Entrepreneurship: Memulainya dari Seni Bukan ‘Profit’

Written by Dhamas Utami Putri – Alumni Administrasi Niaga Universitas Jember

Dalam sebuah negara salah satunya di Indonesia sendiri pastinya mempunyai cita-cita untuk mensejahterahkan seluruh rakyatnya, tetapi dalam realita dan implementasinya tidak mudah untuk mewujudkan. Berbagai tembok raksasa siap untuk menghadang laju penyampaian cita-cita itu. Upaya peningkatan kesejahteraan umumnya tidak lepas kaitannya dengan upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi sebagai jantung negara dituntut untuk selalu tetap berputar dalam kondisi apapun. Sehingga mau tidak mau mengajak pemerintah untuk ikut andil dalam hal ini. Salah satu upayanya adalah pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) yang disahkan pada tanggal 2 Februari 2011 di Gedung SMESCO KUKM, Jl. Gatot Subroto Kav. 94, Jakarta Selatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2009. jumlah UKM di Indonesia sebanyak 520.220 unit. Dengan jumlah yang cukup besar dan kemungkinan akan bertambah peran UKM sebagai salah satu sektor ekonomi dapat membantu kinerja pemerintah. Tinggal bagaimana upaya pemerintah membantu UKM itu untuk tetap bertahan. Ini menjadi pe-er (pekerjaaan rumah) pemerintah.

Suatu negara dapat mencapai kemakmuran jika 2% dari jumlah penduduknya menjadi pengusaha. Dengan demikian Indonesia membutuhkan 5 juta dari 238 juta penduduknya untuk menjadi pengusaha. Namun, ternyata angka itu masih jauh dari harapan. Jumlah pengusaha Indonesia menurut data BPS 2010 saat ini adalah sekitar 552.000 pengusaha. Dengan kata lain “hanya” 0,24% dari jumlah penduduk Indonesia.

Dari data tersebut sudah sangat jelas bahwa untuk mencapai sebuah titik kemakmuran kita sangat tertinggal jauh. Belum lagi kondisi penggangguran di Indonesia yang belum juga teratasi. Hasil statistik BPS mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2011, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8,12 juta orang atau 6,8% dari total angkatan kerja. Jumlah ini menurun 470 orang dibandingkan Februari 2010 yang sebanyak 8,59 juta orang atau 7,41% dari total angkatan kerja.

Menjadi seorang wirausahawan sebenarnya harus memahami “seni”. Seperti yang diutarakan Phillip Kotler dalam bukunya Marketing Management bahwa, “ pemasaran otentik bukanlah seni menjual apa yang bisa kamu buat, melainkan tahu apa yang harus dibuat! Ini adalah seni mengidentifikasikan dan memahami kebutuhan-kebutuhan pelanggan dan menciptakan solusi-solusi yang memberikan kepuasan pada para pelanggan, laba pada para produsen, dan keuntungan-keuntungan bagi para stakeholders. Inovasi pasar diperoleh dengan menciptakankepuasan pelanggan melalui inovasi produk, kualitas produk dan pelayanan pelanggan. Jika hal-hal ini absen, periklanan, promosi penjualan/salesmanship sebesar apa pun tidak akan memberikan kompensasi.”

Para wirausahawan kita sering memulai usahanya dengan sebuah ide lalu berujung pada keuntungan-keuntungan awal, padahal membangun sebuah bisnis membutuhkan waktu dan bahwa pertumbuhan adalah lebih penting untuk sebuah usaha. Ketika usaha itu tumbuh besar maka dengan sendirinya keuntungan akan datang dengan sendirinya, tetapi justru ini masih banyak yang belum disadari oleh pengusaha Indonesia sehingga banyak juga usaha-usaha yang akhirnya berujung pada kebangkrutan. Kita selalu terjebak pada hal-hal yang hanya “cantik” di luar tetapi untuk substasinya justru kosong. Paradigma seperti inilah yang perlu dibenahi para pelaku ekonomi, baik itu pemerintah sebagai implementasi negara maupun pihak swasta dan masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan bangsa.

Apalagi dengan adanya perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) yang telah mulai diberlakukan di beberapa negara di kawasan Asia Tenggara. ACFTA seharusnya dapat menjadi stimulus bagi semua pelaku usaha di Indonesia untuk terus mengembangkan potensi diri sehingga siap bersaing dalam iklim kompetisi yang ketat. Pemerintah juga seharusnya melindungi UKM-UKM di Indonesia agar tetap dapat berkembang dan tidak tergerus industri-industri dalam skala besar. Bagaimanapun juga, ketika terjadi krisis ekonomi di Indonesia, UKM-UKM inilah yang terbukti survive atau bila tidak berlebihan menjadi actor yang menyelamatkan perekonomian Indonesia dari kebangkrutan. Fakta ini harus diakui oleh pemerintah, jadi tidak hanya memprioritaskan pengusaha-pengusaha besar yang terbukti sering merugikan negara. Bila dalam era globalisasi ini Indonesia, terutama pemerintah dan pelaku ekonomi masih menggunakan pola-pola lama, tidak merubah mindset berpikir dan hanya mengejar keuntungan semata, tetap mendiskreditkan peranan UKM dalam perekonomian nasional, maka dapat dipastikan negeri ini sedikit demi sedikit menuju kepada kehancurannya sendiri. Semoga saja tidak begitu, tapi siapa yang tahu, benar kan?

Tinggalkan Balasan