implikasi dari bingkai sebagai dasar untuk mobilisasi gerakan adalah bahwa individu tidak pernah dapat bertindak dengan cara yang Mobilisasi Sumber Daya teori akan rasional. Jika keputusan individu untuk bergabung dengan gerakan sosial dibuat atas dasar validitas internal frame dalam yang mereka terletak sebagai aktor sosial, hubungan antara politik actual peluang dan tindakan kolektif terputus. Gamson (1992: 69 – 70) mengatakan, “Sebuah teori framing sukses harus didasarkan pada suatu epistemologi yang mengakui fakta-fakta sebagai konstruksi sosial dan bukti sebagai mengambil artinya dari frame master di mana ia tertanam. “sebuah keberhasilan gerakan dapat dinilai atas dasar politik yang sebenarnya yang tersedia untuk itu kesempatan, terlepas dari bagaimana mereka yang terlibat di dalamnya melihat mereka, tetapi aksi mereka yang terlibat tidak dapat dinilai sebagai rasional samping dari segi di mana mereka sendiri membangun seperti itu. Bahkan, Gamson berpendapat bahwa penganut lebih cenderung untuk bertindak jika mereka membuat lebih dari – optimis penilaian peluang keberhasilan gerakan, ironisnya, dari perspektif pilihan rasional, mereka lebih cenderung untuk bertindak tidak rasional, tanpa penilaian yang realistis dari kesempatan yang tersedia kepada mereka.

Kedua, pendekatan framing menunjukkan bahwa, daripada obyektif dan panggilan ilmu pengetahuan mempelajari gerakan-gerakan sosial sebagai fenomena sosial “luar sana” di dunia, Sumber Daya teori Mobilisasi sebenarnya jauh lebih terlibat dalam dunia yang sampai sekarang daripada yang seharusnya pada pendekatan ini. Asumsi-asumsi yang didasarkan RMT sendiri adalah konstruksi budaya. Menurut akun RMT, untuk berpartisipasi dalam tindakan kolektif, seseorang harus melihat diri sendiri sebagai memiliki kepentingan yang dapat hanya diwujudkan dalam kesamaan dengan orang lain, mampu bertindak dengan mereka.

TEORI BARU GERAKAN SOSIAL (SOCIAL MOVEMENT): KONFLIK DAN BUDAYA

Berbeda dengan kesimpulan liberal tentang teori mobilisasi sumber penghasilan teori baru dari pergerakan sosial atau social movement berakar dalam Marxism, yang ditolak  Hal ini didasarkan pada  konflik pada masyarakat kemudian berawal dari pada poin isolasi atau keterasingan. Pada dasarnya sebagian besar pemikiran dari tokoh gerakan social dipengaruhi oleh paham dan teori Marx.

Pada kenyataannya atas dasar pengaruh Alain Touraine, pergerakan sosial dapat dilihat dari konflik antara yang mempengaruhi dengan yang dipengaruhi yang melekat pada masyarakat dan yang menyediakan perubahan sosial. Hal ini berhubungan erat dengan kekuasaan pada kepemimpinan. Teori-teori pergerakan sosial saat ini menekankan perubahan dimensi dari aktifitas pergerakan sosial, meskipun tidak nampak pada masa Marxist. Tujuan dari kebenaran pergerakan sosial tidak mempengaruhi proses politik, seperti dalam teori mobilisasi sumber penghasilan (RMT), tetapi untuk memutus batas arus sistem dan untuk memimpin transformasi di masyarakat. Sebagian besar kekuasaan telah terpusat. Sehingga masyarakat kurang memiliki partisipasi dalam kehidupan politik. Dengan munculnya gerakan sosial, di harapkan adanya sikap keterbukaan dan tidak ada kelompok dominasi dan yang dikuasai. Teori-teori dari pergerakan sosial baru sering dikritik, seperti yang kita lihat, bagi ideal pemikiran utopia atau hal yang tidak praktis bagi mereka, terutama dimana mereka tidak konsisten dengan aspek lain dari karya atau pekerjaan mereka. Tetapi ini adalah pemahaman mereka dari pertentangan budaya sebagai elemen vital dari konflik sosial yang membuat kontribusi sangat penting dalam kebiasaan ini.

Tokoh dari gerakan sosial seperti, Alain Touraine: gerakan sosial dan tindakan secara sosiologi. Menurut Alain Touraine,pergerakan sosial adalah topik pusat dalam sosiologi. Touraine secara tegas membangun pandangannya tentang gerakan sosial berlawanan dengan determinisme struktural dari Marx dan dominasi fungsionalisme sosiologi di Eropa dan Amerika tahun 1950 dan 1960. Menurut Touraine, pengabaian fungsionalisme dari tindakan sosial berarti penderitaan dari sebuah penerimaan tanpa kritik dari institusi sosial dan nilai-nilai sebagai temuan kerasnya pada banyak fakta-fakta; fungsionalis gagal melihat bagaimana kesatuan yang nyata dari sistem sosial tidak lebih daripada pembebanan dari pergerakan kuasa yang lebih dari kekuasaan. Meskipun konflik adalah pusat bagi Marx, namun ada hal yang lebih utama untuk mendasari kondisi struktural; kesatuan bentuk sosial dijelaskan dalam jarak dari sejarah evolusi hukum yang sekali lagi gagal untuk mengakui peran dari tindakan sosial dalam membentuk masyarakat. Sementara Marx menghubungkan minat dan motivasi pada pelaku kelas yang mereka sendiri mungkin tidak mengakui tapi yang Marx lihat sebagai produk struktur sosial-ekonomi yang tidak bisa terlepas dari mereka, Touraine berpendapat, jarak dalam pergerakan sosial memberikan mereka sebagai pelaku harus mengambil secara serius jika tindakan sosial menjadi pantas untuk dipahami. Meskipun perlawanan Touraine kepada Marx,banyak dari tindakan sosiologinya dengan jelas dipengaruhi oleh ide-ide pokok dari teori Marx seperti dalam sejarah perjuangan kelas.

Menurut Touraine, setiap masyarakat dibentuk dari dua gerakan sosial yang berlawanan, yang melangkah jauh untuk membentuk pergerakan kelas. Ia tidak melihat kelas-kelas, tetapi sebagai perjuangan dari pemilik dan kontrol yang berarti produksi dari masyarakat. Touraine lebih memperhatikan adanya perjuangan pada kelas-kelas sosial daripada kepemilikan modal yang lebih besar. Seperti yang Marx lakukan, menurut Marx, kelas-kelas sosial ditentukan oleh kepemilikan faktor-faktor produksi. Dengan historicity Touraine bermaksud memproses masyarakat yang diproduksi sebagai hasil dari refleksi kesadaran pada tindakan sosial dan kondisi. Touraine menekankan adanya tindakan masyarakat dalam melakukan gerakan sosial.

Pada setiap masyarakat, menurut Touraine, ada satu kunci konflik antara perlawanan pergerakan sosial; konflik antara kelas berkuasa yang tepat secara sejarah. Perubahan menjadi organisasi, dan penguasa yang berusaha untuk berkuasa kembali, untuk memutuskan status quo. Touraine setuju dengan Marx bahwa kunci konflik masyarakat industri antara kapitalis dan proletar, meskipun ia berpikir itu adalah suatu kesalahan untuk berpikir itu hanya dalam hal ekonomi karena, meskipun itu adalah perjuangan atas distribusi dan kontrol material sumber daya, ini adalah sebagai sarana untuk kontrol historitas bukan sebagai tujuan itu sendiri. Karena setting sejarah pada waktu itu adalah munculnya masyarakat industry.

Namun, ia berpendapat bahwa kita sekarang hidup melalui transisi ke “pasca – industri” atau “diprogram” masyarakat: ada pergeseran dari manufaktur menuju pengetahuan – industri berbasis di mana pendidikan, pelatihan, informasi, desain, dan sebagainya adalah pusat untuk produksi. Dalam masyarakat seperti itu, kontrol atas informasi dan pengetahuan adalah dampak langsung dari konflik sosial  dan teknokrat yang mendominasi kelas untuk sejauh bahwa kepentingan masyarakat secara keseluruhan diidentifikasi dengan pengembangan teknologi dan manajemen organisasi yang akan mereka capai. Bagi Touraine, ini mengarah ke bentuk-bentuk baru konflik yang lebih kultural dari pada ekonomi. Kelas lawan tidak dibuat sampai hanya pekerja, tetapi dari semua tunduk pada kendali teknokrat, karena Misalnya, konsumen atau hanya “masyarakat umum. “Menurut Touraine, perjuangan kelas setelah berlangsungnya – masyarakat industri tidak lagi dalam nama politik atau hak-hak pekerja; itu tidak berhubungan dengan perjuangan kelas ekonomi,tapi untuk hak rakyat untuk memilih dan mengendalikan kehidupan mereka sendiri. Dalam pandangan Touraine, karena gerakan sosial sekarang perjuangan langsung di atas kondisi sosial diri, masyarakat kontemporer bekerja pada dirinya sendiri secara langsung melalui budaya ke tingkat yang lebih besar daripada sebelumnya.

Konteks budaya: “Tindakan adalah perilaku aktor dipandu oleh orientasi  budaya dan mengatur dalam hubungan sosial yang didefinisikan oleh koneksi yang tidak sama dengan kontrol sosial yang orientasi “(Touraine, 1981: 61). Dia melihat kontrol atas historisitas sebagai melibatkan kontrol atas “budaya yang besar orientasinya “dengan cara yang masyarakat  hubungkan secara normative terorganisir (1981: 26). Konflik antara gerakan sosial  yang menghasilkan transformasi sosial pada dasarnya merupakan satu konflik interpretasi bersama oleh kedua sisi konflik, jika pelaku tidak berbagi nilai yang sama dalam arti luas – apa yang Touraine sebut ebagai “taruhannya” dari perjuangan – konflik tidak dapat dikatakan untuk menjadi sosial (1981: 32 – 3). Touraine melihat, budaya tidak hanya menyediakan motivasi tindakan kolektif dalam orientasi normatif terhadap isu-isu seperti “kemajuan terhadap tradisi “dan” universalisme terhadap partikularisme, “itu juga objek dari perjuangan kelas. Touraine tidak menggunakan “politik istilah budaya. “Dia benar-benar membatasi istilah “politik” untuk kegiatan diarahkan pada lembaga perwakilan diselenggarakan pada tingkat negara. Namun, ia bersimpati terhadap apa yang Foucault sebut   “kecaman dari kekuasaan” melekat dalam semua hubungan sosial. Ia melihat hal itu sebagai kontribusi terhadap pemikiran kritik sosial dengan mengungkapkan bagaimana hubungan sosial yang terorganisir tampaknya rasional benar-benar telah dibangun melalui konflik dan bentrokan antara penguasa dan yang dikuasai. Konflik dapat tercipta ketika ada kesenjangan politik antara kelompok penguasa dan yang dikuasai. Selain itu, meskipun Touraine mengkritik Foucault karena gagal untuk mempertimbangkan sumber daya dalam masyarakat, dengan alasan bahwa itu berasal dari aparat dari kelas yang berkuasa – dalam posting – masyarakat industri, dari pusat-pusat teknokratik dominasi – seperti Foucault, ia melihat kekuasaan sebagai yang beroperasi dalam setiap lingkup sosial bukan sebagai yang dimiliki atau yang dihasilkan oleh negara modern. Karyanya pertama dia menekankan ideologi pada konflik gerakan sosial. Itu ilustrasi dari studinya gerakan anti-nuklir di Perancis pada Tahun 1970’n. Perhatian Tauraine pada anti-nuklir mungkin terdapat pusat gerakan sosial masyarakat industri, menggantikan gerakan pekerja dari masyarakat industri. Dalam rangka menetapkan ada tidaknya kasus, dia menggunakan metode konvensional “intervensi sosial”. Tujuan utama dari metode ini adalah secara langsung studi tentang tindakan kolektifyang terikat pada diri-analisis kelompok militan dalam konfrontasi dengan lawan. Kedua peneliti aktif mengintervensi untuk membantu perjuangan kolektif seperti kekuatan untuk transformasi sosial yang menentang asumsi dengan aktivitas pekerja dan pemeliharaantindakan mereka untuk “berjuang”.ke tingkat yang lebih tinggi. Pada Tourine tujuan itu dijuliki “Leninisme Sosiologis” (Cohen, cited in Pickvance, 1995:127; McDonald, 2002). Akhirnya peneliti mencoba mendapatkan kelompok untuk mengembangkan alternatif, model progresif dan kemoderenan. Pada kasus nuklir protestan Taurane dia berharap mereka akan mengembangkan visi anti teknokratik dari seluruh masyarakat agar mereka bisa berjuang. Namun, faktanya dia tidak dapat menemukan kriteria spesifik pusat gerakan pada masyarakat industri. Usaha metodelogi Touraine membawa peneliti kepada gerakan realisasi potensial, aspek yang paling penting dari transformasi sosial adalah kebenaran ide.

Pada strategi dan pertukaran persuasif mereka mencoba membawa yang lainnya ke dalam proyek mereka untuk berubah. Dalam hal pendefinisian ditarik kesimpulan perubahan masyarakat terlihat nyata pada kepentingan mereka dan meyakinkan mereka untuk melihat dunia dari diri mereka yang berbeda, pertukaran sosial tidak dicapai oleh kemungkinan kebenaran seperti Tourine’s, tetapi bukan pemahaman yang diterima dan pengantar kerangka baru dalam perubahan yang di inginkan. Kedua model budaya politik Touraine menahan beberapa masalah dari marxisme, terutama determinisme. Tekanan Touraine’s memberi interpretasi tindakan sosial, penyebabnya, bukandari pokok struktur pekerja “logika” dari perkembangan “ masyarakat” adalah kesaksian ide bahwa tindakan sosial mengambil tempat pada sistem. Selanjutnya, dia mengandaikan bahwa yang paling penting dalam transisi adalah perubahab teknik, dari produksi ke perubahab produk pada keseluruhan masyarakat. Selain dari masalah inkonsistensi dia sendiri menghormati teori, Touraine’s karena terikat oleh keragaman gerakan sosial yang aktual.

Melucci’ s memandang, perjuangan dari gerakan sosial baru adalah berjuang di atas identitas. “untuk mendorong orang lain dalam mengenali perjuangan sendiri” (Melucci,1989: 46). Ada suatu kontrol yang terus meningkat pada tiap-tiap aspek dari hidup dalam  berbagai hal seperti kesehatan, sex, dan hubungan kita dengan lingkungan yang alami. Dalam pemahaman tentang kekuasaan sebagai hal penting. Pada organisasi yang mengatur perilaku juga memudahkan otonomi individu, karena dengan demikian sumber daya pengetahuan dan ketrampilan komunikatif pada penjualan, tanpa pengembangan tentang kapasitas untuk belajar dan tindakan, individu dalam peraturan yang diperlukan oleh sistem. Kebiasaan seksual, kecenderungan berhubungan, pakaian, kebiasaan makan, mendasari aksi kolektif. Lebih dari itu, sepanjang identitas individu memerlukan suatu kesadaran kolektif dengan sendirinya terbentuk kehidupan sosial. Bagi Melucci, pernyataan Touraine, tentang pergerakan sosial mempunyai suatu hubungan yng saling bersinggungan untuk mendirikan lembaga politik, mereka tidak bisa berasimilasi untuk proses politik karena konflik menyebabkan perpecahan pada sistem yang sekarang ( Melucci, 1989: 29). Melucci menggunakan istilah “politik” di dalam pengertian sempit, sedangkan pada sistem politik nasional mencakup bidang pendidikan, administratif, dan institusi regional (Melucci, 1989: 165). Pergerakan sosial terutama terkait dengan kesetiakawanan dan konflik pada budaya. Fungsi politis adalah tanda atau pesan yang menyoroti konflik tersembunyi. Jika dia sendiri menggunakan banyak definisi politik. Melucci telah terpengaruh oleh Touraine dalam berpikir tentang Marxisme, yang mendasari cara Touraine menaruh historis di pusat analisa. Kedua-Duanya ahli teori sudah dengan jelas mengambil dengan serius ucappan Marx’ s bahwa “Orang membuat sejarah mereka sendiri, hanyalah keadaan milik mereka sendiri memilih.” Melucci, bagaimanapun, lebih jelas dibanding Touraine bahwa pokok dasar tentang identitas kolektif merupakan aktivitas kunci dari gerakan sosial.

Mobilisasi dan struktur kesempatan politik. Dalam beberapa hal, kemudian, Melucci  bekerja di luar sebuah sintesis  RMT dan NSMT, namun  penekanannya pada pentingnya budaya dan paling penting dia menekankan kepada perjuangan masyarakat sipil  membuat karyanya sangat dekat dengan tradisi saat ini daripada terdahulu. Selanjutnya, cara di mana ia mengembangkan ide-ide Touraine membawa Melucci secara eksplisit ke dalam pergantian budaya. Meskipun  ia tidak menggunakan istilah “politik kebudayaan,” pandangan  meluscci tentang gerakan sosial yang terlibat dalam kontestasi identitas kolektif dalam  praktek-praktek kehidupan sehari-hari jelas mirip dengan pemahaman budaya  politik yang dikembangkan dalam buku ini.

Menurut melussci, teori tourine yang  menyatakan bahwa hanya ada satu gerakan social progresif di setiap tipe social adalah kasus yang biasanya keliru melihat gerakan sosial sebagai kesatuan tokoh yang bermain keluar peran di panggung sejarah. Menurut pandanganya ide muncul dari pergerakan pekerja yang relative bersatu dalam hal tujuan,tempat dimana mereka bekerja dan keanggotaannya di kalangan pekerja laki-laki. Gerakan sosial kontemporer, bagaimanapun, adalah inheren jamak; mereka  terdiri dari berbagai tingkat tindakan dan konflik politik,sedikit memberi definisi, reaksi bertahan dan tantangan untuk memberi kode kehidupan sehari-hari  dan juga dari berbagai kelompok aktor dengan alasan yang berbeda untuk mereka  terlibat dalam tindakan kolektif. Melucci memberikan contoh mobilisasi  terhadap stasiun tenaga nuklir yang diusulkan di daerah pedesaan, berdebat  bahwa untuk masyarakat petani itu mungkin merupakan ancaman terhadap cara hidup tradisional, sedangkan untuk sekelompok orang muda yang telah kembali  dari kota, mungkin melambangkan sesuatu yang sangat berbeda, misalnya,  ancaman bagi hak mereka untuk hidup mandiri (Melucci, 1989: 203 – 4).

Dalam pandangan Melucci ,hal  paling penting tentang aksi kolektif adalah lebih atau kurang stabil,gabungan,identitas bersama  – “kita” – harus dibangun dari ujung yang sangat berbeda, berarti, dan bentuk solidaritas dan organisasi. Ini harus dipahami sebagai proses yang berkelanjutan melalui komunikasi dan negosiasi actor tentang makna yang menghasilkan gerakan social seperti itu. Hal ini tentu saja sama dengan pandangan tourine bahwa gerakan sosial adalah produk dari aksi sosial, seperti yang telah kita lihat, namun, dia kembali  memperkenalkan determinisme struktural ketika ia menafsirkan tindakan kolektif dalam hal kapasitas untuk memimpin transformasi dari satu  jenis masyarakat ke masyarakat lain.

DEFINISI GERAKAN SOSIAL MENURUT DIANI

  1. Gerakan sosial adalah jaringan interaksi informal antara pluralitas individu, kelompok dan organisasi. Dalam gerakan sosial ini ada dua teori yaitu teori sumber mobilisasi (RMT) dan teori gerakan sosial baru (NSMT). Teori tersebut melihat gerakan sosial terjadi dalam interaksi informal yang melibatkan individu, kelompok, dan organisasi. Menurut Melucci, identitas kolektif terbentuk melalui interaksi dalam jaringan bawah. Mereka menyediakan pengaturan untuk kegiatan sosial gerakan yang tepat, contohnya pertentangan identitas dan praktek gaya hidup alternatif. Dalam RMT cenderung melihat jaringan sebagai penyedia prakondisi untuk mobilisasi yang diatur oleh organisasi gerakan sosial. Komponen kunci dari aktivitas gerakan sosial terdapat dalam konteks “micromobilization”. Kedua teori tersebut mengakui pentingnya interaksi informal untuk gerakan sosial.
  2. Batas-batas jaringan gerakan sosial didefinisikan oleh identitas kolektif spesifik yang dimiliki oleh pelaku yang terlibat dalam interaksi. Gerakan sosial membutuhkan identitas kolektif, termasuk menetapkan berbagi kepercayaan dan rasa memiliki. Tetapi RMT cenderung mengabaikan kedua. Zald dan McCarthy, misalnya, melihat gerakan sosial sebagai “pendapat dan keyakinan,” yang tidak selalu berarti perasaan rasa memiliki bersama. Namun, Diani melihat RMT dalam konteks “micromobilization” dan “proses penyelarasan batasan” pada penekanan negosiasi kolektif dari komitmen individu, untuk menentang refleksi solidaritas individu yang menjadi alasan mereka bergabung pada tindakan kolektif, sehingga menghasilkan pembangunan solidaritas. Oleh karena itu, Dia, menekankan pentingnya proses definisi dan redefinisi simbolis peristiwa, masalah, kegiatan, dan aktor-aktor sosial lainnya di kedua teori tersebut. Dalam pandangan Diani, baik RMT dan NSMT sekarang harus menganggap serius hal di mana aktor-aktor sosial sendiri melihat gerakan di mana mereka berpartisipasi. Identitas kolektif dari gerakan sosial adalah gerakan yang berarti yang dibuat dalam tindakan sosial. Penjelasan kausal partisipasi anggota telah dikesampingkan: negosiasi alasan individu untuk berpartisipasi dan identitas kolektif yang dibangun sebagai hasil apa yang menciptakan gerakan-gerakan sosial seperti itu.
  3. Aktor gerakan sosial terlibat dalam konflik politik dan / atau budaya, dimaksudkan untuk mempromosikan atau menentang perubahan sosial baik di tingkat sistemik atau non-sistemik” (Diani, 1992: 11). Gerakan sosial bertujuan untuk perubahan sosial melalui konflik merupakan poin utama dari NSMT. Salah satu komponen inti dari gerakan sosial adalah bahwa hal itu terlibat dalam konflik dengan musuh yang menafsirkan nilai-nilai yang sama dalam suatu cara yang antagonistik. Namun, Diani berpendapat bahwa, meskipun RMT ini seolah-olah lebih peduli dengan proses perubahan sosial, konflik tersirat dalam pemahaman mereka tentang gerakan sosial sepanjang mereka mengakui bahwa perubahan sosial hanya akan tercapai melalui konflik dengan aktor lain, apakah lembaga-lembaga, gerakan sosial lainnya, atau gerakan perlawanan. Perbedaan utama antara dua teori ini bahwa RMT dengan cara di mana gerakan sosial mempengaruhi perubahan melalui proses politik mainstream, sedangkan NSMT melihat aktivitas pada tingkat seperti yang dilakukan oleh kelompok kepentingan publik atau bahkan partai politik, bukan gerakan sosial. RMT peduli dengan perubahan politik di tingkat “non-sistemik”, yaitu, melalui lembaga-lembaga negara. Agar terlibat sepenuhnya dengan perubahan budaya, itu akan diperlukan RMT untuk memberikan penekanan lebih sedikit untuk organisasi gerakan sosial sebagai aktor utama dalam gerakan sosial dan lebih menekankan pada negosiasi identitas kolektif dan aksi sosial dalam proses interaksi. Itu juga berarti menyerahkan komitmen netralitas objektivitas dan ilmiah di mana teori telah didasarkan. Ini akan berarti RMT berikut implikasi dari pemahaman yang lebih budaya politik telah dikembangkan untuk sebuah kesimpulan yang akan membawa jauh lebih lengkap dalam mengubah budaya. Sedangkan NSMT, telah secara eksklusif terkait dengan perubahan budaya di tingkat sistemik. Secara eksplisit Touraine dan Melucci melihat gerakan sosial sebagai “melanggar batas” dari sistem sosial yang ada. Untuk sintesis lengkap antara tradisi dan gerakan terpadu program penelitian sosial menjadi mungkin, NSMT akan menurunkan komitmen mereka untuk menyelesaikan “sistemik” transformasi. Seperti yang kita ketahui, pemahaman Melucci tentang gerakan sosial secara inheren beragam dan bekerja pada beberapa tingkat lain akan memungkinkan untuk mengakomodasi cara di mana mereka terlibat dalam kegiatan politik formal, tanpa mengorbankan pemahaman tentang cara-cara di mana mereka terlibat dalam demokratisasi kehidupan sehari-hari dalam masyarakat sipil. Tampaknya cukup masuk akal untuk mengadopsi pemahaman seperti itu. Teori Melucci berpotensi lebih komprehensif dalam pemahaman tentang cara di mana gerakan sosial terlibat dalam politik budaya baik untuk mewujudkan perubahan sosial melalui negara dan juga dalam praktek masyarakat sipil.

Tinggalkan Balasan