Faktor-Faktor Penyebab Revolusi Mesir di Era Hosni Mubarak

Written by Diah Ayu Intan Sari – Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jember

Demontrasi yang dilakukan oleh rakyat Mesir untuk menuntut turunnya Hosni Mubarak dari jabatan presidan sejak tanggal 25 April 2011 akhirnya membuahkan hasil. Pidato wakil presiden Mesir, Umar Sulaiman yang mengumumkan bahwa pada tanggal 11 Februari 2011 Hosni Mubarak resmi turun dari jabatannya sebagai presiden. Ribuan rakyat Mesir berkumpul di Tahrir Square dan bebarapa kawasan di kota Kairo serta kota-kota besar di Mesir lainnya untuk melakukan sholat Jumat bersama-sama sekaligus bentuk rasa syukur atas turunnya Mubarak sebagai presiden yang telah berkuasa selama 30 tahun. Pasca lengsernya Mubarak, pemerintahan Mesir pun resmi dikendalikan oleh militer sampai diadakannya Pemilu untuk menentukan presiden selanjutnya yang dijadwalkan akan di gelar September mendatang.

Runtuhnya rezim Mubarak karena tuntutan revolusi rakyat Mesir merupakan puncak dari kekecewaan rakyat Mesir terhadap pemerintahan Mubarak yang otoriter, diktaktor dan antidemokrasi. Selama 30 tahun Mubarak menjabat sebagai presiden Mesir, tidak ada kemajuan yang signifikan dari berbagai segi kehidupan baik ekonomi maupun kehidupan sosial rakyatnya. Krisis multi dimensi yang terjadi di Mesir sejak lama menjadi pemicu munculnya gerakan 6 April yang pada akhirnya menyebabkan runtuhnya rezim Mubarak.

Selain itu, masalah pengangguran dan kemiskinan yang sangat tinggi dari tahun ke tahun menjadi bukti bahwa pemerintahan Mubarak hanya tutup mata terhadap masalah-masalah yang diderita rakyatnya. Hal ini diperparah dengan masalah korupsi yang meningkat secara dramatis di kementrian dalam negeri Mesir. Disaat kondisi ekonomi Mesir yang semakin buruk dan delegitimasi rakyat terhadap Mubarak karena pemerintahannya yang korup membuat rakyat Mesir semakin menuntut agar Mubarak turun dari jabatannya sebagai presiden. Dan rakyat Mesir yang menginginkan adanya demokratisasi di Mesir dengan jalan revolusi di Mesir.

Mengapa revolusi Mesir dapat terjadi kembali saat ini? Mengingat Mesir pernah mengalami dua revolusi. Revolusi pertama terjadi pada tahun 1952, pada masa itu Mesir dipimpin oleh Raja Farouk yang kemudian mengalami revolusi pemerintahan yaitu dari sistem monarki menjadi republik. Sedangkan revolusi Mesir yang kedua terjadi ketika Mesir berada dibawah pimpinan Anwar Al Sadat pada tahun 1997 ketika Sadat menaikkan harga roti yang membuat ribuan rakyatnya turun ke jalan dan menuntut adanya revolusi.

Revolusi Mesir saat ini dipicu oleh banyak faktor yang sangat kompleks dari berbagai masalah yang multi dimensi. Pertama, masalah deligitimasi rakyat Mesir terhadap pemerintahan Mubarak yang terkenal otoriter, diktaktor dan antidemokrasi.Rakyat Mesir sudah tidak percaya dengan pemerintahan Mubarak, karena tidak dapat membawa kesejahteraan bagi rakyat Mesir. Sebaliknya kesenjangan sosial yang sangat tinggi mendorong rakyat Mesir untuk melakukan demontrasi untuk meruntuhkan rezim Mubarak. Rakyat Mesir menginginkan adanya demokratisasi di Mesir karena Mesir dibawah pimpinan Mubarak yang diktaktor dan otoriter tidak mengalami kemajuan yang signifikan, bahkan cenderung semakin buruk, sehingga demokratisasi di pandang sebagai jalan tepat  untuk membuat masa depan Mesir yang lebih baik.

Selain itu, adanya fakta politik bahwa di dunia internasinal demokratisasibiasanya terjadi ketika ekspektasi terhadap demokrasi muncul dari dalam negara itu sendiri, hal ini sama dengan kondisi yang ada pada rakyat Mesir saat ini. Rakyat Mesir  melihat sistem politik yang lebih baik yang ada di negara-negara yang memakai sistem demokrasi sehingga membuat rakyat Mesir menuntut adanya demokratisasi dengan jalan revolusi Mesir. Dengan kata lain, pengaruh internasional datang sebagai sebuah inpirasi yang kuat bagi rakyat Mesir untuk melakukan revolusi demi terciptanya kondisi Mesir ke depan yang semakin baik.

Kedua, masalah-masalah internal yang ada di Mesir seperti tingginya angka kemiskinan, pengangguran, dan korupsi yang meningkat secara dramatis dibawah rezim Mubarak memicu kekecewaan rakyat Mesir. Dan pada akhirnya menjadi tuntutan rakyat Mesir untuk melakukan revolusi terhadap kediktatoran Mubarok.

Ketiga, adanya Contagion yang berasal dari rakyat Tunisia ketika menuntut adanya demokratisasi di Tunisia. Tunisia seperti halnya Mesir pernah melakukan hal yang sama yaitu menuntut turunnya presiden Zine El Abidine Ben Ali dengan jalan revolusi yang terkenal dengan sebutan Revolusi Melati. Hal ini juga menjadi pendorong  demokratisasi yang ada di Mesir saat ini. Keberhasilan rakyat Tunisia dalam melakukan revolusi tersebut, kemudian juga menjadi inspirasi bagi rakyat Mesir untuk melakukan hal yang sama terhadap rezim Mubarak.

Keempat, munculnya gerakan  massa di situs jejaring sosial Mesir yang menamakan dirinya sebagai gerakan 6 April merupakan gerakan massa yang terorganisir dengan baik yang beranggotakan 70.000 orang terdiri dari genarasi muda dan kelompok terdidik untuk menuntut turunnya Mubarak dengan jalan  revolusi Mesir. Rakyat Mesir yang selama ini dikekang oleh rezim Mubarak yang otoriter dan diktaktor tidak dapat berbuat banyak untuk menuntut demokratisasinya. Namun, gerakan ini akhirnya menjadi sarana yang digunakan untuk menuntut Mubarak turun dari jabatannya sekaligus mempermudah keinginan rakyat Mesir untuk melakukan revolusi Mesir.

Kelima, penggulingan rezim Mubarak ini diwarnai dengan tudingan konspirasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dengan partai-partai oposisi Mubarak dan aktivis-aktivis yang menentang pemerintahan Mubarak. Skenario penggulingan Mubarak ini telah disiapkan secara matang oleh pihak Amerika Serikat. Teori Konspirasi menyebutkan rencana Amerika Serikat demi terwujudnya Timur Tengah Baru. Amerika Serikat menginginkan Mesir maupun negara-neraga Timur Tengah lainnya menjadi negara yang demokrasi. Teori konspirasi kini beredar berkaitan dengan revolusi di Mesir. Amerika Serikat menginginkan runtuhnya pemerintahan Mubarak karena kekuasaan Mubarak yang  hegemoni akan mengancam kekuasan  Amerika Serikat. Politik Luar Negeri Amerika Serikat yang selalu mengutamakan keuntungan yang maksimal dalam suatu hubungan dengan negara lain di tatanan internasional, dapat menjadi alasan yang rasional bagi tindakan Amerika Serikat terhadap sekutunya. Meskipun Mesir merupakan sekutu Amerika Serikat, namun kebijakan-kebijakan Mesir dibawah Mubarak tidak mendukung Amerika Serikat. Hal ini yang kemudian menjadi salah satu alasan bagi Amerika Serikat untuk mendukung revolusi Mesir.[]

 

Tinggalkan Balasan