Analisa Cultural Studies: Karakter Ayah Dalam Genre Film ‘Romance’

Written by Yunita Titi Sasanti – Mahasiswa Komunikasi Universitas Brawijaya Malang

Mekanisme film terkadang membawa kita kepada suatu pemahaman makna yang berujung pada kesimpulan universal dari sebuah penuturan visual. Kesimpulan universal yang di maksud di sini yaitu pemahaman yang telah dipaparkan dari sang pembuat film (author) kepada penontonnya. Artinya, secara tidak langsung penonton akan diarahkan untuk menemui teks pembuat film yang dibalut dengan naratif cara bertutur. Hal ini menyebabkan penonton mau tidak mau akan memposisikan dirinya kepada identifikasi teks dari author tersebut, dan hal yang paling gampang diidentifikasi adalah karakter atau lakon dari cerita. Dengan demikian, penonton akan menciptakan sudut pandang, ia akan melibatkan diri dengan memunculkan karakter.

Karakter yang mendapat simpati dan respek dari identifikasi penonton dalam hal ini disebut protagonis, begitu pula dengan sebaliknya tercipta karakter antagonis yang seolah tidak mendapat respek dan simpati dari penonton, dan umumnya kedua bentuk ini merupakan porsi penting dalam hal bertutur, meskipun dalam beberapa bagian ada pula karakter yang dialihkan, sulit diidentifikasi oleh penonton (Ispratama, 2006:43). Hal inilah yang dimaksud sebagai formula dalam teori naratif yang bertujuan mengarahkan penonton untuk mendapatkan kode-kode teks yang telah dirancang oleh sutradara pembuat film, dengan efek yang telah diuraikan diatas bahwa penonton akan berpihak pada protagonis dan mengalihkan antagonis. Berangkat dengan formulasi semacam ini menjadikan wacana di dalam film sulit berkembang sehingga menjadi sebuah sistem yang monoton, karena kita hanya akan mengadopsi apa yang telah dibentuk oleh pembuatnya. Seperti contoh pada umumnya film romance, adanya penghalang dalam kisah cinta yang dilatar belakangi oleh perbedaan derajat dan kebudayaan misalnya pada film Roman Picisan, Kekasih dan Romeo Juliet. Menurut (Fisher, 1987)[1] tidak dipungkiri pula bahwa teori naratif adalah metode yang paling ampuh dalam mengulas isi teks dan estetika dalam memaknai sebuah film, namun apa jadinya jika kita tidak menjadikan naratif sebagai acuan dasar dalam memahami dan memaknai sebuah film.

Pada film Roman Picisan misalnya, terlihat jelas benturan dua ideologi yang dilatar belakangi pada aspek socio-historical, yakni melalui latar masing masing karakter (tokoh Canting dalam lingkungan keraton Solo, dengan intervensi “high art” sang Ayah) dan (tokoh Raga dalam lingkup gaya hidup modern Bali, yang terbentuk oleh masalalunya). Pada film Kekasih dimana adanya perbedaan derajat antara (Maria dari keturunan Bangsawan) sedangkan (Jiwo hanya keturunan serdadu) dan ayah Maria sebagai keturunan bangsawan dari keraton Jogja yang sangat menjunjung derajat kebangsawaanya. Disini penonton membaca teks bahwa, Canting dan Maria, ingin lepas dari intervensi sang Ayah yaitu adanya representasi perempuan dalam menerjemahkan “kebebasan”. Disini akan diaplikasikan kritik Feminism terhadap Cultural Studies bahwa gender, telah menjadikan laki laki sebagai signifying dari otoritas (John Storey, 1996)[2].

Disisi lain, kita perlu memahami dan menganalisa beberapa faktor, bahwa teks dalam film mampu memberikan meaning yang berbeda dalam hal bagaimana kita memahami teks-teks tertentu dalam film tersebut. Menurut (Chris Barker, 2006) selain aspek socio-historis tersebut, dikatakan pula bahwa faktor politik dan wacana atau discourse mampu mengkonstruksi sebuah meaning termasuk di dalam film. Apa yang diuraikan merupakan satu bagian dari socio-historis yang membentuk meaning. Lalu bagaimana aspek politik dan wacana membentuk meaning dalam film? Faktor historical sebagai sebuah pemahaman, ia menjadi bentuk popular karena hampir semua tatanan sosial selalu menggunakan nilai historical. Seperti halnya Solo dan Jogja tidak bisa terlepas dari budaya Keraton yang mempengaruhi tatanan masarakatnya, begitu pun Bali dengan intervensi berbagai budaya yang mempengaruhi tatanan masarakatnya. Dari aspek-aspek popular inilah sutradara pembuat film ini mengadopsi bentuk tersebut kedalam cerita.

Dengan analisa ini saya mencoba untuk melihat hal lain dari film bergenre romance, keluar dari konstruksi popular yang mempengaruhi meaning dari film ini, artinya kita tidak melihat karakter anak dari keturunan bangsawan yang tidak mendapatkan restu dari ayahnya sebagai identifikasi protagonis dari penonton, karena dari identifikasi ini jelas penonton terpengaruh atas (teori naratif) pengadeganan, sehingga mau tidak mau penonton mempunyai atau mengidentifikasi karakter protagonis sebagai hambatan dari antagonis (karakter Ayah dalam film bergenre Romance). Dengan istilah Authour is death[3] dari Roland Barthes maka saya akan mencoba membalik meaning yang dikonstruksi penonton dengan menganalisa dan menjadikan karakter (ayah) sebagai sosok protagonis dalam teori naratif, pada film bergenre romance karakter Canting  dalam film (Roman Picisan) dan Maria dalam film (Kekasih) adalah protagonis atau konflik bagi act dari karakter Ayah, dengan menganalisa karakter tersebut dari faktor faktor yang membentuk meaning (socio-historical, politik dan wacana).

Maka dalam tulisan ini, saya mencoba menawarkan untuk melihat film dari persfektif Cultural Studies sebagai landasan dasarnya, dengan meminimalisir teori naratif. Sehingga wacana didalam sebuah teks film bisa dikembangkan tanpa keterlibatan “author”. Ada begitu banyak tulisan mengenai film yang selalu mengetengah kan peran Naratif tersebut, tentang si A yang berseteru dengan si B, lalu bagaimanakah langkah si A? Perumpamaan diatas adalah konstruksi yang dibangun oleh pembuat film, karena ia akan selalu memberikan keistimewaan terhadap karakter yang mewakili visinya didalam film, sehingga mau tidak mau wacana didalam film menjadi monoton karena keterlibatan author tersebut. Dan untuk itu peran author harus ditiadakan, karena ketika film telah dipertontonkan kepada penontonnya maka secara otomatis peran author sudah tidak bisa difungsikan lagi (author is death), sebab penontonlah yang memegang kendali atas tontonannya. Dengan demikian kita bisa membuat konstruksi baru semacam, mengapa si B berseteru dengan si A, mengapa si B menghalangi si A, dsb, tergantung atas wacana apa yang menjadi porsi penting yang ingin kita angkat.

Cultural studies sebagai pedoman dalam menelaah karakter ayah dalam film bergenre romance ini karena salah satu ciri cultural studies adalah menempatkan teori kritis sebagai basis analisa. Dengan berbasis Cultural Studies kita akan dihadapkan kepada pemahaman bahwa setiap era, lokalitas, dan konteks masyarakat memiliki pandangan, pengatahuan yang berbeda-beda. Pencapaian pemahaman dapat terjadi jika kita dengan kritis mampu memahami setiap fenomena sosial, melalui sebuah rasa ingin tahu, meneliti, dan berbicara sebagai subyek pelaku, bukan malah berprasangka, menuduh, membangun stigma dan stereotipe.

Dalam film bergenre romance tokoh Ayah bisa saja ditafsirkan sebagai karakter yang menghalangi percintaan anaknya, karena memang seperti itulah naratif didalam film tersebut bekerja, dan itulah tugas film maker (pembuat film) untuk memaksimalkan naratif. Tetapi melalui cultural studies semua hal bisa dibalik, semua hal bisa memiliki makna yang berbeda, tergantung bagaimana kita mengkonstruksi wacana tersebut, oleh karena ia bersifat sangat konstruktivis. Dengan demikian seharusnya penonton harus bisa mempunyai tafsiran tersendiri dengan kejeliannya untuk bisa melihat berbagai macam wacana yang dihadirkan dalam sebuah tontonan, terlepas ia setuju atau tidak dengan tafsiran dari author, namun paling tidak ia mengetahui bagaimana dan apa yang mengkonstruksi hal tersebut agar tidak melahirkan tafsiran yang monoton.

Melalui analisa ini, saya ingin memperlihatkan kontradiksi Ayah dan Anak yang berlatar Bangsawan (Jawa), bahwa betapa susahnya perjuangan seorang Ayah dijaman ini menjaga nilai-nilai “high art” yang di pegangnya selama ini dari terjangan budaya luar, bahkan untuk ditanamkan kepada anaknya sendiri sang Ayah tak mampu berkutik. Stuart Hall[4] mendefinisikan istilah culture” adalah situs perjuangan ideologi, tempat kelompok terbawahkan akan selalu melawan wacana dari kelompok dominan, sementara itu kelompok dominan terus bernegoisasi dengan wacana kelompok terbawahkan sehingga tercipta hegemoni. Menurut (John Storey, 1996)[5] teks dan fraksis budaya tidak mengandung makna yang tetap, absolut, seperti maksud ketika diproduksi, melainkan makna selalu merupakan hasil dari tindak artikulasi. Proses ini disebut artikulasi karena makna harus diekspressikan, tetapi bentuk ekspresi tersebut haruslah dalam konteks, momen historis dan wacana yang spesifik. Jadi ekspresi ini selalu berhubungan dengan konteks.

Menganalisa film melalui aspek Cultural Studies terdapat faktor-faktor determinan yang membentuk sebuah pemahaman,faktor-faktor yang menetukan dengan pasti (mengapa sebuah pemahaman atau meaning terbentuk seperti itu). Dengan menggaris bawahi bahwa, tidak ada yang universal dan abadi dalam analisa Cultural Studies, sehingga bisa dibilang bahwa tidak ada pemahaman yang tunggal dalam meaning, oleh karena ia akan terus bernegoisasi dengan aspek-aspek yang mengkonstruksinya. Hal ini lah yang membedakan Cultural Studies dengan ilmu analisa klasikal sebelumnya  karena segala sesuatu dalam Cultural Studies adalah sebuah konstruksi termasuk konstruksi historical, dan aspek tersebut (aspek socio-historical) merupakan salah satu yang menentukan makna. Dalam cultural studies, teori makna meaning, mengungkapkan bahwa arti suatu kata, akan berbeda dalam konteks (momen socio-historis,politik dan wacana/discourse yang berbeda pula). Dengan kata lain arti kata akan berbeda meaning-nya menyangkut ketiga aspek yaitu, momen socio-historis, politik dan wacana atau discourse.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous,http://evans-experientialism.freewebspace.combarthes06.htm diakses tanggal 10  Desember 2011 pukul 15.30

Barker, Chris. 2006. Cultural StudiesTheory and Practice. Sage

Ispratama, Nanda. 2006. Karakter Penokohan Dalam Film (Studi Analisis Pada Film KING KONG). Skripsi. Malang. Universitas Muhammadiyah.

Storey, John. 1996. THEORIES AND METHODS CULTURAL STUDIES & THE STUDY OF POPULAR CULTURE. Edinburgh University.

Stuart Hall, 1978 . Some Paradigms In Cultural Studies. in Analli 3 , p.23.

West, R. & Turner, L. 2008. Pengantar Teori Komunikasi-Analisis dan Aplikasi, Edisi 3. Buku 2. Jakarta : Salemba Humanika.


[1] Dikutip: West, R. & Turner, L. 2008. Pengantar Teori Komunikasi-Analisis dan Aplikasi, Edisi 3. Buku 2. Jakarta : Salemba Humanika.

[2]John Storey ‘Theories and Methods Cultural Studies & The Study of Popular Culture Edinburgh University 1996, p.1-3.

[3] http://evans-experientialism.freewebspace.com/barthes06.htm

[4] Stuart Hall, ‘Some paradigms in cultural studies’ in Analli 3 , 1978, p.23.

[5] John Storey ‘Theories and Methods Cultural Studies & The Study of Popular Culture Edinburgh University 1996, p.1-3.

Tinggalkan Balasan