Memaknai Nasion Indonesia Sebagai Identitas Nasional

Written by Imam Sunarto – Mahasiswa Sosiologi Universitas Jember

Indonesia adalah sebuah negara yang merdeka dan berasaskan kebangsaan. Suatu bangsa yang mengakui kehadiran Indonesia sebagai identitas dan jatidiri. Tempat untuk hidup dan berkehidupan, untuk menjunjung dan melekatkan kesadaran berbangsa (Indonesia) maka perlu untuk kemudian menanamkan nilai-nilai kebangsaan (nasionalisme) pada setiap pribadi warga negara. Namun apa sebenarnya nasionalisme yang berasal dari kata nasion itu?

Pengertian Nasion

Nasion (inggris: nation) secara harfiah berarti bangsa, sedangkan nasional di sini mengandung makna yang terkait dengan kehidupan seluruh masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Kata ‘nasional’ akan selalu merujuk pada identitas masyarakat atau warga negara walau dalam arti yang lebih luasnya yaitu secara langsung akan berhubungan dengan subjektivitas atau hubungan nasional yang membentuk kesadaran solidaritas seseorang yang menyebutnya. Seperti warga negara Indonesia dan mengidentikkan dirinya sebagai orang Indonesia, maka makna nasional baginya adalah keseluruhan konstruks kesadaran yang membentuk solidaritas keindonesiaannya.[1] Pun begitu dengan negara bangsa yang lain.

Indonesia adalah suatu negara kebangsaan. Negara dan bangsa yang majemuk dan plural dengan sekian keanekaragamannya, baik suku, ras, bahasa dan budaya. Namun bukan berarti hal tersebut tidak dapat bersatu, dengan realitas saat ini bahwa Indonesia dari sabang sampai merauke masih utuh dan bersatu. Walau memang tidak mudah, dengan banyak ancaman dis-integrasi seperti Gerakan Aceh Merdeka  (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS), dst.

Sungguh luar biasa betapa bangsa Indonesia dengan semua stakeholders-nya masih dapat menjaga keutuhan dan kesatuannya. Negara yang terdiri dari banyak sekali pulau-pulau yang terpisah oleh selat dan laut, lebih dari 17.000 pulau yang ada di Indonesia yang teridentifikasi, mungkin masih ada kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah seperti juga kemungkinan tidak semua pulau dapat dijangkau dengan mudah dan terlewati. Pulau-pulau tersebut dengan terpisahkan oleh selat dan laut yang pada zaman dahulu tentunya masih sulit untuk ditempuh dan menyebranginya. Implikasinya adalah komunikasi dan interaksi antar masyarakat dengan pulau lain berkurang atau bahkan tidak terjadi sama sekali.

Bagaimanapun juga, dengan wawasan demikian membuat kita seoah-olah menjadi kesatuan “komunitas yang dibayangkan”, yaitu suatu komunitas yang abstrak secara fisik dan sulit dibuktikan. Komunitas-komunitas yang sebenarnya hanya dikhayalkan keberadaannya dan secara konkret tidak terbentuk. Hanya atas dasar kesepakatanlah maka istilah “nasional” mendapat legitimasi sebagai sesuatu yang nyata.[2] Seperti konsep fakta sosial yang coba dirumuskan Emile Durkheim yaitu fakta sosial material dan fakta sosial immaterial, yang nyata dan yang anggap sebagai nyata, termasuk kelompok atau bangsa (nasion).

Kemajemukan merupakan identitas bangsa

Dengan kemajemukan bangsa Indonesia dan semua itu masih dapat terintegrasi menjadi satu kesatuan yaitu bangsa atau nasion Indonesia, hingga akhirnya segala perbedaan tersebut sekaligus menjadi identitas bangsa Indonesia karena juga sudah diakui oleh bangsa indonesia sebagai milik Indonesia milik masyarakat Indonesia bersama. Misalnya tarian bali, jika kita sebut sebagai tarian Indonesia, itu karena bangsa Indonesia atau masyarakat Indonesia sudah mengakui bahwa tarian bali adalah salah satu tarian yang ada di Indonesia dan diakui sebagai bagian dari budaya Indonesia. Begitupun dengan tarian-tarian lain yang ada di Indonesia. Seperti juga Reog Ponorogo yang menjadi identitas nasional karena rasa kepemilikan bersama bangsa Indonesia terhadap Reog Ponorogo. Apalagi jika hal tersebut dihadapkan dengan negara atau bangsa lain yang berani mengklaim identitas tersebut, maka seluruh bangsa Indonesia akan bersatu dan menentangnya, karena rasa nasionalismenya dan terlanjur menanggap identitas tersebut adalah milik Indonesia, walau yang benar-benar memilikinya adalah sebagian (sekelompok) masyarakat tertentu seperti Tari Reog yang asli Ponorogo atau juga Tari Kecak dari Bali.

Rumusan sederhana kemajemukan itu akan begitu nyata adalah ketika kita melihat dari luar dalam artian buka secara langsung terlibat di dalamnya, pada awalnya demikian. Seperti misalkan suku madura dengan karapan sapinya, yang demikian adalah hal yang biasa dan bahkan tidak mungkin pernah disadari lebih mendalam bahwa itu merupakan identitas mereka sebagai orang bersuku madura. Beda ketika yang melihat karapan sapi itu merupakan orang bersuku jawa atau suku selain madura, maka hal itu akan menjadi unik dan berbeda. Kesadaran yang demikian sebenarnya sangat perlu. Hal itu guna mempertahankan dan melestarikan budaya-budaya yang ada. Karena mana mungkin untuk mempertahankan sedangkan mereka tidak tau apa yang harus dipertahankan.

Begitu kebudayaan yang majemuk itu selama dianggap sebagai bagian dari Indonesia akan kemudian menjadi identitas bangsa Indonesia. Bagi kita yang berada di Indonesia yang sudah tidak asing dengan segala budaya dan identitas nasionalnya bisa jadi tidak akan begitu mengenal baik budaya dan identitas itu (tentunya bagi yang tidak berkeinginan), bersadarkan rumusan sederhana bahwa kemajemukan itu akan begitu nyata adalah ketika kita melihat dari luar dalam artian buka secara langsung terlibat di dalamnya. Begitu nasionalisme atau rasa kepemilikan Indonesia untuk warga negaranya akan sangat kuat – paling tidak akan menyadari – bahwa itu adalah identitas bangsa ketika berada negeri orang (luar negeri), sekecil apapun aspek budaya daerah itu akan sangat menyentuh kalbu dan mengangkat kesadaran kita akan identitas sebagai bangsa Indonesia kita sebagai anak bangsa. Seperti contoh jika kita berada di Amerika kemudian menyaksikan pertunjukan gamelan di sana oleh komunitas gamelan Indonesia yang berada di Amerika, maka jelas akan menggugah kembali kesadaran sebagai bangsa Indonesia.

Semangat menuju Nasion

Semua perbedaan yang dapat kemudian untuk tetap bersatu itu tidak lain merupakan semangat menuju “Nasion Indonesia”  seperti juga sistem sosial bangsa Indonesia, sistem kenegaraannya, sistem pemerintahannya dan organisasi politik semua itu merupakan perpaduan antara unsur kedaerahan asing yang kemudian diakui dan kemudian dianggap sebagai milik bangsa Indonesia. Tentu hal itu bukanlah hal yang mudah mengingat Indonesia yang begitu majemuk, namun bukanlah hal yang mustahil. Hal itu terbukti sampai sekarang Indonesia masih tetap satu.satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air seperti sumpah para pemuda pada tahun 1928, sebelum Indonesia merdeka. Nilai-nilai pluralisme yang kemudian coba dipahami bersama untuk saling menghargai perbedaan dan serta tidak mengganggu atau menganggap buruk yang lain, mengurangi sifat cinta kedaerahan yag berlebihan (primordialisme),dst.

Setelah sekian banyak ulasan mengenai bangsa (nasion) dan keberbangsaan (nasional), apa sebenarnya nasion itu dalam perspektif para ahli di bidang itu. salah satunya adalah seorang guru besar Universitas Sorbonne, Prancis yang bernama Ernest Renan (1823-1892), menjelaskan tentang apa yang menyebabkan penduduk yag berbeda-beda ini bisa bersatu sebagai satu nasion. Ada yang mengatakan bahwa nasion itu bersatu atas dasar kesamaan ras, suku, dan etnis, namun pendapat ini kurang tepat, karena banyak negara yang terdiri dari bermacam-macam ras, suku dan etnis dapat bersatu sebagai bagsa yang besar dan maju seperti Amerika.

Ada juga yang mengatakan bahwa suatu nasion bersatu karena persamaan bahasa (satu bahasa), ini pun ternyata tidak sepenuhnya benar karena ada beberapa negara dan bangsa yang memiliki bahasa yang sama namun tidak bersatu menjadi satu bangsa. Seperti Indonesia, Malaysia dan Brunei yang bahkan mempunyai asal rumpun yang sama yaitu Melayu, namun ketiganya berdiri sebagai bagsa sendiri-sendiri.

Selain itu ada juga pendapat yang mengatakan bahwa suatu nasion atau bangsa bersatu karena adanya persamaan agama, namun kembali hal ini tidak benar sepenuhnya. Dengan melihat realitas bahwa seseorang yang beragama islam tidak bisa kemudian menjadi bangsa Arab Saudi, Irak dan Iran sekaligus. Lalu jika semua itu keliru, jadi apakah karena kepentingan bersama yang menyebabkan suatu bangsa (nasion) bisa terwujud dan bersatu? Tidak juga, karena persamaan kepentingan bisa ditempuh dengan jalan mengadakan perjanjian-perjanjian, dst.

Azas-azas di atas diatas bukanlah dasar “suatu nasion”. Menurut Renan pengertian nasion “adalah suatu jiwa suatu azas spiritual. Suatu nasion adalah suatu solidaritas yang besar, yang terbentuk oleh perasaan yang timbul akibat pengorbanan-pengorbanan yang telah dibuat dan dalam masa depan bersedia dibuat lagi. Adanya suatu nasion merupakan suatu “plebisit” yang terjadi setiap hari, seperti juga adanya individu merupakan suatu penegasan hidupnya yang terus menerus (Harsya Bachtiar, 1980:21).[3]


[1] Bustami Rahman dan Hary yuswadi dalam “Sistem Sosial budaya Indonesia”. 2004: hal. 19

[2] Ibid., hal. 20

[3] Ibid., hal. 23-24

Tinggalkan Balasan