DJANGKA.com

an Indonesian perspectives

Pancasila Dalam Konteks Perjuangan Bangsa Indonesia

alrisa

Written by Alrisa Ayu CS – Mahasiswa Administrasi Negara FISIP Univesitas Jember

Sebelum negara Indonesia terbentuk pada 17 Agustus 1945, bentuk pemerintahan adalah kerajaan-kerajaan. Awal abad ke-16 bangsa Eropa seperti Belanda mulai masuk ke Indonesia dan terjadilah perubahan politik kerajaan yang berkaitan dengan perebutan hegemoni. Kontak dengan bangsa Eropa telah membawa perubahan-perubahan dalam pandangan masyarakat yaitu dengan masuknya paham-paham baru, seperti liberalisme, demokrasi, nasionalisme. Hingga sampai akhirnya Indonesia dapat menumbuhkan jiwa Nasionalisme dan bersatu untuk merdeka.

Sebagai tindakan lanjut dari janji Kaisar Hirohito yang akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia maka dibentuklah suatu badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia yang dikenal dengan nama Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Muh. Yamin, Soepomo, Moh. Hatta, dan Soekarno berpidato guna membahas tentang rancangan usulan dasar negara dalam sidang BPUPKI.  Setelah sidang tersebut dibentuklah panitia kecil yaitu panitia sembilan. Panitia sembilan bersidang tanggal 22 Juni 1945 dan menghasilkan kesepakatan yang dituangkan dalam Mukadimah Hukum Dasar. Pada sidang kedua BPUPKI tgl 10 Juli 1945 dibicarakan mengenai materi undang-undang dasar dan penjelasannya. Sidang kedua ini juga berhasil menentukan bentuk negara Indonesia yaitu Republik. Seiring berjalannya waktu, dibentuklah PPKI yang bertugas melanjutkan tugas BPUPKI.

Seiring dengan kekalahan Jepang, para pemuda mendesaak agar kemerdekaan dilaksanakan secepatnya tanpa menunggu janji Jepang, akhirnya Soekarno-Hatta bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 atas nama bangsa Indonesia.

Sehari setelah Indonesia merdeka, PPKI mengadakan sidang pertamanya. Dalam sidang tersebut terdapat perubahan yang telah dilakukan yaitu perubahan pada sila pertama (tujuh buah kata dihilangkan dan diganti dengan kata-kata Yang Maha Esa) dan beberapa perubahan pada rancangan UUD. Pada saat itu juga Pembukaan Undang-Undang Dasar dan pasal-pasal UUD disahkan menjadi Undang-Undang dasar negara Republik Indonesia. Pada sidang tersebut juga menetapkan Ir. Soekarno dan Moh.Hatta sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia. Selanjutnya sidang tersebut juga membicarakan rancangan aturan peralihan. Di dalam aturan tersebut dinyatakan pembentukan KNIP yang bertugas membantu presiden.

Pancasila sebagai Ideologi Negara serta Komparasinya dengan Ideologi-Ideologi Di Dunia

Secara harfiah ideologi berarti ilmu pengertian-pengertian dasar. Di dalam pengertian sehari-hari “ide” disamakan artinya dengan cita-cita. Cita-cita yang dimaksud adalah cita-cita yang bersifat tetap sekaligus merupakan dasar, pandangan atau faham. Dengan demikian ideologi mencakup pengertian tentang idea-idea, pengertian dasar, gagasan dan cita-cita.[1]

Sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia, maka Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia. Hal ini sesuai dengan pidato Soekarno dalam rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, yang menyampaikan bahwa Pancasila bukan hasil kreasi dirinya, melainkan sebuah konsep yang berakar pada budaya masyarakat Indonesia yang terkubur selama 350 tahun dalam masa penjajahan. Dimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sudah ada dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari sebagai pandangan hidup masyarakat. Akan tetapi kita perlu lebih kritis di sini. Perlu kita pertanyakan apakah Pancasila ini merupakan konsep yang benar-benar produk murni dari pandangan hidup masyarakat Indonesia?

Dalam pidato Soekarno jelas terlihat bahwa Pancasila ini merupakan hasil kombinasi dari gagasan pemikiran yang diimpor dari Eropa, yakni humanisme, sosialisme, nasionalisme yang dikombinasikan dengan Islamisme yang berasal dari gerakan Islam modern di Timur Tengah.[2] Tentu saja kita tidak bisa menutup kemungkinan bahwa salah satu atau lebih dari prinsip-prinsip Pancasila telah ada dalam masyarakat di Nusantara sebelumnya seperti yang dinyatakan Soekarno. Yang ingin ditunjukkan dari pernyataan dalam pidato ini adalah bahwa spiritualitas ‘Timur’ yang menjadi domain kedaulatan masyarakat pasca kolonial menjadi bermasalah ketika digunakan untuk mencari akar spiritualitas itu di dalam Pancasila sebagai sebuah ideologi nasional. Masalah tersebut muncul karena ketika kita mencari akar spiritualitas Timur yang diklaim sebagai produk ‘alamiah’, yang kita temukan sekali lagi adalah hasil konsep-konsep Barat yang secara retoris direpresentasikan sebagai sesuatu yang berakar pada budaya lokal. Ini menjadi jelas terlihat jika kita mengamati konsep gotong-royong yang oleh Soekarno disebut sebagai inti dari Pancasila, tetapi jika ditelusuri ke belakang merupakan hasil konstruksi politik kolonialisme.

Argumen di atas menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia sebagai sebuah model nasionalisme masyarakat pasca kolonial jauh lebih kompleks dari pada nasionalisme Timur dan Barat maupun dari spiritualitas Timur sebagai satu-satunya wilayah di mana masyarakat pasca kolonial mampu membangun autentitasnya (kealamiahannya). Artinya, domain spiritual dalam nasionalisme Indonesia bagaimanapun diisi oleh elemen-elemen yang melekat erat pada dan lahir dari proses dialektis dengan kolonialisme. Mengklaim bahwa nasionalisme Indonesia berakar secara ‘alami’ pada budaya lokal tidak memiliki landasan historis yang cukup kuat. Dari sini kita bisa mengambil satu kesimpulan yang tentunya masih dapat diperdebatkan, bahwa Indonesia baik sebagai konsep bangsa maupun ideologi nasionalisme yang menopangnya adalah produk kolonialisme yang sepenuhnya diilhami oleh semangat modernitas di mana budaya Barat menjadi sumber inspirasi utama.[3]

Bertolak dari semua perdebatan di atas, maka di sini perlu adanya pemahaman sejarah Pancasila secara komprehensif dan integral. Hal ini perlu dan penting dalam memahami Pancasila yang memiliki kesesuaian dengan Bangsa indonesia, terutama dalam kaitannya dengan Pembentukan Watak Bangsa (National and Character Building), yang akhir-akhir ini menunjukan adanya penurunan kadar nilai (degradasi) kebangsaan yang melunturkan nasionalisme, heroisme dan patriotisme.

One Response to Pancasila Dalam Konteks Perjuangan Bangsa Indonesia

  1. Very fantastic info can be found on this web site.

Tinggalkan Komentar

 

Anda dapat mengirimkan artikel/makalah tentang ilmu sosial bertema politik, komunikasi, hubungan internasional, arkeologi, antropologi, feminisme, sosiologi, psikologi, hukum, kebijakan publik, citizen journalism, filsafat, tinjauan religi, urban culture [kajian perkotaan], ecologica [kajian lingkungan], cultural studies. Sertakan profil diri, pas foto terbaru, dan nomor rekening bank. Setiap artikel/makalah yang dimuat akan selalu diinformasikan kepada penulisnya. Email tulisan anda ke: editor[at]djangka.com

Powered by Wordpress, Design by Aksisoft Media