Nihilisme dan Pragmatisme: Sebuah Pengertian

Written by Imam Sunarto – Mahasiswa Sosiologi Universitas Jember

Nihilisme.

Nihilisme adalah sebuah pandangan filosofis yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche. Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain. Pemeluk aliran filsafat nihilisme ini adalah orang-orang yang memahami bahwa realitas yang ada di alam ini hanyalah keburukan. Mereka beranggapan bahwa fenomena-fenomena yang ada pada manusia tidak lain adalah penderitaan, kemalangan, kemiskinan, dan kehancuran. Begitu pula, segala sesuatu selain manusia adalah buruk dan tak bermanfaat bagi manusia. Secara umum, yang ada di alam hanyalah suara-suara keburukan dan atmosfir-atmosfir putus asa. Seperti yang terjadi pada masa itu adalah bahwa dogma-dogma gereja yang menguasai manusia dan mempunyai otoritas penuh pada masyarakat. Dan yang terjadi adalah bahwa manusia semakin dikekang oleh dogma-dogma gereja ini dan karena mempunyai otoritas penuh maka manusia tidak bisa berbuat apa-apa.

Kembali lagi seperti ditegaskan di atas bahwa Nihilisme menganggap adanya manusia dengan tanpa tujuan jadi Nihilisme merupakan kecenderungan baru di zaman moderen. Pada masa yang lalu, yang ada hanyalah Pesimisme dan bukan Nihilisme, namun di abad kontemporer Pesimisme mencapai puncak kejayaannya dan menjadi Nihilisme. Bunuh diri, lari dari tanggung jawab hidup, dan memandang hidup ini sebagai canda-gurau belaka adalah dianggap merupakan tanda-tanda bahwa manusia masa kini memandang rendah kehidupan dan terjebak dalam dunia Nihilisme.

Kondisi-kondisi yang menyebabkan munculnya filsafat nihilisme adalah revolusi industrim, perang dunia, revolusi berdarah, manusia manusia yang berada dalam kemiskinan dan cenderung pesimistis, aliran paham materialisme dan lain sebagainya.

Salah satu faktor yang penting ketika suatu masyarakat berpindah dan berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain dan menyebabkan hadirnya pesimisme pada manusia adalah persoalan nilai-nilai, karena ketika terjadi perubahan pada setiap masyarakat begitu banyak nilai-nilai akan juga mengalami perubahan, diinginkan atau tidak.

Suatu kontradiksi dari penerimaan terhadap hal baru atau mempertahankan terhadap nilai tradisional sering kali menjerumuskan manusia pada pesimisme ketik mereka tidak dapat menerima nilai baru tapi juga tidak dapat menerapkan nilai tradisionalnya.

Pragmatisme.

Abad ke-19 menghasilkan tokoh-tokoh pemikir, diantaranya ialah Karl Marx (1818-1883) di kontinen Eropa dan William James (1842-1910) di kontinen Amerika. Kedua pemikir itu mengklaim telah menemukan kebenaran. Marx, yang terpengaruh positivisme, melahirkan sosialisme dan James, seorang relativis, melahirkan pragmatisme. Baik sosialisme maupun pragmatisme dimaksudkan supaya kemanusiaan dapat menghadapi masalah besar, yaitu industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi.

Arti umum dari pragmatisme ialah kegunaan, kepraktisan. Menjadikan sesuatu dapat dikerjakan adalah kriteria bagi kebenaran. James berpendapat bahwa kebenaran itu tidak terletak di luar dirinya, tetapi manusialah yang menciptakan kebenaran. It is useful because it is true, it is true because it is useful. Karena kriteria kebenaran itulah, pragmatisme sering dikritik sebagai filsafat yang mendukung bisnis dan politik Amerika. Dengan adanya pragmatisme tidak ada sosialisme di Amerika. (Ada memang Partai Komunis Amerika dan toko-toko buku Marxisme. Tetapi, baik sosialisme maupun komunisme tidak pernah diperhitungkan dalam dunia politik). Kaum buruh Amerika juga menjadi pendukung kapitalisme karena mereka ikut berkepentingan. Hampir-hampir tidak ada ada kritik terhadap kapitalisme, kecuali dari gerakan The New Left pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.

Lebih lanjut pragmatisme yang lebih mementingkan praktis kehidupan manusia, dan menganggap hal yang benar adalah hal yang bermanfaat bagi kehidupan praktis manusia. Taruhlah seperti ketika bangsa eropa datang ke benua Amerika yang kemudian membunuh hampir semua suku indian hal itu karena keterbatasan pengetahuan mereka tentang benua Amerika itu sendiri maka dari itu mereka akan lebih merasa terancam dan mungkin akan selalu merasa terancam ketika berada disana. Maka kemudian mereka memutuskan untuk membunuh suku asli Amerika yaitu suku indian dan menguasai daerah itu khususnya untuk bisa bertahan hidupm karena tempat-tempat yang semula merupakan tempat suku indian merupakan sumber kehidupan. Hal inilah yang bisa dijadikan contoh bagimana filsafat pragmatisme itu dijadikan sebuah dasar pemikiran oleh masyarakat atau kelompok.

Pragmatisme juga sama sekali tidak mempertimbangkan hal yang bersifat metafisik karena hal itu dianggap tidak berguna bagi manusia dan tidak mempunyai manfaat yang jelas, tapi hal itu berbeda ketika dilihat dari sudut pandang agama yang mempercayai bahwa yang mereka lakukan akan mendapatkan balasannya kelak setelah mereka mati.

Tinggalkan Balasan