Nasion Indonesia: Plebisit yang Terlupakan

Written by Deden Yoga Dwi Cahya – Mahasiswa Sosiologi Universitas Jember

Mungkin kita telah sering mendengar istilah-istilah yang dikaitkan dengan Nasional Indonesia, seperti Kebudayaan Nasional Indonesia, Bahasa Nasional Indonesia, dan sebagainya. Nasion adalah suatu solidaritas yang besar, yang terbentuk oleh perasaan yang timbul akibat pengorbanan-pengorbanan yang telah dibuat dan dalam masa depan bersedia dibuat lagi. Sebutan nasion secara langsung akan berhubungan dengan subyektifitas atau hubungan emosional yang membentuk kesadaran solidaritas seseorang yang menyebutnya.

Indonesia adalah suatu negara kebangsaan. Negara kebangsaan merupakan tempat dimana kita merasa ada ikatan alamiah satu sama lain karena kita semua memakai bahasa yang sama, agama yang sama atau apapun lainnya yang cukup kuat untuk menjalin keragaman menjadi satu dan membuat kita merasa berbeda dari yang lain. Jika seseorang mengidentikkan dirinya sebagai orang Indonesia, maka makna nasional baginya adalah keseluruhan kontruksi kesadaran yang membentuk solidaritas keindonesiaannya.

Apabila kita berbicara tentang sesuatu yang bersifat nasional, maka berarti hal tersebut akan berkaitan dengan kedudukan atau suatu bangsa yang merdeka yang hidup dalam wilayah kuasa sendiri sebagai keseluruhan yaitu suatu nasion. Semua sistem sosial yang ada di wilayah Indonesia baik yang berasal dari daerah-daerah, adat-istiadat, suku dari wilayah Indonesia, maupun dari sistem sosial atau  kebudayaan asing, akan tetapi sudah dianggap dan disepakati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai miliknya dapat disebut sebagai sistem sosial budaya Indonesia.

Kalau kita perhatikan, bahasa Indonesia yang diakui sebagai bahasa nasional kita tidak dapat dipungkiri lagi bahwa bahasa yang menyatukan itu berasal dari bahasa Melayu, yang kemudian diperkaya dengan unsur bahasa-bahasa lain. Di situ terdiri dari berbagai unsur bahasa yang berasal dari bermacam-macam suku bangsa yang ada di wilayah Indonesia, bahkan istilah-istilah yang berasal dari unsur bahasa asing pun masuk di dalamnya. Demikian juga dalam sistem sosial kita, sistem kenegaraan kita, sistem pemerintahan kita, sistem organisasi politik kita, sistem hukum, dan sebagainya, kesemuanya merupakan perpaduan dari unsur kedaerahan dan asing yang kemudian diakui dan dianggap sebagai milik bangsa Indonesia. Kesemuanya itu dalam rangka menuju suatu Nasion Indonesia.

Banyak orang yang berpendapat bahwa suatu nasion itu bersatu atas dasar kesamaan ras, suku bangsa dan etnis. Kemudian ada yang mengatakan bahwa suatu nasion bersatu atas dasar kesamaan bahasa. Ada juga yang menyatakan bahwa suatu nasion bersatu karena kesamaan agama. Tetapi, pernyataan di atas tersebut ternyata dirasa kurang tepat. Contohnya tadi adalah bersatu karena persamaan agama. Seseorang bisa menjadi Indonesia bukan karena agamanya, mereka boleh beragama Hindu, Budha, Kristen, Katolik dan lainnya. Tidak sedikit orang agamanya sama namun justru sulit diperhatikan, bahkan tidak sedikit pula mereka saling menyerang dan bertempur dengan dahsyatnya.

Salah satu konflik agama yang terjadi di Indonesia adalah yang terjadi di Poso. Ada fakta sejarah yang sangat menarik bahwa gerakan kerusuhan yang dimotori oleh umat Kristen dimulai pada awal Nopember 1998 di Ketapang Jakarta Pusat dan pertengahan Nopember 1998 di Kupang Nusa Tenggara Timur kemudian disusul dengan peristiwa penyerangan umat Kristen terhadap umat Islam di Wailete Ambon pada tanggal 13 Desember 1998. Dan 2500 massa Kristen di bawah pimpinan Herman Parino dengan bersenjata tajam dan panah meneror umat Islam di Kota Poso Sulawesi Tengah pada tanggal 28 Desember 1998. Apakah peristiwa ini realisasi dari pidato Jenderal Leonardo Benny Murdani di Singapura dan ceramah Mayjend Theo Syafei di Kupang Nusa Tenggara Timur?

Tetapi yang jelas Presiden B.J. Habibie yang menurut L.B. Murdani lebih berbahaya dari gabungan Khomaeni Saddam Husein dan Khadafi baru berkuasa 6 bulan saja sehingga perlu digoyang dan kalau perlu dijatuhkan. Apabila fakta-fakta ini dikembangkan dengan lepasnya Timor-Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia Gerakan Papua Merdeka dan Gerakan Aceh Merdeka serta tulisan Huntington 1992 setelah Uni Sovyet yang menyatakan bahwa musuh yang paling berbahaya bagi Barat sekarang adalah adalah umat Islam; dan tulisan Jhon Naisbit dalam bukunya Megatrend yang menyatakan bahwa Indonesia akan terpecah belah menjadi 28 negara kecil-kecil; maka dapat disimpulkan bahwa peristiwa kerusuhan-kerusuhan tersebut adalah suatu rekayasa Barat-Kristen untuk menghancurkan umat Islam Indonesia penduduk mayoritas mutlak negeri ini. Kehancuran umat Islam Indonesia berarti kehancuran bangsa Indonesia dan kehancuran bangsa Indonesia berarti kehancuran/kemusnahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu penyelesaian kerusuhan/konflik Indonesia khususnya Poso tidak sesederhana sebagaimana yang ditempuh oleh Pemerintah RI selama ini sehingga tiga tahun konflik itu berlangsung tidak menunjukkan tanda-tanda selesai malah memendam “bara api dalam sekam”. Hal ini bukan saja ada strategi global dimana kekuatan asing turut bermain tetapi ada juga ikatan agama yang sangat emosional turut berperan. Sebab agama menurut Prof. Tilich adalah “Problem of ultimate Concern” sehingga tiap orang pasti terlibat dimana obyektifitas dan kejujuran sulit dapat diharapkan. Karenanya penyelesaian konflik Poso dengan dialog dan rekonsiliasi bukan saja tidak menyelesaikan konflik tersebut sebagaimana pernah ditempuh tetapi malah memberi peluang kepada masing-masing pihak yang berseteru untuk konsolidasi kemudian meledak kembali konflik tersebut dalam skala yang lebih luas dan sadis. Konflik yang dilandasi kepentingan agama ditambah racun dari luar apabila diselesaikan melalui rekonsiliasi seperti kata pribahasa bagaikan membiarkan “bara dalam sekam” yang secara diam-diam tetapi pasti membakar sekam tersebut habis musnah menjadi abu.

Pada tanggal 28 Desember 1998 Herman Parino membawa jemaahnya sebanyak 1.000 orang untuk memasuki Kota Poso tetapi dicegah oleh Polisi Brimob akibatnya mereka berpencar di luar Kota Poso sebagian dari jemaat gereja menyerang Umat Islam di Desa Buyung Katedo Kecamatan Lage Poso Kabupaten Poso. Penyerangan ini membunuh warga Muslim dan membakar rumah-rumah orang-orang Islam. Jemaat gereja yang masih berkeliaran di luar Kota Poso merasa belum puas terhadap penyerangan Desa Buyung Katedo pada tanggal 27 Mei 2000 maka mereka menyerang kembali umat Islam di desa tersebut pada tanggal 3 Juli 2000 dengan jalan membunuh dengan sadis anak-anak, wanita-wanita, dan orang-orang tua sebanyak 14 orang. Kemudian membakar masjid dan rumah-rumah yang masih tersisa.

Dalam peningkatan konsolidasi umat Kristen Gereja Kristen Sulawesi Tengah membentuk Crisis Centre GKST dipimpin oleh Pendeta Renaldy Damanik. Tidak lama setelah Crisis Centre berdiri maka umat Kristen menyerang Pondok Pesantren Walisongo di Desa Sintuwu Lemba Poso dengan membantai umat Islam dan membakar pondok Pesantren tersebut. Pada tanggal 6 Agustus 2001, 171 orang delegasi Pendeta Kristen yang tergabung dalam Gereja Kristen Sulawesi Tengah mendatangi Pemerintah Daerah Kabupatan Poso untuk menuntut supaya Kabupaten Poso dibagi dua 50 % untuk umat Kristen dan 50 % untuk umat Islam. Sesuai dengan janji umat Kristen bahwa umat Islam boleh kembali ke daerah-daerah yang dikuasai umat Kristen seperti Kecamatan Tentena Poso dengan aman dan selamat; maka Drs. Hanafi Manganti pulang ke daerah Tentena, ternyata ia dibunuh dengan sadis; dan bersamanya terbunuh pula seorang wanita muslimah. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 6 Agustus 2001.

Pada tanggal 20 Agustus 2001 umat Islam yang sedang memetik cengkeh di kebunnya di Desa Lemoro Kecamatan Tojo Kabupaten Poso diserang oleh 50-60 orang umat Kristen yang berpakaian hitam-hitam membunuh dua orang Muslim dan mengobrak-abrik rumah-rumah orang Islam. Laporan US Comitte of Refugees tentang Indonesia yang diterbitkan Januari 2001 menyebutkan dalam kerusuhan/konflik Poso yang terjadi selama tiga tahun belakangan ini pihak Muslim telah menderita secara tidak seimbang. Dalam laporan itu disebutkan jumlah pengungsi akibat konflik Poso kini sebanyak hampir 80.000 orang dan diperkirakan 60.000 orang adalah Muslim.

Para pengungsi ini hidup menderita tanpa kejelasan masa depan mereka; dan mereka kehilangan hak-haknya berupa tanah, kebun coklat, cengkeh, kopra, rumah, harta benda bahkan nyawa sanak-saudaranya. Bantuan makanan obat-obatan sangat terbatas sehingga penyakit senantiasa menghantui mereka. Bantuan hukum umtuk meminta keadilan praktis tidak ada. Bahkan nyawa mereka terancam tiap saat karena diserang pasukan kelelawar Merah.

Artinya, meskipun orang bisa bentrok karena perbedaan agama, perbedaan kepentingan, perbedaan suku, tetapi tidak berarti jika beberapa penyebab itu hilang kemudian timbul kesadaran menjadi satu nasion. Nasion terbentuk tidak bisa hanya mengandalkan kesamaan-kesamaan azas itu semua. Oleh karena itu, kesamaan azas tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan terbentuknya suatu nasion, meskipun mungkin saja mempunyai peranan yang penting. Suatu nasion dianggap mempunyai masa lalu, akan tetapi ia melanjutkan dirinya dalam masa sekarang ini dengan suatu kenyataan yang jelas, persetujuan keinginan yang dinyatakan dengan jelas untuk melanjutkan kehidupan bersama. Adanya suatu nasion merupakan suatu plebisit yang terjadi setiap hari seperti halnya adanya individu merupakan suatu penegasan hidupnya yang terus-menerus. Untuk itu, kita sebagai masyarakat Indonesia harus selalu mengingat arti dari Bhineka Tunggal Ika sebagai salah satu alat untuk pemersatu bangsa dari Sabang hingga Merauke.

Tinggalkan Balasan