Pengertian Dekonstruksi

Written by Yunita Titi Sasanti – Mahasiswa Komunikasi Universitas Brawijaya

What’s the Deconstruction? Dekonstruksi hadir dengan latar belakang post-modernisme, Kehadiran dekonstruksi dilihat sebagai bagian dari posmodernisme yang secara epistemologi atau filsafat pengetahuan, harus menerima suatu kenyataan bahwa manusia tidak boleh terpaku pada suatu sistim pemikiran yang begitu ketat dan kaku, menurut Istanto (2003:51). Dekonstruksi merupakan reaksi terhadap modernisme dalam perkembangan ilmu pengetahuan, seni dan filsafat. Modernisme dalam perkembangan filsafat ilmu berdasar pada rasio, logos dalam intelektual manusia.

Derrida’s Decontruction

Konsep Derrida ini menggambarkan metoda membaca teks yang memperlihatkan adanya konflik dalam interpretasi ‘makna’ teks tersebut; selanjutnya metoda ini bukan hanya digunakan untuk meng-interpretasi teks, tetapi juga dipergunakan dalam memberikan tafsiran terhadap karya seni visual. Sumber (http://puslit.petra.ac.id/journals/design/)

Dekonstruksi menurut Derrida adalah metoda membaca teks secara teliti, sehingga premis-premis yang melandasinya dapat digunakan untuk meruntuhkan argumentasi yang disusun atas premis tersebut. Derrida mengkaitkan metoda Dekonstruksi dengan kritik terhadap metaphysics of presence yang menjadi asumsi dasar bagi filosof tradisional. Derrida menolak gagasan bahwa ada yang disebut present dalam pengertian suatu ‘saat’ yang terdefinisikan sebagai sekarang (now) menurut Jonathan Culler (dalam Benedikt,1991).

Dekonstruksi Sosial dalam  Media (Iklan Vaseline Men Face Moisturizer  – Pelembab untuk Pria)

Dahulu sudah menjadi kebenaran umum bahwa wanita menjadi kaum yang terdepan dalam pola hidup merawat dan berpenampilan, sekarang pria tidak ingin ketinggalan untuk berpenampilan menarik seperti wanita. Dengan kemunculan beragam media menyebabkan pria semakin menyakini bahwa bersih dan berpenampilan menarik itu penting. Produk – produk kecantikan seperti moisturizer dulu hanya dikonsumsi wanita saja untuk merawat dan mempercantik diri seperti banyak kita ketahui iklan produk – produk kecantikan seperti Pond’s namun dengan berkembangnya industri periklanan sekarang ini, banyak produk – produk perawatan pria yang sebelumnya hanya facial foam sekarang berkembang dengan adanya produk moisturizer. Pria-pria yang gemar mengkonsumsi kosmetik ini, biasa disebut dengan pria metroseksual. Keberadaan pria metroseksual ini sering disebut women-oriented men yang telah berkembang secara global dan nyata (Kartajaya dkk. 2004). Ikon – ikon antara lain adalah David Beckham, Darius Sinathrya, Leonardo dicaprio. Fenomena ini menyebabkan pasar industri mulai melirik kosmetik untuk pria, salah satunya adalah Vaseline yang mengeluarkan produk baru untuk pria “ Vaseline Men Face Moisturizer ”.

Metroseksual adalah sebuah istilah baru, sebuah kata baru yang berasal dari paduan dua istilah : metropolitan dan heteroseksual. Istilah ini dipopulerkan pada tahun 1994 untuk merujuk kepada pria (khususnya yang hidup pada masyarakat post – industri, dengan budaya kapitalis) yang menampilkan ciri-ciri atau stereotipe yang sering dikaitkan dengan kaum pria homoseksual (seperti perhatian berlebih terhadap penampilan), meskipun dia bukanlah seorang  homoseksual. Istilah ini memicu perdebatan seputar penanda teoritis dekonstruksi sosial serta hubungannya dengan konsumerisme. Istilah ini dipelopori oleh artikel yang ditulis oleh seorang wartawan bernama  Mark Simpson (1). Artikelnya diterbitkan pada tanggal 15 November 1994, di harian The Independent Simpson menulis : “Pria metroseksual, pria lajang belia dengan pendapatan berlebih, hidup dan bekerja di kawasan perkotaan (karena di situlah toko-toko terbaik tersedia), mungkin adalah pasar produk konsumen yang paling menjanjikan pada dekade ini. Pada dekade 80-an pria seperti ini hanya dapat ditemukan di dalam majalah fashion seperti GQ, dalam iklan televisi jeans Levi’s atau dalam bar gay. Pada dekade 90-an ia ada di mana-mana dan ia gemar berbelanja”. (sumber : Simpson, Mark. July 22, 2002). Meet the metrosexual. Salon).

Dalam perkembangannya, konsep metroseksual mengarah kepada gaya hidup pria perkotaan modern yang berpenghasilan lebih dan sangat peduli kepada penampilan dan citra dirinya. Gaya hidup ini berkait erat dengan konsumerisme, kapitalisme dan bahkan dengan perilaku narsisme. Pria metroseksual menaruh perhatian lebih kepada penampilan, ia cenderung memiliki kepekaan mode dan memilih pakaian berkualitas atau bermerek, serta memiliki kebiasaan merawat diri (grooming) atau kebiasaan-kebiasaan yang dahulu lazim dikaitkan dengan kaum perempuan. Misalnya menyukai kosmetik untuk pria, pergi ke salon atau spa, atau melakukan perawatan tubuh seperti perawatan rambut, kuku dan kulit. Karena merupakan pasar potensial bagi berbagai produk yang dikhususkan bagi kaum pria, konsep metroseksual menjadi penting dalam industri fashion dan kosmetik pria, serta dunia pemasaran dan periklanan. (sumber : Simpson, Mark. July 22, 2002). Meet the metrosexual. Salon).

“Girls in the men’s room. Boy’s in the girls room” (Lirik ini disenandungkan band Garbage untuk mendeskripsikan perubahan sosial yang terjadi). Terlepas dari orientasi seksual, pada dasarnya Tuhan menciptakan dua jenis manusia perempuan dan laki-laki. Seperti yang dikatakan ilmuwan Althusser, busana adalah sebuah representasi sosial yang diterima dan diserap oleh seseorang sebagai aktualisasi diri. Banyak orang yang berpikir bahwa lelaki dan perempuan memiliki simbolnya masing-masing.. Para lelaki berperan dominan sebagai pemegang kekuatan finansial sekaligus kekuatan otot, sehingga busana yang merepresentasikan mereka adalah blazer berpotongan tegas dan loose. Sementara perempuan diidamkan memakai rok yang memperlihatkan pinggang ramping, baju ketat, dan stiletto tinggi untuk menonjolkan kecantikan dan keanggunannya.

Gaya ini menunjukkan sebuah emansipasi wanita sekaligus penghalusan citra dari para pria. Produk-produk kosmetik yang tadinya merupakan properti kerajaan perempuan, meluas kepada pasar kaum Adam. Sebuah penelitian bahkan menunjukkan bahwa operasi kosmetik telah dilakukan wanita maupun pria di Asia, Amerika Utara, dan Eropa. Ini sudah menjadi sebuah hal yang umum. Androgyny pun lambat laun menjadi suatu hal yang biasa atau mainstream. (sumber : http://www.sahutbaju.com/arsip/berita-sahutbaju/simbol-simbol-ambigu-pada-style-fashion/)

Dekonstruksi dilakukan tanpa henti, terutama melalui bantuan iklan di media massa. Jika dulu maskulinitas selalu diidentikkan dengan produk seperti rokok, otomotif, hobby petualangan, olahraga keras, dll, kini identifikasi semacam itu sudah jarang ditemukan karena rokok, petualangan dan olahraga keras pun sudah biasa diikuti kaum perempuan. Begitu juga sebaliknya, kosmetik yang pada awalnya menjadi kebutuhan wanita, sekarang telah memasuki dunia pria. (sumber: http://sulyanadadan.wordpress.com/2010/03/06/kretinisme-maskulinitas-dan-feminitas/).       

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous:

http://puslit.petra.ac.id/journals/design/

http://www.sahutbaju.com/arsip/berita-sahutbaju/simbol-simbol-ambigu-pada-style-fashion/

http://sulyanadadan.wordpress.com/2010/03/06/kretinisme-maskulinitas-dan-feminitas/

 

Benedikt, Michael. 1991. Deconstructing The Kimbell, New York, SITES Book. 

Istanto, Freddy H.2003. Dekonstruksi Dalam Desain Komunikasi Visual: Sebuah Penjelajahan Kemungkinan. Studi Kasus Desain Iklan Rokok A-mild. Nirmana. Vol. 5, No. 1.

Simpson, Mark. 2002. Meet the metrosexual.

Kartajaya, H, Yuswohady, Madyani & Indrio, B. D. 2004. Metrosexuals in Venus: Pahami Perilakunya, Bidik Hatinya, Menangkan Pasarnya. Jakarta: Mark Plus & Co.

Tinggalkan Balasan