Konstruksi Filsafat Modern dan Perdebatan Rasionalisme versus Empirisme

Written by Imam Sunarto – Mahasiswa Sosiologi Universitas Jember

Ontologi, epistemologi dan  aksiologi

Ontologi, epistemologi, dan aksiologi merupakan unsur-unsur pembentuk filsafat yang ketiganya tidak dapat dipisahkan, melalui ketiganya filsafat berusaha mencari kebenaran. Yang pertama adalah ontologi, ontologi adalah bagian dari filsafat yang mempersoalkan tentang yang “ada”. Atau yang nanti akan menjadi objek filsafat. Ini terjadi karena beberapa hal yang salah satunya karena kekaguman/keheranan manusia terhadap alam yang menjadi awal mula filsafat, seperti pada zaman Yunani kuno yang para filsufnya kemudian mencari kebenaran tentang alam semesta seperti Thales yang berfikir dan menyimpulkan bahwa bumi itu berasal dari air. Dari ontologi ini kemudian berkembang menjadi epistemologi, pada bagian epistemologi ini filsafat kemudian berusaha mencari kebenaran dari suatu hal atau banyak hal dan menyimpulkannya dalam bentuk sebuah pengetahuan.

Ada tiga hal masalah dalam pengetahuan ini, yaitu menyangkut apakah dasar pengetahuan kita?, adakah kemungkinan manusia mencapai pengetahuan mutlak?, dan adakah manusia mengetahui objek di luar dirinya. Dari sanalah kemudian filsuf mencoba menemukan sebuah kebenaran tentang hakikat dari segala sesuatu. Sumber yang bisa digunakan untuk memperoleh pengetahuan adalah dengan menggunakan rasio atau akal fikiran dan pengalaman empiris. Yang keduanya dianut oleh kaum rasionalisme dan empirisme. Bagian yang ketiga adalah aksiologi, aksiologi yang nantinya akan memberi nilai praktis terhadap pengetahuan yang dihasilkan karena pengetahuan manusia adalah bertujuan tidak lain untuk kesejahteraan dari manusia itu sendiri. Oleh karena itu perlulah mempertimbangkan nilai-nilai praktisnya. Selain itu aksiologi juga terkandung Das sollen (apa yang seharusnya) yang nantinya akan mengontrol atau mengendalikan perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat Das sein (apa yang ada). Jadi jelaslah dari ketiga aspek ini filsafat berusaha mencari jalan menuju kebenaran dan pengetahuan yang dicari manusia dengan mempunyai nilai kebenaran yang diakui atau bisa diterima oleh akal dan pengalaman indera manusia untuk memperbaiki kehidupan dan mensejahterakan kehidupan umat manusia.

Kontruksi filsafat modern dan bentuk manusia modern menurut Francis Bacon

Untuk dapat melihat tentang filsafat modern juga perlulah untuk mengetahui perkembangan filsafat sejak pertama kali hingga sampai pada filsafat modern, utamanya sejak zaman Yunani kuno dan seterusnya. Periode filsafat modern di Barat menunjukkan adanya pergeseran, segala bentuk dominasi gereja, kependetaan dan anggapan bahwa kitab suci sebagai satu-satunya sumber pengetahuan diporak-porandakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa abad  modern  merupakan era pembalasan terhadap zaman skolastik yang didominasi oleh gereja. Masa filsafat modern diawali dengan munculnya renaissance sekitar abad 15 dan 16 M, yang bermaksud melahirkan kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi. Problem utama masa renaissance, sebagaimana periode skolastik, adalah sintesa agama dan filsafat dengan arah yang berbeda. Era renaissance ditandai dengan tercurahnya perhatian pada berbagai bidang kemanusiaan, baik sebagai individu maupun sosial.

Filsafat modern sudah mengalami perkembangan dari awal mula manusia berfilsafat yang hanya memfokuskan pemikirannya terhadap alam. Seperti halnya Bacon yang sudah mulai memikirkan kehidupan manusia dan hubungannya dengan manusia lain. Bacon berusaha mencari pengetahuan dengan tidak berdasarkan pada dogma-dogma yang bersifat mengikat dan juga tidak berdasarkan penilaian dari pribadi. Semuanya harus diteliti dan diamati sesuai dengan apa adanya tanpa ada unsur subjektif sedikitpun. Hal itu yang berbeda dengan filsafat kuno yang cenderung menilai sesuatu sesuai dengan kehendaknya sendiri.

Rasionalisme dan  Empirisme menurut Aristoteles dan Plato

Perselisihan rasionalisme dan empirisisme sejauh mana kita tergantung  pada pengalaman indrawi dalam upaya kita untuk memperoleh pengetahuan. Rasionalis menyatakan bahwa ada cara yang signifikan di mana konsep-konsep dan pengetahuan yang diperoleh secara mandiri dari pengalaman akal. Empirisis mengklaim bahwa pengalaman akal adalah sumber utama dari semua konsep-konsep dan pengetahuan. Rasionalis umumnya mengembangkan pandangan mereka dalam dua cara.

Pertama, mereka berpendapat bahwa ada kasus dimana isi dari konsep kita atau melampaui pengetahuan informasi yang dapat memberikan pengalaman rasa. Kedua, mereka membangun bagaimana alasan dalam beberapa bentuk atau lainnya memberikan informasi tambahan tentang dunia. Perselisihan antara rasionalisme dan empirisme mengambil tempat dalam epistemologi, cabang filsafat dikhususkan untuk mempelajari alam, sumber dan batas-batas pengetahuan, bagaimana kita bisa mendapatkan keyakinan diperlukan tidak jelas. Selain itu, untuk mengenal dunia, kita harus berpikir tentang hal ini, dan tidak jelas bagaimana kita memperoleh konsep yang kita gunakan dalam pemikiran atau apa jaminan.  Beberapa aspek dunia mungkin dalam batas-batas pemikiran kita tetapi di luar batas pengetahuan kita, dihadapkan dengan deskripsi bersaing dari mereka, kita tidak bisa tahu mana deskripsi benar. Beberapa aspek dari dunia bahkan mungkin di luar batas pikiran kita, sehingga kita tidak dapat membentuk deskripsi jelas dari mereka, apalagi tahu bahwa suatu deskripsi tertentu adalah benar. Kedua, sumber konsep dan pengetahuan terdapat ketidaksetujuan  antara tanggapan yang bertentangan terhadap pertanyaan-pertanyaan lain juga. Mereka mungkin tidak setuju atas sifat surat perintah atau sekitar batas-batas pikiran kita dan pengetahuan.

Empirisisme tentang topik tertentu menolak versi yang berkaitan dengan tesis Pengurangan Intuisi dan bawaan tesis Pengetahuan. Sejauh kita memiliki pengetahuan dalam subjek, pengetahuan kita adalah aposteriori, tergantung pada pengalaman akal. Empiris juga menyangkal implikasi bawaan sesuai Konsep tesis bahwa kita memiliki ide bawaan di daerah subjek. Sense pengalaman adalah sumber kita satu-satunya ide. Mereka menolak versi yang sesuai Keunggulan Alasan tesis. Karena alasan ini saja tidak memberi kita pengetahuan apapun, tentu tidak memberikan kita pengetahuan yang unggul. Empirisis umumnya menolak Indispensability tesis Reason, meskipun mereka tidak perlu. Tesis empirisisme tidak berarti bahwa kita memiliki pengetahuan empiris, karena untuk beberapa hal tertentu, rasionalis benar untuk mengklaim pengalaman yang tidak dapat memberi kita pengetahuan. Kesimpulan mereka menarik dari pelajaran ini, rasionalis bukanlah bahwa kita mendapatkan pengetahuan dengan alasan yang sangat diperlukan, tetapi kita tidak tahu sama sekali.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa sebenarnya rasionalisme dan empirisme bekerja pada masing-masing bidangnya yang sebenarnya tidak perlu ada konflik di antaranya, seperti rasionalisme yang bekerja pada ilmu matematika atau bagian-bagian dari matematika dan empirisme yang memfokuskan dirinya pada ilmu alam.

Rujukan:

Pengantar Filsafat oleh Prof. Dr. sutardjo A. Wiramiharja, Psi

http:/plato.stanford.edu/entries/realism  di akses  20 Maret 2009.

Tinggalkan Balasan