DJANGKA.com

an Indonesian perspectives

Faktor Penyebab Komunikasi Tidak Efektif Antara Kaum Intelektual dan Kaum Awam di Dalam Masyarakat Desa Serta Solusinya

tri mahendra

Written by Tri Mahendra – Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Jember

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Di zaman modern yang boleh disebut sebagai zaman globalisasi ini sudah banyak orang yang berpendidikan tinggi. Jika dibandingkan dengan dahulu sangatlah berbeda. Seiring dengan perkembangan zaman ini ternyata juga berdampak pada komunikasi yang tidak efektif yang terjadi pada masyarakat desa. Yaitu adanya kaum intelektual yang berasal dari desa yang berpendidikan tinggi, kaum intelektual dari desa kurang bisa berkomunikasi secara efektif dengan warga di desanya. Hal tersebut sering terjadi karena mayoritas penduduk yang ada di desa itu belum memiliki pendidikan yang tinggi.

Suatu hal yang lucu mungkin bila kaum intelektual yang seharusnya menjadi panutan kaum awam atau orang desa yang pada umumnya masih awam  belum bisa berkomunikasi secara efektif dengan warga di desanya. Kondisi yang seperti ini bukanlah kondisi yang biasa, namun ini merupakan kondisi yang kurang baik jika terjadi. Kaum intelektual bisa terdiri dari aparatur pemerintah, guru, dosen, mahasiswa mungkin perlu belajar untuk memahami karakter orang desa. Orang awam yang biasa tinggal di desa sebenarnya ingin tahu tentang permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari ini. Di dalam media massa banyak sekali berita-berita yang memuat tentang kejadian atau peristiwa  sehari-hari. Namun apa yang terjadi adalah mereka kurang bisa menangkap pemberitaan di media massa, ini biasa terjadi dalam berita politik, ekonomi, hukum, sosial.

Sebenarnya orang yang ada di desa itu memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terkait dengan berita-berita dalam kejadian sehari-hari yang mereka lihat. Namun apa daya karena pendidikan yang masih rendah yang banyak dialami oleh masyarakat desa sering membuat mereka kesulitan untuk memahami bahasa yang dipakai oleh kaum intelektual. Inilah sebenarnya yang menjadi titik permasalahan dari suatu masalah komunikasi yang tidak efektif. Dalam berita-berita di media massa cetak maupun elektronik yang memuat tentang masalah hukum, ekonomi, sosial dan politik seringkali dalam pemberitaannya disampaikan dengan bahasa intelektual tinggi. Jika hal ini terjadi, bagaimanakah dengan orang awam yang tidak mengerti dengan bahasa itu.

Kaum awam selalu mengikuti perkembangan berita terkait dengan permasalahan negara akan tetapi mereka kurang paham sepenuhnya atas bahasa yang dipakai dalam pemberitaan. Memang bahasa yang dipakai dalam berita nasional adalah bahasa indonesia, akan tetapi bahasa indonesia yang dipakai itu sudah banyak menggunakan bahasa serapan dari bahasa asing. Bahasa asing atau bahasa inggris banyak diserap dalam bahasa indonesia. Bagi mereka orang awam yang tidak tahu dengan bahasa serapan ini mau tidak mau harus bisa menerima. Sehingga yang terjadi adalah orang awam kesulitan memahami. Jika hal ini terjadi maka bagaimana orang awam bisa paham dengan permasalahan negaranya terkait dengan berita-berita yang telah disampaikan oleh media massa. Kemudian dimana peran mahasiswa dan kaum intelektual lainnya dalam menghadapi kondisi yang terjadi saat ini.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan ini dalam bentuk makalah terkait dengan faktor penyebab komunikasi tidak efektif antara kaum intelektual dan kaum awam di dalam masyarakat desa serta solusi untuk komunikasi yang efektif.

1.2  Perumusan Masalah

Berkomunikasi secara efektif merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Masalah yang akan dikaji dalam makalah ini antara lain:

a. Sebab-sebab terjadinya komunikasi yang tidak efektif antara kaum intelektual dengan masyarakat yang masih awam.

b. Cara untuk mengatasi permasalahan ini agar komunikasi yang terjadi dalam masyarakat dapat berjalan dengan efektif.

c.  Usaha efektif untuk melakukan komunikasi yang efektif di dalam masyarakat desa.

1.3  Tujuan dan Manfaat

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui mengapa bisa terjadi komunikasi yang tidak efektif antara kaum intelektual dengan kaum awam yang ada di desa serta apa yang menjadi penyebabnya.

Manfaat dari makalah ini antara lain bisa menambah wawasan dan pengalaman bagi penulis serta bisa menjadi sarana untuk mengaplikasikan teori-teori yang didapatkan di perkuliahan. Sedangkan bagi pembaca, makalah ini bisa menambah wawasan serta informasi mengenai komunikasi yang terjadi dalam masyarakat.

 

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Komunikasi

Pengertian tentang Komunikasi seperti yang diungkapkan dalam http://id.wikipedia.org/wiki/KomunikasiKomunikasi yang menyatakan bahwa Komunikasi adalah suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal.

2.2. Komponen komunikasi

Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell  komponen-komponen komunikasi adalah:

  1. Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.
  2. Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
  3. Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
  4. Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain.
  5. Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.
  6. Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan (Protokol).

2.3 Jenis-Jenis Komunikasi

2.3.1 Komunikasi Non-Verbal

Komunikasi Non-Verbal menjelaskan proses penyampaian arti dalam bentuk pesan yang bukan berupa kata-kata melainkan melalui misalnya isyarat, bahasa tubuh atau postur, ekspresi wajah, dan kontak mata, objek komunikasi seperti pakaian, gaya rambut, arsitektur, dan sebagainya. Komunikasi Non-Verbal juga dapat disebut sebagai bahasa diam dan seringkali memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari manusia misalnya dalam hubungan kerja dan juga untuk romantisme.

2.3.2 Komunikasi Visual

Komunikasi visual adalah penyampaian ide dan informasi melalui penciptaan representasi visual. Terutama terkait dengan dua gambar dimensi, itu termasuk: tanda-tanda, tipografi, menggambar, desain grafis, ilustrasi, warna, dan sumber daya elektronik, video dan TV. Penelitian terbaru di lapangan difokuskan pada desain web dan grafis yang berorientasi pada kegunaan. Desainer grafis menggunakan metode komunikasi visual dalam praktek profesional mereka.

2.3.3 Komunikasi Lisan

Komunikasi lisan (verbal) adalah jenis komunikasi yang disampaikan dengan mengunakan kata-kata. Biasanya komunikasi jenis ini dikombinasikan juga dengan komunikasi visual dan non-verbal untuk lebih memudahkan dalam memahami maksud atau arti dari pesan yang disampaikan.

2.3.4 Komunikasi Tulisan

Komunikasi tulisan adalah jenis komunikasi yang disampaikan melalui tulisan-tulisan yang ditulis melalui suatu media, seperti kertas, batu, dan sebagainya. Pemilihan konteks semantik bahasa atau diksi (pemilihan kata yang efektif) menjadi penting, sehingga responden atau pembaca memahami maksud informasi yang tersurat maupun tersirat dalam komunikasi ini.

2.4 Komunikasi  yang Baik dan Efektif

2.4.1 Komunikator dan Komunikan yang Baik

Sebelum membahas mengenai bagaimana teknik komunikasi yang baik dan efektif, maka terlebih dahulu kita membahas masalah komunikator dan komunikan yang baik. Komunikator dan komunikan merupakan faktor yang sangat penting di dalam melakukan komunikasi yang efektif. Sikap dan perilaku dari komunikator dan komunikan di dalam melakukan komunikasi sangat mempengaruhi efektifitas dari komunikasi yang disampaikan.

Jika manusia ingin menyampaikan suatu pesan, informasi ataupun gagasan kepada manusia lainnya, maka diperlukan niatan dan motivasi yang baik pula. Adapun beberapa kriteria seorang komunikator yang baik adalah sebagai berikut:

Mempunyai Kesiapan

Seorang komunikator yang baik sebaiknya mempersiapkan terlebih dahulu pesan atau informasi, cara penyampaian, waktu penyampaian, dan media penyampaian dengan matang.

Mempunyai Kesungguhan

Seorang komunikator yang baik harus memiliki kesungguhan. Artinya dari setiap pesan atau informasi harus disampaikan dengan sungguh-sungguh atau serius.

Mempunyai Ketulusan

Seorang komunikator yang baik harus memiliki kesungguhan. Artinya sebelum manusia memberikan informasi atau pesan kepada manusia yang lain, pemberi pesan harus merasa yakin bahwa apa yang akan disampaikan itu merupakan sesuatu yang baik dan memang bermanfaat bagi manusia yang lain.

Mempunyai Kepercayaan Diri

Seorang komunikator yang baik harus memiliki kepercayaan diri yang baik. Artinya jika komunikator memiliki raas percaya diri, maka hak ini sangat berpengaruh pada cara penyampaian dan bagi penerimanya (komunikan).

Mempunyai Ketenangan

Seorang komunikator yang baik harus memiliki ketenangan. Artinya sebaik apapun dan sejelek apapun yang akan disampaikan, harus bersikap tenang, tidak emosi, ataupun terpancing memancing emosi penerima pesan. Karena dengan adanya ketenangan informasi akan lebih jelas, baik, dan lancar.

Mempunyai Keramahan

Seorang komunikator yang baik harus memiliki keramahan. Artinya dengan keramahan akan memberikan perasaan tenang, senang, dan baik bagi penerimanya.

Mempunyai Kesederhanaan

Seorang komunikator yang baik harus menyampaikan kesederhanaan informasi yang akan disampaikan. Artinya didalam penyampaian informasi, sebaiknya dibuat sederhana baik bahasa, pengungkapan, dan penyampaiannya. Meskipun informasi tersebut panjang dan rumit akan tetapi jika disampaikan secara sederhana, berurutan, dan tanpa mengurangi esensi dari informasi maka akan memberikan kejelasan dan kepahaman bagi penerima pesan.

Mempunyai Cakrawala yang Luas

Seorang komunikator yang baik harus memiliki cakrawala yang luas. Artinya komunikator mampu memikirkan dan membicarakan isu-isu dan beragam pengalaman di luar kehidupan mereka sehari-hari.

Mempunyai Rasa Ingin tahu

Seorang komunikator yang baik harus memiliki rasa ingin tahu tentang segala hal. Itulah sebabnya mereka pandai mendengarkan dan mempunyai cakrawala yang luas. Mereka selalu mempelajari sesuatu yang baru.

Mempunyai Antusiasme

Seorang komunikator yang baik harus memiliki rasa antusias yang tinggi. Artinya mereka menunjukan minat yang besar pada apa yang mereka perbuat dalam kehidupa mereka, maupun pada apa yang mereka katakan dalam suatu kesempatan.

Mempunyai Empati

Seorang komunikator yang baik harus memiliki rasa empati. Artinya mereka berusaha menempatkan diri mereka pada posisi pendengar untuk memahami apa yang mereka katakan.

Mempunyai Gaya Bicara Sendiri

Unsur kunci lain pada seorang komunikator yang berhasil adalah gaya. Mereka mempunyai cara bicara sendiri, sehingga ucapan mereka efektif.

Sedangkan untuk komunikan, hal-hal yang harus diperhatikan untuk menjadi seorang komunikan yang baik antara lain sebagai berikut:

Dapat menerima masukan dari individu lain. Artinya setiap masukan yang diberikan individu harus dapat diterima dengan terbuka dan tenang. Walaupun terkadang masukan tersebut kurang enak, namun harus diterima.

Mampu memahami secara baik pesan-pesan atau masukan yang diberikan.

Mampu menyeleksi atau memilih pesan atau informasi yang akan memberikan manfaat.

Mampu menggabungkan informasi yang diberikan dengan pegetahuan, kemampuan, dan pendapat pribadi.

Mampu menyampaikan kembali pesan-pesan yang masuk, setelah diolah, kemudian  disampaikan kembali kepada individu lainnya.

2.4.2 Teori komunikasi yang Efektif

Agar proses komunikasi mampu mencapai sasaran (efektif), maka perlu memperhatikan teknik-teknik umum berikut ini:

a. Perlu adanya ide atau gagasan yang jelas sebelum berkomunikasi.

b. Periksa tujuan & motif komunikasi.

c. Periksa lingkungan fisik dan manusia sebelum berkomunikasi (lihat situasi dan   kondisi).

d. Dalam berkomunikasi pertimbangkan isi dan nada suara.

e. Komunikasikanlah hal-hal yang bermanfaat saja.

f. Komunikasi yang efektif perlu tindak lanjut.

g. KISS: Keep It Short and Simple.

h. Tindakan komunikator harus sesuai dengan yang dikomunikasikan.

j. Jadilah pendengar yang baik.

k. Informasi atau pesan yang disampaikan harus sesuai dengan data dan fakta.

l. Menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh komunikan/penerima  informasi.

Sedangkan ciri-ciri komunikasi yang tidak efektif, antara lain dapat dilihat dari beberapa indikasi-indikasi berikut ini:

1. Komunikasi dilakukan terlalu bertele-tele.

2. Komunikator mengkomunikasikan pesannya dengan tidak percaya diri (malu-malu).

3. Pesan / Informasi disampaikan dengan cara yang tidak simpatik (misalnya: dengan marah-marah).

4. Pembicaraan yang dilakukan tidak jelas dan tidak fokus pada pesan yang ingin disampaikan.

5. Komunikasi yang dilakukan berlangsung satu arah. Tidak ada interaksi dengan komunikan. Apa yang dibicarakan tidak nyambung dengan topik yang ingin disampaikan.

2.4.3 Hambatan Dalam Melakukan Komunikasi yang efektif

Banyak faktor yang dapat menjadi penghambat seseorang dapat melakukan komunikasi secara efektif. Faktor-faktor tersebut bisa berupa faktor teknis maupun non-teknis. Adapun beberapa faktor tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

a. Perbedaan budaya yang dapat mempengaruhi keefektifan dalam berkomunikasi.

b. Perbedaan bahasa dapat pula mempengaruhi kefektifan berkomunikasi.

c. Faktor biologis, misalnya seperti adanya kelainan pada mulut seperti gagap dan juga cadel.

d. Faktor kredibilitas dari komunikator yang menyampaikan informasi.

e. Faktor kepribadian, seperti misalnya kepribadian yang tertutup dapat mempengaruhi efektifitas dalam berkomunikasi. Kepribadian yang tertutup menghalangi penerimaan pesan yang ingin disampaikan dan tidak terbuka terhadap segala hal.

f. Faktor Pengetahuan. Komunikator yang memiliki cakrawala yang luas umumnya akan jauh lebih efektif dalam berkomunikasi.

2.5 Tata Cara Komunikasi Efektif

Tata cara berkomuikasi pada komunikasi verbal antara lain:

  1. Menggunakan bahasa yang sama-sama dapat dipahami baik oleh pendengar dan pembicara untuk menghidari terjadinya misskomunikasi.
  2. Berbicara dengan jelas (bila diperlukan dapat diberi contoh terhadap suatu permasalahan dan ringkas.
  3. Menggunakan intonasi nada dengan tepat.
  4. Agar tidak terlalu bosan, dalam komunikasi dapat pula diselingi ice breaking atau humor dalam pembicaraan.

Tata cara berkomunikasi pada komunikasi nonverbal antara lain:

  1. Menggunakan Bahasa tubuh yang baik dan benar.
  2. Berekspresi dalam berkomunikasi.
  3. Kontak mata sangatlah penting dalam suatu pembicaraan.
  4. Sentuhan bila diperlukan untuk menunjukkan rasa empati yang kita miliki.

 

BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Komunikasi tidak Efektif di Masyarakat Desa

Telah diketahui sebelumnya bahwa komunikasi merupakan suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Faktor penyebab dari komunikasi yang tidak efektif yang terjadi di dalam masyarakat desa sebenarnya bisa ditanggulangi. Namun masalahnya, tak banyak dari kaum intelektual bisa memahami bagaimana berkomunikasi yang efektif itu. Mereka paham dengan apa yang mereka ketahui. Namun mereka kurang memahami cara untuk menyampaikan secara tepat mengenai apa yang menjadi pengetahuannya kepada khalayak umum dalam hal ini masyarakat yang ada di desa.

Memang tidak mudah untuk melakukan komunikasi dengan orang awam. Oleh karena itu perlu adanya pembelajaran mengenai cara berkomunikasi yag efektif. Seorang komunikator harus mengetahui latar belakang dari komunikan. Mengetahui karakter serta budaya dari komunikan merupakan suatu hal yang perlu agar nantinya komunikasi yang disampaikan dapat dipahami. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kaum inteletual yang seharusnya bisa menjadi panutan kaum awam kurang begitu paham tentang tata cara komunikasi yang efektif.

Dapat disimpulakan bahwa komunikasi yang terjadi dalam masyarakat tidak berjalan dengan efektif karena:

a. Pesan yang disampaikan oleh komunikator dalam konteks ini adalah kaum intelekual, mereka tidak memberikan pesan yang sesuai akan kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat desa.

b. Informasi atau pesan yang disampaikan itu masih kurang tepat dengan keadaan kaum awam yang ada di desa. Misalnya saja, seorang komunikator berbicara dengan bahasa Indonesia yang mana kata-kata yang digunakan merupakan kata yang asing dalam pendengaran orang awam. Jika hal ini tidak dihindari, bagaimana pesan itu bisa dipahami oleh masyarakat awam yang dalam konteks ini adalah masyarakat desa.

c. Pesan yang disampaikan oleh komunikator tidak tepat dengan kebudayaan komunikan. Misalnya saja, seorang komunikator yang berbicara mengenai pesta perkawinan yang ada di desa. Suatu desa yang memiliki budaya dan kepercayaan yang masih kental pada sesaji kepada roh leluhur. Kemudian dalam konteks ini seorang komunikator berbicara bahwa sesaji itu tidak perlu, yang penting adalah pesta perkawinannya itu sendiri. Bila hal ini dilakukan oleh komunikator, bisa jadi pesan yang disampaikan itu akan ditolak oleh komunikan yang dalam konteks ini adalah masyaraat desa.

d. Informasi yang diberikan kepada masyarakat awam sangat banyak dan sulit dimengerti oleh mereka. Dalam hal ini perlu adanya pembenahan mengenai isi dari informasi yang akan disampaikan. Memang sebaiknya informasi yang akan disampaikan itu haruslah sederhana dan mudah untuk dimengerti bagi kaum masyarakat desa yang masih awam. Menyampaikan pesan sebaiknya fokus kepada hal-hal yang penting bagi mereka.

3.2 Persoalan Komunikasi yang Tidak Efektif

Saat ini yang menjadi masalah adalah persoalan komunikasi yag tidak efektif yang terjadi pada masyarakat awam di desa. Telah diketahui bahwa masyarakat yang ada di desa itu pada umumnya masih berpendidikan rendah. Bila mereka diajak untuk berbicara mengenai politik, ekonomi, hukum masih sulit untuk menangkap. Namun apakah sesungguhnya mereka tidak bisa memahami tentang politik, ekonomi, dan hukum. Sebenarnya, mereka itu bisa untuk memahami persoalan politik, ekonomi, hukum yang terjadi saat ini. Asalkan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan mereka itu bahasa yang mudah dicerna oleh mereka. Bila mereka hanya bisa menggunakan bahasa jawa, misalnya saja saat berbicara dengan orang tua. Maka dalam menghadapi kondisi demikian, perlu digunakannya bahasa jawa yang mudah dimengerti oleh mereka.

3.3 Bahasa di Media Massa Sulit Dipahami Kaum Awam

Saat ini jumlah dari media massa semakin banyak dan terdiri dari berbagai macam. Dari sekian media massa yang ada, hampir semuanya menggunakan bahasa yang sulit untuk dipahami oleh kaum awam. Penggunaan bahasa yang sulit untuk dipahami oleh kaum awam ini menjadikan kaum awam semakin ketinggalan informasi. Memang bagi kaum intelektual hal ini sudah biasa, namun apa yang terjadi pada kaum awam, ini menjadi suatu masalah yang serius. Terlebih lagi saat ini kaum intelektual sudah kurang perhatian lagi terhadap kaum awam. Ini menjadikan kaum awam semakin terpuruk kondisinya.

Mungkin saat ini yang menjadi penolong bagi kaum awam adalah adanya siaran TV lokal yang menggunakan bahasa daerah. TV lokal ini sangat digemari oleh kaum awam atau orang desa. Penggunaan bahasa lokal yang sederhana yang mana bahasa itu merupakan bahasa sehari-hari bagi kaum awam sungguh bisa membantu kaum awam. Namun kelemahanya adalah bahwa berita yang disiarkan kebanyakan juga merupakan berita lokal setempat. Sehingga kaum awam juga hanya bisa paham dengan berita-berita lokal saja.

Adanya media massa yang berupa koran ternyata juga kurang efektif bagi mereka kaum awam yang tinggal di desa. Karena kebanyakan orang desa itu tidak suka membaca koran. Disamping itu, di desa koran itu sulit untuk ditemui. Kalaupun ada biasanya koran yang ada di desa itu merupakan koran bekas yang biasanya digunakan untuk membungkus makanan.

Terkait dengan itu semua, lagi-lagi penggunaan bahasa juga menjadi masalah. Bahasa yang digunakan dalam media itu adalah bahasa Indonesia yang mana kaum awam belum seratus persen paham. Tentu ini akan menjadi masalah. Karena, yang menyampaikan berita di media massa adalah kaum intelektual. Kaum intelektual kurang perhatian terhadap kaum awam. Sehingga yang terjadi adalah berita itu dibuat oleh kaum intelektual dan hanya bisa dipahami oleh kaum intelektual. Akhirnya, kaum awam semakin tertinggal dalam hal informasi. Inilah sebenarnya yang menjadi titik permasalahan yang terjadi terhadap kurang efektifnya komunikasi terhadap kaum awam.

3.4 Dampak Globalisasi Bagi Komunikasi

Seperti yang telah disinggung sebelumnya tadi, bahwa dampak dari globalisasi adalah akan membuat orang awam desa semakin tertinggal. Saat ini komunikasi saja sudah menjadi semakin susah dipahami oleh kaum awam desa. Memang benar bahwa globalisasi akan membuat kaum awam semakin ketinggalan informasi. Betapa tidak, saat ini saja orang-orang sudah banyak yang berlomba-lomba untuk belajar bahasa inggris. Bahasa inggris memang perlu karena merupakan bahasa internasional. Tapi karena kaum intelektual itu sudah merasa bisa menggunakan bahasa internasional. Mereka terkadang lupa akan pentingnya juga untuk memahami nasib saudaranya yang masih tergolong orang awam. Seharunya mereka bisa mengaplikasikan bahasa internasional dengan bahasa lokal. Karena itu akan sangat bisa membantu kaum awam terutama orang desa. Namun sepertinya hanya sedikit orang yang mampu seperti itu.

Kaum intelektual adalah kaum yang diharapkan bisa menjadi panutan bagi kaum awam untuk memberikan pengetahuannya. Dengan adanya globalisasi ini sebenarnya kaum intelektual bisa menjadi penolong bagi kaum awam untuk mendapatkan informasi agar kaum awam tidak ketinggalan informasi. Namun sepertinya ini susah untuk diterapkan karena kaum intelektual cenderung untuk memikirkan dirinya sendiri.

3.5 Diskusi Mengenai Komunikasi yang Efektif

Diskusi mengenai komunikasi yang efektif bagi kaum awam desa, tentunya tidak bisa dilepaskan dari teori komunikasi yang efektif. Dengan adanya ilmu komunikasi tentu akan membantu kaum intelektual untuk menemukan suatu solusi atas permasalahannya, yaitu kesulitan untuk menyampaikan pesan kepada komunikan orang awam desa agar pesan yang disampaikan bisa tepat dan efektif.

Dalam melakukan komunikasi yang efektif dengan masyarakat desa tentunya diperlukan saluran yang tepat. Sebagai kaum intelektual sudah seharusnya mereka mengetahui mana saluran yang tepat untuk melakukan komunikasi dengan masyarakat desa yang pada umumnya masih awam. Misalnya saja, ada seorang intelektual mendapat tugas untuk memberi penyuluhan kepada orang-orang desa mengenai program Keluarga Berencana (KB). Maka dia harus mengetahui bagaimana menyampaikan pesan itu agar tepat dan dapat dipahami oleh orang-orang desa. Memang ini tidak mudah terkait dengan pendidikan orang desa yang pada umumnya masih rendah.

Dalam melakukan komunikasi dengan masyarakat desa. Seorang komunikator haruslah mengetahui betul bagaimana budaya pada masyarakat desa itu. Komunikator tidak bisa langsung saja menyampaikan pesan sesuai dengan kehendaknya. Komunikator harus bisa menyesuaikan dirinya dengan lingkungan yang ada. Tidak bisa diterapkan metode komunikasi yang dilakukan oleh komunikator saat berada dilingkungan intelektualnya pada masyarakat desa. Karena jika hal itu dilakukan, maka sama saja hasilnya akan sia-sia dan masyarakat tidak akan tertarik. Hal ini sangat penting untuk diketahui bagi para intelektual.

Agar komunikasi yang dilakukan pada masyarakat desa itu bisa lancar, perlu bagi kaum intelektual untuk belajar teknik berkomunikasi. Agar nantinya pada saat berkomunikasi dengan khalayak umum bisa tenang dan tidak tergesa-gesa. Perlu juga untuk diingat bahwa dalam berkomunikasi dengan kaum awam desa haruslah menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh warga desa.

3.6 Rekomendasi dan Solusi

Komunikasi merupakan suatu proses interaksi dalam masyarakat dalam berkehidupan bersosial. Alangkah baiknya jika cara berkomunikasi yang efektif itu dipelajari oleh manusia, agar komunikasi yang berjalan di dalam masyarakat dapat bejalan dengan efektif. Komunikasi merupakan elemen yang penting dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Namun sering kali komunikasi itu tidak berjalan secara efektif karena orang tidak mengetahui cara berkomunikasi yang baik dan efektif. Untuk itu perlu adanya kesadaran dari masing-masing individu untuk mengetahui cara berkomunikasi yang efektif.

Bagi kaum intelektual yang sudah merasa memiliki kompetensi dalam bidang akademik, belum tentu mereka bisa menyampaikan kemampuan akademiknya itu untuk khlayak umum terutama kaum awam. Hal ini dapat disimpulkan karena pada umumnya kaum intelektual mampu untuk menyampaikan kemampuan akademiknya hanya kepada sesama kaum intelektual, tidak untuk kaum awam. Kaum intelektual juga masih perlu belajar tentang bagaimana cara menyampaikan pesan yang efektif bagi kaum awam. Diharapkan dengan hal ini kaum awam bisa memperoleh pengetahuan yang lebih luas melalui kaum intelektual. Mengingat di era globalisasi ini, atau yang disebut dengan abad informasi. Kaum awam semakin ketinggalan dalam hal informasi. Kaum awam membutuhkan bantuan dari kaum intelektual dalam hal pemahaman informasi yang mereka peroleh. Bila kaum intelektual bisa menjembatani informasi yang ada di era globalisasi dengan kaum awam. Maka kaum awam akan bisa lebih memahami siuasi yang sesungguhnya yang terjadi pada saat ini. Dalam konteks ini kaum intelektual perlu untuk memahami situasi yang dirasakan oleh masyarakat awam yang ada di desa. Dengan demikian, harapan untuk terciptanya komunikasi yang efektif yang menjadi harapan dari seluruh elemen masyarakat dapat tercapai.

 

BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Komunikasi tidak efektif yang terjadi dalam masyarakat desa saat ini masih banyak terjadi. Dikarenakan masyarakat desa pada umunya masih berpendidikan rendah, sehingga dapat dikatakan bahwa mereka masih tergolong sebagai kaum awam. Masyarakat desa yang pada umunya merupakan kaum awam harus mengahadapi situasi abad informasi saat ini. Abad informasi yang mana didominasi oleh kaum intelektual. Informasi yang berupa masalah ekonomi, hukum, sosial, dan politik hanya dapat dipahami dengan baik oleh kaum intelektual, tidak untuk kaum awam. Dalam konteks ini kaum intelektual mencoba untuk menyampaikan informasi yang mereka pahami kepada kaum awam. Namun yang terjadi adalah kaum awam tidak dapat memahami sepenuhnya apa yang disampaikan oleh kaum intelektual. Dalam hal ini dapat disimpulakan bahwa ternyata kaum intelektual itu tidak bisa menyampaikan informasi yang mereka peroleh dengan komunikasi yang efektif bagi kaum awam. Inilah yang menjadi titik permasalahan. Dengan demikian, maka sangat perlu bagi kaum intelektual terpelajar untuk mempelajari cara komunikasi yang baik dan efektif. Dengan harapan agar nantinya komunikasi dalam masayarakat dapat berjalan dengan baik dan efektif.

4.2 Saran

Komunikasi merupakan unsur yang penting dalam masyarakat. Untuk itu, bagaimana cara komunikasi yang baik dan efektif itu perlu untuk dipelajari dengan serius. Terutama bagi mahasiswa yang mana mereka merupakan aset bangsa yang diharapkan dapat menjadi pemimpin yang baik nantinya dimasa mendatang. Agar komunikasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bisa berjalan dengan baik. Marilah bersama-sama untuk memahami bagaimana berkomunikasi yang baik dan efektif. Dengan demikian pada akhirnya nanti, komunikasi yang efektif yang menjadi harapan masyarakat dapat terwujud.

 

DAFTAR PUSTAKA

Internet:

http://id.wikipedia.org/wiki/KomunikasiKomunikasi (tanggal akses 06 Juni 2011)

http://blog.its.ac.id/ede09mhsneitsacid/2010/09/20/komunikasi-efektif/ (tanggal akses 06 Juni 2011)

http://msi20.multiply.com/journal/item/16/Komunikasi_Efektif (tanggal akses 06 Juni 2011)

 

2 Responses to Faktor Penyebab Komunikasi Tidak Efektif Antara Kaum Intelektual dan Kaum Awam di Dalam Masyarakat Desa Serta Solusinya

  1. abu arief says:

    Sekedar menambahkan dari pernyataan/ kutipan anda itu yang dijelaskan mengenai tema itu rasanya benar ada ketidakharmonisan hubungan antara kaum elite (intelek) dengan masyarakat desa. Ada beberapa poin yang harus digarisbawahi;
    1. Masyarakat desa itu tidak sepenuhnya gaptek atau awam dalam komunikasi, karena mereka juga dapat memperoleh pengetahuan yang banyak dan luas dibandingkan kaum elite dengan cakupan pergaulan yang luas. Mereka tidak bisa maju karena ada faktor penghambat yakni kehidupan mereka disana, bekerja dan membangun keluarga. Jadi langkah terbaik adalah memberikan mereka kesempatan berupa ketrampilan, modal, pendidikan, dan jaminan-jaminan lain di daerahnya.
    2. Bahasa yang mereka gunakan itu memang sering mereka gunakan sehari-hari untuk berinteraksi dengan orang, memang ada beberapa orang yang buta huruf (tidak bisa berbahasa indonesia) namun jangan anggap itu halangan untuk bisa berinteraksi. Karena mengenal dan memahami bahasa mereka akan membuat kita lebih dekat mengenal mereka.
    3. Yang terakhir, solusi dari ini adalah model pendekatan yang digunakan oleh kaum intelek “harus menyesuaikan” dengan masyarakat desa buka sebaliknya. Pendekatan secara kontinu juga dapat mempengaruhi pola komunikasi dan tingkat keberhasilan proses komunikasi itu.
    Maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan,…

Tinggalkan Komentar

 

Anda dapat mengirimkan artikel/makalah tentang ilmu sosial bertema politik, komunikasi, hubungan internasional, arkeologi, antropologi, feminisme, sosiologi, psikologi, hukum, kebijakan publik, citizen journalism, filsafat, tinjauan religi, urban culture [kajian perkotaan], ecologica [kajian lingkungan], cultural studies. Sertakan profil diri, pas foto terbaru, dan nomor rekening bank. Setiap artikel/makalah yang dimuat akan selalu diinformasikan kepada penulisnya. Email tulisan anda ke: editor[at]djangka.com

Powered by Wordpress, Design by Aksisoft Media