Model-Model Komunikasi Dalam Komunikasi Massa

Written by Yunita Titi Sasanti – Mahasiswa Komunikasi Universitas Brawijaya

Perkembangan media massa semakin pesat ketika terjadi perubahan dramatis dalam teknologi komunikasi. Perkembangan industri media juga tak terelakkan. Demikian juga perkembangan dampak dan efek media menjadi sangat penting dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi masyarakat. Dapat dikatakan bahwa dalam modernisasi industri media, masyarakat berikut sistem sosial yang terbentuk di dalamnya juga menjadi bagian yang integral dalam perkembangan media massa. Pemahaman manusia mengenai media massa tidak lagi diletakkan dalam perspektif tunggal, dalam arti bahwa media massa dilihat sebagai satu entitas mandiri, melainkan sekarang media massa berikut industrinya dilihat sebagai totalitas yang di dalamnya terdapat interaksi dinamis antara pelaku media, masyarakat dan negara.

Dalam perkembangannya media massa bisa kita lihat bahwa, pertumbuhan industri semakin pesat yakni industri komunikasi (periklanan, surat kabar, televisi, majalah, buku, radio). Tidak dapat kita pungkiri pula bahwa terdapat hubungan timbal balik antara pengembangan media massa dengan kemajuan ekonomi serta industrialisasi. Adanya teknologi-teknologi baru di tempat kerja digunakan untuk mengganti tenaga kerja manusia dengan mesin.

Adanya perkembangan industrialisasi yang dipicu oleh revolusi industri dan revolusi media cetak di era industrialisasi mempengaruhi kompleksitas sistem sosial masyarakat. Setidaknya terjadi proses mekanisasi dan massifikasi faktor produksi, distribusi dan konsumsi masyarakat. Ini berarti terjadi akselerasi kompleksitas budaya masyarakat yang ada. Komunitas masyarakat tidak lagi dilihat dalam satu proses kebudayaan yang sederhana melainkan komunitas masyarakat dilihat sebagai sistem budaya yang mempunyai tingkat budaya yang lebih kompleks. Kompleksitas sistem sosial budaya masyarakat mempengaruhi sistem budaya informasi dan komunikasi yang semakin harus bisa mengikuti perkembangan dinamika masyarakat. Dengan percepatan industrialisasi mesin cetak dan informasi, rekaman dan proses komunikasi semakin menjadi kebutuhan utama masyarakat. Ini menandai juga perkembangan media massa sebagai salah satu bagian dalam proses komunikasi massa menjadi hal yang penting.

Masalah yang secara umum dialami oleh beberapa unsur media komunikasi massa adalah bagaimana pada akhirnya media massa bisa bertahan hidup dalam situasi sosial dan ekonomi yang ada. Selain konsolidasi media cetak, media audio dan media audio-visual juga dilakukan untuk bisa mengatur secara lebih praktis, efektif dan efisien. Dari aspek konsolidasi media komunikasi massa yang ada, terlihat bahwa dalam proses konsolidasi ada kecenderungan dinamis bahwa terjadi perubahan dari keanekaragaman media menjadi sebuah pemusatan atau konsentrasi sosial ekonomi media.

Empat Model Komunikasi dalam Komunikasi Massa

1. Model transmisi

Komunikasi melibatkan interpolasi atau pengalihan pola pikir dari “peran komunikator” yang baru antara masyarakat dan penerima pesan atau audince. Menurut model ini  komunikasi massa adalah proses pengaturan sendiri yang diarahkan oleh kepentingan dan permintaan pemirsa yang hanya dapat diketahui oleh pemilihan dan respon dari pemirsa tersebut atas apa yang ditawarkan oleh media.

Ada 3 fitur penting dari model komunikasi massa yaitu :

  • Menekankan pada peran memilih dari komunikasi massa
  • Bahwa pemilihan di dasarkan pada penilaian atas apa yang disenangi pemirsa.
  • Komunikasi tidak memiliki tujuan khusus, di luar tujuan akhirnya.

Contoh : media cetak khusnya surat kabar mempunyai banyak varian berita yang disajikan sesuai dengan keinginan dan kepentingan dari audince dalam mendapatkan informasi, misalnya media cetak surat kabar Jawa Post dimana dalam surat kabar terdapat beberapa segmen berita seperti umum, ekonomi, bisnis, sport dll hal ini dilakukan agar pengguna surat kabar bisa mendapatkan apa yang diinginan dari media tersebut. Khususnya para remaja laki-laki yang ingin mendapatkan berita olahraga oleh karena itulah diberikan berita yang bersegment sport.

2. Model ritual atau ekspresif

Model komunikasi ini berhubungan dengan keinginan berbagai partisipasi, asosiasi, persahabatan dan keyakinan umum. Pandangan ritual ini tidak diarahkan pada perluasan pesan dalam ruang, tapi pemeliharaan masyarakat dalam waktu. Bukan perbuatan penanaman informasi melainkan gambaran dalam berbagai keyakinan.

Disebut model komunikasi ekspresif karena penekannya juga pada kepuasan hakiki atau intrinsik dari komunikan atau komunikator. Pesan dalam komunikasi ritual biasanya ambigu, tergantung pada pengertian dan simbol-simbol yang tidak dipilih atas kemauan sendiri oleh partisipan dalam komunikasi ini, namun langsung terjadi dalam kebudayaan. Media dan pesan biasanya sulit untuk dipisahkan, dan komunikasi ritual ini relative waktu dan perubahannya.

Contoh: Dalam acara “belajar Indonesia” dimana dalam acara ini menggambarkan keanekaragaman budaya dan cara berkomunikasi setiap daerah di Indonesia berbeda-beda misalnya, kebudayaan Jawa orang yang lebih muda saat berjalan melewati orang yang lebih tua biasanya menyapa atau mengucapkan “nyuwun sewu” serta membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua.

3. Model publisitas, komunikasi sebagai pertunjukan dan atensi.

Dalam model ini, pemirsa hanyalah sebagai penonton, bukan menjadi partisipan dari proses komunikasi atau penerima informasi. Terkadang tujuan dari media massa bukan untuk mengirimkan informasi ataupun untuk menyatukan ekspresi publik dalam hal budaya, kepercayaan, atau nilai-nilai sosial, namun secara sederhana hanya untuk menangkap dan menguasai atensi visual atau pendengaran. Media dalam model ini media di khususkan untuk mendapatkan perhatian dari cathing the eye, membangkitkan emosi dan merangsaang minat. Dalam melakukan hal tersebut, media mencapai satu tujuan ekonomi, yaitu memperoleh keuntungan dari audiensnya dan secara tidak langsung menjual atensi pemirsanya kepada para pemasang iklan. Sehingga pemirsa hanyalah menjadi obyek pasar media.

Contohnya: Pada acara pertandingan sepak bola dimana dalam acara ini atensi penonton yaitu dari segi emosi dan ketertarikan dari penonton menjadi suatu hal yang sangat menjual sehingga penyelenggara dalam suatu acara tersebut menjual atensi penonton kepada pemasang iklan untuk mensponsori acaranya.

4. Model resepsi, kode dan penerimaan kode dalam media.

Esensi dari pendekatan resepsi adalah untuk menemukan asal dan konstruksi dari arti pesan (diambil dari media) bersama dengan penerima pesannya. Pesan-pesan dari media selalu terbuka dan memiliki banyak arti dan diinterpretasikan menurut konteks dan budaya penerimanya.

Unsur dari pendekatan resepsi:

  • Komunikator memilih untuk mengodekan pesan-pesan untuk tujuan-tujuan institusional dan ideologi untuk memanipulasi bahasa dan media untuk tujuan tersebut.
  • Penerima pesan atau dekoder tidak memiliki keharusan untuk menerima pesan yang sebagaimana terkirim, namun bisa menolak pengaruh ideologis dengan mengambil media yang berbeda atau menjadi pembaca pemirsa oposissi, menurut pengalaman dan analisa mereka sendiri.

Prinsip kunci dari model ini :

  • Keberagaman arti dari isi pesan dalam media
  • Keberadaan dari komunitas interpretatif atas pesan-pesan dalam media, yang bervariasi
  • Peneriama pesan memiliki kekuasaan atau keutamaan dalam menetukan arti pesan.

Contoh: bagaimana kita ikut mempersepsikan menurut diri kita sendiri mengenai citra polisi, setelah mengetahui bagaimana citra polisi yang diungkapakan atau diberitakan media. Interprestasi yang ada tergantung dari latar belakang yang dimiliki dari setiap audience.

Manusia tidak pernah terlepas dari proses komunikasi. Media massa merupakan salah satu sarana dalam proses komunikasi yang berperan penting dalam kehidupan manusia. Media komunikasi massa hadir sebagai sumber informasi, hiburan, dan pengetahuan bagi manusia namun feedbacknya dianggap tidak ada padahal sebenarnya feedback dalam proses komunikasi massa itu ada namun sifatnya yang tertunda atau lambat namun bukan berarti tidak ada. Oleh karena feedback yang tertunda itulah orang mengira feedback dalam proses komunikasi massa itu dianggap tidak ada karena tidak adanya komunikasi secara langsung antara komunikator dengan audince. Feedback yang tertunda dalam proses komunikasi massa dikarenakan beberapa faktor yaitu, distribusi dan penerimaan informasi dalam skala luas, arus informasi yang satu arah, hubungan yang asimetris, tidak mengenai seseorang (umum) dan tidak diketahui subjek manusianya, dan isi dalam penyampaiannya yang distandarisasikan.

Contohnya: media massa surat kabar dalam penyampaian informasi yang telah dilakukan mendapatkan feedback dari pembacanya yang berupa surat pembaca namun feedback itu bersifat tertunda atau tidak langsung bisa mendapatkan feedback hal ini dikarenakan proses komunikasi massa yang arus informasinya satu arah.

Penggunaan media massa Enjoyment : Fenomena penggunaan media massa ini membuat seseorang merasa nyaman dalam menggunakan media tertentu sehingga sampai mengakibatkan ketergantungan pada media tersebut. Dalam contoh fenomena ini dijelaskan bahwa seseorang ketergantungan terhadap handphone-nya dan membuat kadar percaya diri atau ego lebih tinggi sehingga menyebabkan Nomophobia.

Penggunaan media massa Companionship : Bagaimana kehadiran media massa bisa menjadi suatu individu dan kita bisa menjalin hubungan baik dengan media sehingga media bisa menjadi teman kita. Fenomena yang ada yaitu bagaimana seseorang merasa kesepian sehingga dia menggunakan media sebagai penghilang rasa sepi sehingga media dianggap sebagai temannya.

Penggunaan media massa Surveilance : Dalam penggunaan media ini, media bertindak sebagai pengawas atau kontrol masyarakat. Contoh fenomenanya yaitu media memberitakan mengenai pembangunan gedung DPR yang baru sedangkan pada kenyataanya rakyat Indonesia masih banyak yang miskin dan masih banyaknya pembangunan yang lebih penting seperti gedung-gedung sekolah.

Penggunaan media massa Interpretation : Media mampu memberitakan dan menjelaskan mengenai suatu hal, kasus dan peristiwa tertentu secara mendalam dan didasari oleh beberapa hal yang melatar belakanginya sehingga audince mampu memahami akan informasi atau berita yang disampaikan oleh media. Pada contoh fenomenanya “stop pembangkit nuklir baru” dimana dalam pemberitaaan ini media mampu memberikan penjelasan mengenai alasan pemberhentiaan pembangkit nuklit baru yang mengkhawatirkan gempa yang terus terjadi di Jepang.[]

 

Tinggalkan Balasan