Kritik Pembangunan Sumber Daya Manusia Indonesia

Written by Ni Luh Desriana Utami – Alumni Hubungan Internasional Universitas Jember

Manusia merupakan instrumen penting dalam proses pembangunan karena itu perlu diadakan upaya-upaya untuk memaksimalkan kemampuan serta peran manusia dalam pembangunan tersebut. Masalah sumber daya manusia merupakan tantangan bagi Indonesia yang merupakan negara berkembang. Pada masa Orde Baru, pemerintah menjadikan pembangunan ekonomi sebagai orientasi pembangunan nasional sehingga sumber daya manusia menjadi terbengkalai. Padahal Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alamnya, namun karena keterbatasan sumber daya manusia, pengolahannya sering diserahkan pada pihak asing yang menyebabkan pembangunan ekonomi secara tidak langsung terhambat karena belum mandiri sepenuhnya.

Masalah yang dihadapi dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia berawal dari masalah kemiskinan masyarakatnya. Banyaknya masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan menyebabkan pendidikan pada anak-anak terbengkalai, begitu juga dengan masalah kesehatan dan gizi yang masih menjadi perhatian pemerintah. Rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan keterampilan serta kemampuan bekerja jauh dari kualifikasi yang ditetapkan pemerintah.

Masalah yang hampir serupa juga dihadapi masyarakat kelas menengah. Tingkat pendidikan angkatan kerja masih relatif rendah masih didominasi pendidikan dasar yaitu sekitar 63,2 %. yang menyebabkan proses pembangunan yang berjalan kurang didukung produktivitas tenaga kerja yang. Sementara itu, terjadi ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dengan angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar 92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 87,67 juta orang dan ada sekitar 5,06 juta orang penganggur terbuka (open unemployment). Angka ini meningkat terus selama krisis ekonomi yang kini berjumlah sekitar 8 juta[1].

Mengacu pada perspektif fungsionalis Durkheim, menyatakan bahwa pendidikan sebagai komponen utama pembangunan SDM harus berfungsi sebagai wacana untuk mewariskan norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dengan serangkaian aturan yang dituntut masyarakat. Melalui pendidikan individu-individu akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan dan keterampilan untuk hidup dalam masyarakat yang semakin kompleks.[2] Mengacu pada hukum yang berlaku di Indonesia, masalah pendidikan juga di atur pada pasal 31 UUD 1945. Jadi, pemerintah harus ikut bertanggung jawab terhadap masalah pendidikan masyarkat Indonesia. Pemerintah seharusnya mengalokasikan dana APBN lebih banyak pada sektor pendidikan. Sehingga selain meningkatkan kualitas angkatan kerja, semua anak Indonesia diberikan kemudahan dalam memperoleh pendidikan yang layak. Jika pendidikan sudah diperbaiki, kemampuan dan keterampilan akan meningkat dan mampu memenuhi kualifikasi pemerintah tentang sumber daya pembangunan nasional.

Berkaitan dengan masuknya arus globalisasi yang juga menyentuh Indonesia, tuntutan terhadap sumber daya manusia juga semakin tinggi. Globalisasi menyebabkan masyarakat Indonesia yang sebelumnya masyarakat pertanian menjadi masyarakat industri. Globalisasi menuntut adanya efisiensi dan daya saing yang tinggi dalam dunia usaha. Yang mejadi faktor pendukung globalisasi adalah teknologi. Masalah teknologi juga menjadi tantangan bagi pengembangan sumber daya manusia yang masih terus dilakukan. Masyarakat dituntut untuk menguasai teknologi yang setiap hari mengalami perubahan. Namun, lagi-lagi Indonesia belum siap sepenuhnya. Terbukti dengan sumber daya manusia dalam bidang teknologi dan informasi masih belum banyak. Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 730 perguruan tinggi komputer dengan jumlah program studi sekitar 1.600. Dari jumlah lembaga tinggi tersebut sekitar 170 perguruan tinggi berada di Jawa Barat dan belum satupun yang memiliki spesialisasi yang jelas[3]. Pembangunan nasional harus mengikutiarus globalisasi agar mampu bertahan melawan negara-negara yang lebih besar, dan penguasaan teknologi dapat membantu mempermudah proses tersebut.

Selama ini, yang paling banyak berperan dalam pembangunan adalah kaum pria, sementara kaum wanita sejak dulu jarang mandapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Wanita dianggap tidak mampu menjalankan tugas seperti yang dibebankan pada pria. Padahal, wanita mampu berperan meskipun hanya dari sisi berbeda seperti contohnya, wanitalah yang mengasuh anak-anak dan mengatur keuangan keluarga. Kesejahteran keluarga merupakan dasar dari negara yang sehat. Maka dari itu, seharusnya wanita medapat hak dan kesempatan yang sama mulai dari pendidikan, kesempatan kerja hingga perlindungan pada saat bekerja.

Masalah moral juga menjadi perhatian dalam pengembangan sumber daya manusia. Beberapa kali pejabat-pejabat negara terbukti melakukan tindakan yang amoral seperti pelecehan seksual, penggunaan narkoba dan penyelewengan uang negara atau korupsi. Padahal seharusnya para pejabat ini menjadi contoh bagi masyarakatnya dan menjalankan tugas yang telah dibebankan pada mereka dengan baik sebagai wakil rakyat. Rendahnya moral dan iman sumber daya manusia ini berkaitan dengan masalah disiplin an etos kerja yang juga menghambat pembangunan nasional. Kredibilitas Indonesia semakin terpuruk di mata negara lain sementara itu masalah yang ditimbulkan dalam negeri, adalah masalah pembangunan yang terhambat karena penyelewengan dana. Meskipun Indonesia memiliki Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), namun kasus korupsi tetap saja menjadi pr bagi pejabat untuk dituntaskan.

Pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan pemerintah Indonesia masih perlu uasaha yang lebih keras lagi karena tantangan yang dihadapi begitu banyak. Pemerintah hendaknya lebih memperhatikan masalah dasar seperti kemiskinan, pkesehatan dan pendidikan. Meskipun memerlukan waktu yang tidak sebentar, namun jika konsisten dilakukan akan menciptakan pembangunan nasional yang lebih mandiri dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia secara maksimal tanpa campur tangan negara lain.

DAFTAR PUSTAKA

Tjokrowinoto, Moeljarto, 2001. Pembangunan, Dilema dan Tantangan. Pustaka Pelajar.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0306/13/opi01.html

http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1066879709,76863,.

http://www.pikiran-rakyat.com/node/124252

http://emperordeva.wordpress.com/about/sdm-indonesia-dalam-persaingan-global/.


[2] Dikutip dari Pembangunan Dilema dan Tantangan hal. 26

Tinggalkan Balasan