Islam Agama Populer ataukah Elitis?

Written by Abdurrahman Wahid – Guru Bangsa Indonesia

Pada tahun-tahun 50-an, di Mesir terjadi perdebatan sengit tentang bahasa dan sastra Arab, antara para eksponen modernisasi dan eksponen tradisionalisasi. Dr. Thaha Husein, salah seorang tuna netra yang pernah menjabat menteri pendidikan dan pengajaran serta pelopor modernisasi, menganggap bahasa dan satra Arab harus mengalami modernisasi, jika diinginkan ia dapat menjadi wahana bagi perubahan-perubahan sosial di jaman modern ini. Ia menganggap bahasa dan sastra Arab yang digunakan secara klise oleh sajak-sajak puja (al-madh) seperti bahasa yang digunakan dalam dziba’iyyah dan al-barzanji sebagai dekadensi bahasa yang justru akan memperkuat tradisionalisme dan menentang pembaharuan. Dari pendapat ini dan dari tangan Dr. Thaha Husein, lahirlah para pembaharu sastra dan bahasa Arab yang kita kenal sekarang ini.

Nama-nama terkenal seperti Syauqi Dhaif dan Suhair al-Qamalawi muncul sebagai bintang-bintang gemerlap dalam perbincangan mengenai pembaharuan bahasa dan sastra Arab. Sejak masa itu, muncullah mahzab baru bahasa Arab, yang dirasakan oleh mereka sebagai pendorong dinamika dan perubahan sosial. Bahasa dan sastra Arab dari masa lampau, yang lebih berbau agama dikesampingkan oleh kebangkitan kembali bahasa dan sastra Arab masa pra-Islam (‘asr al-jahiliyah).

Dalam pandangan ini, produk-produk dekaden harus dikesampingkan, guna memberi jalan kepada proses modernisasi bahasa dan sastra Arab. Ini merupakan reaksi terhadap paham serba agama yang merajai Timur Tengah sebelum itu. Sejalan dengan tumbuhnya nasionalisme Arab (al-qawmiyyah al-arabiyah), yang kala itu menjadi pikiran dominan di kalangan para pemikir Arab. Dengan demikian, tradisionalisme yang dibawakan agama, dianggap sebagai penghalang bagi munculnya kecenderungan baru tersebut. Karena sifatnya yang intelektual, pandangan ini tidak langsung diikuti oleh rakyat kebanyakan, halnya menjadi pemikiran elitis dari kaum cendekiawan di negeri-negeri Arab selama dua puluh lima tahun.

Di negeri kita, kemunculan kelompok nasionalis itu juga berkembang. Persamaannya dengan pandangan ani-tradisionalisme bahasa dan sastra Arab di kalangan bangsa-bangsa Mesir, yaitu pandangan elitisme kaum cendekiawan ini tidak menyentuh pikiran-pikiran rakyat awam di negeri ini. Perbedaannya, agama dengan tradisionalismenya tidak dipersalahkan menghambat kemajuan. Mungkin ini disebabkan oleh kekuatan politik organisasi tradisional agama, seperti NU (Nahdlatul Ulama). Tradisionalisme agama yang dibawa NU justru menyatu dengan kaum nasionalis, karena kedua-duanya harus berhadapan dengan modernisme non-ideologis yang datang dari Barat, dalam berbagai bentuk. Yang terpenting diantaranya adalah pragmatisme yang dibawa oleh para teknokrat, yang di permukaan berarti penyerahan diri secara total kepada sistem nilai yang dimiliki orang-orang Barat.

Modernisasi dianggap sebagai pengikisan tradisionalisme agama dan rasa kebangsaan kaum nasionalis. Tidak heran, jika yang muncul di permukaan adalah manifestasi tradisionalisme agama, digabungkan dengan semangat nasionalisme yang mengagungkan kejayaan masa lampau. Kedua paham itu menampilkan tradisionalismenya sendiri: anti-Barat, anti penuhnya rasionalisme dan penghormatan berlebihan kepada masa lampau. Kalau hal ini diingat benar, dengan sendirinya kita lalu dapat melihat kedangkalan dua paham tersebut.

Manifestasi budaya dari munculnya kembali tradisionalisme agama itu, seperti terlihat dalam blantika musik kita dewasa ini. Musik Arab tradisional dengan enam belas birama (bahr, pluralnya buhur) seperti yang ada dalam sajak-sajak Arab tradisional, muncul sebagai ‘wakil agama’ dalam blantika musik kita dewasa ini. Hal ini karena, pembaharuan bahasa dan sastra nasional yang dirintis Sutan Takdir Alisyahbana tidak sampai menyentuh akar tradisonalisme agama itu. Sebagai akibatnya kita melihat sebuah penampilan yang lucu: bahasa dan satra nasional yang diperbaharui dan berwatak kontemporer dan –pada saat yang sama, menampilkan tradisionalisme agama.

Dengan memperhatikan kenyataan di atas, kita sampai kepada sebuah pertanyaan yang fundamental: haruskah kehidupan beragama kita semata-mata berwatak tradisional dan adakah penggunaan rasio dalam menyegarkan kembali tradisionalisme agama itu dianggap sebagai ‘bahaya’? pertanyaan ini patut dipikirkan jawabannya secara mendalam, karena selama ini pencampuran antara semangat kebangsaan kaum nasionalis dan tradisionalisme agama hanya membawa hasil positif di bidang politik belaka, bukannya di bidang budaya dan bahasa. Tradisionalisme agama tidak menyukai ideologisasi-agama dalam kehidupan bernegara, seperti terbukti dari penolakan NU atas Piagam Jakarta.

Kehidupan beragama kita, yang menjadi salah satu penyumbang kebudayaan dalam kebudayaan nasional kita, bagaimana pun haruslah berwatak rasional. Apa yang dikemukakan A.A. Navis dalam cerpen ‘Robohnya Surau Kami’ adalah rasionalitas kehidupan beragama yang kita perlukan, bukannya sesuatu yang harus ditakuti. Ini bukan berarti memandang rendah tradisionalisme agama, karena elemen-elemen positif dari tradisionalisme itu sendiri harus kita teruskan. Tetapi unsur-unsur irrasional yang akan menghambat fungsionalisasi tradisionalisme itu sendiri haruslah diganti dengan nilai-nilai rasional yang akan menjamin kelangsungan tradisionalisme agama itu. Seperti halnya dengan kontra-reformasi yang dijalani oleh gereja Katolik Roma, yang dijalankan untuk menjamin kelangsungan hidup tradisionalisme agamanya. Penggunaan gamelan di satu sisi misalnya, dan musik hard rock serta rap di sisi lain, sama-sama rasionalnya dalam penyampaian pesan-pesan gerejawi melalui misa dan sebagainya.

Jadi revitalisasi tradisionalisme memang agama sangat diperlukan, dalam bentuk memasukkan unsur-unsur rasional ke dalamnya, hingga modernisme agama itu sendiri dapat dirasakan sebagai kebutuhan, baik di kalangan elitis yang diwakili para cendekiawan, maupun rakyat jelata yang mengembangkan tradisionalisme agama populis. Di sinilah terletak tantangan yang dihadapi islam di negeri kita, dengan penduduk muslimnya yang berjumlah lebih dari 170 juta jiwa.

Masalahnya sekarang, bagaimana mengembangkan modernisme agama dan tradisionalisme agama yang serba rasional, dan menghindarkan agar keduanya tidak bertubrukan secara praktis. Dapatkah kaum muslimin di negeri ini mencapai hal itu?

Artikel ini dimuat dalam Kompas, 2 Juni 2002. Disadur dari Abdurrahman Wahid. 2006 [cetakan II]. Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Jakarta: The Wahid Institute. Hlm. 34-37

ARTICLES LIST:

COMMUNICATION >> [1] Model-Model Komunikasi Dalam Komunikasi Massa [2] Analisa Stakeholder Relations Strategy: Studi Kasus Launching Honda CBR 250R [3] Urgensi Manajemen Citra Perusahaan Dalam Sistem Pemasaran Strategis [4] Pengertian Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal [5] Penerapan Public Relations di Grapari Telkomsel [6] Analisa Sub Brands Strategy Dalam Pemunculan Wings Food Oleh Wings Group [7] Komunikasi Interpersonal: Individu dan Lingkungan Sosial, Konflik, dan Karir [8] Faktor Penyebab Komunikasi Tidak Efektif Antara Kaum Intelektual dan Kaum Awam di Dalam Masyarakat Desa Serta Solusinya [9]

CULTURAL STUDIES >> [1] Kebudayaan Nasional Indonesia dan Media Massa [2] Analisa Cultural Studies: Karakter Ayah Dalam Genre Film ‘Romance’ [3] Pengertian Dekonstruksi [4] Memaknai Eksistensi Buku Dalam Praksis Sosial [5] Posisi Wanita Dalam Industri Media: Studi Kasus Majalah Cosmo Girl dan Popular Magazine [6] Review: Menyoal [Lagi] Involusi Bangsa dan Peradaban Bangsa Indonesia [7]

DEMOCRACY >> [1] Pengertian, Tipologi, dan Esensi Demokrasi [2] Demokrasi Asia, dan Kritik Terhadap Demokrasi Liberal [3] Demokrasi ‘ala’ Lee, Mahathir, dan Soeharto [4]

ECONOMICS >> [1] PNPM dan Upaya Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat [2] Bank Syariah dan Sistem Ekonomi Pancasila [3] Entrepreneurship: Memulainya dari ‘Seni’ Bukan ‘Profit’ [4] Dampak Perdagangan Bebas (Globalisasi) Terhadap Ekonomi Politik Indonesia Serta Antisipasinya [5]

EDUCATION >> [1] Menggagas Sekolah Komunitas [2]

FEMINISM >> [1] Menapaki Jejak Feminisme Wanita Jawa [2]

FOREIGN AFFAIRS >> [1] Efektifitas Diplomasi Bilateral Indonesia – Australia Dalam Konflik Timor Timur [2] Implementasi Teori Liberalisme di ASEAN [3] Dampak Hubungan Kerjasama Militer Amerika Serikat – Taiwan Terhadap China [4] Ambivalensi Sikap Amerika Serikat Dalam Konflik Israel – Palestina [5] Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Revolusi Mesir di Era Hosni Mubarak [6] Peran ASEAN Dalam Perspektif Liberalisme Interdependensi Kompleks [7] Sengketa Pulau Sipadan – Ligitan Antara Indonesia dan Malaysia [8] Analisa United Nations Collaborative Programme on Reducing Emissions From Deforestation and Forest Degradation (UN-REDD) di Indonesia [9] Sengketa Teritorial di Laut China Selatan [10] Perbandingan Politik Luar Negeri Bebas Aktif Era Orde Lama, Orde baru, dan Pasca Orde Baru [11] Alasan Pemerintah Indonesia Menyerahkan Sengketa Pulau Sipadan – Ligitan Kepada Mahkamah Internasional [12] Bentuk-Bentuk Diskriminasi Terhadap Etnis India di Malaysia [13] Peran UNICEF Dalam Program Millenium Development Goals (MDGs) di Vietnam [14] Demokrasi dan Sistem Politik di Thailand, Malaysia, dan Vietnam [15] Prospek Hubungan Jepang – Korea Utara Pasca Kematian Kim Jong Il [16] Krisis Nuklir Iran: Eksistensi PBB atau Amerika Serikat? [17] Krisis Sudan: Konflik Etnis yang Diboncengi Kepentingan Asing [18] Realisme, Liberalisme, dan Konstruktivisme Dalam Studi Hubungan Internasional [19] Pengaruh Teori Pembangunan dan Praktiknya Terhadap Ilmu Hubungan Internasional [20] Relasi Coca Cola, Israel, dan Manipulasi Amerika Serikat [21] Hubungan Bilateral Indonesia dan Korea Selatan [22] Konflik Sudan: Review [23] Sosialisme versus Liberalisme [24] Hubungan Sosial Minoritas Muslim di Australia Pasca Peristiwa Pengeboman Gedung WTC (World Trade Center) 11 September 2011 [25] Alternatif Neoliberal: World Social Forum Sebagai Gerakan Sosial Global [26] Analisis Konflik Rwanda: Faktor Penyebab dan Upaya Penyelesaiannya [27] Pengaruh MNC/TNC Terhadap Pertumbuhan Ekonomi China [28] Dinamika Metodologi Hubungan Internasional: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Alternatif [29]

FOUNDING FATHER: ABDURRAHMAN WAHID >> [1] Islam: Pengertian Sebuah Penafsiran [2] Islam Agama Populer Ataukah Elitis? [3] Islam dan Deskripsinya [4] Islam: Pokok dan Rincian [5] Islam dan Formalisme Ajarannya [6] Islam Pribadi dan Masyarakat [7] Adakah Sistem Islami? [8] Islam: Apakah Bentuk Perlawanannya [9] Islam: Sebuah Ajaran Kemasyarakatan [10]

GLOSSARY: [1] Daftar Istilah Politik Populer: Definisi [2]

OPINION >> [1] Problematika Pembangunan Kebangsaan Indonesia [2] Rebuilding Social Society di Indonesia [3] Pengalihan Isu: Pembodohan Publik Oleh Pemerintah [4] Relativisme Jihad dan Safe Policy Pemerintah [5] Kritik Pembangunan Sumber Daya Manusia Indonesia [6] Nasion Indonesia: Plebisit yang Terlupakan [7] Reformasi di Indonesia: Mengapa dan Bagaimana [8] Memaknai Nasion Indonesia Sebagai Identitas Nasional [9] Delusifitas Logika Penguasa [10] Menunggu Metamorfosa Anggota Dewan [11] Dilema Tranformasi Kaum Muda Intelektual [12] Quo Vadis Nasion Indonesia [13] Pancasila Dalam Konteks Perjuangan Bangsa Indonesia [14] Eksistensi Pancasila Dalam Era Globalisasi [15] Tingkat Kelayakan Kenaikan Gaji PNS dan TNI/Polri [16] Diskriminasi Hukum Bagi Masyarakat Kalangan Bawah [17] Membangun Demokrasi Indonesia Pada Abad 21 [18] Menyoal Tambang Emas di Banyuwangi [19]

PHILOSOPHY >> [1] Tampakan dan Realitas: Mendedah Eksistensi Materi [2] Nihilisme dan Pragmatisme: Pengertian [3] Konstruksi Filsafat Modern dan Perdebatan Rasionalisme dan Empirisme [4] Rasionalisme versus Empirisme: Pengantar [5] Alur Pemikiran Hegel [6] Kritisisme Immanuel Kant [7] Filsafat Rasionalisme, Empirisme, dan Kritisisme [8] Rasionalisme vs Empirisme [9] Filsafat Nihilisme dan Pragmatisme: Pengantar [10]

POLITICS >> [1] Eksistensi Pancasila di Tengah Pusaran Ideologi-Ideologi Besar Dunia [2] Partisipasi Masyarakat Dalam Politik: Ulasan [3] Emulasi Ilmu Politik Terhadap Ilmu Alam (Natural Science) [4] Pengertian Kekuasaan, Pemerintahan, dan Asal-Usul Negara [5] Rasionalitas Politik Masyarakat Kontemporer [6]

PSYCHOLOGY >> [1] Fenomena Plagiarisme di Kalangan Civitas Akademika dan Upaya Penanggulangannya [2] Memahami Motif dan Minat Manusia Dalam Kerangka Psikologi Sosial [3]

PUBLIC POLICY >> [1] Pengertian Sentralisasi, Desentralisasi, dan Dekonsentrasi [2] Harusnya SBY Tinjau Pengangkatan Denny Indrayana: Review [3] Konsepsi Good Governance Untuk Administrasi Publik di Indonesia [4] Etika Administrasi Publik [5] Pengertian Administrasi Publik [6] Pengertian Birokrasi dan Birokratisasi [7] Relasi Pasar, Negara, dan Masyarakat Dalam Good Governance [8] Pengalihan Kewenangan Administratif Berdasarkan Prinsip-Prinsip Administrasi Keuangan Negara [9] Filsafat Administrasi Publik: Pengantar [10] Status ‘Istimewa’ Yogyakarta Ditinjau Dari Perspektif Ekologi Administrasi Negara [11] Kebijakan Konversi Minyak Ke Gas Ditinjau Dari Teori Kebijakan Publik [12] Manajemen Pemerintahan Daerah Menurut Undang-Undang No 22 Tahun 1999 [13] Perbedaan Mendasar Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Dengan Undang-Undang No. 12 tahun 2008 [14] Implementasi Prinsip-Prinsip Good Governance di Negara Berkembang [15] Perbedaan Organisasi Swasta dan Organisasi Publik [16] Analisis Peraturan Daerah nomor 7 Tahun 2008 Tentang Rumah Pemondokan Kabupaten Jember: Field Study Report [17] Memahami Hukum Tata Negara (HTN) dan Hukum Administrasi Negara (HAN) [18] Pengertian Manajemen dan Administrasi [19] Pengertian dan Jenis-Jenis Anggaran Sektor Publik [20] Formulasi Kebijakan Publik: Pengantar [21] Perkembangan Paradigma Ilmu Administrasi Negara [22] Perkembangan Pembangunan Pemerintahan Indonesia di Abad 21 [23] Kepemimpinan Organisasi Sosial [24] Makalah: Kebijakan Konversi Minyak Tanah Ke Gas [25] Isu dan Kebijakan Otoda: Studi Hubungan Pusat dan Daerah Dalam Pemberdayaan Daerah Otonom [27] Pengertian Etika Administrasi Publik [28]

REBEL ARTS: LEO TOLSTOY >> [1] Ilyas [2]

RELIGION >> [1] Peradaban Ibadah [2] Religiositas Tiga Filosof [3] Dialog Masalah Ketuhanan Yesus KH Bahaudin Mudhary – Antonius Widuri [4]

SOCIAL MOVEMENT >> [1] Teori-Teori Gerakan Sosial: Review [2]

SOCIOLOGY >> [1] Class, Authority, and Social Change Menurut Max Weber [2] Pengertian Teori Struktural Fungsional dan Teori Konflik [3] Sistem Sosial dan Sistem Budaya di Banyuwangi [4] Manifestasi Sistem Budaya Sebagai Jatidiri Bangsa [5] Alternatif Fenomenologi Dalam Sosiologi [6] Integrasi Masyarakat Ditinjau dari Perspektif Fungsionalisme [7] Ciri-Ciri Masyarakat Transisi (Prismatik) [8] Review Max Weber: The Protestant Ethics and the Spirit of Capitalism [9] Pengertian Desa Khusus (Desa-Desa di Indonesia [10] Evolusi Agama Menurut Max Weber: Review [11] Spirit Kebangkitan Kapitalisme Menurut Weber: Agama dan Negara [12]

Tinggalkan Balasan