Ambivalensi Sikap Amerika Serikat Dalam Konflik Israel – Palestina

Written by Fudzcha Putri Jazilah MM – Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jember

Konflik Palestina dan Israel hingga saat ini masih merupakan masalah terbesar dan berkepanjangan bagi negara-negara di kawasan timur tengah. Penduduk Palestina sudah puluhan tahun hidup dalam perjuangan untuk membela kedaulatan, keadilan, dan hak asasinya. Serangan dari Israel yang mendapat dukungan dari Amerika Serikat tidaklah membuat mereka mundur dan takluk, bahkan justru dapat melahirkan semangat juang baru untuk membela negara Palestina.

Konflik yang berkepanjangan ini tidaklah mudah untuk diselesaikan, sebab hal ini persoalan yang harus ditangani dan diselesaikan secara internasional. Namun anehnya, konflik ini pada tidak pernah selesai bagaikan film serial yang terus bersambung; serial pertama selesai muncul serial kedua dan begitu seterusnya. Memang kadang terjadi perdamaian selang beberapa bulan atau beberapa tahun, namun kemudian meletus lagi. Fakta inilah yang mengantarkan penulis untuk mengangkat konfik antara kedua negara yang dari berbagai sudut pandang seolah menemui jalan buntu alias tidak akan berakhir. Kekuatan – kekuatan dari luar yang menyokong Israel salah satunya adalah Amerika Serikat membuat konflik Israel – Palestina semakin mengakar dan sulit dicari penyelesaian, terutama secara damai.

Dikabarkan telah banyak rakyat sipil yang berjatuhan akibat konflik antar dua negara ini. Alangkah kejamnya manusia yang selalu punya rasa dendam dan merebut hak orang lain, sungguh sangat biadab tindakan Israel itu dengan membabi buta. Anehnya, konflik ini seakan-akan hanya menjadi tayangan PBB yang hendak di saksikan di layar TV tanpa ada yang protes. Padahal persoalan ini dapat diselesaikan hanya melalui PBB. Jika tidak maka konflik ini tidak akan pernah selasai. PBB hanya menjadi saksi bisu tanpa mengeluarkan sepatah katapun sebagai penengah penyelesaian dan perdamaian kedua negara.

Sebagai salah satu pemenang perang dunia II dan anggota tetap dewan PBB dengan hak vetonya AS mulai menanamkan kuku-kuku kekuasaan politiknya atas negara-negara kecil di dunia. Pasca berakhirnya perang dingin mengakibatkan perubahan struktur politik global yang menjadikan AS sebagai kekuatan politik dan militer yang paling berpengaruh didunia. Perang Dingin yang diartikan sebagai sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi antara tahun 19471991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan persenjataan; dan banyak lagi.

Amerika Serikat dengan menggunakan PBB sebagai wadah untuk memobilisasi tindakan-tindakan yang keras terhadap Irak. Serangan Amerika Serikat ke Afghanistan juga merupakan bukti lain bahwa Amerika Serikat juga mampu meyakinkan masyarakat dunia, bahwa terorisme internasional merupakan musuh bersama pasca tragedi WTC 11 September 2001. Berangkat dari kasus ini, niat Amerika Serikat untuk mempelopori suatu “tata dunia baru” dimana hukum internasional ditegakkan dan fungsi PBB diefektifkan. Namun dalam menghahadapi konflik Israel-Palestina, hegemoni Amerika Serikat seolah-olah tidak berdaya untuk menindak tegas Israel.

Amerika Serikat sebagai pihak yang mempunyai kompetensi tinggi tampak ragu-ragu dalam upaya menyelesaikan konflik tersebut. Amerika yang selama ini mampu menyelesaikan masalah-masalah negara lain mengapa sepertinya seakan-akan angkat tangan terhadap permasalahan yang muncul dalam konflik Israel – Palestina ini. Jika menghadapi tindakan invasi, pelanggaran hukum, dan tindakan-tindakan yang dilakukan negara-negara Irak, Iran, Libya, Taliban, Amerika Serikat nampak sangat powerful. Atas nama kemanusiaan, mengapa AS tidak mampu melakukan tindakan drastis guna menghentikan aksi kekerasan Israel terhadap Palestina yang nyata-nyata telah menganggu hak asasi manusia? Lalu dimanakah letak power Amerika yang dikatakan menaungi dewan keamanaan PBB ini? Bahkan muncul pertanyaan bagaimana hubungan kedua negara tersebut, sehingga Amerika Serikat sebagai kekuatan “hegemoni” atau polisi dunia bersikap memihak kepada Israel dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina?

Masyarakat dunia mengetahui bahwa Kerjasama dan konflik merupakan karakteristik utama interaksi antar negara-negara yang berdaulat. Diantara kedua tipe ekstrim tersebut, ada situasi yang kemudian muncul dan disebut persaingan.sudah menjadi rahasia umum bahwa sifat utama negara adalah bentuk tertinggi dari organisasi manusia, dan negara hanya diperintah oleh kepentingan nasionalnya. Sedang masyarakat internasional tidak menerapkan kekuasaan otoritatif terhadap negara meskipun masyarakat internasional menerapkan peraturan-peraturan mengenai tingkah laku tertentu.

Pada umumnya, negara-negara di dunia mengembangkan hubungan mereka dalam kerangka dua karakteristik tersebut sesuai kepentingan nasionalnya. Persamaan kepentingan nasional seringkali mendorong kerjasama. Tetapi perbedaan kepentingan antar negara seringkali menimbulkan konflik internasional yang tidak dapat dihindari. Maka fenomena inilah yang terjadi antara dua Negara (Israel-palestina) konflik yang oleh sebagian masyarakat internasional dianggap sebagai konflik abadi tanpa akhir.

Campur tangan Amerika yang menjadi salah satu sudut pandang bahwa pecahnya konflik ini akibat keinginan Amerika.Padahal,secara sadar bahwa setiap negara memiliki kekuasaan sendiri untuk menjalankan kekuasaannya serta mempertahankan kekuasaannya. Dalam kerangka ini, untuk menjaga kepentingannya, Amerika Serikat  senantiasa melakukan tiga hal yakni pertama, AS tetap menjaga posisinya sebagai kekuatan utama dalam ekonomi global, meskipun ia harus menghadapi kekuatan ekonomi Jepang, kedua AS akan menentang munculnya kekuatan hegemoni politik-militer di Eropa dan ketiga negara itu akan melindungi kepentingannya di negara-negara ketiga.

Bagi kepentingan Amerika Serikat, kawasan Timur Tengah sebagai prioritas ketiga karena selain wilayah itu menguasai lalu lintas laut dan udara Eropa-Asia Pasifik-Afrika, wilayah ini juga merupakan sumber utama energi bagi negara-negara sekutunya di Eropa Barat dan Asia Timur (Jepang). Sengketa Arab-Israel yang berkepanjangan, invasi Soviet ke Afghanistan, perang Iran- Irak, invasi Irak ke Kuwait, dan hubungan Soviet dengan Libya, Irak, PLO selama perang dingin. Di kawasan Timur Tengah, maka kepentingan nasional AS adalah sebagai berikut; (1) menjaga kelangsungan impor minyak dari Timur Tengah, terutama dari negara-negara Teluk, (2) menjaga eksistensi Israel. Hal ini penting mengingat Israel adalah kawan dekat AS di Timur Tengah yang dapat dijadikan kepanjangan tangan Amerika Serikat di kawasan tersebut, (3) untuk memperlancar dua kepentingan diatas, Amerika Serikat perlu menjaga stabilitas politik dan keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut.

Salah satu bukti, terkait dengan pengaruh Israel terhadap AS dalam representasi Obama. Dalam kemenangan pemilu Obama kemarin, salah satu sumber dukungan utama baik dana maupun suara berasal dari Israel. Dalam perkembangannya memang tidak semua kepentingan Israel direalisasikan oleh Obama, akan tetapi tetap ada pengaruh-pengaruh atau intervensi Israel dalam kebijakan AS yang dibuat Obama. Kepentingan Israel terimplementasi dalam beberapa sikap AS yang cenderung menguntungkan Israel. Sehingga karena merasa diuntungkan dan didukung oleh AS,Secara normatif AS seharusnya bersikap adil dan menjadi solusi bagi perdamaian Israel-Palestina, namun yang terjadi justru sebaliknya. AS semakin melanggengkan konflik tersebut dengan keberpihakannya pada Israel. Alasan lain yang melatarbelakangi dukungan AS dalam representasi Obama terhadap Israel, yaitu karena mayoritas orang-orang berpengaruh AS; politikus, militer, birokrat, kaum intelek, dan lain sebagainya yang menguasai AS berasal dari keturunan Israel. Sehingga ketika Israel memegang kendali maka hal ini berarti bahwa Israel otomatis akan tetap terjaga dan terjamin dukungannya.

Melalui konsep politik luar negerinya ini maka Amerika menjadikan negara Israel sebagai anak emasnya. Mengesampingkan kepentingan kemanusiaan demi kepentingan negaranya itulah ciri Negara amerika. Ketika suatu Negara dapat menguntungkannya maka dia akan baik seolah menjadi seorang malaikat untuk Israel. Namun ketika sudah tidak lagi berguna maka Amerika akan membuangnya. Demikianlah politik luar negri amerka sehinga dikatakan bahwa konflik yang terjadi ini adalah kemauan Amerika demi kepentingan negaranya.[]

 

Satu Balasan pada “Ambivalensi Sikap Amerika Serikat Dalam Konflik Israel – Palestina”


  1. Masalahnya adalah…… antara org Palestina dgn org Israel adalah sama2 sbg pendatang, tp Yahudi mempunyai SDM yg lebih abaik, shg pendatang arab kalah dlm segalanya. lalu kumpulan Yahudi ini memproklamasikan diri sbg sebuah negara. dan sekumpulan org2 arab ini sampai saat ini blm mampu utk merdeka, ada kesenjangan soial di sana. Itu

Tinggalkan Balasan