DJANGKA.com

an Indonesian perspectives

Pengaruh Teori Pembangunan dan Praktiknya Terhadap Teorisasi Teori Hubungan Internasional

dian indah

Written by Diah Ayu Intan Sari dkk – Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember

Pada dasarnya pembangunan suatu negara dapat menggunakan berbagai macam metode atau model pembangunan baik itu pembangunan yang terkait dengan ekonomi, pendidikan, kesehatan dll. Yang menjadi esensi dari pembangunan suatu negara adalah metode atau teori apa yang dipilih untuk membangun negara tersebut agar menjadi lebih maju sesuai arah pembangunan yang diinginkan. Sebelum penulis menganalisa dampak akademik dari teorisasi pembangunan terhadap suatu negara. Maka penulis akan mendefinisikan pengertian pembangunan itu sendiri agar tidak terjadi missunderstanding atau ketidaksamaan dalam persepsi. Pembangunan dalam arti sempit (secara individual) dapat diartikan sebagai proses dimana setiap orang atau individu mendapatkan lebih banyak income dari sebelumnya. Sedangkan pembangunan dalam arti yang lebih luas adalah tindakan atau upaya yang dilakukan dengan menggunakan sumber daya manusia yang produktif dalam masyarakat untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat yang miskin. Proses pembangunan itu sendiri tidak dapat lepas dari peran negara sebagai wasit untuk mengamankan jalannya pembangunan.

Setelah Perang Dunia II berakhir, Amerika Serikat dan Rusia muncul sebagai kekuatan ekonomi yang sangat dominan dalam perekonomian dunia karena negara-negara Eropa telah hancur. Kemudian, kehancuran Eropa akibat Perang Dunia II tersebut menjadi awal mula dari adanya teoritisasi pembangunan negara yang diwujudkan dalam “Marshall Plan”. Marshall Plan tersebut merupakan sebuah rencana untuk membangun atau me-recovery Eropa. Sejak saat itu istilah pembangunan menjadi populer. Kata pembangunan itu sendiri tidak dapat lepas dari lembaga keuangan seperti World Bank, IMF, ADB, atau lembaga keuangan lainnya dan selalu melibatkan negara sebagai nasabahnya. Sedangkan teori pembangunan yang berkembang saat ini adalah teori industrialisasi, teori medernisasi dan teori pertumbuhan. Negara dalam proses pembangunannya dapat menggunakan atau memilih salah satu atau bahkan menerapkan ketiga teori pembangunan tersebut untuk mencapai pembangunan yang dicita-citakannya.

ü Teori industrialisasi merupakan teori yang menggunakan teknologi sebagai basis utama dari proses industri. Dalam hal ini negara harus memiliki atau menggunakan teknologi sebagai basis utama untuk pembangunan industrinya sehingga pembangunan negaranya bertumpu pada industri-industri tersebut.

ü Sedangkan teori modernisasi merupakan teori yang berfokus pada peradaban manusia itu sendiri. Teori modernisasi ini lebih dekat dengan teori-teori sosial dimana modernitas itu ditandai dengan adanya masyarakat yang modern (civilize) bukan masyarakat bar-bar atau tradition. Sehingga pembangunan negara dalam teori modernisasi lebih berfokus pada pembangunan peradaban manusia tradisional atau bar-bar menjadi manusia modern.

ü  Kemudian teori pertumbuhan atau growth theory merupakan teori yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi suatu negara sehingga pembangunan negara tersebut diukur dari pertumbuhan ekonominya.

Dalam pembangunan suatu negara ada tiga hal yang selalu dilibatkan yaitu term ecomonic, term politic dan term social. Ketika negara itu mampu melaksanakan pembangunan dengan melibatkan tiga term tersebut maka proses pembangunan itu dapat berjalan sesuai dengan identitas negara tersebut. Dalam perkembangannya kaum positivis dan kaum radikal memandang pembangunan sebagai suatu hal yang sangat berbeda. Kaum positivis meyakini bahwa pembangunan itu harus universal dan karenanya pembangunan itu harus melibatkan agen  yang memiliki legitimasi baik secara domestic maupun internasioal untuk dapat menjalankan track atau resep pembangunan tersebut. Seperti IMF atau World Bank. Kaum positivis menyatakan bahwa pembangunan itu harus memiliki model maupun teknis serta tujuan, kemudian pembangunan itu harus memiliki indikator-indikator yang menunjukkan progress dari pembangunan tersebut. Positivis menyatakan bahwa negara yang memiliki kekuatan yang besar dan sudah mumpuni dalam pembangunan adalah orang atau aktor yang berhak memberikan resep atau track pembangunan bagi negara-negara baru merdeka atau negara berkembang. Sebaliknya kaum radikal menyangkal pendapat atau argument dari kaumpositivis. Kaum radikal menyatakan bahwa negara baru merdeka atau negara berkembang dapat menentukan sendiri nasib atau model pembangunan negaranya tanpa perlu menyontoh atau mengacu pada model atau teknis  barat, kaum positivis menyatakan bahwa teori-teori pembangunan yang ada dapat dijadikan sebagau referensi pembangunan suatu negara tetapi tidak harus dijadukan suatupanduan yagn orientatif bagi negara dalam melaksanakan pembangunan. Kaum positivis menyatakan bahwa negara yang menetukan progressnya sendiri dalam menjalankan pembangunan pada akhirnya akan menghasilkan hubungan baru dalam tatanan hubungan internasional dan akan menghasilkan dunia yang baru pula. Dimana negara-negara yang baru merdeka atau negara berkembang tersebut menjalankan pembangunan sesuai dengan nilai-nilai sosial dari masyarakatnya tidak seta merta meniru gaya pembangunan barat (AS) yang selalu mensyaratkan nilai-nilai ideologis dalam pemberian bantuan untuk negara-negara yang baru merdeka atau negara berkembang yang ingin melakukan pembangunan. Pandangan kaum radikalis dalam melihat pembangunan suatu negara tampaknya digubakan oleh negara-negara seperti Cina yang saat ini telah menjadi negara maju tanpa memakai model barat dalam pembangunan di negaranya.

Secara akademik teorisasi pembangunan memberikan dampak yaitu menjadi semakin bertambah kompleksnya metode atau cara untuk melakukan pembangunan itu sendiri. Dalam ranah akademik, mahasiswa memiliki semakin banyak referensi teori maupun konsep dan memunculkan semakin banyak teori-teori baru sebagai konsekuensi logis dari adanya kekuarangan dan kelebihan dari teori-teori sosial (teori pembangunan) yang selalu menghasilkan suatu konsep baru untuk menyempurnakan konsep atau teori sebelumnya sekaligus  menambah cakcrawala kita dalam melihat kompleksitas teori pembangunan negara di seluruh dunia.

Asumsi bahwa teori-teori pembangunan itu memiliki dampak yang positif bagi negara yang menerapkan teori-teori pembangunan tersebut, pada kenyataannya tidak demikian. Teori-teori pembangunan juga membawa efek negatif terhadap eksistensi suatu negara baik dalam segi kedaulatan maupun kemandirian. Contohnya negara-negara yang berhutang kepada lembaga-lembaga keuangan seperti IMF atau World Bank kemudian memiliki hubungan dependensia (ketergantungan) dengan lembaga keuangan tempat mereka berhutang. Sehingga negara itu tidak lagi memiliki kemandirian sekaligus kedaulatannya semakin berkurang. Sehingga penulis menyimpulkan bahwa  dampak akademik teorisasi pembangunan negara pada ranah metode membuat mahasiswa menjadi semakin kaya akan khasanah teoritisasi pembangunan dan membantu mahasiswa dalam melihat fenomena pembangunan suatu negara dengan menggunakan kacamata yang benar dan relevan. Mahasiswa maupun sivitas akademika dapat melihat suatu fenomena pembangunan negara menggunakan teori-teori pembangunan yang telah berkembang saat ini. Sehingga kita bisa membandingkan mengetahui kelebihan dan kekurangan dari masing-masing teori pembangunan tersebut dan melihat dari sudut pandang yang benar mengenai metode pembangunan yang dugunakan oleh suatu negara.

Dampak Pelaksanaan Pembangunan Terhadap Teoritisasi Teori Hubungan Internasional

Hubungan internasional merupakan suatu disiplin ilmu yang didalamnya terdapat teori-teori yang dapat kita gunakan untuk memandang suatu fenomena dengan menggunakan perspektif. Pada era globalisasi sekarang ini hubungan internasional tidak lagi hanya mengkaji atau membahas masalah state ataupun perang saja tetapi semua fenomena internasional juga merupakan lingkup dari kajian hubungan internasional, seperti halnya pelaksanaan pembanguna. Pada dasarnya konsep pembangunan itu sudah ada sejak dahulu yaitu pasca perang dunia II, dimana Amerika dan Rusia merupakan negara yang tidak hancur setelah adanya perang tersebut. Amerika dan Rusia juga merupakan negara yang mempunyai kelebihan ekonomi dan sumber daya manusia. Pasca perang dunia II itulah, akhirnya Amerika membantu negara-negara yang hancur karena perang dunia II yaitu dengan memberikan bantuan guna untuk pembangunan di negara tersebut (Marshall Plan).

Pada era globalisasi sekarang ini, pelaksanaan dari pembangunan itu semakin berkembang dan semakin mengalami kemajuan. Pada analisis kali ini, penulis akan menguraikan dampak apa saja dari adanya pelaksanaan pembangunan terhadap teoritisasi teori hubungan internasional. Adapun teori yang akan digunakan oleh penulis dalam melihat dampak pelaksanaan pembangunan yaitu dari perspektif atau teori realisme, liberalisme, konstruktivisme, marxisme.

Realisme

Realisme menganggap bahwa sebenarnya manusia itu jahat dan tidak dapat bekerjasama. Walaupun dimungkinkan terjadinya suatu kerjasama, sebenarnya itu hanya untuk mendapatkan kepentingan nasional saja sehingga dalam realis mengatakan bahwa power itu penting. Pada analisis pelaksanaan pembangunan dalam perspekstif realisme, mengatakan bahwa pelaksanaan pembangunan itu hanya untuk mencapai kepentingan nasional suatu negara yang membantu dalam pelaksanaan pembangunan tersebut terhadap negara yang dibantunya. Jadi dapat dikatakan bahwa dampak dari pelaksanaan pembangunan pada perspektif realis, sebenarnya bukan semata-mata untuk murni pembangunan demi kemajuan tetapi melainkan untuk mencapai kepentingan nasional dari negara-negara maju. Contohnya adalah: krisis yang terjadi di Yunani. Pada kasus krisis Yunani, IMF yang dipelopori oleh Amerika memberikan bantuan dana talangan kepada Yunani guna untuk membayar hutang yang telah mendekati jatuh tempo dan bangkit dari krisisnya. Tetapi pada kenyataannya, IMF memberikan dana bantuan itu tidak secara cuma-cuma melainkan ada imbal balik yaitu Yunani harus mau diawasi otonominya oleh IMF. Jadi bantuan yang diberikan oleh  IMF tersebut sebenarnya hanya kamuflase untuk mencapai kepentingan nasional dan perluasan kekuasaan dari Amerika terhadap yunani.

Liberalisme

Pada dasarnya liberalisme muncul pasca terjadinya perang dunia II dimana negara menginginkan terciptanya suatu perdamaian dunia yang dapat dijalin dengan adanya suatu kerjasama yang saling mendapatkan keuntungan. Jadi dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pembangunan pada perspektif liberalis yaitu untuk menjalin terciptanya suatu kerjasama yang saling menguntungkan dan untuk kemajuan dari pelaksanaan pembangunan.

Pembangunan yang dikatakan oleh liberalis adalah yaitu suatu pembangunan yang dimulai dari proses industrialisasi yang akan mengarah pada modernisasi dan pada akhirnya akan menciptakan suatu pertumbuhan dalam pelaksanaan pembangunan tersebut. Adapun contohnya adalah keberhasilan bangkitnya Korea Selatan dari krisisnya. Pada krisis Korea Selatan, pemerintah Korea Selatan mengambil keputusan untuk meminjam dana ke IMF, namun pada kenyataannya bantuan dana dari IMF tersebut dapat menyelamatkan Korea dari krisisnya dan Korea Selatan juga dapat membayar hutangnya ke IMF. Hingga sekarang akhirnya Korea Selatan menjadi negara yang berhasil dalam pembangunan dan penanganan krisis, sampai saat ini Korea terus mengalami kemajuan terutama dalam bidang ekonomi, teknologi dan pendidikan.

Konstruktivisme

Teori konstruktivisme yaitu sebuah teori atau cara kita memandang suatu fenomena dengan cara negara mengkonstruk pemikirannya terhadap negara atau aktor-aktor hubungan internasional lainnya. Pada analisis pelaksanaan pembangunan dalam perspektif konstruktivisme yaitu bagaimana cara negara atau aktor dalam negara mengkonstruk pemikiran mereka terhadap negara lain atau aktor-aktor lain dalam hubungan internasional. Bagaimana negara atau aktor dalam negara itu mengkonstuksi pikirannya dalam melihat pelaksanaan pembangunan tersebut. Apakah pelaksanaan pembangunan itu membawa dampak positif atau justru membawa dampak negatif. Analisa konstruktivisme ada pada intersubjektif antar aktor dalam negara. Contohnya ketika aktor-aktor dalam negara seperti Presiden mengkonstuk pikirannya bahwa IMF itu hanyalah kepanjangan tangan dari misi-misi neo-kolonialisme maka konstuksi yang ada adalah IMF itu buruk dan sangat berbahaya bagi kedaulatan dan keberlangsungan negara karena dapat membuat new-colonialism atau penjajahan bentuk baru. Sebaliknya ketika Presiden mengkonstruksi pikirannya bahwa IMF itu adalah malaikat yang datang memberikan bantuan kepada negara-negara yang baru merdeka atau negara berkembang atau negara-negara yang sedang mengalami krisis, maka sebagai hasil dari konstruksi tersebut kita akan melihat IMF sebagai aktor yang baik atau penolong negara-negara yang sedang dalam krisis. Jadi hubungan internasional dalam perspektif kkonstuktivisme menyatakan bahwa hubungan anatar negara atau hubungan antar aktor-aktor merupakan hubungan yang inter-subjektif. Sehinnga hubungan yang terjalin tersebut merupakan hasil dari konstruksi masing-masing aktor dalam negara. Namun, pelaksanaan pembangunan yang pada dasarnya bertujuan untuk kemajuan suatu negara, akan memiliki maksud lain ketika aktor-aktor dalam negara itu mengkonstruksi`pemikirannya dan meyakini bahwa pembangunan itu justru memiliki dampak negatif pada suatu negara, maka negara atau aktor dalam negara tersebut akan mengatakan bahwa pelaksanaan pembangunan itu justru dapat menambah permasalahan atau mengakibatkan kerugian dan kesengsaraan pada negara tersebut. Contohnya adalah dalam melihat bantuan IMF di Indonesia dalam perspektif kontruktivisme. IMF memberikan bantuan hutang kepada Indonesia untuk bangkit dari krisisnya dan melakukan pembangunan, tetapi pada kenyataannya bantuan dana pinjaman dari IMF tersebut justru menggagalkan pembangunan di Indonesia. Hal ini karena proses dari pembangunan tersebut telah di dikte oleh pihak IMF yang sebenarnya keuntungan atau uang yang dipinjam Indonesia itu secara tidak langsung akan kembali kepada IMF lagi. Sedangkan Indonesia nantinya juga harus membayar bunga dari hutangnya tersebut. Dari penjelasan tersebut sangat jelas bahwa IMF hanya mengekploitasi Indonesia ungkapan ini muncul karena kita telah mengkonstuksi pikiran kita bahwa IMF itu bentuk dari new colonialism.

Marxisme

Dalam teori marxisme itu adanya perbedaan kelas antara kelas borjuis (pengusaha/pemilik modal) dan kelas ploretar (buruh). Dalam melihat dampak pelaksanaan pembangunan dari perspektif marxisme yaitu adanya pebedaan-perbedaan kelas sosial yang akhirnya dapat menimbulkan dependensi oleh negara berkembang terhadap negara maju. Pada pandangan marxisme, pemilik modal dalam konteks ini adalah negara maju akan selalu berada di atas, sedangkan kelas ploretar yaitu negara berkembang akan selalu berada dibawah. Hal inilah yang dapat menyebabkan dependensi. Hubungan dependensi inilah yang pada kenyataannya tidak akan dapat membuat negara berkembang itu menjadi maju seperti negara maju, karena meskipun sama-sama melakukan pembangunan yang sama, tetapi tetap saja negara majulah yang akan semakin maju, sedangkan negara berkembang hanya akan mengikut dibelakangnya saja. Jadi dapat dikatakan bahwa pemberian bantuan oleh negara maju terhadap negara berkembang yang digunakan sebagai pelaksanaan pembangunan hanya bertujuan untuk meningkatkan dependensi negara berkembang terhadap negara maju.

Struggle the ruling class

Kami mendefinisikan struggle the ruling class sebagai:

  1. Sebuah upaya yang dilakukan oleh kaum proletar (buruh dan petani) kepada kaum kapital untuk mendapatkan hak-hak ekonomi agar dapat hidup layak. (struggle the ruling class dalam ranah domestik).
  2. Sebuah upaya yang dilakukan oleh negar-negara yang baru merdeka untuk menyamakan kedudukan secara ekonomi dengan negara-negara yang telah maju secara ekonomi. (struggle the ruling class dalam ranah internasional).

Dari pendefinisian diatas, kami membagi struggle the ruling class dalam dua pokok pembahasan yaitu struggle the ruling class dalam ranah domestik suatu negara dan dalam ranah internasional. Kami berpandangan bahwa stuggle the ruling class dilatarbelakangi oleh konflik ideologi yaitu antara ideologi barat (liberalisme) dan timur (komunisme). Adanya pertentangan ideologi yang dimotori oleh 2 negara adidaya yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet berimplikasi pada perebutan wilayah tanah jajahan pada negara-negara yang belum merdeka dengan tujuan menyebarkan pengaruh ideologi masing-masing. Bagaimana nantinya salah satu dari kedua ideologi tersebut akan dianut oleh suatu negara sehingga ia akan berpihak pada salah satu blok apakah itu Barat atau Timur. Dampaknya adalah ketika salah satu blok tersebut berhasil memiliki pengaruh yang paling besar terhadap negara-negara maka dapat dikatakan ia memiliki kekuasaan yang besar dengan asumsi bahwa semakin banyak negara-negara yang memiliki kesamaan ideologi (barat) maka semakin mudah pemilik ideologi menjalankan misinya.

Struggle the ruling class dalam ranah domestik

Berakhirnya perang dunia II diikuti banyaknya negara yang memerdekakan diri. Kemenangan Amerika Serikat dan sekutunya pada perang dunia II mengakibatkan blok tersebut semakin leluasa menyebarkan liberalisme-kapitalisme dan banyak negara yang menganutnya. Akibat pengaruh sekutu inilah banyak negara yang terjebak dalam ideologi tersebut. Prinsip-prinsip ekonomi yang dijalankan tidak dapat memberikan kesejahteraan terhadap rakyat kecil, prinsip kapitalisme pada kenyataannya hanya menguntungkan bagi masyarakat kaya. Sehingga banyak terjadi  struggle the ruling class atau perlawanan terhadap kaum kapital dari kaum buruh atau tani di berbagai negara semenjak pasca 1945. Misalnya di Indonesia muncul peristiwa G 30 S PKI. Partai ini berideologi komunis dan mereka berpandangan atau lebih berpihak pada kaum buruh dan tani.

Peristiwa gerakan tersebut terjadi pada tahun 31 September 1965 dimana gerakan tersebut ditujukan untuk merebut kekuasaan dari pemerintah yang sedang berkuasa yaitu era Soekarno dalam artian gerakan ini ditujukan dengan maksud agar Indonesia menganut paham komunis yang akan membawa kesejahteraan bagi rakyat kecil khususnya masyarakat kecil (petani dan buruh). Menurut pandangan kami, pemaknaan secara mendalam dari kata struggle the ruling class tidak hanya dilakukan secara langsung oleh kalangan tersebut (petani dan kelompok buruh) tetapi juga dapat dilakukan oleh kelompok-kelompok lain dengan asumsi bahwa kelompok tersebut dapat merepresentasikan kaum-kaum tersebut (petani dan kelompok buruh). Masuknya bibit-bibit komunis di Indonesia tak lain karena pengaruh dari Uni Soviet saat itu. Namun sayangnya gerakan ini tidak membuahkan hasil.

Struggle the ruling class dalam ranah internasional

Kami juga mengartikan bahwa struggle the ruling class adalah upaya-upaya negara berkembang untuk dapat sejajar dengan negara maju dengan melakukan suatu kebijakan tertentu. Contohnya pada era orde baru masa kepemimpinan Soeharto, Indonesia menerapkan Rencana Pembangunan Lima Tahun. Berikut adalah isi repelita tersebut:

  • Repelita I (19691974) bertujuan memenuhi kebutuhan dasar dan infrastruktur dengan penekanan pada bidang pertanian.
  • Repelita II (1974 – 1979) bertujuan meningkatkan pembangunan di pulau-pulau selain Jawa, Bali dan Madura, di antaranya melalui transmigrasi.
  • Repelita III (1979 – 1984) menekankan bidang industri padat karya untuk meningkatkan ekspor.
  • Repelita IV (1984 – 1989) bertujuan menciptakan lapangan kerja baru dan industri.
  • Repelita V (1989 – 1994) menekankan bidang transportasi, komunikasi dan pendidikan.[1]

Dari isi Repelita yang pertama dapat dianalisa bahwa program tersebut lebih menitikberatkan pada kaum petani. Karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah kaum buruh tani selain itu pangan adalah hal yang paling mendasar dalam menunjang keberlanjutan pembangunan tersebut untuk dapat menyaingi posisi negara lain yang lebih maju. Selama masa kepemimpinan Soeharto, Indonesia lebih menerapkan kebijakan pembangunan bertahap. Dengan asumsi bahwa kebijakan ini akan lebih menguntungkan Indonesia.

Pembagunan yang dilakukan oleh Indonesia sebagai negara yang baru merdeka merupakan sebuah upaya untuk menyamakan kedudukan dengan negara maju lainnya seperti AS. AS dengan berbagai kemajuannya baik dalam ekonomi maupun teknologinya membuat Indonesia berusaha untuk menjadi seperti AS. Adanya kesenjangan ekonomi-sosial antarnegara ini yang menimbulkan suatu upaya negara untuk menyejahterakan rakyatnya yang merupakan bagian dari program pembangunannya. Inilah esensi yang paling signifikan dari pemaknaan struggle the ruling class yang tidak hanya dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu dalam lingkup nasional namun juga dilakukan oleh aktor negara itu sendiri dalam wilayah internasional.

Tentu Repelita Indonesia ini adalah suatu bentuk struggle the ruling class dalam artian kelas yang berkuasa adalah negara-negara kaya yang  cenderung menindas negara berkembang karena lemahnya kekuatan negara tersebut. Sehingga struggle the ruling class yang dilakukan Indonesia ini diharapkan dapat memperbaiki posisi Indonesia secara ekonomi-sosial dengan harapan untuk setara dengan negara lain.

Contoh struggle the ruling class yang lain juga terjadi pada Iran dimana mereka sangat anti terhadap ideologi liberal. Sikap dan tindakan Iran pada barat tidak hanya merefleksikan kebenciannya terhadap ideologi tersebut namun juga sebagai respon atas konsep perekonomian yang ditawarkan oleh Liberalisme. Liberalisme berpandangan bahwa setiap orang berhak dan bebas menentukan nasib ekonominya sendiri. Contohnya setiap orang berhak memiliki alat-alat produksi dan modal untuk memproduksi barang dan jasa. Sehingga ia membutuhkn pekerja untuk menunjang usahanya tersebut. Hal ini bersifat win-win solutions karena pemilik modal membutuhkan pekerja begitu juga sebaliknya. Namun pada kenyataanya sistem ekonomi ini (kapitalisme) sangat merugikan negara-negara kecil sehingga salah satu alasan inilah yang membuat Iran bersikap antikapitalisme dan lebih memilih kebijakan nasionalisasi dan self help. Sehingga dalam hal ini upaya struggle the ruling class tidak terjadi dalam lingkup domestik namun juga secara internasional khususnya terhadap barat. Pemaknaan struggle the ruling class dalam hal ini lebih ditujukan pada upaya negara tersebut untuk mencapai kepentingan ekonominya agar sejajar dengan barat.

Meskipun pasca 1945 ideologi barat semakin meluas pada kebanyakan negara yang baru merdeka, namun seiring berjalannya waktu, semakin banyak negara yang menyadari bahwa ideologi tersebut semakin membuat sengsara masyarakat kecil akibat kapitalism. Dan ideologi komunis juga masih eksis sampai saat  ini terutama pada negara-negara eks-kumunis. Misalnya di Amerika Latin bahkan hingga sekarang. Adanya “poros kebaikan” yang dipelopori oleh Brazil, Venezuela, dan Kuba adalah bukti membekasnya ideologi komunis dan tentu menimbulkan suatu ketidakpercayaan terhadap ekonomi kapitalisme. Mereka berpandangan bahwa sistem ekonomi kapitalis menciptakan suatu kelas yaitu si kaya (pemilik alat produksi) dan si miskin (kelas pekerja). Perekonomian kapitalisme menciptakan kesenjangan kelas sehingga muncullah kesenjangan pendapatan. Dimana kelas pemilik faktor produksi memiliki pendapatan yang lebih besar tetapi tidak untuk kelas pekerja yang notabene semakin tertindas (semakin miskin). Struggle the ruling class yang dilakukan 3 negara tersebut melalui “poros kebaikan” ini adalah suatu refleksi dan kritikan terhadap negara-negara kuat yang menjalankan perekonomian kapitalisme yang semakin menyesengsarakan rakyat. Gerakan-gerakan tersebut dapat diasumsikan bahwa tanpa menerapkan sistem ekonomi kapitalisme kita dapat menyejahterakan masyarakat. Sehingga kesimpulan yang dapat diambil dengan diadakannya suatu struggle the ruling class di berbagai negara melalui berbagai bentuk dan upaya dengan satu tujuan bagaimana masing-masing negara tetap dapat menyejahterakan rakyatnya.


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Repelita

 

Tinggalkan Komentar

 

Anda dapat mengirimkan artikel/makalah tentang ilmu sosial bertema politik, komunikasi, hubungan internasional, arkeologi, antropologi, feminisme, sosiologi, psikologi, hukum, kebijakan publik, citizen journalism, filsafat, tinjauan religi, urban culture [kajian perkotaan], ecologica [kajian lingkungan], cultural studies. Sertakan profil diri, pas foto terbaru, dan nomor rekening bank. Setiap artikel/makalah yang dimuat akan selalu diinformasikan kepada penulisnya. Email tulisan anda ke: editor[at]djangka.com

Powered by Wordpress, Design by Aksisoft Media