Peran United Nations Children’s Fund (UNICEF) dalam Millennium Development Goals (MDGs) di Vietnam

Written by Diah Ayu Intan Sari – Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jember

Abstract

The purpose of this paper is to analyze UNICEF’s role in Millennium Development Goals (MDGs) programme in Vietnam as a human development missions especially for reducing children mortality. The main argument of this paper is that UNICEF focus on children health which its goals to make human development in internatioanal relations. UNICEF succeeds in reducing children mortality in Vietnam by using its programme. UNICEF also has many global pathners including WHO, the local and national government of Vietnam itself, people of Vietnam, etc in implementing human development programme in Vietnam . This paper will prove the  hypothesis that UNICEF’s role in Vietnam is a form of partnership between UNICEF as international organizations that focus on the children and its well being based on humanitarian missions from Millennium Development Goals (MDGs) for make a better human life in international relations.

Key words: UNICEF, children mortality, human development, MDGs missions, Global partners, Vietnam.

1.      Pendahuluan

Hubungan internasional saat ini didominasi oleh pola-pola hubungan yang kooperatif.  Sehingga hubungan yang lebih damai dapat tercapai di antara negara-negara di dunia yang saling bekerjasama. Hubungan kerjasama yang saling mengguntungkan ini kemudian membentuk pola-pola hubungan yang mutual gains yaitu hubungan kerjasama yang menguntungkan setiap pihak. Selain itu pola-pola hubungan yang saling ketergantungan satu sama lain (hubungan interdependensi) juga menjadi suatu hubungan yang dipilih oleh negara-negara di dunia internasional saat ini  daripada pola hubungan anarkhis, konflik maupun perang. Sebagai implikasi dari adanya pola-pola hubungan yang lebih kooperatif di antara negara-negara di dunia maka isu-isu yang berkembang pada hubungan internasional saat ini adalah isu-isu yang terkait dengan isu-isu kemanusiaan, lingkungan hidup, kesehatan, gender, Hak Asasi Manusia (HAM), dll sebagai konsekuensi logis dari adanya pola hubungan dunia internasional yang bersifat lebih damai dan kooperatif. Negara-negara di dunia serta organisasi internasional saat ini mulai berkomitmen untuk melakukan perbaikan taraf hidup dan pembangunan atas dasar prinsip-prinsip kemanusiaan bagi seluruh umat manusia agar memiliki hak-hak dasar hidup yang sejajar dengan manusia lainnya. Komitmen dari negara-negara serta organisasi internasional tersebut kemudian dituangkan dalam suatu deklarasi Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs).

Millennium Development Goals (MDGs) merupakan Deklarasi Milenium yang dibuat atas dasar hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Millenium Development Goals (MDGs) tersebut memiliki delapan butir tujuan yang ditargetkan tercapai pada tahun 2015. Berikut ini delapan butir isi dari Millennium Development Goals (MDGs) tersebut:[1]

  1. End poverty and hunger,
  2. Universal education,
  3. Gender equality.
  4. Child Health,
  5. Maternal Health,
  6. Combat HIV/AIDS,
  7. Environmental sustainablitiy,
  8. Global pathnership.

Target dari Millennium Development Goals (MDGs) adalah tercapainya kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat dunia pada tahun 2015. Target ini merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terdapat dalam Millennium Development Goals yang telah digunakan oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000.

Millennium Development Goals (MDGs) berisi komitmen negara masing-masing dan komunitas internasional untuk mencapai delapan butir sasaran pembangunan dalam Milenium ini Millennium Development Goals (MDGs), sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 , dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015.[2]

Realisasi program-program dari Millennium Development Goals (MDGs) seperti human development programme, organisasi internasional selalu menjalin kerjasama dengan organisasi atau institusi-institusi internasional lainnya, maupun menjalin kerjasama dengan pemerintah domestik dan local dari suatu negara atau dengan NGO.

Dari kedelapan butir tujuan Millennium Development Goals (MDGs) tersebut children merupakan agenda utama yang menjadi prioritas MDGs. Sebab 6 dari tujuan MDGs berkaitan secara langsung dengan anak-anak. Oleh sebab itu MDGs programme menjadikan masalah children sebagai prioritas utama dalam melaksanakan kedelapan program Millennium Development Goals (MDGs) tersebut.

Sebab dalam melaksanakan tujuan dari kedelapan program tersebut baik organisasi internasional maupun pemerintah-pemerintah dari seluruh negara di dunia akan menemui masalah children ini dalam setiap programnya. Meskipun secara umum tujuan dari Millennium Development Goals (MDGs) adalah untuk misi kemanusian agar kehidupan manusia menjadi lebih baik tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak merupakan hal utama yang harus didahulukan. Pengentasan kemiskinan misalnya harus dimulai dari anak-anak. Sebab anak-anak merupakan orang yang pertama mati ketika masyarakat dunia kekurangan akses air, makanan, buruknya sanitasi serta layanan kesehatan.

UNICEF dalam hal ini menyatakan bahwa semua anak diseluruh dunia memiliki hak sama untuk bertahan hidup, untuk memperoleh makanan dan nutrisi, kesehatan, pendidikan dan kesempatan untuk partisipasi, kesetaraan dan perlindungan. Seperti yang tertuang dalam International Human rights treaty: the Convention on the Rights of the Child pada tahun 1989. Jadi Millennium Development Goals (MDGs) harus mendasari program-program pembangunan kemanusiaannya pada konfensi tersebut sebagai hak dasar anak yang memang harus diwujudkan. UNICEF melalui Millennium Development Goals (MDGs) bekerjasama dengan organisasi nasional, pemerintah nasional, NGO maupun organisasi internasional dibawah UN yang lain untuk melakukan kegiatan yang bertujuan mengurangi angka kematian pada balita di negara-negara berkembang dan negara-negara miskin. Mengurangi angka kemiskinan di dunia dimulai dari anak-anak sebab penyumbang terbesar tingginya angka penduduk miskin adalah anak-anak. Jadi memperbaiki dan melakukan peningkatan pada pembangunan “children” merupakan sesuatu yang menjadi prioritas utama dari program Millennium Development Goals (MDGs). Ketika masalah anak ini dapat dikurangi dan teratasi maka sebagai konsekeansi logis yang ada, pencapaian target Millennium Development Goals (MDGs) di tahun 2015 dapat berjalan lebih cepat.

UNICEF berada di 190 negara dan wilayah-wilayah negara untuk menolong proses kelahiran anak agar anak dapat bertahan hidup mulai pada masa awal kelahirannya hingga tumbuh menjadi anak-anak remaja. UNICEF merupakan satu-satunya organisasi internasional yang menyediakan program-program vaksinasi terbesar di dunia bagi negara-negara berkembang. UNICEF mendukung program kesehatan anak dan pemberian nutrisi anak, akses air bersih, dan pengadaan sanitasi yang baik. UNICEF juga melakukan program untuk menciptakan pendidikan dasar yang berkualitas bagi anak, dan memberikan perlindungan bagi anak-anak dari kekerasan, eksploitasi, dan HIV/AIDS. UNICEF mendapatkan dana dari sumbangan sukarela individu-individu, foundations dan pemerintah dari seluruh dunia.

Salah satu kegiatan yang telah dilakukan oleh UNICEF adalah pemberian vaksinasi dan nutrisi bagi bayi dan balita di Vietnam serta pemberian vaksinasi bagi ibu hamil. Kegiatan UNICEF di Vietnam tersebut adalah suatu bentuk kegiatan dalam upaya untuk mencapai target dari Millennium Development Goals (MDGs) yang ke empat yaitu reducing children mortality. UNICEF secara konsisten terus melakukan kegiatan-kegiatan serupa di negara-negara lain terutama di negara berkembang dan negara-negara miskin.

Ketika terdapat masalah anak disuatu negara maka UNICEF sebagai Organisasi internasional dibawah PBB yang berfokus pada masalah anak dan diberi mandat oleh pemerintah-pemerintah dari seluruh dunia untuk mempromosikan dan melindungi hak-hak anak serta kehidupan mereka. UNICEF bersama dengan organisasi-organisasi dibawah PBB lainnya dan mitra global lainnya telah mengambil peran dalam mencapaian misi-misi Millennium Development Goals (MDGs) sebagai bagian dari mandat yang dimilikinya.

UNICEF melakukan kerjasama dengan pembuat kebijakan lokal dari suatu negara atau pemerintah di suatu negara. UNICEF juga melakukan reformasi pelayanan kesehatan dan pendidikan untuk memberikan vaksinasi pada anak-anak. Setiap tindakan UNICEF merupakan langkah menuju tercapainya Millennium Development Goals.[3]

2.      Kerangka Analisis

Penulis memilih menggunakan konsep neoliberal institusionalisme untuk melihat peran UNICEF dalam rangka reducing children mortality di Vietnam. Hubungan internasional saat ini menurut neoliberal institusionalisme merupakan hubungan  yang bersifat kooperatif dan damai. Neoliberal institusionalisme mengklaim bahwa dengan adanya organisasi internasinal maka hubungan perdamaian dan hubungan kerjasama internasional (international cooperative act) dapat terjadi karena hubungan kerjasama yang ada menciptakan sebuah hubungan interdependensi antara kedua belah pihak yang menjalin kerjasama tersebut.

Neoliberal institutionalisme mengklaim bahwa institusi atau organiasai internasional seperti United Nations, NATO dan European Union dapat semakin meningkat dan bantuan kooperatif antar negara akan lebih banyak terjadi daripada hubungan konflik.[4] Complex interdependence yang muncul pada tahun 1970-an sebagai kubu oposisi yang menentang asumsi kaum neorelis yang menggap bahwa negara merupakan satu-satunya aktor yang dominan dalam sistem internasional. Keohane dan Nye: 1988 menyatakan bahwa organisasi-organisasi internasional baik NGO maupun IGO merupakan aktor penting karena kehadirannya mampu membuat kebijakan pemerintah di sejumlah negara lebih sensitif terhadap negara lain sekaligus mampu membuat pemerintah di suatu negara mau melakukan kerjasama yang dalam memberikan efek interdependensi bagi keduanya. Dalam pengertian ini, interdependensi kompleks sebagai sebuah “holistik”, yaitu konsepsi sistem yang melukiskan politik dunia sebagai jumlah interaksi banyak bagian dalam “masyarakat global” (Holsti: 1988).

Berdasarkan kondisi dunia internasional yang membentuk interdependensi kompleks, Dalam hal ini peran UNICEF sebagai organisasi internasional membuat Vietnam sebagai negara berkembang yang membutuhkan bantuan kesehatan menerima bantuan dari UNICEF sebagai wujud dari hubungan cooperative act yang dijelaskan oleh neoliberal institusionalism. Peran UNICEF dalam melaksanakan Millennium Development Goals (MDGs) di Vietnam merupakan suatu bentuk aid atau bantuan yang diberikan sebagai bagian dari MDGs`missions. penulis juga menggunakan konsep interdepensi kompleks untuk menganalisa hubungan yang terjadi antara Vietnam dengan UNICEF. Dimana konsep interdepensi kompleks meyakini bahwa hubungan saling ketergantungan atau hubungan timbal balik yang terjadi antara Vietnam dan UNICEF merupakan suatu hubungan yang dilatarbelakangi oleh misi-misi kemanusiaan dari Millennium Development Goals (MDGs) untuk suatu upaya pencapaian standar kehidupan yang lebih baik dan hubungan yang harmonis dalam dunia internasional.

3.      Peran UNICEF pada Millennium Development Goals (MDGs)

UNICEF memulai misinya untuk pertama kali pada tahun 1946 sebagai sebuah organisasi yang menyalurkan bantuan bagi anak-anak setelah PD II. Mandat ini kemudian semakin meluas yaitu untuk menolong anak-anak yang tinggal didaerah yang sangat riskan terkena penyakit di negara-negara berkembang. Berdasarkan sejarah yang ada, prioritas UNICEF telah merealisasikan hak-hak instrinsik anak agar memperoleh kebutuhan dasar yang layak untuk kehidupan mereka sesuai yang tertuang dalam  Convention on the Rights of the Child.

UNICEF mendasari setiap tindakannya pada riset-riset sustansial terbaru dan pengalamannya pada apa yang harus dilakukan untuk menolong anak-anak agar memperoleh kehidupan yang terbaik untuk bertahan hidup, terutama dalam keadaan krisis dan tetap dapat memperoleh pendidikan. Tugas-tugas tersebut berhubungan secara langsung dengan Millennium Development Goals (MDGs) yang dibentuk oleh United Nations States pada tahun 2000 di New York.

Prioritas UNICEF untuk human development programme dapat dikelompokkan dalam lima kelompok srategi utama. Kelima strategi tersebut memiliki hubungan yang saling terkait satu sama lain: yaitu perkembangan atau kemajuan dari satu program akan berakibat pada perkembangan dan kemajuan bagi program yang lainnya.(complex interdependency)

UNICEF bersama patner global membuat perbedaan terhadap kondisi pertumbuhan anak dengan mendukung implementasi dari program-program Millennium Development Goals (MDGs) dan menyelesaikan masalah global yang menjadi tugas dari Millennium Development Goals (MDGs) bagi semua pihak di dunia termasuk UNICEF. Dengan adanya Millennium Development Goals tersebut kinerja UNICEF semakin memberikan konstribusi yang lebih effektif untuk mengurangi kelaparan dan kemiskinan, melalui advokasi dan partnerships untuk menciptakan sebuah komitmen dan tindakan nyata bagi kebaikan dan kemajuan terhadap penanganan anak-anak di seluruh dunia baik dalam masalah survival, pengembangan dan proteksi bagi anak. Dengan srategi yang pertama adalah:

Young Child Survival and Development: Dalam rangka mendukung program-program MDGs ke 4 – reducing child mortality – dan program MDGs ke 6, malaria control, among others, UNICEF bekerja secara komprehensif terhadap penangan pelayanan kesehatan bagi anak pada tahun-tahun pertama sejak lahir, termasuk periode rentan dan lemah paska kelahiran bayi tersebut. Untuk mengurangi resiko kematian pada anak dan dapat memiliki kesehatan serta masa depan yang produktif, UNICEF memberikan advokasi terhadap masyarakat serta pemerintah local maupun domesktik di suatu negara dan memberikan dukungan finansial dan teknikal untuk pemerintah nasional. UNICEF juga memberikan dukungan untuk komunitas pendidikan dan program-program bantuan pada akses kesehatan dan pemberian nutrisi bagi anak. Peran UNICEF dalam menjalankan misi-misi dari Millennium Development Goals (MDGs) pada suatu negara mencerminkan pola-pola hubungan interdependensi yang sangat kompleks dari semua lapisan masyarakat serta pemerintah local maupun pemerintah domestik. Peran yang UNICEF lakukan sebagai bagian dari Millennium Development Goals (MDGs) di suatu negara juga merupakan suatu bentuk interdepensi kompleks dari pelaksanaan pada setiap level organisasi yang ada atau tergabung dalam Millennium Development Goals (MDGs).

Masalah yang menjadi prioritas utama bagi UNICEF pada persoalan children termasuk di dalamnya adalah  pemberian imunisasi, mencegah dan mengendalikan malaria, pengendalian dan mengobati penyakit diare dan pernapasan, pemberantasan cacing guinea dan mencegah anemia. Program-program kesehatan tersebut termasuk di dalamnya adalah antenatal care  untuk ibu hamil, dan neonatal care pada minggu pertama sampai minggu ke empat paska kelahiran bayi atau anak, termasuk mempromosikan breastfeeding pada ibu agar mau memberikan ASI bagi anaknya.

UNICEF juga memberikan advokasi, mobilisasi sosial, dan resit lapangan dengan tujuan untuk mendukung dan menolong peran-peran agensi atau institusi lain dalam menyediakan proses kelahiran darurat. UNICEF memberikan program-program vaksinasi untuk anak-anak di negara-negara berkembang, dan memberikan dukungan secara teknis pada proses pelaksanaannya yang begitu kompleks. Ribuan anak di dunia telah terlindungi dari penyakit seperti campak, polio, difteri dan TBC.

Program-program vaksinasi yang dilakukan oleh UNICEF terdiri dari pemberian vitamin A dan micronutrients yang dapat membantu memberikan sistem imun yang baik bagi anak serta mencegah terjadinya gizi buruk atau malnutrition pada anak. UNICEF juga seringkali menjadi organisasi pertama yang memberikan bantuan-bantuan bagi anak seperti yang telah dijelaskan diatas dan melakukan peran penting bagi penyelamatan kehidupan anak termasuk memberikan suplai air bersih dan suplai obat-obatan. Peran UNICEF dalam Millennium Development Goals (MDGs) tidak pernah lepas dari bantuan atau kerjasama yang dilakukan oleh UNICEF dengan mitra global baik itu pemerintah domestik di negara tersebut maupun dengan masyarakatnya secara langsung.

UNICEF juga bekerjasama dengan World Health Organization (WHO), untuk mendukung program-program kesehatan lokal atau domestik yang dapat memperbaiki  akses air bersih dan kebutuhan akan sanitasi yang nerupakan kebutuhan vital bagi pemenuhan  standar kehidupan yang sehat, perkembangan dan inisiatif pendidikan kesehatan.

Basic Education and Gender Equality:

Dalam mendukung program, MDG yang ke 2 dan ke 3, UNICEF bekerjasama dengan negara-negara , donor governments dan organisasi atau agensi PBB lainnya untuk mempromosikan, mendanai, dan memfasilitasi pendidikan untuk semua anak dan persamaan jender. Tugas UNICEF termasuk membantu  kemampuan membaca dari anak-anak di sekolah, khususnya untuk excluded children dan among disadvantaged groups (kelompok anak yang kurang beruntung), melalui komunitas sebaya yang disponsori untuk pendidikan anak-anak dan inisiatif-inisiatif kesehatan. Dalam semaa tahap dari proses ini, melalui advokasi dan program-program lokal, UNICEF bekerja untuk mengurangi ‘gender gap’ dan kesenjangan dalam mengakses sesuatu, partisipasi dalam sesuatu, dan dalam hal penyelesaian terhadap masalah pendidikan dasar.

UNICEF juga melakukan dukungan pada suplai air atau pengadaan air bersih, sanitasi, dan perbaikan higenitas di sekolah-sekolah untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersahabat bagi anak dalam belajar di sekolah. Dalam melaksanaka programnya UNICEF selalu menggunakan practical demonstrations dengan bukti untuk berbasis advokasi. UNICEF berusaha untuk membantu pemerintah nasional dan pemerintah lokal serta kelompok-kelompok dalam masyarakat untuk memperbaiki kualitas pendidikan.

UNICEF juga memberikan suplai kebutuhan atau alat-alat sekolah dan mendirikan tenda-tenda pada saat terjadi bencana atau dalam keadaan emergensi sebagai bagian dari upaya untuk membuat anak-anak agar tetap mendapatkan pendidikan. Upaya Back-to-School programme, termasuk didalamnya membantu agar anak-anak dapat kembali ke lingkungan sekolah yang lebih normal, kondisi lingkungan alam yang aman, serta   melindungi hak-hak anak untuk tetap mendapatkan pendidikan dasar.

HIV/AIDS and Children:

Krisis penyakit HIV/AIDS membawa kemiskinan dan kehancuran sosial bersama dengan kematian. Untuk mengatasi itu – yang membantu mencapai program MDG yang ke 6 – UNICEF bekerja dengan negara-negara, organisasi nirlaba dan kelompok agama, organisasi pemuda dan mitra lain untuk mengatur pendidikan dan upaya pencegahan  dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan akan kesehatan reproduksi serta melakukan kampanye kesehatan untuk memberikan layanan kesehatan yang ditujukan terutama bagi remaja.

UNICEF juga bekerja melalui advokasi dan penjangkauan komunitas anak dan remaja untuk membantu pemerintah, komunitas dan keluarga untuk memberikan dukungan pada anak-anak atau remaja yang yatim-piatu akibat orang tuanya meninggal oleh penyakit HIV/AIDS. UNICEF juga mendukung program yang membantu mencegah  transmisi HIV / AIDS dari ibu ke anak. UNICEF juga melakukan peningkatkan pemberian dan penyaluaran jumlah dan proporsi obat antiretroviral bagi perempuan dan anak.

Child Protection:

Untuk mendukung Millennium Summit Declaration Section 6 – Protecting the Vulnerable, UNICEF melakukan kemajuan dalam memproteksi lingkungan anak untuk membantu mencegah dan merespon terhadap kekerasan, eksploitasi, penyalahgunaan dan diskriminasi terhadap anak  serta melakukan tindakan untuk melindungi anak-anak yang sangat rentan menjadi korban pada saat terjadi kondisi darurat.

Fokus area dari upaya yang dilakukan oleh UNICEF adalah dengan meningkatkan kesadaran pemerintah terhadap perlindungan hak-hak anak, analisis situasi anak serta mempromosikan undang-undang yang menghukum pelaku eksploitasi anak. UNICEF bekerja melalui advokasi dan kantor lokal di seluruh dunia untuk membantu memperkuat sumber daya sekolah, masyarakat dan keluarga untuk merawat anak-anak terpinggirkan, termasuk yang yatim piatu karena HIV / AIDS.

Policy Analysis, Advocacy and Partnerships for Children’s Rights:

Fokus UNICEF Tujuan kedelapan dari MDGs yaitu membangun kemitraan pembangunan global – dan juga pada penguatan kebijakan nasional dan daerah yang memenuhi hak-hak anak untuk bertahan hidup dan berkembang.

Mengurangi kemiskinan anak adalah bagian penting dari pemenuhan hak-hak anak. Untuk pencapaian misi itu, dan untuk mencapai misi MDG 1, UNICEF mendorong investasi nasional dan global berkelanjutan yang memanfaatkan sumber daya yang ada baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia dan hasilnya digunakan untuk kesejahteraan anak-anak, termasuk dalam situasi darurat. UNICEF bekerjasama dengan berbagai kemitraan termasuk pemerintah, badan-badan regional, dan kelompok swasta dan masyarakat sipil.

UNICEF memberikan masukan dan berpartisipasi dalam mengembangkan sector-wide approaches (SWAPs), Rencana Strategi Penanggulangan Kemiskinan (PRSP) dan anggaran. Mendukung sikapnya tentang isu-isu kritis diatas, UNICEF juga mengambil posisi memimpin dalam manajemen pengetahuan: meneliti kebutuhan, hasil pemantauan dan menyimpan catatan terbuka yang berguna bagi pelaksanaan program-program MDGs. Antara lain, UNICEF telah membantu untuk mengembangkan dua alat berikut data, diakui oleh pemerintah dan lembaga pembangunan dunia sebagai indikator terkemuka. UNICEF diakui sebagai lembaga utama yang memiliki data global terutama data mengenai negara-negara yang terkait pada enam tujuan MDGs yang berkaitan dengan anak.

UNICEF merencanakan Cluster Survei Indikator Ganda (MICS) yaitu suatu metode dalam pertengahan 1990-an. Alat yang murah dan efektif, MICS merupakan sumber data utama untuk memantau pemenuhan hak asasi manusia dan kemajuan menuju tujuan MDGs (goals). UNICEF mempromosikan penggunaannya, membawa dan membantu pemerintah dalam menerapkan metode, dan menyajikan data yang dikumpulkan. UNICEF juga telah berinvestasi secara signifikan dalam pengembangan ‘DevInfo’, perangkat lunak yang dapat secara efektif menyimpan dan menyajikan data dalam tabel, grafik dan peta.

Selanjutnya, UNICEF mendorong partisipasi aktif anak-anak dan kaum muda dalam pengambilan keputusan mengenai hal-hal yang berkaitan langsung dengan kepentingan mereka sendiri di dalam negaranya. Ini termasuk kegiatan dari advokasi untuk hak-hak anak atas kebebasan berpikir dan berekspresi, untuk membuat situs web bagi mereka untuk berbagi ide.

Progress and Challenges (Kemajuan dan Tantangan)

Pencapaipan keseluruhan program-program MDGs dijadwalkan akan selesai pada 2015. Namun, pada kenyataannya hal itu jauh dari kenyataan, apa yang telah dilakukan oleh seluruh negara di dunia bersama dengan organisasi internasional serta masyarakat dunia nampaknya belum bisa dikatakan berhasil walaupun pada satu sisi telah membuahkan hasil yang cukup signifikan terutama dalam perbaikan standar atau kualitas hidup manusia. Ketika terjadi kelaparan dan kemiskinan semua orang akan menderita namun anak-anak adalah orang yang paling menderita. Jutaan anak akan mati atau jatuh sakit dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Jutaan anak akan melihat masa depan suram mereka karena pemerintah mereka tidak memberi mereka pendidikan dasar. Para ahli sepakat, bahwa untuk mencapai Tujuan Milenium di tahun 2015, membutuhkan komitmen yang lebih kuat dan fokus dari semua negara dalam mewujudkan hak-hak anak, dan karena komitmen tersebut adalah kunci kesuksesan untuk mencapai pembangunan global dan perdamaian dunia.[5]

4.      Peran UNICEF di Vietnam

Peran UNICEF di Vietnam salah satunya adalah Vietnam Expanding Programme yaitu pemberian imunisasi yang diberikan  kepada anak-anak serta ibu hamil. Dalam realisasi program tersebut UNICEF melakukan kerjasama dengan pemerintah local serta pemerintah nasional. Kemudian, UNICEF juga mengandeng masyarakat sipil serta rumah sakit- rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan untuk membentu penyaluran imunisasi bagi anak-anak. Kegiatan yang dilakukan UNICEF dengan Vietnam Expanding Programme tersebut telah mengurangi angka   kematian dibawah 5 tahun di Vietnam. Pada awalnya dari 56 per 1000 kelahiran di tahun 1990 menjadi 14 per 1000 kelahiran ditahun 2008. Upaya reducing children mortality yang dilakukan oleh UNICEF di Vietnam tersebut telah memberikan perbaikan kualitas hidup sekaligus mengurangi resiko kematian bagi anak-anak dibawah umur 5 tahun. Dalam hal ini hubungan interdepensi kompleks yang terjadi diantara UNICEF dengan pemerintah lokal maupun dengan masyarakat Vietnam sendiri merupakan suatu bentuk kerjasama yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

UNICEF atas dasar misi-misi kemanusian yang berfokus pada masalah anak juga memberikan harapan untuk anak-anak yang menderita gizi buruk di Vietnam. Dalam pelaksaan program untuk mencegah sekaligus mengobati gizi buruk pada anak-anak di Vietnam, UNICEF bekerjasama dengan pemerintah lokal dan domestik di Vietnam bersama dengan pihak rumah sakit maupun tempat pelayanan kesehatan.[6] UNICEF juga memberikan advokasi bagi pemerintah lokal untuk lebih serius dalam menangani masalah gizi anak. UNICEF juga memberikan advokasi bagi masyarakat terutama bagi orang tua agar dapat mencegah gizi buruk pada anak dengan pemberian asupan gizi yang cukup bagi anak.

UNICEF membuat sebuah program untuk manajemen dan mencegah adanya malnutrisi anak di Vietnam dengan nama Integrated Management of Acute Malnutrition Programme. UNICEF membantu untuk memperkuat fasilitas kesehatan dalam mengatasi kekurangan gizi akut dengan melakukan pelatihan bagi staf kesehatan di Vietnam agar dapat mendeteksi, memantau dan memberi pengobatan.

Di tingkat masyarakat, program ini berfokus pada pencegahan serta mengidentifikasi dan mengatasi kekurangan gizi akut. Petugas kesehatan juga mengadakan demo masak untuk menunjukkan pengasuh bagaimana membuat makanan bergizi untuk anak-anak kecil dari makanan lokal yang tersedia. Meningkatkan kesadaran di kalangan masyarakat sangat penting dalam mengatasi gizi buruk terutama di daerah bencana. UNICEF juga mendukung Vietnam untuk memproduksi sendiri makanan untuk anak-anak penderita gizi buruk, UNICEF memastikan keamanan pasokan dan meningkatkan kesinambungan program-program bagi anak di Vitnam.

The way forward the Goals

Pengurangan gizi buruk tetap menjadi prioritas utama dalam agenda kesehatan masyarakat Vietnam. Program ini diharapkan dapat mendukung Pemerintah Vietnam dalam mengembangkan kapasitas lokal dan sistem untuk Manajemen Terpadu Malnutrisi Akut. Setelah masa uji coba, program ini diharapkan dapat ditingkatkan di tingkat nasional dan layanan dan produk untuk deteksi, pengobatan dan tindak lanjut dari kekurangan gizi akut untuk dimasukkan dalam Asuransi Kesehatan Sosial Nasional dan mekanisme kesehatan lain yang serupa pembiayaan. Dalam hal ini UNICEF terus melakukan advokasi kepada pemerintah Vietnam agar lebih memperhatikan masalah gizi buruk yang diderita oleh anak-anak Vietnam. UNICEF juga terus melakukan kerjasama dengan pemerintah Vietnam dalam upaya pencegahan dan penanganan gizi buruk di Vietnam agar tidak sampai berujung pada kematian anak. Untuk itu UNICEF bekerja dengan berbagai mitra lokal, nasional dan internasional untuk mewujudkan tujuan pengurangan kematian pada anak di Vietnam juga pencegahan dan penanganan gizi buruk pada anak-anak di Vietnam.

UNICEF’s role in the Mekong river flood in Vietnam

Pada tanggal 26 Oktober 2011, Vietnam dilanda banjir bandang akibat hujan badai dan angin topan yang menyebabkan sungai Mekong meluap. Akibatnya  wilayah selatan dan tengah Vietnam terendam banjir. Bencana tersebut telah merusak lebih dari seratus ribu rumah, yang mempengaruhi 700.000 penduduk dan menewaskan 49 orang yang 43 di antaranya adalah anak-anak.

Peran UNICEF paska terjadinya banjir sungai Mekong adalah melakukan tindakan untuk meningkatkan keselamatan anak, dan menyediakan perlengkapan seperti tas mengambang, rompi kehidupan, kapal dan pelampung untuk melindungi anak dari tenggelam.

UNICEF juga memberikan suplai kebutuhan air bersih yang cukup dan perlengkapan kebersihan untuk melayani 72.000 orang selama 15 hari, termasuk memberikan tablet pemurnian air, batang sabun, jerigen dan filter air. UNICEF juga mendistribusikan perlengkapan sekolah seperti buku dan notebook di daerah yang terkena banjir.[7] Dalam penyalaruran bantuannya UNICEF bekerjsama dengan pemerintah lokal dan pemerintah nasional Vietnam bersama dengan organisasi internasional lain baik itu NGO maupun IGO untuk membantu pemerintah Vietnam.

5 .   Kesimpulan

Hubungan kerjasama antara UNICEF dengan pemerintah Vietnam merupakan hubungan yang saling menguntungkan  kedua belah pihak. Hubungan interdepensi kompleks yang terjadi antara UNICEF dengan pemerintah Vietnam serta masyarakat terutama anak-anak di Vietnam merupakan wujud dari semakin luasnya pola-pola hubungan damai yang dapat terjadi dalam dunia internasional saat ini. Dalam hal ini kedua belah pihak baik UNICEF maupun pemerintah Vietnam melakukan hubungan yang mutual gains dimana UNICEf telah melaksanakan tugasnya sesuai dengan program-program kemanusiaan dari MDGs. Kemudian di sisi lain, pemerintah Vietnam juga mendapatkan keuntungan yaitu dengan adanya perbaikan kualitas kesehatan bagi rakyat Vietnam terutama bagi anak-anak di Vietnam sekaligus mengurangi tingkat kematian pada anak dibawah 5 tahun sehingga anak-anak Vietnam memiliki tingkat posibilitas hidup yang tinggi. Dan pada akhirnya dapat menjadi generasi penerus bangsa yang baik bagi masa depan Vietnam.

Setiap tindakan yang dilakukan oleh UNICEF di Vietnam didasari oleh misi pembanguan kemanusiaan sesuai yang di mandatkan oleh MDGs dan PBB. Peran UNICEF dalam MDGs di Vietnam pada akhirnya semakin memperluas wilayah-wilayah perdamaian dan kerjasama antar negara dengan organisasi internasional untuk menyelesaikan secara bersama-sama masalah-masalah global sehingga perdamaian dapat tercipata dan terpellihara dengan baik dalam hubungan internasional.

Daftar Pustaka

Robert and Georg Sorensen, 2006, Introduction to International Relations: theories and approaches. Oxford, OUP, 3rd ed.

Keohane, Robert O. and Nye, Joseph S., 2008,  Power and Interdependence, New York, 3rd Ed.


[1]http://www.un.org/millenniumgoals/ diakses pada tanggal 22 Maret 2012

[2]http://id.wikipedia.org/wiki/Sasaran_Pembangunan_Milenium

[3]http://www.unicef.org/mdg/index_aboutthegoals.htm di akses pada tanggal 10 Maret 2012

[4] Robert and Georg Sorensen (2006) Introduction to International Relations: theories and approaches. Oxford, OUP, 3rd ed, p108

[5]http://www.unicef.org/mdg/index_unicefsrole.htm diakses pada tanggal 10 Maret 2012

[6]http://www.unicef.org/infobycountry/vietnam_60083.html diakses pada tanggal 25 Maret 2012 pukul 14:52 WIB

 

Tinggalkan Balasan