DJANGKA.com

an Indonesian perspectives

Manifestasi Sistem Sosial Budaya Sebagai Jatidiri Bangsa

imam sunarto

Written by Imam Sunarto – Mahasiswa Sosiologi Universitas Jember

Indonesia, negara yang sangat terkenal di dunia dengan kekayaan alamnya. Baik kekayaan alam biotik atau abiotik, agraria maupun maritim, tanah yang sangat subur karena letaknya yang strategis di daerah khatulistiwa dan sekaligus merupakan daerah kepulauan yang dipisahkan oleh selat dan laut. kekayaan yang begitu melimpah ruah ini namun tidak menjadi jaminan akan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya bukan hanya dalam kerangka terpenuhinya basic need namun juga kebebasan dalam mengambil bagian dari negaranya. Malah acap kali menimbulkan problem yang akhirnya berujung pada kerugian harta benda atau bahkan nyawa.

Sistem dalam masyarakat

Ketercukupannya kebutuhan fisiologis manusia tentu menjadi faktor utama yang mengkonstruk pikiran dan perilakunya, walau mungkin tidak sesederhana itu untuk coba merumuskannya, karena pikiran yang begitu abstrak untuk coba menjangkaunya. Hal itu hanya bisa dilihat dengan jelas melalui sistem fisiologikal yaitu sistem yang menjelaskan tentang mekanisme bagian-bagian, komponen-komponen dan proses-proses fisik yang terdapat di alam kosmos, baik berkenaan dengan fisik alam maupun fisik manusia dimana dinamika kultural berpusat.[1] Sistem fisiologikal merupakan konkretisasi dari sistem personal, memang sistem personal acap kali disamakan dengan sistem sosial misalkan jika berkaca pada mazhab sosiologi realis yang mengatakan person (individu) adalah bentukan dari masyarakat. Jadi menurut pandangan ini bahwa apapun yang ada pada individu merupakan produk dari masyarakat, namun pandangan ini terlalu menafikan keberadaan individu sebagai dirinya sendiri sebagai eksistensinya dan kebebasannya. walaupun individu tidak bisa dilepaskan sepenuhnya dari masyarakat namun bisa diketahui bahwa misalkan perilaku tersebut merupakan bagian dari sistem personal, khususnya jika berkaitan dengan perilaku yang disebabkan rangsangan terhadap pribadinya sendiri. Seperti jika seseorang sedang bahagia maka dia akan terlihat ceria, penuh senyum dan wajah berseri-seri. Tentu hal ini masih mudah untuk diidentifikasi, dari pada kemudian sistem sosial yang lebih abstrak lagi dari pada sistem personal.

Begitu juga karena sistem personal merupakan konkretisasi dari sistem sosial. Sistem sosial karena lebih abstrak dari pada sistem personal, artinya juga semakin sulit untuk mengidentifikasinya, sistem sosial berkaitan dengan adanya tata hubungan yang kompleks antar manusia dengan manusia yang lain. Karena itu untuk dapat mengetahuinya perlu pengamatan yang intensif dan dengan jangka waktu yang relatif lama tentunya agar hasil yang diperoleh benar-benar akurat dan teruji validitasnya. dan akhirnya sistem sosial merupakan konkretisasi dari sistem budaya. Yangmana sistem budaya hanya bisa dilihat atau diamati melalui sistem sosialnya. Karena kedudukan sistem budaya yang sangat abstrak.

Sistem fisiologikalSistem personalSistem sosial

Sistem budaya

Gambar 1. Tingkatan konkretisasi sistem dalam masyarakat

Distorsi sistem sosial budaya bangsa Indonesia

Jadi secara sederhana kita dapan mengatakan bahwa perilaku yang tergambar dari sistem fisik atau personal merupakan gambaran dari sistem budaya.  Akhir-akhir ini semakin nampak betapa budaya kita semakin bergeser entah kearah mana. Sistem sosial yang selama berabad-abad berusaha dipertahankan oleh bangsa indonesia seperti gotong royong dan tolong-menolong semakin tidak nampak keberadaannya ditengah-tengah kita. Terkontaminasi oleh budaya barat dengan dengan liberalisme, kapitalisme, individualisme, dst. seperti yang bung Karno bilang kalau indonesia adalah bangsa yang bersosial, cocoknya dengan sistem sosialisme. Ya.. dengan nilai-nilai kebersamaan yang memang melekat pada bangsa ini, tidak bisa dinafikan keberadaannya, tapi seberapapun kuat dinding itu membentengi nilai-nilai keluhuran bangsa akhirnya terkikis juga oleh terpaan badai yang seolah terkesan rasional dan memuat kebenaran universal dan karena memang menggiurkan dengan tawaran-tawarannya.

Betapa sistem kapitalisme mulai merasuki jiwa bangsa indonesia, disetiap sudut wilayah negara indonesia seakan tidak pernah terbebas akan kuasa para kapitalis (disamping pemerintah tentunya). Bahkan wilayah yang kental dengan adat dan kearifan lokalnya seperti di Bima, Nusa Tenggara Barat. Yang akhir-akhir ini kondisinya sempat memanas dan bahkan kantor bupatinya sempat dibakar oleh masa warga Bima yang melakukan protes terhadap izin tambang yang dinilai merusak lingkungan dan sekaligus merugikan—kalau tidak mau dikatakan menyengsarakan—masyarakat bima khususnya.

Entah apa benar ini yang lebih baik sehingga menjadi pilihan yang dipilih, pembagunan dan perizinan pertambangan, mungkin bukan lagi pertimbangan baik atau tidak baik, tapi menguntungkan atau tidak menguntungkan, terutama bagi mereka yang mempunyai kekuasaan atau mempunyai jaringan dengan kekuasaan, seperti yang diberitakan koran KOMPAS edisi 21 Februari 2012 mengungkapkan bahwa tambang Cuma menguntungkan pejabat. Akhirnya begitu semakin terlihat perselingkuhan antara pejabat pemegang kekuasaan dengan para pemilik modal (kapitalis) yang berakibat pada kesengsaraan masyarakat sipil. Bagai harimau yang dibangunkan dari tidurnya, begitu warga bisa yang berjumlah ratusan ribu kemudian membakar kantor bupati Bima dan merusak Lembaga Pemasyarakatannya untuk membebaskan teman-teman mereka. Padahal warga Bima awalnya dikenal dengan kerukunannya, saling membantu dan pantang melakukan kekerasan. Tapi apalah arti nilai-nilai luhur budaya yang selalu dipertahankan, jika ada pihak lain yang bahkan tidak menghargai hal itu sama sekali.

Penyesuaian sistem sebagai akibat perubahan pada bagiannya

Memang manusia tidak bisa lepas dari yang namanya sistem budaya, karena sistem budaya dihasilkan dan kemudian menjadi semakin objektif untuk dikonsumsi oleh masyarakat itu sendiri dan diinternalisasi didalam diri masing-masing warga masyarakat itu sendiri, walau sistem budaya selalu berkembang dan bahkan menjadi semakin kompleks mungkin jika dilihat dari teori evolusi sosialnya Herbert Spencer, interaksi antar sub-sub kebudayaan atau bahkan kontak dengan kebudayaan luar sehingga terjadi proses akultrasi dan asimilasi yang mana berdampak langsung individu dan masyarakat secara umum. Tentunya sebagai sebuah sistem, sistem kebudayaan jika terjadi perubahan pada bagiannya maka aka terjadi penyesuaian, entah hal itu akan diterima atau malah ditolak sama sekali. Sistem budaya bergerak kemana saja manusia bergerak kemana saja manusia yang bersangkutan bergerak. Ia bahkan mengawasi dan mempengaruhi tingkahlaku mereka dan memberikan kontrol manaperlu. Bahkan, yang sering terjadi adalah sistem budaya itu menjadi alat pengendali perilaku masyarakat tertentu.

Keberadaan sistem sosial budaya yang mewujudkan norma atau nilai masyarakat, kompleksitas dari yang melembaga berupa norma-norma dan nilai-nilai sosial yang kemudian pada proses berikutnya akan dipatuhi oleh masyarakat secara keseluruhan,  menjadi penting selain sebagai penentu batas-batas perilaku untuk menjaga harmonisasi hubungan antara warga masyarakat juga sebagai kontrol terhadapnya, karena tidak dapat dipungkiri individu dalam segala perilakunya akan selau dipengaruhi oleh ego dan alter, ego adalah ketika tindakan atau perilaku itu termanifestasi sebagai akibat kepentingan diri (pribadi) sedangkan alter merupakan manifestasi dari kepentingan oranglain diluar dirinya. Tentunya ego dan alterpun dalam percaturannya akan melibatkan faktor kebutuhan dan kepuasan.

Dari hal tersebut diatas maka peranan sistem sosial budaya menjadi sangat penting terutama untuk terjalinnya harmonisasi kehidupan bersama kebutuhan dan kepuasan pribadi bukanlah menjadi orientasi tindakan atau perilaku satu-satunya, namun kepentingan bersamalah yang menjadi penting. Dirasa penting kemudian untuk mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya sistem budaya suatu masyarakat tertentu, apalagi jika kita menjadi bagian darinya. Dan hal ini tidak bisa secara instan kita mengetahuinya, perlu proses pengamatan yang relatif lama tentunya.

Akhirnya seperti yang diungkapkan oleh Bustami Rahman dan Hary Yuswadi: “jika kita ingin mengamati gejala sistem budaya dapat dengan teliti kita amati gejala-gejala yang terdapat dalam sistem sosialnya. Didalam hubungan ini, individu yang merupakan produk dan sekaligus bagian dari kompleksitas saling ketergantungan itu dapat pula merupakan wahana dimana kita dapat mengamati sistem budaya suatu masyarakat.”[2]


[1] Bustami Rahman dan Hary Yuswadi, Sistem Sosial Budaya Indonesia: Kompyawisda JATIM, 2005, hal. 6

[2] Ibid., hal. 12

Tinggalkan Komentar

 

Anda dapat mengirimkan artikel/makalah tentang ilmu sosial bertema politik, komunikasi, hubungan internasional, arkeologi, antropologi, feminisme, sosiologi, psikologi, hukum, kebijakan publik, citizen journalism, filsafat, tinjauan religi, urban culture [kajian perkotaan], ecologica [kajian lingkungan], cultural studies. Sertakan profil diri, pas foto terbaru, dan nomor rekening bank. Setiap artikel/makalah yang dimuat akan selalu diinformasikan kepada penulisnya. Email tulisan anda ke: editor[at]djangka.com

Powered by Wordpress, Design by Aksisoft Media