Religiositas Tiga Filosof

Written by Syarif Hidayat Santoso – Pestudi Islam Kontemporer, Alumni Hubungan Internasional Universitas Jember

Ada tiga filosof yang harus kita perhatikan dalam melaksanakan ibadah. Ketiganya adalah Imam Ghazali (w.1111), Mulla Sadra (w.1640) dan Ibnu Thufail (w.1185). Insya Allah kita akan memperoleh satu vazt energy, kekuatan akbar yang berkesadaran sejarah. Imam Ghazali terkenal dengan teori mir’ah (cermin), bahwa hati manusia diibaratkan cermin yang dapat menerima pancaran nur Allah dalam kehidupan. Namun, dalam kehidupan sesungguhnya, cermin tersebut mungkin dilekati kotoran sehingga pancaran sinar Allah tak dapat memantul. Bagi orang mukmin, terdapat dua sebab kenapa pancaran sinar tersebut tak dapat menghiasi cermin. Cermin (hati) yang terlalu kotor atau terdapat penghalang antara cermin (hati) dengan cahaya Allah. Kategori pertama merujuk pada orang mukmin yang berbuat dosa, sementara kategori kedua merujuk pada orang mukmin yang menjadikan glamorisme hidup dan kekuasaan yang dimiliki sebagai sarana mengangkangi manusia lainnya.

Mulla Sadra terkenal dengan teori empat perjalanan (Ashfar Al Arba’ah). Dalam pemikiran Mulla Sadra, terdapat empat tahap dalam mencapai Allah ketika membangun relasi dengan manusia dalam kesadaran kosmos. Keempat tahap tersebut adalah al safar minal khalq ilal haq (perjalanan dari alam ciptaan Allah menuju Allah), safar fil Haqq (perjalanan dalam Allah), Al safar minal Haqq ilal khalq bil Haqq (perjalanan kembali bersama Allah menuju alam ciptaan Allah), serta al safar fil khalq bil Haqq (perjalanan dalam alam ciptaan bersama Allah).

Adapun Ibnu Thufail menggarisbawahi satu kesadaran penting dalam sejarah ketuhanan dunia. Dalam karya monumental Hayy Bin Haqdzan Ibnu Thufail menjelaskan keselarasan antara akal ketuhanan yang ditransfer dari langit melalui kitab suci dan wahyu para nabi serta akal ketuhanan yang didapat dari gerakan berpikir umat manusia. Terjalin romantisme perjumpaan sosok Hayy yang mengenal Tuhan melalui akal serta sosok Asal yang mengenal Tuhan melalui agama. Meskipun berbeda orientasi, Ibnu Thufail mengkonfirmasi bahwa sebenarnya agama langit (revealed religion) mampu hidup berdampingan secara damai dengan nalar bumi berupa akal manusia. Thufail seakan menggarisbawahi bahwa dua dimensi yaitu filsafat dan wahyu adalah pertemuan selaras. Mengikuti perspektif filsafat kenabian, akal dalam pemikiran Thufail dapat disebut Din At Thabi’i, kebenaran falsafi yang berketuhanan.

Ramadan adalah ruang dimana tiga falsafah hidup tiga filosof itu begitu berarti. Mir’ahnya Imam Ghazali, empat perjalanannya Mulla Sadra serta akal dan wahyunya Ibnu Thufail. Pelajaran yang kita dapatkan dari pemikiran tiga filosof diatas adalah dalam perjalanan menuju Allah kita harus selalu menyertakan alam ciptaan Allah dengan terus menerus memanifestasikan kerja hati dan akal. Kalau dikodifikasi, ketiga orientasi berpikir diatas memuarakan pandangan dunianya pada empat hal yaitu kitab suci agama, hati, akal dan ciptaan Allah. Keempat hal ini merupakan sokoguru paling tinggi dalam kesadaran akbar historisitas Islam masa lalu, kini dan insya Allah di masa depan. Dengan manifestasi tersebut, manusia akan mementingkan kesadaran sosial yang besar daripada individualisme. Manusia akan membawa kesadaran ilahiyahnya untuk membebaskan manusia lainnya dari tiranisme perilaku manusia lain.

Kitab suci adalah personifikasi wahyu sebagai otoritas kebenaran tertinggi. Namun wahyu tidak boleh simplistis dan ahistoris. Dia harus dimatriks dengan realitas yang terdapat di muka bumi. Hati dan akal adalah cermin dimana segala persoalan kemanusiaan dapat diobservasi secara jujur. Dengan memanifestasikan hati dan akal sebagai unit berpikir strategis, manusia tak mungkin ingkar pada nuraninya. Ada adagium bahwa hati nurani tak dapat berbohong atau ucapan orang bijak ”bertanyalah pada nuranimu’. Kebohongan publik bisa dilakukan, tapi kebohongan terhadap hati tak mungkin terjadi. Hati dan akal yang berkesadaran ilahiyah dapat melihat secara jujur titik poin bermasalah dalam hidup. Hebatnya teori mir’ah , dia menjelaskan bahwa penghalang antara nur Allah dengan hati manusia disebabkan relasi tak harmonis antara diri kita dengan ciptaan Tuhan lainnya.

Mir’ah mampu menjadi pondasi bagi perjalanan menuju Allah yang berkesadaran alam semesta. Mulla Sadra dengan sistematis menjelaskan muara dari segala gerakan hidup yang terdapat pada dua sisi yaitu Allah dan ciptaanNya. Artinya, dalam mencapai Allah seorang mukmin tidak dibenarkan untuk mengabaikan orang lain. Puasa adalah mekanisme dimana ritual ibadah dilahirkan untuk menciptakan keseimbangan antar unsur-unsur hidup dalam kosmos. Kemiskinan adalah jalan kehidupan sosial yang harus dicermati oleh puasa kita. Kontemplasi Islampun pada dasarnya adalah observasi akbar terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial.

Kebenaran wahyu adalah kebenaran absolut, tapi dia tetap membutuhkan penerjemah yang positif-spekulatif. Filsafat Islam telah berupaya menjelaskan wahyu secara radikal, universal namun tetap terintegrasi dengan wahyu, meskipun sifatnya spekulatif. Justru spekulatifisme Inilah yang menyebabkan wahyu dapat berdialektika secara manis dengan aneka ragam persoalan. Peradaban Islam memang mengedepankan teks kitab suci namun dengan tidak mengabaikan nalar observasif baik monologis maupun dialogis. Islam bukan peradaban yang dibangun dari emosi semata (stimmungs religie). Islam disejarahkan oleh nalar semesta, akal religius yang harmonis dengan kitab suci. Memakmumi Mulla Sadra, Imam Ghazali atau Ibnu Thufail berarti mengakomodasi terhadap manifestasi langit dan bumi sekaligus.

Tinggalkan Balasan