DJANGKA.com

an Indonesian perspectives

Ciri-Ciri Masyarakat Transisi (Prismatik)

amytha

Written by Amytha Trisnawardani – Mahasiswa Administrasi Negara FISIP Universitas Jember

Para peneliti mencoba meneliti beberapa tahun terakhir ini mengenai proses dan masalah pembangunan non industri yang belum maju. Dimana terdapat pada konsep yang belum sempurna mengenai kekuatan – kekuatan yang menghasilkan suatu tranformasi administrasi, yaitu terjadinya perubahan birokrasi tradisional yang kemudian berorientasi pada pola – pola organisasi yang modern. Kemudian para peneliti mencoba untuk mempercepat industrilisasi atau dapat disebut dengan masyarakat transisi. Masyarakat transisi sendiri dapat dikatakan sebagai masyarakat campuran antara tradisional dan modern. Ciri – ciri dari masyarakat transisi adalah :

  1. Heterogenitas dan Tumpang Tindih. Dalam masyarakat transisi pemikiran mengenai sistem administratif dianggap dapat menyesatkan. Di negara yang sedang berkembang, administrasi tidak mungkin otonom, begitu juga di masyarakat pertanian tradisional yang tidak mungkin memisahkan suatu sistem dalam masyarakat tersebut akan tetapi hanya melihat administrasi sebagai suatu aspek. Tumpang tindih sendiri itu adalah administrasi tidak saja hanya bersifat otonom, akan tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor mengenai sistem politik, agama, ekonomi dan sosial yang telah ada sebelumnya.
  2. Formalisme. Memiliki pengertian tidak menunjukkan kenyataan yang sebenarnya. Ketika tumpang tindih terjadi dalam organisasi administrasi, maka yang terlihat adalah formalisme. Kemudian disebabkan oleh heterogenitas, dimana perubahan yang dapat berjalan lancar dikota – kota besar tetapi berjalan secara lamban di desa. Inilah yang menjadi kelemahan masyarakat transisi, tidak hanya lemah dalam melihat fakta dari situasi tertentu yang kemudian bagaimana cara memperbaikinya tetapi juga teletak pada bagaimana caranya memperhitungkan untuk membuat dampak yang telah dilakukan secara nyata terhadap situasi.

Terdapat pendekatan mengenai masyarakat transisi, yaitu pendekatan stuktural fungsional. Dimana dengan menggabungkan pada pedekatan tersebut diharapkan dapat menemukan kerangka suatu model administrasi negara di dalam masyarakat transisi. Dalam analisis fungsi struktural membahas mengenai fungsi – fungsi yang dilakukan secara stuktur dapat berdampak pada stuktur relavan yang lain. Di dalam masyarakat yang relatif homogen , dimana struktur yang sama akan melakukan fungsi – fungsi yang seragam. Akan tetapi dalam masyarakat transisi tingkat formalisme sangat tinggi dimana disebabkan karena lembaga – lembaga yang bertumpang tindih dan heterogenitas sosial yang tinggi. Dengan keadaan lingkungan yang seperti itu maka analisis struktural akan membuahkan hasil yang mengecewakan. Untuk mengatasinya maka akan digunakan fungsi untuk analisa bukan strukur. Bila satu struktur dapat melaksanakan fungsi dengan jumlah besar maka dapat dikatakan struktur tersebut tersebar secara fungsional, akan tetapi jika melaksanakan fungsi yang terbatas, struktur dapat dikatakan khusus secara fungsional. Sekarang baru didapat model sistem sosial yang benar- benar hipotesis, yaitu :

  1. Semua struktur dalam sistem itu sendiri atau dapat disebut dengan model memencar. Masyarakat memencar sendiri dalam konteks ini adalah model masyarakat dengan struktur yang sangat spesifik. Hipotesanya adalah dalam masyarakat memencar sangat berorientasi prestasi dan universalistik.
  2. Semua struktur dalam sistem ini sangat khusus atau dapat disebut dengan model memusat. Masyarakat memusat akan dibatasi sebagai suatu masyarakat dengan struktur yang sangat menyebar. Hipotesanya adalah tindakan dalam masyarakat memusat cenderung sangat askriptif dan partikularistik.

Sebenarnya jelas sekali jika model memusat dan memencar ini tidak akan ditemui dalam dunia nyata. Akan tetapi tipe – tipe ideal ini  sudah dapat menggambarkan keadaan dunia nyata. Sementara dalam model memencar dan memusat terdapat satu model prismatik, dimana satu model ini berada di antara model memencar dan memusat. Dalam model prismatik segala sesuatu hal yang berasal dari model memusat akan dibiaskan pada model memencar. Hal ini terjadi meskipun apa yang diperoleh model prismatik diproses terlebih dahulu sebelum pada akhirnya mengasilkan model yang memencar. Dalam suatu negara transisi dan belum berkembang ternyata dapat memiliki karakteristik prismatik yang kuat. Model prismatik dipilih untuk menghindari perbandingan yang mengecewakan, kata –kata itu difahami sebagai upaya untuk menganalisis dan mengetahui jenis tatanan sosial tertentu apa yang penting dan terdapat dimana – mana.

Tinggalkan Komentar

 

Anda dapat mengirimkan artikel/makalah tentang ilmu sosial bertema politik, komunikasi, hubungan internasional, arkeologi, antropologi, feminisme, sosiologi, psikologi, hukum, kebijakan publik, citizen journalism, filsafat, tinjauan religi, urban culture [kajian perkotaan], ecologica [kajian lingkungan], cultural studies. Sertakan profil diri, pas foto terbaru, dan nomor rekening bank. Setiap artikel/makalah yang dimuat akan selalu diinformasikan kepada penulisnya. Email tulisan anda ke: editor[at]djangka.com

Powered by Wordpress, Design by Aksisoft Media