Peran Asean Dalam Perspektif Liberalisme Interdependensi Kompleks

Written by Fudzcha Putri Jazilah MM – Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jember

BAB I PENDAHULUAN

Hubungan internasional adalah suatu elemen penting dalam pelaksanaan kebijakan dan politik luar negeri serta kerjasama internasional suatu Negara. Di dalam hubungan internasional inilah yang pada akhirnya akan menimbulkan suatu kerjasama antara negara yang satu dengan yang lainnya sehingga akan dapat memanfaatkan peluang-peluang untuk menunjang dan melaksanakan pembangunan nasionalnya. Kita telah banyak mengetahui berbagai macam hubungan internasional maupun kerjasama yaitu salah satunya adalah hubungan negara-negara ASEAN, dimana hubungan ini akan dapat memegang peran kunci dalam pelaksanaan kerjasama internasional. Mengapa demikian, ini dikarenakan  ASEAN merupakan lingkaran konsentris pertama dan pilar utama pelaksanaan politik luar negeri.

Dalam proposal makalah ini, akan dijelaskan mengenai peranan organisasi ASEAN dalam sudut pandang Liberalisme Interdependensi Kompleks. Telah kita ketahui bahwa asusmsi dasar Liberalisme itu sendiri adalah terciptanya kerjasama yang saling menguntungkan dan menciptakan perdamaian dunia.

Hubungan ASEAN ini diawali dengan komitmen para pemimpin ASEAN dengan yang mencita-citakan ASEAN sebagai suatu hubungan yang memiliki pandangan yang maju, hidup dalam lingkungan yang damai, stabil dan makmur, dipersatukan oleh hubungan kemitraan dalam pembangunan yang dinamis dan masyarakat yang saling peduli.

Adapun tujuan dari organisai ASEAN adalah untuk memenuhi kebutuhan Negara Anggotanya  dalam menciptakan intergrasi dan dalam menghadapi perkembangan dunia internasional. ASEAN menyadari sepenuhnya bahwa ASEAN perlu menyesuaikan cara pandangnya agar dapat lebih terbuka dalam menghadapi permasalahan-permasalahan internal dan eksternal.

Negara-negara ASEAN sebagai bagian dalam hal ini menyadari perlunya meningkatkan solidaritas dan efektifitas hubungan kerjasama yang tidak hanya terfokus pada kerjasama ekonomi namun juga harus didukung oleh kerjasama lainnya di bidang keamanan dan sosial budaya.

Hubungan ASEAN dalam sudut pandang ini bisa di cerminkan dengan adanya pembentukan AFTA (ASEAN Free Trade Area) dimana Negara-negara ASEAN telah menganut system pasar bebas serta pembentukan-pembentukan perjanjian lain dalam pemenuhan kebutuhan.

Disadari bahwa Sejak dibentuknya ASEAN sebagai organisasi regional pada tahun 1967, negara-negara anggota telah meletakkan kerjasama ekonomi sebagai salah satu agenda utama yang perlu dikembangkan. Pada awalnya kerjasama ekonomi difokuskan pada program-program pemberian preferensi perdagangan (preferential trade), usaha patungan (joint ventures), dan skema saling melengkapi (complementation scheme) antar pemerintah negara-negara anggota maupun pihak swasta di kawasan ASEAN, seperti ASEAN Industrial Projects Plan (1976), Preferential Trading Arrangement (1977), ASEAN Industrial Complementation scheme (1981), ASEAN Industrial Joint-Ventures scheme (1983), dan Enhanced Preferential Trading arrangement (1987).Pada dekade 80-an dan 90-an, ketika negara-negara di berbagai belahan dunia mulai melakukan upaya-upaya untuk menghilangkan hambatan-hambatan ekonomi, negara-negara anggota ASEAN menyadari bahwa cara terbaik untuk bekerjasama adalah dengan saling membuka perekonomian mereka, guna menciptakan integrasi ekonomi kawasan.

Kerangka Teori

Hubungan negara-negara dalam ASEAN  dapat kita kaji menggunakan pandangan liberalisme lebih khususnya Liberalisme Interdependensi Kompleks. Liberalisme interdependensi kompleks yang terjadi dalam hubungan negara-negara ASEAN seperti yang dikemukakan oleh Keohane dan Nye (1977:29-28)[1] interdependensi kompleks menyatakan hubungan yang jauh lebih bersahabat dan kooperatif di antara negara-negara.

Aktor-aktor transnasional semakin meningkat sehingga negara bukanlah unit yang koheren. Sedangkan, kekuatan militer kurang berguna, kekuatan ekonomi dan instrumen institusional lebih berguna dalam menjaga hubungan antara negara-negara anggota ASEAN. Isu-isu keamanan militer menjadi kurang penting. Isu-isu kesejahteraan bagi anggota ASEAN menjadi semakin penting dalam hubungan negara-negara dalam ASEAN.

Interdependensi kompleks jelas menyatakan hubungan yang jauh lebih bersahabat dan kooperatif diantara Negara. Menurut Keohane dan Nye (1977)Lagi dalam tulisannya beberapa konsekuensi muncul pertama Negara-negara akan mengejar terus tujuan yang berbeda dan aktor-aktor transnasional seperti LSM dan perusahaan transnasional akan mengejar tujuan mereka sendiri yang terpisah bebas dari kendali Negara.

BAB II

PEMBAHASAN

Hubungan negara-negara dalam ASEAN adalah hubungan yang sangat kooperatif. Kerjasama dibidang ekonomi yang melibatkan aktor-aktor transnasional antar negara dalam ASEAN sehingga disini jelas terlihat peran negara tidak lagi dominan untuk mengontrol jalannya kerjasama antar aktor perekonomian negara-negara ASEAN. Namun, walaupun peran negara tidak terlalu signifikan tetapi negara masih memiliki peranan untuk menjaga hubungan baik dan menciptakan suasana yang kondusif dalam perekonomian negara-negara anggota ASEAN.

Hubungan ekonomi negara-negara dalam kacamata liberalisme interdependensi kompleks dibawah naungan instrumen institusional (ASEAN) menjadi lebih kooperatif dan kondusif. Karena, Negara-negara diberikan kesempatan untuk mengkompromikan keperluan dan kebutuhannya perekonomian mereka dalam lingkup ASEAN saja. Negara-negara anggota lebih dapat menjaga kestabilan perekonomiaan mereka karena produk-produk dari negara anggota yang lebih diutamakan untuk memenuhi kebutuhan perekonomiaan dalam lingkup ASEAN. Selain itu, kerjasama negara-negara anggota dalam mengembangkan produk-produk perekonomian lebih terfokuskan karena masing-masing negara anggota akan lebih mengembangkan produk yang dianggap menguntungkan dan sesuai dengan kesepakatan prioritas negara-negara anggota ASEAN dalam perjanjian ekonomi yang telah dibuat.

Kekuatan meliter dan isu tentang keamanan militer menjadi kurang penting dalam hubungan antar negara anggota. Tetapi,  kesejahteraan dan kerjasama ekonomi menjadi isu yang sangat penting dalam hubungan Negara-negara anggota ASEAN.

Interdependensi kompleks yang terjadi dalam negara-negara anggota ASEAN ini dapat kita lihat secara jelas dalam kerjasama ekonomi  sekaligus perjanjian ekonomi dalam AFTA (Asean Free Trade Area). Dalam kerjasama di AFTA, negara-negara anggota ASEAN bekerjasama secara kooperatif untuk memenuhi kebutuhan perekonomian negara anggota ASEAN. Jadi, negara-negara yang memiliki komoditas unggulan akan mengembangkan komoditas unggulannya  tersebut untuk memenuhi kebutuhan perekonomiaan negara anggota ASEAN.

Hubungan yang kooperatif dalam AFTA  ini menjadi hubungan yang interdependensi kompleks dalam hal perekonomiaan negara-negara anggota ASEAN.

ASEAN dalam lingkup ini terus berupaya untuk melaksanakan upaya terpadu dalam mengharmonisasi standar dan kualitas jaminan keamanan pangan dan standarisasi sertifikasi perdagangan untuk mendukung integrasi ekonomi dan meningkatkan daya saing produk-produk pertanian dan kehutanan ASEAN di pasar internasional.

Dalam konteks liberalisme, interdependensi ASEAN yang dititikberatkan pada kerjasama ekonomi telah dibuktikan dengan beberapa kerjasama dengan Negara-negara maju seperti China, Canada, Jepang, dan Australia. ASEAN sebagai sebuah organisasi yang menaungi 10 negara di Asia Tenggara dengan ini berusaha untuk menyamai Uni Eropa yang lebih dahulu maju (Jurnal Ekonomi ASEAN.com diakses 8 Juni 2011).

a)       ASEAN–China Free Trade Agreement

Trade in Goods Agreement dan Dispute Settlement Mechanism Agreement ditandatangani oleh Menteri Ekonomi ASEAN dan China pada bulan Nopember 2004. Sementara itu, Agreement on Trade in Services dan Second Protocol to Amend the Framework Agreement ditandatangani pada bulan Januari 2007 di Cebu, Filipina.

Terkait dengan implementasi FTA ASEAN-China di bidang jasa, China telah mengajukan request kepada Indonesia untuk 10 sektor jasa, yaitu business services; komunikasi; konstruksi dan jasa engineering; distribusi; pendidikan; lingkungan;

keuangan; jasa sosial dan kesehatan; jasa olah raga ,budaya dan rekreasi; dan jasa transportasi. Berkenaan dengan hal tersebut, telah disepakati bahwa basis offer untuk sektor-sektor  yang masuk dalam Komitmen Pertama FTA ASEAN-China bidang Jasa adalah AFAS-4 (business services, telekomunikasi, Konstruksi, Jasa terkait dengan Air Travel dan Kepariwisataan) ditambah dengan jasa maritim, pendidikan, keuangan khusus asuransi dan kesehatan yang kesemuanya telah masuk dalam AFAS-5.

b) ASEAN-Canada Trade And Investment Framework Arrangement (TIFA)

Pada Pertemuan ke-5 ASEAN-Canada Dialogue di Ho Chi Minh, Viet Nam, 12-14 Mei 2008, Kanada telah menyampaikan keputusannya untuk melaksanakan the 3rd ASEAN–Canada SEOM  dibidang kerjasama investasi

c)       ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA)

Terkait dengan ASEAN-Australia-New Zealand FTA (AANZ FTA), setelah dilakukan perundingan sejak 3 (tiga) tahun terakhir sudah dapat dikatakan selesai kecuali berkaitan dengan ”market access” untuk sektor otomotif. Dalam kaitan ini, Australia mengharapkan agar jika market access dimaksud belum dapat disepakati maka AANZ FTA dapat ditandatangani pada bulan Desember mendatang. Sedangkan isu-isu bilateral yang belum dapat diselesaikan akan diselesaikan setelah AANZ FTA ditandatangani.

d)      ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership

Landasan perundingan ASEAN-Japan Comprehensive EconomicPartnership adalah Joint Declaration of the Leaders on Comprehensive Economic Partnership between ASEAN and Japan yang telah ditandatangani pada tanggal 5 November 2002. Kemitraan ini juga kemudian diperkuat dengan penandatanganan Framework for Comprehensive Economic Cooperation between ASEAN and Japan pada tanggal 8 Oktober 2003.

Saat ini perjanjian AJCEP telah ditandatangani secara ad-referendum pada bulan Maret 2008. Sedangkan pihak Jepang telah meratifikasi perjanjian tersebut pada tanggal 21 Juni 2008. Saat ini masing-masing negara ASEAN sedang melaksanakan prosedur legal nasional guna dapat menerapkan perjanjian ini.

e)       ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA)

Sejak ditandatanganinya Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between ASEAN and India pada tanggal 8 Oktober 2003, perundingan ASEAN-India Trade Negotiating Committee (AITNC) telah memasuki pertemuan ke-21. Draft ASEAN–India Trade in Goods Agreement telah berhasil disepakati kecuali “market acsess” kepada Viet Nam. Diharapkan hal ini dapat segera diselesaikan secara bilateral. Di samping itu juga masih terdapat perbedaan pandangan antara ASEAN dengan India berkaitan dengan penurunan tarif di dalam Exclusion List (EL) dan Normal Track (NT).

BAB III

KESIMPULAN

 

ASEAN adalah Salah satu organisasi regional yang mengedepankan kerjasama ekonomi dalam peningkatan kualitas dan pengintegrasian Negara-negara anggotanya.

ASEAN economic cooperation dalam tulisan ini dibahas dalam konteks perspektif liberalism interdependensi kompleks.

ASEAN melakukan kerjasama dengan Negara luar dalam hal Ekonomi seperti dengan India, Jepang, Cina, Kanada,Australia dan cina.

ASEAN dalam hal kerjasama ekonomi ini telah dikatakan berhasil terbukti dengan peningkatan persentase sector ekonomi di dalamnya pertahun.

ASEAN dalam lingkup ini terus berupaya untuk melaksanakan upaya terpadu dalam mengharmonisasi standar dan kualitas jaminan keamanan pangan dan standarisasi sertifikasi perdagangan untuk mendukung integrasi ekonomi dan meningkatkan daya saing produk-produk pertanian dan kehutanan ASEAN di pasar internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Robert Jackson & Georg Sorensen, 2009, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

www. Jurnal ekonomi ASEAN.com : diakses pada 8 Juni 2011


[1] Robert Jackson & Georg Sorensen, 2009, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal : 151

2 ibid,151-152

 

Tinggalkan Balasan