Menapaki Jejak Feminisme Wanita Jawa

Written by Dhamas Utami Putri – Alumni Administrasi Niaga Universitas Jember

“Ya setiap orang mesti tahu tapak. Setiap orang mesti ziarah ke sejarah”. (Fauz Noer :2005). Kutipan tersebut sekilas mengingatkan kita tentang yang ada di masa lalu, terutama pada momen Hari Kartini yang selalu jatuh di tanggal 21 April. Sejarah di masa lalu yang menuntun kita hingga kita bisa sampai di era ini, bahkan untuk merumuskan yang di depan pun juga karena sejarah. Memoar-memoar R.A Kartini yang memang seharusnya tetap tersimpan di memori bangsa ini (baca:Indonesia). Beliau yang merupakan pelopor gerakan feminisme dalam catatan sejarah Indonesia kontemporer yang lebih terstruktur, meskipun sebenarnya gerakan ini sudah ada sejak berdirinya dinasti-dinasti di nusantara ini baik di era Majapahit, Mataram bahkan dalam tokoh-tokoh pewayangan, seperti Srikandi dan Larasati.

R.A kartini merupakan wanita yang punya semangat tinggi, bekerja keras dan dedikasinya yang telah memberikan jasa besar bagi para kaum perempuan di Indonesia. Semua usahanya tertuang dalam surat-suratnya “Habis Gelap Terbitlah Terang” (1899-1904). Beliau yang melihat kondisi wanita Indonesia bisa dibilang tragis dan cukup menggemaskan saat itu. Peran wanita yang hanya disimbolkan dan diposisikan sebagai konco wingking dan semacamnya membuat Kartini dengan berani dan lantang mendekonstruksikan mainstream yang selama ini tertanam di pikiran masyarakat terutama kaum laki-laki.

Isu yang dibawanya adalah memberikan kesempatan perempuan dalam mendapatkan pendidikan yang layak agar mereka tidak lagi dianggap bodoh dan dapat mendidik penerus bangsa dengan baik. Emansipasi yang sengaja di junjung tinggi oleh  Kartini mampu merubah sterotip tetntang imej wanita.

Feminisme adalah suatu doktrin yang mendasari gerakan mengadvokasi equalty of opportunity (kesamaan dalam kesempatan) bagi kaum laki-laki dan wanita. Dimana tidak ada perbedaan kesempatan antara laki-laki dan wanita, semua mempunyai kesempatan yang sama dalam kacamata apapun. Tetapi juga bukan berarti kekuatan untuk memimpin atau mengendalikan laki-laki justru sikap saling pengertian untuk saling melengkapi satu sama lain.

Jika kita mengaji lebih dalam dari kacamata budaya jawa dimana wanita jawa diposisikan dan dipandang sebagai wanita yang punya karekteristik unik. Bahkan menurut Cristina S.Handayani-Ardhian Novianto bahwa, “wanita jawa tidak perlu menjadi maskulin untuk mendapatkan kekuasaan, tetapi justru ia harus memanfaatkan kefeminitasnya”.

Kekuasaan yang dewasa ini menjadi perebutan antara laki-laki dan wanita terutama dalam sektor publik dimana wanita mulai meramba ruang publik yang awalnya hanya pada ruang domestik mulai menjadi perhatian. Walaupun sebenarnya di dalam sektor domestik pun wanita jawa mampu menguasai dan justru mempunyai peran penting di dalamnya yang mungkin tidak di sadari oleh banyak orang.

Wanita jawa membangun kekuasaan tidak dengan melawan kekuasaan tetapi justru bermain di ruang kekuasaan itu sendiri. Dalam wanita jawa terlihat kekuasaan itu bukan sesuatu yang bersifat publik/formal/impersonal, tetapi the personal is political. Jocelynne A. Scuut (dalam Cristina S. Handayani-Ardhian Novianto, 2008) dengan jelas juga menjelaskan bahwa sumber kekuasaan itu justru bukan semata-mata terletak di dunia publik, melainkan antara dunia personal dan publik saling mempengaruhi sehingga kekuatan privat atau personal pada gilirannya dapat merembes ke dunia publik.

Dalam tulisan ini penulis ingin menyimpulkan bahwa baik di era hari ini dan yang akan datang wanita jawa tidak harus menjadi wanita maskulin untuk menguasai sektor publik. Tetapi justru dengan memanfaatkan kefeminitasnya pun yang dipadukan antara elemen komunikasi, intelektual yang dimiliki dan sarana teknologi juga dapat menguasai ruang publik dengan tidak mengabaikan sektor domestiknya. Wanita yang menguasai sektor publik bukan menjadi suatu indikator keberhasilannya. Melainkan yang terpenting adalah setiap langkah dapat didasari oleh pemahaman yang benar atas akar permasalahan yang ada.

(Endnotes)

1 konco wingking merupakan istilah jawa untuk mempersepsikan perempuan sebagai orang yang berada di belakang. “Dibelakang” bisa dimaknai sebagai dapur atau di balik suami (laki-laki).

2 Rahman, Bustami. 2005. “Feminisme dalam Budaya Indonesia”. Jurnal PRIMA (April). 29.

3 S.Handayani, Christina dan Ardhian Novianto. 2008. “Kuasa Wanita Jawa”. Yogyakarta : LKis.

 

Tinggalkan Balasan